
"Apa aku perlu beli bunga dan cokelat? Binar suka banget sama cokelat tapi......emm, kalau bunga aku nggak tahu dia suka bunga apa?" Theo bergumam di depan sebuah florist atau toko bunga yang cukup besar dan terkenal di pusat kota.
Andik menghela napas panjang melihat bos besarnya berdiri cukup lama di depan florist tersebut. Andik kemudian berinisiatif turun dari dalam mobil lalu melangkah mendekati bos-nya. Andik menepuk pelan pundaknya Theo. Theo terlonjak kaget dan spontan menoleh ke Andik.
"Apa yang bikin bos bingung? kok nggak masuk malah berdiri lama di sini?" tanya Andik.
Theo mengalihkan pandangannya kembali ke florist tersebut lalu berkata, "aku nggak tahu bunga kesukaannya Binar" lalu Theo melengkungkan tubuh jangkungnya sambil merengut, "aku suami yang payah, bunga kesukaan istriku aja aku nggak tahu, huuffttt"
Andik tersenyum geli lalu berkata, "anda tanya ke nyonya aja kan gampang"
Theo kembali menegakkan badannya lalu menoleh ke Andik, "nggak boleh begitu"
Andik spontan menautkan alisnya, "kenapa nggak boleh begitu?"
Theo mendesah panjang lalu menghadap ke Andik, "kalau aku tanya maka, nggak jadi surprise dong. Aku pengen kasih kejutan buat Binar"
"Tanya ke asisten pribadinya nyonya atau anak buahnya nyonya aja kalau gitu, Bos!"
"Udah dan aku malah dibentak. Lela sepertinya tiap hari datang bulan. Galak banget dia sama aku, huuffttt"
Andik tergelak geli lalu berkata, "mana ada datang bulan tiap hari"
"Buktinya, aku nanya baik-baik malah Lela ngebentak aku. Dia bilang nggak tahu dengan nada tinggi banget, hampir pecah gendang telingaku tadi. Lalu dia tutup begitu aja sambungan telponku. Hmm! cewek kalau lagi datang bulan emang galak bener" ucap Theo dengan santainya.
Andik kembali tergelak geli mendengar bos-nya berasumsi seenak hati kalau wanita yang bernama Lela, sedang datang bulan. Andik mendesah panjang lalu berkata, "Kita balik ke kantor dulu aja Bos, banyak kerjaan menunggu kita. Kita bahas sambil kerja, oke?"
Theo mengangkat jari telunjuknya ke udara lalu dia goyangkan jari telunjuk itu ke kanan dan ke kiri di depannya Andik, "no, no, no! aku cuti hari ini"
"Hah?!" Andik kembali menarik dagunya ke bawah, "sejak kapan Bos cuti?"
"Sejak keluar belanja sama kamu tadi, hehehehe. Aku nggak mood kerja hari ini jadi, aku mau cuti aja hari ini" ucap Theo dengan santainya sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjangnya.
"Tapi......."
"No tapi tapi" Theo berucap santai lalu mengulas senyum lebarnya ke Andik.
Andik hanya bisa menghela napa panjang lalu bertanya, "oke, sekarang apa yang akan Bos lakukan?"
"Membeli bunga, cokelat, balon, lalu pulang. Aku mau mendekorasi kamarku biar tampak lain dan berasa sweet bagi Binar, hehehehe" Theo berucap dengan sumringah sambil menengadahkan wajah tampannya ke atas, membayangkan desain romantis yang sudah nongkrong di benaknya dengan apik.
"Iya masuk dong Bos kalau gitu"
"Hah?!" Theo menoleh ke Andik.
"Mau beli bunga kan? ya udah masuk ke florist-nya"
"Emm, kamu cari di internet deh bunga apa aja yang bisa bikin cewek meleleh" Theo berucap sambil melangkah santai meninggalkan Andik begitu saja.
Theo membuka pintu florist tersebut dan langsung disambut ramah oleh pemiliknya, "apa yang bisa saya bantu, tuan?"
"Kita tunggu asisten saya dulu ya, hehehe, dia lagi browsing di internet soal bunga yang bisa bikin seorang cewek klepek-klepek eh meleleh" kata Theo.
Pemilik florist yang sudah berumur sekitar empat puluh lima tahun itu pun tersenyum geli lalu berkata, "anda ingin beli bunga untuk siapa? gebetan anda, pacar anda, atau istri anda?"
Andik masuk sambil menatap terus layar ponselnya dan menubruk punggungnya Theo. Theo melangkah maju lalu menoleh ke Andik dan bertanya, "udah ketemu?"
Andik terus menatap layar ponselnya sambil menggelengkan kepalanya.
Pemilik florist tersebut tersenyum lebar melihat tingkah polos pelanggan barunya itu lalu dia kembali bertanya, "maaf tuan, untuk siapa anda beli bunga? untuk gebetan anda, pacar anda, atau istri anda?"
"Tentu saja istri saya" sahut Theo.
