My Pretty Boss

My Pretty Boss
Calon Istriku



Binar menatap punggungnya Aksa.sembari mengelus keningnya dan bergumam, "kenapa dia mengecup keningku? arrgghh! dasar bocah gila! suka banget menggodaku, huufftttt" Binar kembali duduk di kursi kerjanya dan menghela napas panjang sebelum mulai bergelut dengan kertas, pensil, dan pulpennya.


Binar terlonjak kaget ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi, "papa?" Binar mengernyit ketika melihat layar ponselnya tertera nama papanya


"Halo Pa, ada apa? tumben nelpon nih" tanya Binar saat sudah tersambung dengan papanya di seberang sana.


"Kamu nanti temani papa makan siang dengan klien papa ya!? beliau bukan saja seorang klien tapi juga seorang sahabat dekat, papa ingin kenalkan kamu dengan sahabat papa itu. Beliau baru saja balik dari Belanda" ucap papanya Binar.


"Kak Mika sekeluarga juga datang?" tanya Binar.


"Kakak kamu dan kakak ipar kamu mengajar dan nggak bisa keluar untuk makan siang" jawab papanya Binar.


"Oke deh Pa. Di mana makan siangnya?"


"Di resto Fork" jawab papanya Binar.


"Oke entar Binar ke sana sekitar jam satu ya pa"


"Sip! makasih ya sayang" Klik......Papanya Binar langsung memutuskan sambungan ponsel itu.


Binar kembali bekerja hingga tanpa terasa waktunya jam makan siang telah tiba. Dia pun bergegas keluar dari ruangannya dan langsung berlari kecil tanpa menghiraukan semua mata anak buahnya yang tengah memperhatikannya termasuk Aksa.


"Bos kita mau ke mana ya? kok tergesa-gesa gitu?" tanya Boy ke semua koleganya.


"Entah. Biasanya kalau tergesa-gesa begitu, bos kita ada janji dengan papanya. Papanya kak Binar kan sangat disiplin dan nggak suka adanya keterlambatan" sahut Ratna.


"Berarti kak Binar mirip sama papanya ya? tegas dan disiplin" ucap Aksa sambil tersenyum. Aksa sangat mengagumi Binar itulah alasannya dia mengulas senyum di wajah tampannya.


"Kenapa kamu tersenyum lebar seperti itu?" tanya Boy.


"Aaahhh, nggak apa-apa. Memangnya seseorang tersenyum itu harus ada alasannya?" Aksa balik bertanya, Boy pun terkekeh dan langsung mengajak Aksa ke kantin bawah untuk makan siang.


Binar duduk di kursi bersebelahan dengan papanya tepat saat jarum jam menunjuk ke angka satu. Papanya Binar mengelus kepalanya Binar dan tersenyum, "makasih tidak terlambat dan makasih udah mau menemani papa. Kita tunggu teman papa sebentar ya, beliau masih memarkirkan mobilnya"


Binar tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Seorang laki-laki seusia papanya melangkah mendekati meja Binar. Damian Adelard dan ada sesosok laki-laki lain yang berjalan di belakang laki-laki itu namun Binar belum bisa melihat wajahnya.


Saat Binar dan Damian Adelard berdiri, David Revano dan Theo Revano putranya tersenyum dan berucap, "senang bisa bertemu kalian"


Binar langsung terpana lalu terpaku menatap Theo dan membuat Theo semakin gemas.dibuatnya, "ada lalat masuk ke mulutmu tuh"


Binar seketika menutup mulutnya dan terduduk di atas kursi, Theo langsung tertawa lirih.


Binar mendengus kesal dan menatap tajam ke Theo saat menyadari kalau Theo hanya menggodanya.


Damian dan David ikutan terkekeh melihat tingkah konyolnya Binar.


"Vid, kenalkan ini putriku yang nomor dua namanya Binar Adelard. Aku masih punya putri satu lagi kakaknya Binar namanya Mika namun sayangnya Mika dan suaminya tidak bisa meninggalkan mahasiswa mereka untuk keluar makan siang di sini" ucap Damian.


"Iya nggak apa-apa, kan masih ada lain waktu. Putri kamu ini, emm, Binar ya? sangat cantik dan imut. Benar kan Theo?" kata David Revano sambil menoleh ke putranya dan Theo pun tersenyum dengan menganggukkan kepalanya tanda kalau dia setuju dengan penilaian papanya akan sosok Binar.


"Hahahaha, terima kasih. Tapi kamu jangan terkecoh dengan penampilannya. Putriku ini impulsif, semaunya sendiri, dan judesnya minta ampun, hahahaha" sahut Damian dan Theo langsung berucap, "anda benar om"


Binar langsung melotot ke Theo.


"Lho kalian sudah saling kenal?" tanya Damian dan David secara bersamaan.


"Iya om. Dia teman dekat saya" ucap Theo sambil tersenyum penuh arti ke Binar dan Binar kembali membeliak.


Tiba-tiba Aulia Revano dan Hendra Herlambang bergabung dengan mereka dan David dengan penuh semangat mengenalkan Aulia dan Hendra ke Damian, "Bro, ini putriku adiknya Theo dan itu Hendra tunangannya Hendra"


Hendra dan Aulia tersenyum ke Damian namun Aulia mendengus kesal saat menatap Binar. Binar pun langsung mengalihkan pandangannya karena, dia merasa malas untuk berbasa-basi dengan Aulia dan Hendra.


"Aahhh, senang bertemu dengan kalian" ucap Damian lalu Damian menyentuh bahunya Binar, "Bin, kenapa kamu tidak menyapa mereka?"


