My Pretty Boss

My Pretty Boss
Binar Melahirkan



Dua jam sebelum Lela menemui Binar sebenarnya ia meragu lalu ia menghubungi nomer ponselnya Theo, " Halo, Kak, aku akan menemui kak Binar dan mengakui semuanya namun, aku ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu"


"Apa itu?"


"Apa kakak membenciku? apa kakak akan menjauhiku setelah semua yang Lela lakukan?"


"Aku tidak pernah membencimu. Cuma kecewa iya tapi, aku akan memaafkanmu jika kamu sudah menyadari semua kesalahanmu, mengakui kesalahanmu dan meminta maaf pada Binar"


"Baiklah Kak, Lela akan menemui kak Binar untuk mengakui semua kesalahan Lela dan meminta maaf pada kak Binar" Klik Lela lalu memutuskan sambungan teleponnya dengan Theo.


Lela mendekap ponselnya sambil bergumam, "asalkan kau tidak membenci dan menjauhiku, aku akan mengakui semua kesalahanku"


Setelah keluar dari dalam ruangannya Binar, Lela meminta kolega-koleganya yang berada di dalam grup inti perusahaannya Binar Adelard untuk makan malam tepat jam tujuh di Resto Bambu. Lela akan pamit dan akan mengakui semua kesalahannya di sana sekaligus meminta maaf kepada semua koleganya.


Theo segera datang ke kantornya Binar karena, ia mengkhawatirkan Binar. Namun, di saat ia membuka pintu ruangannya Binar, Theo duduk dengan tatapan heran karena Binar nampak ceria menatap Theo. Lalu Theo bertanya, "kau baik-baik saja kan sayang?"


"Iya, aku baik-baik saja Mas" Binar melempar senyum ke Theo.


"Aku tidak melihat Lela tadi, apa Lela kamu pecat?"


Binar tersenyum sambil bangkit lalu duduk di atas pangkuan suaminya. Ia menggelungkan kedua lengannya di leher suaminya sambil berucap, "aku memindahkan Lela ke kantor papa. Aku juga sudah memaafkannya dan........"


"Apa ini beneran Binar yang aku kenal? Binar yang judes dan galak? hehehehe" kekeh Theo.


"Entahlah sejak aku hidup bersama denganmu dan sejak aku hamil, aku jadi malas marah, aku lebih suka melihat kedamaian dan melihat orang lain tersenyum padaku daripada melihat orang lain kecewa atau sakit hati karena, amarahku"


Theo mengelus perutnya Binar, "Junior, kamu udah merubah mama kamu jadi pribadi yang sabar nih, papa bangga sama kamu"


Binar segera merengut, "kok malah memuji Junior? lalu aku dapat apa nih?"


Theo segera menarik tengkuknya Binar dan berbisik, "apa kamu mau melakukannya di sini? hmm?" Theo menaikkan kedua alisnya.


Binar segera berdiri, melangkah ke pintu dan mengunci pintu itu lalu berkata, "kamu akan memberiku hadiah apa hukuman?"


Theo berdiri, mengerutkan keningnya lalu tertawa lepas lalu berkata di sisa tawanya, "kenapa kau kunci pintunya? emangnya apa yang kau pikirkan?"


Binar segera melangkah lebar dengan rona merah di wajah cantiknya, ia memukul-mukul dada bidangnya Theo dengan pelan sambil bertanya, "lalu apa maksud ucapanmu tadi?"


Theo segera mendekap Binar, mengecup bibirnya Binar dan sambil tersenyum lebar ia kemudian berkata, "aku bawa alpukat kocok dan nasi goreng tuh aku taruh di meja sofa, maksudku,.........kamu mau makan di sini? maaf jika aku salah ucap, hahahaha"


Binar ikutan tertawa lepas dan bergumam, "dasar gila!" sembari melangkah kembali ke arah pintu, membuka kunci pintu itu lalu melangkah keluar untuk mengambil piring dan gelas.


Theo masih tertawa melihat tingkah polosnya Binar.


Dan setelah hari itu, semua permasalahan yang Binar alami terkait dengan Lela dan Darren, tuntas sudah. Darren pun akhirnya memilih untuk mundur daripada ia harus kehilangan segala-galanya. Obsesinya akan Binar dengan mudah dipatahkan oleh ambisinya akan kekuasaan.


Enam Bulan kemudian...........


Binar berada di dalam ruang bersalin karena, kondisi janinnya Binar sungsang disebabkan oleh kesibukannya Binar yang tidak pernah bisa meluangkan waktu untuk mengikuti senam ibu hamil selama ia hamil, maka Binar harus masuk ke ruang operasi untuk melakukan tindakan bedah sesar.


Theo diperbolehkan masuk ke dalam untuk menemani Binar. Theo terus menggenggam tangannya Binar sambil sesekali mencium keningnya Binar. Selang lima puluh menit kemudian bunyi tangis bayi terdengar begitu kencang di ruang operasi tersebut dan seorang perawat segera memperlihatkan bayi tersebut ke Binar sambil berkata, "selamat tuan, nyonya, bayi anda laki-laki sangat kuat, sangat tampan dan sehat"


Theo terus mendampingi Binar hingga mereka sampai di ruang rawat inap. Tepat jam sepuluh malam, Theo mengabarkan kabar gembira tersebut ke semua keluarga Binar dan keluarganya dan mereka semua sepakat untuk datang berkunjung esok hari.


