
Aksa, Embun, Kenzo, dan Dara berkumpul di meja makan setelah masakan chef pribadinya Kenzo telah tersaji dengan apik di a
tas meja makan itu.
Tiba-tiba di tengah canda ria yang ada diantara Aksa dan Embun, Kenzo nyeletuk "Sa, papa masih berharap kamu bersedia kuliah S2 di Amerika, ambil jurusan manajemen bisnis. Papa harap kamu mau meneruskan istana bisnisnya papa"
Aksa langsung menatap papanya dan menaruh sendoknya, "pa, maaf! Aksa tidak tertarik di dunia bisnis. Aksa ingin........"
"Jadi karyawan biasa? kerja di perusahannya orang, sedangkan papa kamu memiliki perusahaan dan bisnis yang besar?" Kenzo mulai meninggikan nada suaranya.
Aksa kemudian bangkit, lalu menganggukkan tubuh ke papa dan mama Dara, "maaf! Aksa udah kenyang, Aksa pamit"
Aksa mengusap rambutnya Embun dan mencium singkat pipi gembulnya Embun lalu pergi meninggalkan meja makan. Dara mengusap pundaknya Kenzo lalu bangkit dan berlari mengejar Aksa.
Dara menyentuh pundaknya Aksa, "Sa, biar pak Jono mengantarmu pulang, ini sudah malam, akan sangat lama kalau naik bus"
Aksa menoleh dan tersenyum, "baiklah ma"
Aksa memang selalu merasa tidak tega jika harus menolak permintaan mama Daranya yang begitu baik dan sangat menyayanginya. Aksa pun bersedia diantar pak Jono karena, dia juga ingin buru-buru sampai di apartemennya karena, Binar tengah menunggunya.
Binar memakai jasa layanan pesan antar karena, lapar dan Aksa belum juga pulang di pukul sembilan malam.
Binar makan sendiri makanan pesanannya di depan televisi lalu mencuci piring dan gelas yang telah dia pakai di wastafel setelah dia selesai makan. Binar kemudian masuk ke kamarnya Aksa. Dia mengedarkan pandangan di seisi kamar itu. Kamar bernuansa silver dan merah gelap itu tidak terlalu banyak isi.
Binar kemudian mengambil sebuah buku sketsa gambarnya Aksa. Dia membukanya dan langsung merasa takjub akan kecerdasannya Aksa. Bahkan Aksa menggambar sebuah desain perhiasan.
"Apa ini yang dia katakan sebagai kerja sampingan? dia mendesain perhiasan?" gumam Binar, "indah sekali karyanya" Binar berucap sambil mengelus sebuah gambar hasil karyanya Aksa.
Dia kemudian terlonjak dengan bunyi dering teleponnya, dia mengangkatnya saat tahu panggilan itu dari Theo.
"Halo? kamu di mana? kok mobil kamu nggak ada lagi di rumah?"
"Emm, aku di atas langit" jawab Binar asal.
"Binar? jangan bercanda! aku benar-benar mengkhawatirkanmu, kamu di mana kok belum pulang?"
"Aku udah gede, udah tua bahkan, jadi berhenti mengkhawatirkanku, aku di rumah temanku dan menginap di sini" ucap Binar.
"Oh. Aku pengen ajak kamu makan malam, besok kan aku berangkat ke Bali. Kamu akan mengantarku ke bandara, tidak?" tanya Theo.
"Hmm, aku udah makan baru aja dan aku nggak bisa bangun pagi jadi maaf ya, aku nggak bisa mengantarmu. Have a safe flight?"
"Okelah, makasih ya. Met bobok, mimpikan aku kalau longgar ya, heeeee, karena, aku akan memimpikanmu" ucap Theo serius namun Binar menanggapinya sebagai candaan dan Binar hanya berucap, "aku terlalu lelah untuk bermimpi"
Theo terkekeh lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Binar kemudian menaruh kembali buku sketsa milik Aksa di atas meja, merebahkan diri, menghidupkan AC, lalu menarik selimut. Beberapa detik kemudian dia pun menyerah kalah, jatuh ke alam mimpi.
Aksa masuk ke dalam kamar selang tiga puluh menit kemudian. Dia melihat Binar telah tertidur pulas lalu dia berganti baju dengan sangat pelan tanpa menimbulkan suara Lalu mencium keningnya Binar.
Setelah itu, dia keluar kamar dan tersenyum bahagia, Binar telah membantunya berkemas. Semua telah siap, kopernya, camilannya, dan satu tas ransel yang berisi perlengkapan kerja ditambah sepasang sepatu baru yang baru saja dibelikan oleh mama Daranya.
Aksa kemudian merebahkan diri di atas sofa sambil berpangku tangan menatap langit-langit kamarnya. Kemudian Aksa bangkit dan bergumam, "apa Binar sudah makan?" kemudian dia melangkah lebar masuk kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang, mengusap pelan pipinya Binar dan berucap lirih, "sayangku, Binarku?"
