
"Kenapa memandangiku terus, Mas? ada apa di benakmu?" tanya Binar dengan kerlap-kerlip di kedua bola matanya dan senyum manis terulas cantik di wajah tirusnya.
Theo tersenyum penuh cinta, "benakku mengagumi kamu. Bahkan kecantikan Dewi cinta tak bisa menandingi kecantikanmu, sayang. Kau memesona, memukau, rambutmu indah sekali seperti indahnya langit malam"
Napas Binar tersentak dan tanpa dia sadari air mata menetes di pipinya. Binar memandangi wajah Theo dengan penuh rasa cinta dan penuh dengan rasa terima kasih karena, Theo sudah bersedia mencintai wanita seperti dirinya dengan sebegitu besarnya.
"Hei! kok malah nangis?" Theo mengusap lembut kedua pipinya Binar lalu dia menarik tengkuknya Binar dan dia usap air mata di kedua kelopak matanya Binar dengan bibirnya.
Lalu Theo menggesekkan janggutnya ke pipi Binar, Binar mendesah menikmati sensasi yang timbul dari gesekan janggut kasarnya Theo di atas pipinya.
Hawa panas melelehkan hati dan pertahanannya Binar.
Theo kemudian tersenyum dan membopong Binar menuju ke ranjang mereka.
Ranjang mewah bergaya klasik yang biasa disebut ranjang kabin itu akan menjadi saksi penyatuan cinta mereka yang begitu membara dan indah.
Theo merebahkan Binar di atas ranjang secara perlahan dan hati-hati lalu, dia duduk di tepi ranjang dan berkata sambil mengambil dua kotak bertuliskan salah satu merk terkenal, "aku punya hadiah untukmu" Theo menyodorkan kotak yang lebih kecil ke Binar.
Binar duduk tegak dan bersandar di ranjang lalu dia tersenyum sambil membuka kotak tersebut, "jam tangan ini.......limited edition, Mas. Pasti mahal banget" Binar membulatkan kedua matanya untuk Theo.
"Bagiku nggak ada yang lebih mahal dari senyum cantik dan tawa riangmu" ucap Theo sambil mengusap pipinya Binar lalu dia menunjukkan kotak yang dia pegang, "aku beli sepasang. Mulai besok dan seterusnya kita pakai, ya. Biar pas kita kerja, pas kita lihat sang waktu lewat jam tangan ini, kita akan merindu satu sama lain, hehehehe"
Binar segera mengambil kotak dari tangannya Theo lalu dia taruh kedua kotak itu di atas nakas setelah itu dia menghambur masuk ke dalam pelukannya Theo, "aku beruntung memiliki cinta kamu yang begitu besar dan tulus ini, Mas. Aku mencintaimu"
Theo melepas tawa bahagianya ke udara lalu dia mengelus punggungnya Binar dan berkata, "aku juga mencintaimu"
"Sayang, aku ingin melihat wajah cantik kamu di sepanjang malam ini, aku ingin membenamkan wajahku di rambut indahmu ini dan mencekik diriku dengan keharuman tubuhmu di atas ranjangku" kata-kata parau penuh hasrat itu membuat Binar melepaskan pelukannya dan menatap Theo. Binar melihat wajah Theo memancarkan aura panas dan gairah yang sangat kuat menembus atma-nya Binar.
"Apa hal yang ada di benak kamu saat ini, menakutkan mu, Mas? kamu kan belum pernah melakukannya?"
"Aku ingin bilang tidak, tetapi semua hal yang ada di dalam sini" Theo mengetuk pelipis kanannya lalu kembali berucap, "terus terang membuatku agak takut. Aku belum pernah melakukannya tapi karena itu kamu, aku menginginkannya, sangat ingin"
Keinginan itu membuat Theo tidak bisa berpikir jernih, keinginan untuk mendapatkan haknya sebagai seorang suami begitu kuat sampai membuat dia kehabisan napas, "sekarang aku sangat menginginkanmu dan entah sampai berapa lama lagi aku bisa menahannya"
"Kalau begitu, diamlah! akan kuberikan segala yang kau inginkan. Malam ini adalah malammu! aku akan sepenuhnya menjadi milikmu!" Binar segera menyatukan bibirnya dengan bibirnya Theo, jemari Theo menyapu rambutnya dan tubuhnya Theo merapat dengan panas ke tubuhnya Binar.
Mereka berciuman dengan lembut, intens, penuh cinta. Mereka membuai diri mereka masing-masing dengan ciuman tersebut.
Theo melepas kemejanya. Dada yang tampak setelah Theo membuka kemejanya, membuat mata Binar membulat sempurna dan mulut Binar bergetar, dibanjiri gairah yang membuncah. Binar memandang permukaan tanpa bulu, putih, mulus dan kekar itu dengan kagum dan segala apa yang ada di dalam dirinya Binar menjadi berdenyut liar menahan gejolak yang ada.
