My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aksa dan Embun



Dan.......Aksa mulai menggigit bibirnya Binar agar bibir itu terbuka dan dia bisa menyusupkan lidah di sana. Binar tanpa sadar mendesah ketika dia terlibat permainan lidah yang ditawarkan oleh Aksa. Sama-sama belum mengetahui cara berciuman yang sempurna, keduanya justru menjadi semakin tertantang di saat mereka berdua mencoba sesuatu yang baru dan menggeliat seksi ketika merasakan sensasinya.


Aksa menarik bibirnya untuk mengambil napas sambil mengusap rambutnya Binar. Binar membuka mata dan berucap, "apa aku kurang lihai?"


Aksa terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa kamu berhenti?" tanya Binar.


"Aku mengambil napas sejenak, kalau nggak, jantungku bisa meledak menikmati manisnya bibirmu" Aksa tersenyum sambil mencubit hidungnya Binar. Binar tersenyum dan merona malu lalu bertanya, "apa kamu beneran belum pernah berciuman?"


Aksa menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, "kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Ka...karena kamu sangat hebat menciumku. Aku rasakan kalau kamu sangat lihai dan aku sedikit kewalahan mengimbanginya dan.......hmmmppphhttttt"


Aksa langsung mengunci bibirnya Binar lagi. Dia tersentak gairah saat mendengar kata pujian yang bertubi-tubi dari Binar. Aksa membuncah senang, eksperimennya di dalam mencium Binar ternyata berbuah manis, Binar sangat menyukai ciumannya.


Aksa mulai tidak bisa bermain dengan penuh kelembutan, kedua insan itu pun berguling ke kanan dan ke kiri berganti-ganti posisi, kadang Aksa di atas dan kadang Binar yang berada di atas, sambil terus berciuman.


Tiba-tiba.....Tok ....Tok.....Tok.


Binar langsung mendorong tubuhnya Aksa, "siapa yang datang?"


"Entahlah. Tapi biarkan saja, biar dia ketuk terus pintu itu" Aksa kembali mencium bibirnya Binar dan.......Tok......Tok ....Tok, pintu kembali terketuk


Kemudian.......Tingtong.......Tingtong....Tingtong,bel pintu itu berbunyi terus.


Binar kembali mendorong tubuhnya Aksa, "buka dulu!"


Aksa mendengus kesal dan dengan sangat terpaksa dia bangun dan keluar kamar. Di saat menatap layar mini di sebelah pintu apartemennya, Aksa langsung membeliak kaget. Aksa memutar badan, menyambar tasnya Binar dan membawanya masuk ke kamar lalu melempar tas itu di atas ranjang. Binar terlonjak kaget, "siapa yang datang?"


"Boy" sahut Aksa sembari memutar badan, menutup pintu kamarnya dan berlari untuk membukakan pintu apartemennya. Boy mengernyit, "kenapa lama sekali sih? kamu lagi mandi ya?" Boy melepas sepatunya dan menatap sepasang sepatu high heels. Lalu Boy kembali melihat Aksa dan dia pun tersenyum jahil sambil menjumput rambutnya Aksa, "waaahhh! rambutmu basah, ada sepatu cewek, lalu buka pintunya lama bangeeetttt, aku paham, aku paham, hahahaha"


Aksa langsung menepis tangannya Boy lalu menatap sepatunya Binar, shit! aku lupa menyembunyikan sepatunya Binar. Batin Aksa.


Boy hendak melangkah masuk tapi tubuhnya langsung ditahan oleh Aksa, "maaf, aku baru bersih-bersih rumah jadi lebih baik kamu jangan masuk dulu saat ini dan ada keperluan apa kamu kemari?"


Boy menepis tangannya Aksa dari dadanya lalu dia melangkah ke kiri, Aksa pun langsung melompat ke kiri untuk menghadang langkahnya Boy.


Boy terkekeh lalu berucap, "bersih-bersih atau menyapu" Boy membentuk tanda kutip ke udara sambil melengkapi ucapannya, "bersih, heeeee?"


