
Tepat jam delapan pagi waktu di Indonesia, Aksa masuk ke dalam kamarnya berbarengan dengan dentingan jam di dinding sebanyak delapan kali menandakan waktunya Aksa untuk membuka laptop karena, dia menerapkan jam belajar bagi dirinya sendiri tepat di pukul delapan malam.
Aksa memberikan ada email masuk dari Binar. Aksa hampir memekik kegirangan. Aksa terus tersenyum lebar sambil membaca email dari Binar dan dia merengut kecewa karena, email itu hanya kata-kata singkat, meminta nomer rekeningnya. Aksa lalu mengirim pesan text ke nomer ponselnya Monica. Aksa meminta Monica untuk datang ke kamarnya.
Sepuluh menit kemudian Monica muncul dengan kata tanya, "ada perlu apa?"
"Ahhhh, hehehehe" Aksa menggaruk kepalanya lalu berkata, "aku boleh minta nomer rekening kamu karena, jika aku pakai nomer rekeningku, Binar akan tahu kalau Silver Butterfly adalah Aksa Putra Julian"
Monica berdiri di belakang kursinya Aksa dan menatap layar ponselnya Aksa lalu terkekeh geli, "begini aja kamu sepanik ini?"
Aksa bangkit lalu duduk di meja belajarnya dan menatap Monica, "aku selalu panik dan segugup ini kalau berkaitan dengan Binar"
"Oke, aku ketikkan nama dan nomer rekeningku boleh?" tanya Monica.
Aksa menggeser tubuhnya dan mempersilakan Monica untuk duduk sambil berkata, "silakan dan terima kasih banyak. Aku akan bagi dua berapa pun transferannya"
Monica mengetikkan nama dan nomer rekeningnya lalu mengirim email itu ke alamat emailnya Binar dan berkata, "selesai" kemudian Monica bangkit dan beradu pandang dengan Aksa, "soal transferan kalau memang harus dibagi dua aku rasa terlalu banyak, bantuanku hanya kecil, emm, kasih komisi aja cukup untukku"
Aksa menggoyangkan jari telunjuknya di depan Monica dan berkata, "no, no, no! bantuanmu sangat besar, kamu kasih nama kamu, nomer rekening kami, dan foto kamu, itu sangat besar bagiku. Aku akan tetap akan kasih kami separo dari transferannya Binar"
"Okelah, thank you ya! aku keluar dulu kalau gitu, mau belajar juga biar pinter kayak kamu, hehehehe" Monica menepuk pelan bahunya Aksa lalu melangkah keluar dari dalam kamarnya Aksa sembari menutup pintu kamar itu dengan pelan.
Aksa duduk kembali di atas kursinya lalu mengetik, maaf jika respons saya atas email yang anda kirim terlalu lambat karena, kita terhalang jarak dan waktu. Saya berada di Amerika saat ini. Aksa mengirim ketikannya itu ke alamat emailnya Binar.
Dan tanpa Aksa duga Binar langsung membalasnya bahkan Aksa sampai terlonjak kaget saat ada suara tanda email baru masuk. Aksa segera membuka email dari Binar dan membaca ketika. Binar dengan wajah sumringah. Binar mengetikkan kata, saya mengerti. Saya sangat senang bisa mengenal anda dan saya sangat senang anda menyediakan diri untuk bergabung di perusahaan saya. Foto profil anda manis,.cantik, dan saya yakin kalau anda pribadi yang baik. Selamat bergabung di perusahaan saya dan saya sudah transfer uang sejumlah sepuluh juta rupiah ke rekening anda, atas nama Monica Barnett. Terima kasih, best regards, Binar Adelard.
Aksa berulangkali membaca balasan email dari Binar dan hatinya merasa hangat, dia bisa berbincang kembali dengan Binar walaupun hanya lewat email. Aksa kemudian mengelus layar laptopnya di nama Binar Adelard dan bergumam, "aku sangat merindukanmu, Bin" lalu dengan penuh semangat Aksa membalas emailnya Binar.