Binar menoleh ke Theo dan berucap, "makasih, Mas"


Theo mencium keningnya Binar, mengecup bibirnya Binar dan bertanya, "makasih untuk apa?"


"Untuk cinta kasihmu" sahut Binar.


"Untuk apa berterima kasih, kita ini kan suami istri" Theo mencium bibirnya Binar dengan sangat lembut lalu melepas ciumannya untuk berkata, "tidurlah! putra kita masih dibersihkan saat ini"


"Aku nggak ngantuk Mas. Umm, Mas.....tolong berikan nama untuk putra kita, Mas!" ucap Binar.


Theo segera memekik riang, "bolehkah aku berikan nama ke putra kita?


"Tentu saja boleh Mas. Gimana kalau Narto?" Binar menoleh ke Theo lalu terkikik pelan.


"Ada apa dengan Narto?" tanya Theo dengan mimik jenaka khas-nya.


"Perpaduan nama dari Binar dan Theo, jadinya Narto, kan? hehehehe" kekeh Binar sambil memegangi perutnya"


Theo ikutan terkekeh geli lalu berucap, "kreatif juga kamu, ya" Theo mengusap kepalanya Binar lalu berkata, "tapi nama yang akan aku berikan bukan Narto, emm, diam-diam aku memang udah siapkan dua nama, satu jika anak kita putri dan satu lagi jika putra dan ternyata putra maka akan aku kasih nama Mada Tobias Revano yang berarti kegembiraan pemberian Tuhan yang bermarga Revano. Panggilannya nanti Mada atau Tobi kalau Tobi itu perpaduan dari nama Theo dan Binar"


Kedua mata Binar penuh kerlip bintang keharuan dan kebahagian lalu ia berucap, "aku suka banget nama itu tapi panggilannya Mada aja kalau Tobi entar aku malah nyanyi Tobi saya bundar, bundar Tobi saya, kalau tidak bundar, bukan Tobi saya"


Theo segera menggelegarkan tawanya sambil berucap, "itu topi sayang, topi saya bundar, hahahahaha" Lalu ia menghentikan tawanya untuk berucap, "tapi okelah kalau mau memanggil putra kita Mada, keren juga nama itu, aku suka"


Binar mengayunkan tangannya agar Theo mendekat. Theo segera membungkukkan tubuhnya di atas Binar lalu Binar segera mengecup bibirnya Theo dan berkata, "aku dan Mada sangat beruntung memiliki kamu, Mas"


Theo segera memeluk Binar dan berkata, "aku juga sangat beruntung memiliki kalian di hidupku"


Aksa yang tengah makan siang dengan Monica segera mendorong nasi goreng dan alpukat kocoknya sambil menautkan alisnya dia berkata, "kok aneh ya? tiba-tiba aku nggak mau makan nasi goreng dan alpukat kocok lagi dan aku juga nggak merasakan mual lagi saat ini"


Monica terkekeh geli, "kamu memang unik, aneh, dan......gila, hehehehe. Kalau gitu pesan lagi aja sana, ganti menu"


"Nggak usah.Tiba-tiba...... aku juga merasa kenyang dan anehnya lagi, dadaku saat ini berdegup dengan sangat kencang tanpa sebab" ucap Aksa sambil menaruh tangan di atas dadanya sendiri.


"Berdegup yang bagaimana? kamu lagi naksir cewek di sekitar sini, apa kamu lagi jatuh cinta dengan cewek di sekitar sini?" tanya Monica sambil mengerutkan keningnya.


Aksa menggelengkan kepalanya sambil terus memegang dadanya, "bukan berdegup karena cinta atau cewek tapi lebih seperti bersemangat karena, menerima suatu berkat yang sangat besar," Aksa lalu mengelus-elus dadanya dan kembali berucap, "emm, seperti menerima sesuatu yang sangat aku sukai dan itu membuat hatiku sangat bahagia sampai berdegup kencang seperti ini"


"Emangnya apa yang kamu terima? dan apa yang kamu sukai? apa yang sudah membuatmu merasa sangat bahagia?" tanya Monica berkali-kali sambil melengkungkan kedua alisnya.


Aksa terus mengelus-elus dadanya, menatap Monica lalu menggelengkan kepalanya dan berkata, "aku tak tahu tapi hatiku berdegup kencang karena, aku merasa sangat bahagia tapi aku nggak tahu apa alasannya"


"Dasar aneh" ucap Monica sambil meneruskan makannya.



Aksa masih terus mengelus-elus dadanya dan mencari jawab atas alasan debaran jantungnya yang terus berdegup karena, kebahagiaan yang membuncah namun, kebahagiaan atas apa, tetap saja Aksa tidak mampu menemukan jawabnya.