"Bagaimana kepribadian istri anda?" tanya pemilik florist tersebut.
"Istri saya sangat cantik, bahkan wanita yang paling cantik di dunia ini, dan saya sangat mencintainya, hehehe" sahut Theo dengan sorot mata penuh dengan cinta untuk Binar istrinya.
"Saya bisa melihat dari sorot mata anda kalau anda sangat mencintai istri anda tapi, maksud dari pertanyaannya saya tadi, istri anda itu feminin, tomboy, atau seperti apa kepribadiannya?"
"Oh! itu maksudnya, hahahaha" Theo lalu meringis sambil menggaruk kepalanya dan Andik segera berdeham untuk mengingatkan Theo supaya Theo menjaga sikap dan tidak nampak konyol di depan pemilik florist tersebut.
Namun, Theo tidak memahami maksudnya Andik. Dia justru mengambil permen mint dari saku jas-nya dan dia berikan ke Andik sambil berkata, "batuk, kunyahlah permen ini! bisa meredakan batuk kamu, aku udah coba"
Andik merapatkan bibirnya kembali yang sempat sepersekian detik ternganga lalu dia meraih permen itu sambil mendesah panjang dan berkata di dalam hatinya, cinta memang juaranya dalam hal membuat orang menjadi manusia bodoh dan konyol, hihihihi.
"Bagaimana tuan?" tanya pemilik florist itu lagi.
"Oh iya, soal istri saya ya, emm, dia feminin, mandiri, baik hati, cuek, dan tomboy orangnya tapi unik dan saya sangat mencintainya" sahut Theo.
Pemilik florist tersebut tersenyum lebar lalu berkata, "saya tahu bunga yang tepat untuk istri yang sangat anda cintai itu. Mari ikut saya!" ajak pemilik florist tersebut sambil melangkah ke dalam taman bunganya yang luas dan nampak indah dengan hamparan bunga warna-warni dan beraneka ragam jenisnya.
Andik menutup ponselnya karena, Theo menyuruhnya membatalkan browsing di internet.
"Anda bisa kasih bunga Krisan karena istri anda tomboy dan cuek saya gambarkan dia wanita yang ceria dan bunga Krisan melambangkan keceriaan. Lalu bunga Lili melambangkan harapan, bunga Dahlia melambangkan cinta yang sangat besar. Atau bunga Matahari yang melambangkan kehangatan. Mawar merah untuk ungkapan aku cinta padamu, mawar putih melambangkan kesucian, mawar kuning, kebahagiaan dan yang pink melambangkan keanggunan. Anda mau yang mana, tuan?"
Pemilik florist tersebut tergelak geli dan berkata, "kalau anda bingung memilihnya maka saya sarankan bunga Matahari karena maknanya begitu dalam untuk pasangan suami istri dan mawar putih yang melambangkan kesucian"
"Okelah! kirim mawar putih dan Sunflower-nya ke rumah saya siang ini, bisa? ini kartu nama saya"
"Hah? memangnya anda ingin beli berapa buket? kenapa harus dikirim?" tanya Andik.
Theo dengan cepat menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya Andik tanpa menoleh ke Andik. Andik mendesah panjang lalu menepis jari telunjuknya Theo itu dari bibirnya.
Pemilik florist tersebut tersenyum lebar menatap kelakuannya Theo dan Andik lalu berkata, "bisa tuan, saya akan kirim sekarang juga, biar mobil box saya mengikuti mobil anda menuju ke rumah anda"
"Oke! saya setuju" sahut Theo dengan sumringah.
"Anda mau bunganya berbentuk apa? rangkaian cascade yang berbentuk air terjun atau hand-tried yang bisa dibawa tangan, fish bowl, bunganya dirangkai di dalam bejana, atau......."
"Saya ingin menghias kamar saya dengan Sunflower dan mawar putih jadi........"
"Oh! baiklah saya mengerti, saya akan ikut kalau gitu. Saya sendiri yang akan menghias kamar anda. Saya akan siapkan semuanya dan kita bisa berangkat ke rumah anda"
Selang setengah jam, mobil box florist tersebut mengikuti mobilnya Theo menuju ke rumahnya Theo.
Sesampainya di rumahnya Theo, pemilik florist dan anak buahnya segera mengerjakan tugasnya menghias kamarnya Theo. Andik menunggu di bawah dan Miko nampak heran lalu bertanya dengan kemayunya, "kenapa mendatangkan florist? apa bos Theo ulang tahun?"
Andik menggelengkan kepalanya.
"Kok aneh? Bos Binar juga nggak ulang tahun hari ini. Lalu kenapa menghias kamar dengan jasa florist?"
Andik kembali menggelengkan kepalanya karena, terus terang Andik merasa capek seharian mengikuti bos-nya ke sana kemari dan merasa capek dengan semua tingkah laku bos-nya yang tidak seperti biasanya.
"Woooo! sekali lagi kamu gelengkan kepala kamu maka aku akan mencubit pipi kamu, iihhhh gemes deh!" Miko berucap gemas ke Andik.