Aksa mengetikkan kata, terima kasih atas kepercayaan anda nona Binar Adelard. Saya kirimkan lagi karya saya. Semoga berkenan. best regards, Silver Butterfly.
Bunyi notifikasi email masuk langsung terdengar dan Aksa langsung menatap layar laptopnya. Binar membalas singkat emailnya Aksa, banyak rasa terima kasih saya ucapkan kepada anda, Silver Butterfly.
Aksa memekik kegirangan, lalu bergumam, "sama-sama Binarku yang cantik"
Theo memasang headset nirkabel-nya dan menelepon Andik dalam perjalanannya ke sebuah restoran untuk makan siang dengan Lela, "Ndik, kamu di mana? kok nggak muncul di kantor?"
"Saya menunggu Frida di sebuah restoran, Bos"
"Hah? Lo nggak kerja malah berkencan ya? hmm, oke lanjutkan! karena, masa depan kamu lebih penting dari kerjaan" sahut Theo.
"Masa depan apa, kencan apa Bos? saya menemui Frida karena ingin menanyakan soal kecelakaan yang Bos alami beberapa bulan yang lalu" sahut Andik disertai dengan desahan kesalnya.
"Apa Frida yang melakukannya?" tanya Theo.
"Iya Bos. Saya sudah mengumpulkan semua buktinya. Maaf saya bertindak sendiri karena, saya tahu kalau anda otewe menemui Lela jadi saya pikir saya yang akan berurusan dengan Frida"
"Huffft kenapa wanita jaman sekarang, ngeri semua ya, hiiiiii! kecuali istriku"
"Itulah kenapa saya takut cari pasangan hidup, Bos. Wanita jaman sekarang ngeri semua" sahut Andik.
"Oke! kamu tahan dulu Frida. Kamu ajak makan dan ngobrol dulu. Setelah aku selesai dengan Lela, aku akan meluncur ke sana"
"Bos ke restoran mana?" tanya Andik.
"Ke Palma Kitchen"
"Kalau gitu, malah gampang nanti, aku nggak usah bolak balik ke sana kemari. Oke pokoknya kamu tahan Frida, oke?"
"Oke Bos saya paham. Saya juga niatnya begitu karena, semua keputusan kan ada di Bos"
"Sip!" dan klik! Theo memutuskan sambungan teleponnya.
Selang sepuluh menit kemudian, Theo telah duduk berhadapan dengan Lela sedangkan Andik yang berada di ruangan lain, masih belum bertemu dengan Frida.
Lela bahagia bukan main bisa makan siang berduaan dengan pujaan hatinya.
Kak Theo pasti udah sadar akan perasaannya padaku. Dia pasti akan nembak aku. Batin Lela.
Lela terus menatap Theo dengan senyum dan sorot mata penuh harap dan penuh dengan cinta bahkan tanpa Lela sadari wajahnya merona bahagia.
Theo kemudian meletakkan garpu dan pisaunya dan bertanya, "bukalah video di dalam ponselku ini dan jelaskanlah!" Theo menyodorkan ponselnya ke Lela
Lela menerima ponsel itu lalu memencet tombol play dari sebuah video yang tampak di depannya. Lela langsung kelu, keringat dingin mulai meluncur di sekujur tubuhnya, dan tangannya mulai bergetar. Lela mendongakkan wajah cantiknya untuk memandang wajah datarnya Theo sambil mengembalikan ponsel yang dia genggam ke Theo.
Theo menerima ponsel itu lalu meletakkannya di atas meja dan menatap lekat ke Lela, "jelaskan! kenapa kamu melakukan hal sekejam itu ke Binar. Binar sangat menyayangimu dan aku lihat gaji yang Binar kasih juga lebih dari cukup untuk posisi kamu sekarang ini bahkan Binar sering kasih bonus untuk kamu"
Lela menunduk dan memainkan tangannya di bawah meja. Lela tidak bisa berkutik di depannya Theo.