Aksa mendengus kesal, "Boy jangan bercanda! ada perlu apa kamu kemari?"


"Aku ingin melihat seperti apa pacarmu, heeee. Kamu nggak berniat mengenalkannya padaku?" Boy meringis ke Aksa.


"Boy!"


"Oke! aku ke sini membawakan motor kamu, tadi aku titipkan motor kamu ke pemilik toko dan udah aku bawa ke sini. Nih kuncinya" Boy menaruh kunci motornya Aksa ke dalam tangannya Aksa.


"Terima kasih banyak Boy, maaf kalau aku tidak bisa mengijinkanmu masuk kali ini. Aku benar-benar berterima kasih dan meminta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu" ucap Aksa.


Boy menepuk pundaknya Aksa, "yeeaahh, nggak apa-apa santai aja. Teruskan saja kegiatanmu menyapu bersih, heeee" Boy memakai kembali sepatunya dan Aksa langsung berucap, "sepulangku dari Bali aku akan ajak kamu makan ke mana aja, kamu boleh pilih"


Boy membentuk huruf O dengan jarinya kemudian tersenyum dan melangkah keluar dari apartemennya Aksa.


"Fiuuuuhhhh" Aksa menghela napas lega namun, baru beberapa langkah dia meninggalkan pintu, bel kembali berbunyi dan dia kembali panik saat melihat mama Dara, mama tirinya datang bersama dengan Embun.


Aksa langsung membuka pintu dan melangkah keluar lalu menutup pintu apartemennya dengan cepat, "Ma, Embun"


"Lho kok malah keluar? mama bawakan beberapa camilan dan keperluan kamu nih, kamu besok ke Bali kan?" Dara menyodorkan lima paper bag ke Aksa.


"Makasih Ma" Aksa meraih kelima paper bag itu lalu kembali berucap, "Emm, apartemennya baru aku bersihkan dan berantakan banget, sebentar ya ma, mama tunggu di luar sebentar saja, aku akan ambil tas, lalu kita ke rumah. Aku ingin bertemu papa untuk minta restu supaya segala urusanku di Bali nanti berjalan dengan lancar"


Dara tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aksa masuk sambil menenteng beberapa paper bag yang dibawakan mama tirinya untuk dirinya.


Binar tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Aksa kembali berlari dan keluar dari apartemennya, "ayok, ma! kita ke rumah papa"


"Ayuk!" sahut Dara dengan penuh semangat. Dara begitu bahagia di saat Aksa berucap ingin bertemu dengan papanya karena, Aksa memang selalu enggan untuk berkunjung ke rumah dan menemui papanya.


Aksa menyetir mobilnya Dara sembari menyanyikan lagu anak-anak bersama dengan Embun. Adik tiri yang begitu dia sayangi.


Dara yang duduk di jok belakang tersenyum penuh kebahagiaan melihat Embun dan Aksa begitu saling menyayangi.


Binar mendesah panjang sembari merapikan baju dan rambutnya dia melangkah keluar dari kamar sambil menarik keluar kopernya Aksa. Binar telah membantu Aksa berkemas dan dia taruh koper itu di dekat sofa. Binar menatap paper bag yang ada di atas sofa. Dia buka satu per satu kelima paper bag itu dan langsung tertegun melihat sepasang sepatu baru bermerk dan sangat mahal karena, termasuk dalam kategori limited edition dan hanya ada lima pasang aja di dunia ini. Harganya bahkan berkisar di angka puluhan juta rupiah.


Lalu Binar melihat sebuah jaket yang pernah dia lihat di online shop, harga jaket bermerk model itu, harganya bahkan mencapai dua puluh lima juta rupiah, "Wow! orang tuanya Aksa ternyata orang kaya, seorang hartawan?" Binar masih terpaku melihat isi semua paper bag tersebut.


