My Pretty Boss

My Pretty Boss
Galaknya Binar



Tim medis dari ruang Rontgen menemui Binar dan Damar, "ini hasil Rontgen-nya silakan anda menemui dokter Alex di ruangannya, emm, di Selasar ini anda ambil langkah ke kiri, ruangan dokter Alex di ujung selasar itu di sebelah kiri anda"


"Baik, terima kasih" ucap Damar sambil menerima map cokelat besar yang berisi hasil Rontgen-nya Binar. Kemudian Damar mendorong kursi rodanya Binar menuju ke ruangannya dokter Alex.


Mereka sampai di ruang tunggu dan masih harus menunggu satu pasien lagi barulah dia diperbolehkan masuk untuk menemui dokter Alex. Saat gilirannya tiba, Binar masuk ke ruangan tersebut dengan ditemani Damar.


Dokter Alex menatap Binar dan langsung memekik girang, "kamu Binar, kan? apa kabar? terus kabar kakak kamu, Mika, baik-baik saja, kan?" Binar langsung terlonjak kaget.


"Anda kenal dengan kak Mika?" tanya Binar.


"Udah nggak usah berbicara formal padaku. Aku Alex Ferdiansyah, mantan pacarnya Mika, kamu nggak ingat?" tanya Alex dengan senyum lebarnya.


Damar menoleh ke Binar dan langsung merasa geli melihat wajah bingungnya Binar.


"Heee, mantan kak Mika kan banyak, maaf jika aku nggak ingat denganmu, heeeee" ucap Binar sambil memamerkan jejeran gigi putih bersih dan sehatnya ke dokter Alex.


"Aku mantan kakakmu semasa SMA, emm tapi sudahlah. Nggak usah bahas soal aku dan Mika. Kamu kenapa kok pakai kursi roda?" tanya dokter Alex.


"Emm, pinggangnya terbentur ranjang kayu dan tidak langsung diperiksakan tapi malah dibuat kerja lembur jadi makin parah nyeri yang dia rasakan, dok. Ini hasil Rontgen-nya" Sahut Damar.


Dokter Alex tersenyum sambil menerima map cokelat berukuran besar lalu mengeluarkan hasil foto Rontgen-nya Binar dan menaruhnya di tempat khusus untuk membaca sebuah foto Rontgen. Dokter Alex berdiri di depan foto Rontgen-nya Binar sambil mencubit dagunya kemudian berucap, "hmm, ada peregangan ligamen jaringan fibrosa yang menghubungkan tulang dengan sendi. Walaupun tidak parah tapi aku sarankan kamu beristriahat total dari semua kegiatan berat selama tiga hari"


"Contohnya pekerjaan berat yang seperti apa?" tanya Binar.


Dokter Alex mencabut hasil foto Rontgen-nya Binar dari tempat khusus pembacaan foto Rontgen. Memasukkannya kembali ke dalam map dan menyerahkannya ke Binar kemudian dia berucap, "membungkukkan badan untuk mengambil benda berat, terus berolahraga seperti joging atau berdansa yang menggerakkan pinggul, heeeee"


Gila nih dokter. Masak iya aku mau berdansa. Batin Binar kesal.


Damar tersenyum lebar lalu berkata, "dia tidak pandai berdansa jadi aman dok"


Dokter Alex terkekeh, "dia memang sedari kecil beda jauh dengan Mika. Dulu dia kurus banget, rambutnya panjang sering dikucir kuda dan nggak secantik sekarang, heeeee"


"Waktu kak Mika SMA kan aku masih SMP jadi wajar kalau jelek, aku kan masih polos" Binar melemparkan protes dan langsung merengut di depannya dokter Alex.


"Tapi sejak masuk SMA, dia cewek paling cantik di angkatan kami tapi sayangnya tomboy banget, heeeee" sahut Damar.


"Iya aku kan harus menjaga kakak-ku yang sangat cantik dan feminin itu dari segala gangguan cowok-cowok nggak jelas makanya aku les taekwondo jadi ya bawaannya tomboy" ucap Binar sambil mendengus kesal.


Alex dan Damar tertawa kecil. Kemudian dokter Alex menyerahkan resep ke Binar sambil tersenyum dia berucap, "salam buat kakak kamu"


"Nggak usah salam-salam. Nggak akan aku sampaikan. Perselingkuhan itu berawal dari kata salam yang didapat dari seorang mantan. Kak Mika udah berkeluarga dan sangat mencintai suaminya jadi jangan kirim salam ke kak Mika" Binar melotot tajam ke dokter Alex.


Dokter Alex langsung tertawa lepas, " siapa yang akan selingkuh? aku tahu Mika udah menikah dan bahagia. Aku hanya kirim salam sebagai seorang teman, tetap nggak boleh ya?"