"Tatap aku dan jelaskanlah! aku baru bisa mengambil keputusan dari penjelasanmu. Aku nggak akan kasar sama kamu jadi kamu nggak usah takut. Jelaskan saja alasan kamu melakukan semua itu?"
Lela mengangkat wajah cantiknya yang sudah berurai air mata dan berkata dengan mulut bergetar, "itu....i...itu Lela lakukan ka...karena Lela kecewa dan cemburu"
"Kecewa atas apa? dan cemburu pada siapa?" tanya Theo sambil bersandar di kursi dan melipat tangannya.
"I...itu karena, kak Theo......kak Theo menikahi kak Binar"
"Kenapa kamu.....what?! apa kamu?" Theo segera menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya saat ia melihat anggukkan kepalanya Lela.
"Aku mencintaimu Kak. Sejak kakak jadi kakak pembimbingku waktu kita masih kuliah dulu. Kakak begitu baik, sabar, dan perhatian sama Lela. Itu yang membuat Lela jatuh hati padamu Kak. Bukankah kepedulian dan perhatiannya kakak ke Lela itu tanda kalau kakak juga mencintai Lela? hanya saja kakak masih perlu waktu untuk mengungkapkannya ke Lela. Itulah kenapa Lela terus menjaga rasa cinta ini dan terus menunggumu, Kak"
"Huuuffttt" Theo mendesah panjang untuk melepas rasa kagetnya lalu berkata, "maaf jika sikapku membuatmu salah paham. Tapi, aku memang seperti itu kalau membimbing juniorku. Sama seperti aku membimbing Boy, aku juga peduli dan perhatian dengan Boy karena, jika kalian gagal ujian itu juga merupakan kegagalan bagiku. Kalau sampai kalian kecewa dan sedih jika nilai kalian jelek, aku juga akan ikut kecewa dan sedih. Oleh karena itu, aku terus kasih perhatian penuh ke kalian"
"Saya tahu kalau saya salah paham dan cinta saya bertepuk sebelah tangan saat saya tahu kakak menikah dengan kak Binar. Namun, saya masih saja tidak terima karena, saya yang lebih dulu bertemu denganmu, mengenalmu, dan mencintaimu tapi kenapa justru kak Binar yang kakak nikahi?'
"Lela dengar ya?! cinta itu datang dengan sendirinya tanpa bisa kita atur. Aku hanya mencintai Binar untuk saat ini dan untuk selamanya jadi maafkan aku kalau aku harus menegaskan kata, lupakan aku dan bunuh rasa cintamu untukku karena, itu percuma. Bunuhlah rasa cinta kamu itu maka kamu akan terbebas dari rasa sakit" ucap Theo.
"Kau tidak paham Kak. Rasa ini terlalu besar untuk aku bunuh" pekik Lela.
Theo mendesah berat dan berucap, "aku juga pernah mengalami kekecewaan bahkan lebih parah dari yang kamu alami saat ini. Pacarku selingkuh sampai hamil dan aku mampu me-manage emosi dan rasa kecewaku tanpa harus bertindak keji di luar nalar seperti yang telah kamu lakukan"
Lela tersentak dan merasa ditampar. Dia segera sadar dan menyesali perbuatannya saat ia mendengar ceritanya Theo. Lela kemudian berkata, "maafkan aku, Kak. Aku baru sadar kalau aku ini keterlaluan dan sangat kejam pada kak Binar. Maafkan aku!"
"Lela, huufttt! apa yang harus aku lakukan atas kesalahan fatalmu ini?" Theo meraup wajah tampannya.
Lela semakin deras menangis di depannya Theo, "saya menyesal Kak, lakukan apapun yang ingin kakak lakukan karena, saya memang pantas untuk dihukum"
Theo terus menatap Lela dengan sorot mata ambigu.