"Aaahh! aku semakin tidak pede nih menjadi pacarnya. Dia muda, tampan, cerdas, dan anak orang yang super kaya, hiks, hiks, aku bahkan tidak pernah berani membeli sepatu yang harganya mencapai puluhan juta kayak gini. Sepatuku paling mahal cuma seharga lima juta rupiah itu aja aku bayarnya nyicil, hiks, hiks, hiks, jiwa pelitku merana nih" gumam Binar sembari mengacak-acak rambutnya.


Aksa, Embun, dan Dara telah sampai di istananya Kenzo Julian. Kenzo bahkan bergegas berlari untuk menyambut kedatangannya Aksa. Dia pun langsung memeluk Aksa dengan sangat erat. Kenzo kemudian melepas pelukannya dan merangkul Aksa untuk melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Mereka duduk di ruang keluarga dan Kenzo langsung menyuruh chef pribadinya untuk menyiapkan makanan kesukaannya Aksa yakni steak dan kentang goreng. Steak dan kentang goreng adalah makanan kesukaannya Aksa sedari Aksa kecil.


Kenzo terus mengulas senyum bahagia di wajah gantengnya, "makasih ya nak, kamu mau mengunjungi papamu. Bagaimana magang kamu? bos kamu baik?"


Aksa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "bosnya Aksa sangat baik dan Aksa nyaman magang di sana"


Tentu saja bosku baik, pa. Bosku yang cantik kan pacarku, hihihihi. Batin Aksa.


"Aaah, syukurlah. Kamu katanya ke Bali besok, apa perlu papa siapkan private jet-nya papa?" Kenzo berucap dengan penuh semangat.


Aksa langsung melambaikan kedua tangannya, "nggak usah, pa! bosnya Aksa, udah belikan tiket pesawat kok"


"Tapi......."


"Mas, Aksa ingin belajar mandiri dan lepas dari bayang-bayang kemewahanmu, jadi ijinkan dia berproses" Dara langsung memotong ucapannya Kenzo.


Kenzo menoleh ke istrinya lalu mengusap rambut istrinya sambil berucap, iya sayang" kemudian dia kembali menatap Aksa, "Apa kabar kakek dan nenek kamu di Kudus? mereka sehat?" tanya Kenzo.


"Sehat. Sepulang dari Bali, Aksa akan ijin untuk pulang ke Kudus" ucap Aksa.


"Ada urusan apa?" tanya Kenzo.


"Hari meninggalnya mama. Biasanya nenek menyiapkan makanan sederhana dan kami berdoa bersama mendoakan mama" ucap Aksa dengan santainya.


Kenzo langsung mematung dan tidak memberikan reaksi apapun. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi dan canggung. Untungnya Embun segera masuk sambil membawa buku pelajarannya, Embun mendekati Aksa dan berkata, "kak Aksa, bantu Embun ngerjain matematika dong! ada yang Embun nggak ngerti nih"


Kehadiran Embun berhasil mencairkan suasana.


Aksa tertawa lalu mengusap kepalanya Embun, "oke, kita duduk di sana yuk!" Aksa mengajak Embun duduk di meja panjang tidak jauh dari sofa bundar yang merajai ruang keluarga tersebut.


Aksa dan Embun terhanyut di dalam proses belajar mengajar dan sesekali terdengar canda ria dari kedua kakak adik tersebut.



Kenzo melihatnya dengan penuh kebahagiaan. Dia sungguh bersyukur, Aksa dan Embun bisa akur dan saling menyayangi. Cowok ganteng papanya Aksa dan Embun itu pun lalu menoleh ke istrinya dia merangkul bahu Dara dan berucap, "terima kasih udah mau menerima Aksa, mencintai Aksa dan mendidik dengan baik putra putri kita sehingga mereka bisa akur dan saling menyayangi seperti itu"


Dara mengusap dadanya Kenzo, "itu tugasku sebagai seorang istri dan ibu. Kamu nggak perlu berterima kasih"


Kenzo mengecup bibirnya Dara. Dara langsung menepuk dadanya Kenzo dan bergumam lirih, "mas! kalau anak-anak lihat kan malu"


Kenzo tersenyum dan semakin erat memeluk tubuh ramping istri manisnya itu.