"Nggak boleh!" ucap Binar tegas. Binar memang sedari kecil selalu menjaga kakak perempuannya dengan sangat baik dari semua godaan laki-laki jadi dia sudah terbiasa bersikap posesif seperti itu.


"Okelah! semoga cepat sembuh" ucap dokter Alex kemudian dengan senyum lebarnya, "aku sarankan satu lagi, jangan terlalu galak nanti wajah imut kamu akan hilang dan berganti jadi kerutan, pfffttt "


Binar menyipitkan matanya di depan dokter Alex lalu berucap, "terima kasih untuk saran sesatnya" dan mengajak Damar untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


Damar memutar kursi rodanya Binar sambil menoleh ke dokter Alex dan berucap, "maafkan dia dok, saya janji akan mendidiknya untuk tidak galak lagi, heeeee"


Dokter Alex kembali melepas tawanya mengiringi kepergiannya Damar dan Binar.


"Kamu dan kak Mika memang beda jauh. Benar yang dikatakan sama dokter Alex tadi. Kamu tomboy dan kak Mika feminin. Kamu suka bermain bola dan latihan taekwondo sedangkan kak Mika suka melukis dan bermain boneka. Kak Mika sabar dan kamu hmm! galaknya minta ampun" ucap Damar sambil mendorong kursi rodanya Binar dia pun terkekeh.


Binar berucap, "itu karena aku nggak mau mantannya kak Binar si dokter Alex tadi merusak rumah tangganya kak Binar"


Perawat yang mengantar mereka keluar sampai di depan pintu keluar rumah sakit kecil itu pun berucap, "dokter Alex duda, dia tidak menikah lagi setelah istrinya meninggal tiga tahun yang lalu dan belum memiliki anak"


"Tuh kan, benar feelingku. Aku nggak akan pernah bilang ke kak Mika kalau aku bertemu dengan dokter Alex, mantan pacarnya kak Mika" ucap Binar.


Damar tersenyum, "iya baiklah. Sebentar kamu tunggu di sini aku ambil mobil dulu" Damar kemudian berlari kecil menuju ke parkiran mobil.


"Tapi dokter Alex bukan seperti itu orangnya. Dia baik dan sangat mencintai almarhum istrinya" sahut perawat tersebut sambil memegangi kursi rodanya Binar ketika Damar pergi mengambil mobilnya.


"Kalau bukan seperti itu kenapa dia masih ingat sama aku, aku aja udah lupa sama dia dan dia masih ingat kak Mika. Kalau dia tidak memiliki ingatan yang mendalam pada kakak saya, dia nggak akan mengingatku dan nitip salam untuk kakak ku" ucap Binar ketus.


"Kok anda jadi marah-marah sama saya?" perawat tersebut berucap tidak kalah ketusnya dengan Binar.


"Iya karena anda membela dokter Alex" Binar mendengus kesal.


"Lho saya tidak membelanya, itu yang sebenarnya, dokter Alex pribadi yang baik dan saya mengatakan apa adanya, dasar aneh" perawat tersebut mengucapkan kata aneh dengan lirih namun Binar dapat mendengarnya dan Binar langsung berdiri dan memutar badan untuk memandang langsung wajah perawat rumah sakit tersebut.


Binar mendengus kesal, menyipitkan mata, mengeraskan wajahnya, dan berucap, "kamu yang aneh, sudah nggak usah menungguku! masuk saja sana, urusi dokter Alex-mu itu"


Perawat tersebut mendengus kesal dan melotot ke Binar lalu memutar kursi roda yang telah kosong dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah sakit tersebut.


"Berani benar mengatakan aku aneh, dasar perawat gila! kalau nggak terima aku protes soal sikapnya dokter Alex, maka nikahi aja tuh dokter Alex" Binar masih menggumam kesal.


Damar turun dari dalam mobil dan langsung berucap, "kok kamu berdiri? kursi rodanya mana? susternya mana?"


"Susternya ngesot kembali ke dalam" ucap Binar kesal.


"Hahahaha, dia udah bikin kamu kesal ya, hahahahaha. Binar, Binar. Ya udah ayok aku antar pulang! bisa jalan?"


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, mereka akhirnya sampai di kediamannya Binar.


Damar berucap, "minum obat teratur dan cuti dulu selama tiga hari dan jangan angkat beban berat dulu?"


"Baik dokter Damar" Binar merengut ke Damar.


Damar menepuk puncak kepalanya Binar, "hahahaha, itu semua demi kebaikanmu sendiri biar kamu cepat sembuh"


"Oke! aku masuk ya dan terima kasih banyak untuk semua bantuanmu" ucap Binar sambil melangkah turun dari mobil dinasnya Damar.


Setelah Binar melambaikan tangan dan masuk ke dalam rumah, Damar meluncurkan mobil dinasnya pergi meninggalkan rumahnya Binar.