Binar mendecakkan mulutnya lalu membuka kedua matanya, Binar tersenyum bahagia memandang wajah tampannya Aksa lalu mengusap pipinya Aksa, "indahnya hidupku setiap kali aku membuka mata aku menangkap sosok indah kamu yang bak malaikat ini"
Aksa terkekeh, "memangnya kamu pernah melihat malaikat?" Aksa mengambil tangannya Binar dari pipinya lalu dia cium tangan itu dan dia genggam erat.
"Everyday, lha di depanku ini adalah sosok malaikat yang paling tampan yang ada di langit sana dan telah turun ke bumi demi aku, heeeee"
Aksa kembali terkekeh dan mencium tangannya Binar lalu bertanya, "kamu udah makan? maaf aku kelamaan di rumahnya papaku"
"Emm, baru dua suap steak, heeee" jawab Aksa.
"Astaga!" Binar langsung bangun dan duduk, "masih lapar ya? aku pesankan makanan kalau gitu" ucap Binar sambil memegang perutnya Aksa dengan tangan yang masih bebas dari genggamannya Aksa.
Aksa menganggukkan kepalanya, "boleh deh! dua buger aja sama kentang goreng jumbo. Kita makan bareng, ya?"
"Aku gendut dong entar, makan burger malam-malam, nanti kamu nggak mau melihatku lagi kalau aku gendut" Binar mengerucutkan bibir di depannya Aksa.
Aksa mengecup bibirnya Binar dan tersenyum, "aku akan suka walaupun kamu gendut. Aku akan menyukaimu selamanya dan dalam keadaan apapun"
"Huffttt! baiklah aku pesankan dua burger dan satu kentang jumbo, minumnya?" tanya Binar.
"Jangan soda karena ini sudah malam, kadar gula di minuman soda sangat tinggi nggak baik diminum di malam hari menjelang tidur, emm air mineral aja" ucap Aksa.
"Oke air mineral dan selesai" Binar menaruh kembali ponselnya di atas ranjang setelah selesai memesan makanannya.
Wajahnya Aksa kemudian mendekat ke wajahnya Binar, semakin dekat dan dekat, tiba-tiba bunyi ponselnya bInar berdering dan dahi mereka saling terantuk. Binar dan Aksa mengaduh saling menatap dan tertawa lirih.
Binar menatap layar ponselnya lalu menatap Aksa.
"Siapa?" tanya Aksa.
"Hendra" Binar menyerahkan ponselnya ke Aksa.
Lalu Aksa menjawab panggilan telepon itu, "halo? untuk apa anda menelepon pacar saya semalam ini?"
Hendra menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menatap layar ponsel itu, "pacar? Binar beneran telah memiliki pacar?"
Lalu klik. Hendra memutuskan sambungan teleponnya.
Aksa mengernyit lalu menaruh ponselnya Binar di atas ranjang, "dasar pengecut. Bagaimana dulu kamu bisa begitu mencintai laki-laki semacam ini, Binar?"
Binar menundukkan kepala lalu berucap lirih, "aku memang bodoh"
Aksa kemudian mencubit dagunya Binar, dia mengangkat wajahnya Binar, lalu mencium bibirnya Binar. Entah kenapa dia menjadi kecanduan akan manisnya bibir Binar.
Mereka berciuman dengan intens dan Aksa melakukannya dengan penuh perasaan, kelembutan, dan cinta. Membuat hati Binar menggelenyar indah, jantungnya berdetak kencang, dan darahnya berdesir hebat di sekujur tubuhnya. Dia tanpa sadar mendesah menuntut lebih, dan lebih lagi, membuat Aksa tersenyum senang dan mulai menyusupkan wajah tampannya di kulit lehernya Binar yang harum dan putih bersih, dia berhasil mendaratkan satu tanda kepemilikan di sana bertepatan dengan.............
Tok....Tok......Tok .....Tingtong....Tingtong.
Binar nampak linglung dan masih memejamkan kedua matanya ketika Aksa melepaskan ciumannya lalu bangkit, bergegas keluar kamar untuk membuka pintu apartemennya.
"Sudah dibayar?" tanya Aksa.
"Sudah" jawab si pengantar makanan pesanannya Binar tadi.
Aksa kemudian menutup kembali pintu apartemennya dan membawa masuk makanan tersebut lalu menuju ke dapur sambil memanggil Binar, "sayang, burgernya udah datang nih"
Binar merapikan rambut lalu bangkit dan keluar kamar menuju ke dapur. Mereka makan burger berdua dengan penuh cinta dan sesekali Aksa mendaratkan ciuman di kening dan pipinya Binar.
"Tolong jangan kenalkan diri kamu lagi sebagai tanteku ya, bilang aja kalau kamu pacarku, nggak apa-apa kok. Tetanggaku orangnya baik-baik semua dan mereka berpikiran terbuka, nggak kolot karena, yang tinggal di apartemen ini orang berpendidikan dan berpikiran maju" ucap Aksa.
"Siap, maafkan aku ya" ucap Binar sambil menggigit burgernya.
Aksa tersenyum, "aku nggak pernah bisa marah sama kamu, entah kenapa ya?"
"Karena, aku imut?" ucap Binar.
Aksa tertawa sambil manggut-manggut, "iya karena kamu imut"