Theo tersenyum lalu dia berdiri memerosotkan celana kain lalu melompat ke ranjang, "aku siap sayang, woman on top, kan?"
Binar kemudian berdiri dan memandangi Theo dengan tercengang lalu dia terkekeh geli, "are you sure mister Theo?"
"Yes madam, I am very confident and ready to be yours, madam" sahut Theo.
Binar terkekeh geli sambil melepas dressnya. Binar lalu merangkak naik ke atas ranjang kemudian merangkak menuju ke tubuhnya Theo. Binar berada di atas tubuhnya Theo.
Theo kemudian duduk, dia menarik tubuhnya Binar untuk dia pangku dan dengan segera dia menyusupkan wajah tampannya ke lehernya Binar, dia jilat lehernya Binar lalu dia berkata, "rasanya manis, semanis cintaku" lalu dia meraih tangannya Binar dan dia hisap satu persatu jari jemari tangannya Binar lalu dia berkata, "rasanya asin, menimbulkan gairah untuk meminta lebih"
Binar tersenyum melihat kelakuan konyol suaminya itu lalu dengan gemas Binar mencium bibirnya Theo lalu dia berbisik, "kalau ini, rasanya apa?"
Theo terkekeh geli, "bibir kamu memiliki berjuta rasa dan membuatku kehabisan kata-kata"
Binar tertawa penuh cinta lalu dia melanjutkan ciumannya. Ciuman itu lebih panas dan lebih bergairah daripada ciuman yang sebelumnya. Lidah Binar mulai menjelajahi mulut Theo dengan daya sensual yang mendesak, Theo mengimbangi permainannya Binar. Lidah mereka saling bertaut dan mereka berkali-kali bertukar Saliva. Indah begitu indah mereka rasakan sensasi dari permainan yang mereka ciptakan sendiri.
Binar mengerang ketika dia mencari dan akhirnya menemukan bahu yang kokoh, panas dan polos. Binar menjelajahinya dari bahu sampai ke punggung sampai ke bawah, Binar merasakan kelembutan kulitnya Theo. Binar lalu menancapkan kuku ke kulitnya Theo yang menegang.
Theo tersentak kaget, dia terengah-engah sambil memandang Binar, tatapannya penuh gairah.
Tanpa mereka sadari mereka berdua sudah sama-sama polos tanpa sehelai kain pun.
Theo berkata, "berjanjilah saat kau melakukan itu, jika kau merasa capek katakan saja! kita bisa berhenti dan........"
Binar mencium bibirnya Theo dengan cepat dan berkata dengan mimik wajah yang penuh dengan kemanjaan, "aku berjanji" entah dari mana Binar mendapatkan kekuatan untuk berbicara di saat dirinya dikuasai panasnya gairah.
Theo menjilat sudut bibirnya Binar dengan gerakan sederhana namun luar biasa dirasakan oleh Binar hingga mampu membuat Binar mengerang seolah nyaris meledak.
Seolah tahu apa yang Theo pikirkan, Binar segera membungkuk untuk menyalakan api gairah di dalam dirinya Theo. Theo segera memijat kedua gundukan manis milik istrinya kemudian mencumbunya lalu menariknya ke dalam mulutnya. Binar merintih puas dan Theo tersenyum penuh cinta.
Binar bergerak ke bawah dan menyapukan lidahnya di sana, menghisap dan permainannya Binar membuat Theo menghembuskan napas panasnya merasakan sensasi yang belum pernah dia kenal. Binar dengan segera memulai serangkaian gerakan yang membuat mata Theo berkunang-kunang. Dengan sangat ahli Binar memberi kenikmatan tanpa lelah dan membuat Theo kehilangan kendali. Theo dilanda sensasi-sensasi yang belum pernah dia kenal sebelumnya dan itu membuatnya hampir gila.
Mereka merapatkan pinggul, dengan kepala meronta-ronta saat sensasi tersebut mendorong mereka berdua sampai ke puncak.
"Binar, sayangku, oh! aaaahhhh!" Theo mencengkeram rambutnya Binar.
Binar tersentak tak terkendali dan menjerit saat dia mencapai klimaks lalu dia merebahkan diri di sampingnya Theo. Theo dengan segera memeluk dan menarik Binar merapat lalu dia kecup lehernya Binar dan berkata, "terima kasih, sayang. Aku nggak menyangka kamu bisa sangat dominan di atas ranjang"
Binar segera menyusupkan wajah malunya di dadanya Theo.