"Aku sudah kenal dengan mereka pa dan sudah sering menyapa mereka" Binar berucap dengan santainya sambil menyeruput cangkir tehnya.


"Nah ini nih. Kamu lihat kan seperti apa putriku" kata Damian sambil terkekeh dan David berucap, "aku malah menyukainya. Putri kamu jujur dan polos aku suka karakternya. Mirip kan sama kamu, hahahaha"


"Apa putri kamu sudah tahu soal perjodohan yang kita atur untuknya dan Theo putraku?"


"Apa?!" Binar dan Hendra langsung memekik kaget. Semua mata langsung menatap ke Hendra termasuk kedua bola mata indahnya Binar.


"Uhuk! emm, maaf saya kaget melihat menu ini, kenapa tidak ada lobster seperti biasanya, heeee, maaf" ucap Hendra sambil menunjukkan buku menu yang dia pegang.


Aulia langsung bersedekap dan mendengus kesal menatap Hendra dan Hendra langsung menoleh ke Aulia sambil tersenyum dia berucap, "lobstermya nggak ada, sayang" Hendra menunjukkan buku menu yang dia pegang ke Aulia dan Aulia mengangkat kedua bahunya dengan wajah cemberut.


"Saya tidak bisa menerima........."


"Aaah, sebentar om, pa. Theo sepertinya butuh bicara berdua dulu dengan Binar" ucapan Theo langsung memotong ucapannya Binar. Theo berdiri dan memberi kode ke Binar untuk mengikutimya.


Theo dan Binar akhirnya berbicara berdua di teras belakang resto tersebut.


Binar langsung berkacak pinggang di depannya Theo dan menyipitkan kedua matanya karena, kesal.


"Hahaha, jangan kesal.sama aku! Aku juga nggak tahu soal perjodohan ini"


"Tapi dari gerak-gerik dan sorot mata kamu, kamu menyetujui perjodohan ini" kekesalan tingkat tinggi terdengar di nada bicaranya Binar.


"Aku senang karena, jika aku menyetujui perjodohan ini maka aku akan meyelamatkan martabat, harga diri, dan hidup kamu" Theo tersenyum lebar ke Binar.


"Cih! martabat apa,.harga diri apa dan apa aku tengah tenggelam di dasar laut saat ini? aku tidak sekarat, aku baik-baik saja, untuk apa kamu menyelamatkan hidupku?" Binar kemudian bersedekap dan menatap tajam ke Theo.


Theo semakin melebarkan senyumannya, "aku tahu kisah kamu dengan Hendra dari Aulia. Aulia cemburu denganmu dan......."


"Nah itu! aku tidak mau ambil pusing soal kecemburuan adik kamu. Lalu kenapa kemarin, kamu tidak bilang kalau kamu kakaknya Aulia?" Binar mulai meninggikan nada suaranya.


"Kamu kan nggak nanya? lagian salah sendiri kenapa kamu lemot" ucap Theo sambil mengulum bibirnya.


"Lemot?" Binar langsung mengerutkan dahinya.


"Iya kamu tuh ternyata lemot, pffttt. Aku kemarin kan udah bilang secara tersirat, namaku Theo Revano"


"Ahhh, iya benar. Shit! kenapa aku bisa lemot ya?"


"Dan entah kenapa aku bisa menyukaimu ya?" sahut Theo.


"Berhenti bercanda!" Dengus Binar.


"Aku serius. Aku menyukaimu dan itulah kenapa aku ingin menyelamatkanmu dari Aulia dan Hendra"


"Cih! aku nggak takut sama adik kamu yang aneh itu dan sama Hendra brengsek itu"


"Benarkah? aku paham betul karakternya adikku. Aulia tidak suka jika barangnya direcoki orang lain apalagi calon suaminya dan Hendra masih terus mengejarmu, kan? Nah, jika kita bertunangan maka Hendra dan Aulia akan berhenti mengganggumu. Hendra dan Aulia rencananya akan menikah tiga bulan ke depan. Selama tiga bulan ke depan kamu akan bebas dari gangguannya mereka. See! aku smart, kan?" Theo tersenyum lebar ke Binar.


"Apa kamu bisa menjamin kalau Aulia dan Hendra tidak akan menggangguku lagi?"


"Hendra takut sama aku dan dia tidak akan berani mengganggumu jika kamu menjadi tunanganku" keseriusan terdengar di nada bicaranya Theo.


Binar mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya lalu menatap Theo, "baiklah! tapi pertunangan kita ini hanya sampai Hendra dan Aulia menikah, setelah mereka menikah kita, putus"


Theo tersenyum lebar ke Binar dan berkata di dalam hatinya, aku akan membuatmu jatuh hati padaku dan nggak akan mau lepas dariku, Binar Adelard.


Theo kemudian mengulurkan tangannya, "deal!" dan Binar menyambutmya dengan senyum lebar.


Mereka kembali ke meja papa mereka yang sudah menunggu cukup lama. Tatapannya Aulia dan Hendra terhunus tajam ke mereka. Hendra dan Aulia menunggu jawaban dari mereka.


"Gimana?" tanya David dan Damian secara.bersamaan.


"Kami menyetujui perjodohan ini dan secara otomatis Binar adalah calon istriku kan, pa" ucap Theo sambil merangkul bahunya Binar.


"Uhuk!" Hendra tersedak dan langsung meminum air mineralnya.


Damian dan David langsung menggemakan tawa bahagia mereka.