
Semua karyawannya Binar berkumpul di kantin yang terletak satu lantai di bawah lantai kantornya Binar. Kantin yang cukup lengkap sajian makanannya itu dan selalu berganti menu setiap harinya, membuat seluruh karyawannya Binar, tidak bosan untuk selalu makan siang di kantin itu. Apalagi dengan adanya ibu kantin yang baru yang sangat ramah dan memiliki anak gadis yang masih muda dan manis, membuat kantin tersebut semakin ramai dikunjungi.
Binar yang tidak pernah makan siang di kantin itu karena, Binar merasa canggung jika harus makan siang bersama dengan seluruh karyawannya selalu memilih untuk makan siang di luar kantor sekalian cuci mata di sebuah mall. Tetapi di hari itu tanpa adanya hujan dan badai, Binar melangkah menuju ke mejanya Aksa sambil membawa nampan yang sudah berisi segala lauk kesukaannya.
Binar berdiri di meja tersebut lalu bertanya, "apa aku boleh bergabung di sini?"
Lela yang saat itu ditugaskan oleh Binar mengurus segala keperluannya Aksa yang akan berangkat ke Bali lusa, terpaksa makan siang di luar, sendirian.
Ratna, Boy, Aksa, dan Lina, berkata, "silakan kak" secara kompak dan secara kompak pula, menautkan alis mereka menatap Binar yang kemudian tersenyum dan duduk di sebelahnya Aksa.
Meja yang semula riuh renyah dengan obrolan dan candaannya Aksa beserta kawan-kawannya seketika sunyi, sepi karena adanya Binar di sana.
Binar menatap ke semuanya dengan cepat dan berkata, "santai saja! lanjutkan obrolan kalian" Binar tersenyum sembari mendaratkan makanan di dalam mulutnya.
"Iya kak" sahut Boy dengan senyum canggungnya.
Aksa yang duduk di sebelahnya Binar terus tersenyum sembari menikmati makan siangnya. Aksa merasa begitu bahagia bisa makan siang ditemani bos cantiknya yang sekaligus kekasih rahasianya.
"Tumben kak binar makan siang di kantin?" tanya Ratna tanpa sungkan.
"Oh, aku malas keluar hari ini. Banyak kerjaan yang harus aku selesaikan jadi untuk menghemat waktu, aku putuskan untuk makan siang di sini saja" ucap Binar.
"katering baru yang dipilih kak Lela bagus juga ya, masakannya enak, bersih dan higienis" sahut Lina.
"Iya Lela seleranya memang bagus di dalam segala hal" sahut Boy.
Lela mengganti ibu kantin yang lama karena, masakannya kurang enak dan kurang bersih. Setelah menemukan katering yang enak maka Lela menawarkan ibu pemilik katering tersebut untuk masuk ke kantin yang berada di kantor bosnya dan ibu itu pun menyetujuinya.
Tiba-tiba datanglah gadis muda seumuran dengan Aksa ke meja itu. Gadis muda itu anak dari ibu kantin yang bernama Hartini, nama panggilannya Tini. Tini membawa sepiring paha ayam goreng dan berkata dengan senyum manisnya ke Aksa. Mas Aksa, ini khusus untuk mas Aksa.Tini sisihkan karena, paha ayam goreng ini menu favorit di sini takut kalau mas Aksa kehabisan dan nggak kebagian makanya Tini sisihkan untuk mas Aksa, heeee" Rini berucap sambil menaruh piring yang berisi lima potong paha ayam goreng yang masih hangat dan sangat menggiurkan lalu Tini menganggukkan kepala ke semuanya dan bergegas pergi meninggalkan mejanya Aksa.
Aksa belum sempat berterima kasih, Tini sudah bergegas pergi karena, malu. Tini memendam rasa untuk Aksa. Tini yang awalnya mengagumi ketampanan dan keramahannya Aksa berubah menjadi semakin menyukai Aksa.
"Cieeeee, Aksa! sosor aja udah tuh anak bu kantin. Manis dan baik gitu anaknya, perhatian pula sama kamu. Ibunya juga sepertinya menyukaimu kalau kamu minta anaknya untuk kamu jadikan pacar, pasti langsung dikasih, hihihihi" ucap Ratna dengan polosnya.
"Uhuk!" Binar langsung tersedak karena, cemburu.
Aksa mengambilkan segelas air putih dan menyodorkannya ke Binar, "minumlah kak"
Binar menerimanya dengan merengut dan menatap tajam ke Aksa karena, api cembru di dalam hatinya belum bisa dipadamkan dengan segelas air putih yang dia minum.
Aksa langsung berucap, "aku sudah punya pacar dan aku nggak ada rasa apa-apa dengan anak ibu kantin tadi. Bahkan aku nggak tahu namanya" Aksa berucap sambil menatap Binar karena, memang ucapannya itu dia khususkan untuk Binar. Binar tidak menoleh ke Aksa, dengan muka datar dia menundukkan wajah cantiknya ke piring makanannya dan terus mencoba untuk menikmati makan siangnya yang sudah disisipi rasa cemburu.
"Iya, Aksa sudah punya pacar. Pacarnya masih sangat muda dan cantik. Dia yang mendatangi kita ke proyek waktu itu kan, Sa? namanya Rita kalau nggak salah" sahut Boy.