Miko bergegas menghampiri bosnya, "bos! ingat pulang juga ya? Miko pikir, bos udah pindah ke Mars dan nggak akan pulang lagi"


Binar melotot ke Miko dan langsung berucap, "jangan banyak bicara! papah aku ke kamar!"


"Lho kok jadi jalan kayak nenek-nenek gini sih bos? bos kenapa? jatuh?" ucap Miko sembari memapah bos cantiknya menuju ke kamar.


"Nenek-nenek kepalamu! berani bilang kayak nenek-nenek lagi maka akan aku potong gaji kamu bulan ini, cih!" Binar mendengus kesal sambil duduk di tepi ranjang setelah dia sampai ke dalam kamar mewahnya.


"Maaf! ai salah ngomong tadi, heeee. Mau diambilkan apa? udah makan?" tanya Miko kemudian.


"Nggak mau apa-apa. Pergilah!" ucap Binar.


Miko pun melangkah keluar dari kamarnya Binar.


Binar menatap ponselnya dan langsung menelepon Aksa ketika dia membaca pesan Aksa :


Telepon aku secepatnya! aku mengkhawatirkanmu!!!!!


"Halo?" ucap Binar.


"Halo! astaga Binar, aku menunggu telpon kamu selama tiga jam. Kamu ke mana aja? sudah sampai di rumah?" tanya Aksa dengan nada penuh kekhawatiran.


"Iya aku udah sampai di rumah. Emm, tadi aku dibawa pergi sama Hendra ke vila-nya dan........."


"Apa?! dan kamu nggak memberitahuku dan......."


"Biar aku selesaikan dulu ceritaku" sahut Binar.


"Baiklah teruskan!" ucap Aksa.


"Aku menelepon Damar dan dia........."


"Siapa Damar?" ada sedikit kecemburuan di nada bicaranya Aksa.


"Damar sahabatku sejak kelas satu SMA sampai sekarang. Aku tahu aku nggak mungkin minta bantuan ke kamu karena, kamu di Bali. Theo juga di Bali. Aku kira Hendra juga di Bali tapi ternyata dia di sini dan berniat menyekapku sampai aku bersedia menikah dengannya. Tapi aku tidak bodoh, aku menghubungi nomer ponselnya Damar dan Damar langsung menyusul Hendra dan berhasil menyelamatkanku" ucap Binar.


"Dasar Hendra brengsek! tapi kamu nggak apa-apa kan, nggak terluka sedikit, pun?" tanya Aksa.


"Aku baik-baik saja tapi tadi aku diantar sama Damar ke rumah sakit........"


"Kenapa ke rumah sakit kalau kamu baik-baik saja?" Aksa meninggikan kata tanya-nya karena, sangat mengkhawatirkan Binar.


"Aku nggak apa-apa tenanglah! aku cuma memeriksakan pinggangku yang terbentur ranjangmu kemarin. Dari hasil Rontgen aku baik-baik saja nggak ada patah tulang cuma perlu istirahat selama tiga hari dan nggak boleh angkat beban berat dulu selama itu" jawab Binar.


"Kamu sendirian selama menjalani proses pemeriksaan?" tanya Aksa.


"Damar menemaniku sampai selesai lalu mengantarkan aku pulang" ucap Binar.


"Maaf aku nggak ada di saat kamu butuh bantuan" ucap Aksa lirih dengan desahan panjang.


"Nggak apa-apa. Cewek kamu nih perkasa dan pintar jadi jangan terlalu mengkhawatirkan aku, oke?!"


"Huuuffttt, iya perkasa, kuat, pintar dan punya sahabat seorang pria" Aksa mendengus penuh kecemburuan.


"Hei! kamu cemburu? dengan Damar? hahahaha, sayang, Damar itu sahabatku dan murni sahabat" ucap Binar penuh keseriusan.


"Diantara pria dan wanita itu nggak mungkin ada hubungan platonik, tanpa ada unsur-unsur ketertarikan secara fisik dan hanya murni sahabat" ucap Aksa.


"Tapi itu benar. Aku dan Damar hanya ada hubungan platonik" ucap Binar.


"Hufffttt. Iya di kamu platonik tapi di Damar?" Aksa masih mendesah panjang untuk melepas kegelisahannya karena, cemburu.


"Kalau kamu nggak percaya, nanti sepulangnya kamu dari Bali aku akan kenalkan kamu ke Damar. Aku juga sudah kasih tahu ke Damar kalau aku dan kamu pacaran, heeee" ucap Binar.


"Baiklah" sahut Aksa lirih.


"Met bobok kalau gitu. I Love You and I Miss You" ucap Binar.


"I Love You, more and I Miss You, more" sahut Aksa dan Klik, Aksa memutuskan sambungan teleponnya dengan Binar.