Andik segera menggeser langkahnya ke kanan untuk menjauh dari Miko.
Miko lalu melangkah ke arah dapur namun, saking gemasnya sama Andik, saat melewati Andik, dia menepuk pantatnya Andik dengan sangat keras.
Andik spontan menoleh ke belakang dan melihat Miko berlari kencang menuju ke dapur sambil terkekeh geli dan memekik manja, "jangan kejar Mimi, jangan kejar Mimi, aaawww!"
"Siapa yang mengejarmu? dasar gila!" ucap Andik sambil mengelus pantatnya, menatap arah perginya Miko lalu dia mendengus kesal dan menggeleng-nggelengkan kepalanya.
Setelah puas menatap kamarnya yang nampak indah, manis, dan romantis itu, Theo menyuruh tim florist untuk turun ke bawah dan menunggunya sebentar di ruang tamu karena, masih ada yang ingin Theo kerjakan di dalam kamarnya itu.
Theo memasang lilin bersanding dengan vas bunga indah terbuat dari kaca yang berisi mawar putih di meja bundar yang dia tata di balkon kamarnya, lalu dia menaruh dua kursi saling berhadapan di untuk menemani meja bundar mungil itu, lalu dia menata dua buah kotak berisi jam tam tangan couple bermerk terkenal di atas ranjang dan menaruh sekotak besar cokelat berbentuk hati di tengah-tengahnya. Setelah puas, dia pun melangkah keluar dari dalam kamarnya dengan terus mengulas senyum cerah ceria di wajah tampannya.
Theo kemudian duduk di depan pemilik florist dan bertanya, "berapa biaya semuanya?"
"Emm, karena bunga yang saya pakai bunga segar dan saya buat tahan lama sampai besok maka, harganya beda dan lebih mahal, tuan. Tapi saya kasih anda harga promosi" kata pemilik florist tersebut dengan senyum manisnya.
"Katakan saja, jangan sungkan!"
"Harga umum, sebelas juta rupiah namun, saya kasih anda harga sepuluh juta rupiah saja" sahut pemilik florist.
"Berapa nomer rekening anda? saya akan transfer via M-Banking"
Pemilik florist tersebut menyebutkan nomer rekeningnya. Setelah transferan uang dari Theo masuk ke rekeningnya dia pun berterima kasih lalu pamit ke Theo, Andik, dan Miko.
"Bos mau adain pesta ya? Miko boleh undang teman-teman Miko?" tanya Miko kemudian.
"Pesta apa? aku akan berkencan dengan istriku nanti malam. Berduaan aja di dalam kamar dan kamu jangan mengganggu! ngerti? jangan ketuk-ketuk pintu apapun yang terjadi, pokoknya jangan ganggu aku dan istriku sampai esok pagi!" Theo berkata ke Miko dengan sangat serius.
"Ngerti, Bos" sahut Miko dengan sikap tegap.
"Bagus! nih aku kasih bonus ke kamu" Theo memberikan sebuah kotak dengan tulisan merk terkenal ke Miko.
Miko menerima kotak itu lalu membukanya. Kedua mata Miko membulat sempurna saat melihat isi kotak tersebut, "Bos! makasih banyak, ini jam tangan mahal dan bermerk, wow! berasa kaya deh ai kalau pakai jam tangan ini"
Andik menoleh ke Theo dan bertanya, "Kok sama persis dengan punya saya yang Bos kasih tadi?"
Theo hanya melempar senyum lebar ke Andik dan Miko langsung memekik senang, "wow! ai couple-an dengan babang tamvan Andik sayangku, awww! thank you Bos"
Andik langsung meringis dan bergidik ngeri sedangkan Theo melepas tawa renyahnya lalu berkata ke Miko, "masak steak kesukaannya Binar dan nanti jam enam sore kamu taruh di meja yang ada di balkon! setelah itu jangan ganggu kami sampai pagi, ngerti?"
"Wooo! ngerti banget dong ai, habis dikasih jam mewah, otak ai langsung encer, Bos, perintah apapun, ai langsung paham seribu persen, hehehehe. Ai permisi masak dulu kalau gitu. Muuaaahh untuk babang tamvan ai, hihihi, kita couple-an, aauuummm! ai suka, hihihihi" Miko mengarahkan tangan berbentuk cakar ke Andik sambil berjalan pelan menuju ke dapur.
Theo tertawa terbahak-bahak melihat wajah pucatnya Andik saat menatap arah perginya Miko lalu dia menghenyakkan tubuhnya ke sofa sambil menenggak sirup dingin buatannya Miko.
Andik menggelengkan kepalanya sambil mendengus kesal ke arah Miko, lalu dia menoleh ke bos besarnya untuk berkata, "saya balik ke kantor dulu, Bos"
"Hmm! makasih ya" sahut Theo.
Andik menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan bosnya yang terus terlihat sumringah.
Theo bergumam, "aku nggak sabar menunggumu pulang, Binar sayangku"