Theo terkekeh geli lalu dia mendongakkan wajah cantiknya Binar, dia kecup bibir yang masih tampak bengkak lalu dia berucap, "apa kau capek?"
Binar tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Theo lalu tersenyum jahil, "aku menginginkannya lagi. Aku yang akan menguasai permainan kali ini. Dokter Wulan kasih dua PR ke kita, kan, menyuruh kita melakukan dua gaya, kan? Gimana apa kau mau coba yang satu lagi?"
Binar tertawa lirih lalu menepuk dada bidangnya Theo lalu dia menganggukkan kepalanya.
Theo segera mencium bibirnya Binar dan Binar meluncurkan tangan ke rambutnya Theo. Ciumannya Theo membuat Binar tidak mampu lagi menahan diri dan dia berkata, "aku menginginkanmu, Mas"
Theo mengerang dan terus mencium Binar. "Kau belum siap sayang, aku tidak mau menyakitimu"
"Tolong jangan biarkan aku menunggumu, Mas"
Mereka kembali menyatukan raga, gairah, dan cinta mereka dengan gaya yang kedua yang disarankan oleh dokter Wulan. Tangan Binar mencengkeram sandaran ranjang demi menstabilkan diri. Theo mengerang berkali-kali karena, dia tidak pernah menyangka kenikmatan yang dia rasakan benar-benar memabukkan.
Napas Binar tercekik ketika ia menjerit saat mencapai puncak. Binar mendengar erangan rendahnya Theo dan suaminya itu membenamkan wajah ke rambutnya Binar dengan kejang-kejang kenikmatan.
Mereka berdua kemudian merebahkan diri secara bersamaan di atas ranjang dengan terengah-engah dan dengan wajah penuh dengan kepuasan dan cinta. Keduanya kemudian saling memeluk. Theo mendaratkan ciuman di leher dan bahunya Binar dengan lengan yang masih mencengkeram pinggangnya Binar. Theo kemudian bertanya, "aku tidak tahu kau ini malaikat atau nenek sihir?"
Binar tertawa lirih lalu bertanya, "kenapa begitu?"
"Kau malaikat karena, telah membantuku terbang ke awang-awang tadi tetapi, kemudian kau menyihirku menjadi sosok yang ganas, hehehehehe"
"Kalau begitu aku adalah malaikat sekaligus nenek sihir" ucap Binar sambil terkekeh lemas.
Theo mempererat pelukannya lalu mencium rambutnya Binar dan bertanya, "apa aku menyakitimu?"
Binar menggelengkan kepalanya, "kamu tidak menyakitiku Mas, bahkan kamu lembut sangat lembut, terima kasih sudah memperlakukanku dengan sangat manis tadi"
"Manis? apa aku kurang ganas tadi?" tanya Theo.
Binar tertawa pelan lalu berkata, "keganasan kamu itu ganas tapi manis aku rasakan"
Theo segera menggelegarkan tawa bahagianya lalu berucap, "tidurlah! atau kamu mau makan? aku akan bikinkan? apa yang kau mau? oh! iya, cokelat, aku beli cokelat tadi, tapi lho, mana kotak cokelatnya?" Theo celingukkan mencari kotak berbentuk hati yang berisi cokelat kesukaannya Binar.
Binar terkekeh geli di dalam pelukannya Theo, "dicari besok saja, Mas! aku nggak ingin apa-apa, aku cuma ingin memejamkan mata"
Theo segera menarik selimut untuk menyelimuti tubuh polosnya Binar lalu dia memeluk erat Binar sampai Binar tertidur dengan pulas di dalam pelukannya.
Theo kemudian bangun dengan pelan dan hati-hati lalu dia membereskan pakaian dia dan Binar yang berserakan di atas lantai, dia menaruh pakaian-pakaian tersebut di dalam keranjang tempat baju kotor. Dia kemudian berganti baju memakai kaos santai dan celana kolor.
Theo melangkah ke balkon dan menelepon Andik, "besok aku nggak ke kantor lagi. Aku akan ke kantornya Binar. Kalau ada berkas yang perlu aku periksa, kamu bawa ke kantornya Binar"
"Lho Kok gitu, Bos?"
"Iya harus gitu. Istriku capek jadi besok dia aku suruh stay di rumah aja. Aku yang akan memantau kerjaannya dan kerjaanku bisa aku kerjakan di kantornya Binar"
"Capek? memangnya nyonya habis ngapain Kok capek dan nggak berangkat ke kantor, besok?"
"Mau tahu aja, kamu masih di bawah umur. Pokoknya besok aku ada di kantornya Binar kalau kamu butuh aku" Klik, Theo memutuskan sambungan teleponnya dengan Andik.
Andik hanya bisa menghela napas panjang dan menyetujui permintaan bos besarnya itu.