"Uhuk!" Binar kembali tersedak dan Aksa semakin salah tingkah dibuatnya. Aksa kembali menyodorkan minum ke Binar lalu berucap ke Boy, "Rita mantanku. Aku sudah putus dengannya. Rita datang ke proyek waktu itu untuk menegaskan hubunganku dengannya dan aku memilih untuk menyudahinya karena, Rita selingkuh"
"Bodoh sekali cewek itu, sudah punya pacar setampan dan sebaik kamu kok selingkuh. Kalau aku yang jadi pacar kamu, aku akan setia sampai mati, heeeee" sahut Lina dengan polosnya tanpa menyadari kalau Binar sudah meradang mendengarkan semua obrolan mereka.
Binar, sabar ya, sabar! ucap Binar di dalam hatinya.
"Waaahhh! kamu naksir juga nih sama Aksa?" tanya Ratna ke Lina dengan senyum lebarnya.
"Terus terang iya. Dari awal Aksa masuk ke kantor aku terus mengawasinya. Habis kamu tampan banget sih, tipe aku banget" sahut Lina dengan santainya.
Binar tersenyum senang dan kembali menatap piringnya.
"Iya sayang banget ya, cintaku bertepuk sebelah tangan heeeee" ucap Lina.
Ratna kemudian menepuk pundaknya Boy, "kan masih ada Boy, Lin. Boy tidak kalah tampan dengan Aksa cuma Boy tidak seramah Aksa, heeeee"
"Boleh nih, gimana kalau hari ini juga kamu jadi pacarku, Boy?" tanya Lina.
"Aaaaa, itu, emm, aku belum kepikiran untuk berpacaran, heeee. Maaf ya!" Boy kemudian meringis ke Lina.
Binar menarik tangannya dari genggamannya Aksa lalu bangkit dan berkata, "saya duluan ya. Waktu makan siang masih lima belas menit lagi. Nikmatilah dengan santai makan siang kalian" Binar tersenyum ke semuanya lalu pergi meninggalkan mejanya Aksa dan teman-temannya.
Aksa mengikuti arah perginya Binar dengan sorot mata ambigu.
"Sa, kenapa kamu menatap arah perginya kak Binar? ada masalah apa?" tanya Ratna.
Aksa langsung menoleh ke Ratna, "aaaa, nggak apa-apa. Aku cuma merasa kalau bos kita itu unik, heeeeee"
"Iya kamu benar. Kak Binar memang sulit ditebak. Jarang senyum, dingin, kolot, galak, tegas, banyak yang takut sama dia" sahut Lina.
"Hanya Ratna dan Lela aja yang bisa santai mengobrol dengan kak Binar" ucap Boy.
Aksa tersenyum lebar ke semua teman-temannya.
Binar itu memang unik tapi di mataku dia sangat ramah, murah senyum, baik, lembut, imut, dan menyenangkan Kok teman-teman. Ucap Aksa di dalam hatinya.
"Lho, Sa! ayam gorengnya mana?" tanya Ratna, "aku mau ambil satu kok hilang bersama dengan piringnya?"
Aksa menggaruk kepalanya, "iya kok bisa hilang ya?"
"Aaaahh, menyebalkan! nggak jadi dapat ayam goreng gratis dong" Ratna mengerucutkan bibirnya.
"Mungkin ayamnya langsung lari karena, takut ada kak Binar tadi, heeeee" sahut Boy dan semua teman-temannya pun terkekeh.
Tanpa mereka sadari, Binar membawa piring ayam goreng tadi, dia tumpuk di atas piringnya dan dia taruh di nampannya. Binar menuju ke kasir kantin dan mengembalikan piring yang berisi lima potong paha ayam goreng tersebut ke ibu kantin.
"Ini? kok masih ada sepiring ayam goreng? Tini bilang tadi udah habis" kata Bu kantin sambil meraih sepiring ayam goreng yang disodorkan oleh Binar.
Binar mendengus kesal, "anak anda menyisihkannya dan dia berikan secara gratis ke karyawan saya yang bernama Aksa. Bilang sama anak anda jangan diulangi lagi karena, saya nggak suka. Anak kamu telah pilih kasih, harusnya semua karyawan mendapatkan hak yang sama atas ayam goreng ini tapi dia sisihkan hanya untuk Aksa" ucap Binar.
"Maaf bu bos! baik! saya akan bilang sama anak saya dan saya akan kasih hukuman ke anak saya nanti. Sekali lagi, maaf!" ucap bu kantin.
"Saya maafkan kali ini. Bilang sama anak anda jangan diulangi lagi dan tolong bungkus ayam goreng itu, mau saya bawa pulang untuk Bronzo" ucap Binar.
Bu kantin langsung membungkus kelima ayam goreng tersebut sambil berucap, "Bronzo beruntung sekali dapat ayam goreng hari ini, heeee. Bronzo nama adiknya bu bos, ya?" bu kantin tersenyum lalu menyerahkan bungkusannya ke Binar.
Binar menerima bungkusannya dan pergi begitu saja meninggalkan bu kantin dengan muka datar dan dia tidak menjawab pertanyaannya bu kantin mengenai siapa itu Bronzo.
"Huffttt, bener ternyata rumor itu. Pertama kali bertemu dengan bu bos, pas aku tanda tangan kontrak jadi bu kantin di sini. Cantik banget bu bos itu, sampai aku ternganga, tapi sayangnya tidak murah senyum dan tidak banyak bicara. Kedua kalinya bertemu hari ini, masih sama sangat cantik tapi tidak murah senyum. Hmm! bu bos kantor ini memang galak dan judes. Baru kali ini makan siang di sini eh udah kasih wajah judesnya ke aku. Aduh Tini, Tini! bikin aku kena semprot bu bos aja hari ini" ucap bu kantin kemudian sambil menggaruk kepalanya.