My Pretty Boss

My Pretty Boss
Buku Harian



Diam-diam Dara menghubungi neneknya Aksa setelah mengetahui rencana suaminya menjodohkan Aksa dengan putri dari kolega suaminya. Dara akan terbang ke Kudus, esok hari.


Aksa merasakan lelah yang luar biasa baik secara fisik maupun psikis. Bahkan untuk menghela napas, terasa berat untuk dia lakukan. Putra tampannya Kenzo Julian itu menutup kedua matanya dengan bantal dan mencoba untuk tidur.


Keesokan harinya, Dara memberitahukan ke suaminya kalau ada pemberitahuan dadakan dari sekolahannya Embun, survey tempat untuk acara gathering di sekolahannya Embun dan rencananya akan diadakan di Kudus. Dara meminta ijin ke suaminya untuk terbang ke Kudus dan akan menginap semalam di Kudus dengan Embun. Kenzo mengijinkan dan Kenzo akan menyusul Dara untuk menemani Dara menginap di Kudus.


Dara pamit ke Aksa lalu bergegas mengajak Embun ke bandara untuk bertolak ke Kudus.


Aksa bahkan tidak bisa mencerna dengan baik saat dia mendengar kata kalau mama tirinya akan ke Kudus. Karena beban rasa kecewa, kesedihan, dan sakit hati yang begitu dalam Aksa lupa akan Kudus, kakek, nenek, dan bahkan lupa akan jati dirinya sendiri. Aksa lebih sering menenggelamkan diri dalam lamunan dan Aksa yang baik hati, ramah, sopan, sabar telah lenyap berganti dengan Aksa yang kaku, dingin, suka menyendiri, dan selalu suram wajahnya.


Aksa diajak papanya untuk ikut ke kantor papanya. Papanya menginginkan Aksa mulai mengenal bisnis yang di geluti selama berpuluh-puluh tahun dan telah membuatnya menjadi orang yang sukses. Seorang konglomerat yang disegani di dunia bisnis baik nasional maupun intenasional, melebihi popularitasnya David Revano dan Damian Adelard. Kenzo inginkan Aksa menggantikannya nanti.


Aksa menuruti semua perintah papanya dan itu membuat Kenzo senantiasa mengulas senyum bahagia di sepanjang hari itu. Dia merasa kalau dia telah menemukan kembali putranya yang hilang, putranya yang selama ini tidak pernah mau mendekati dan menurutinya.


Beberapa karyawannya Kenzo yang perempuan terpesona akan sosok tampannya Aksa dan beberapa dari mereka menjadi penasaran akan wajah dinginnya Aksa karena, memang baru pertama kalinya Aksa datang dan dikenalkan oleh papanya di kantor pusat papanya itu setelah dia beranjak dewasa. Terakhir kali Aksa ke kantor pusat itu saat dia masih berumur lima tahun. Ada beberapa yang tahu siapa putra Kenzo Julian itu namun, untuk karyawan yang baru, mereka baru pertama kalinya itu bertemu muka secara langsung dengan Aksa Putra Julian.


Aksa masuk ke dalam ruang kerja papanya dan mulai mencoba untuk mempelajari bisnis papanya. Di saat Aksa sendirian di ruang kerja papanya, tiba-tiba datang seorang wanita cantik dan masuk begitu saja ke dalam ruangan papanya.


Aksa segera bangkit lalu membentak wanita itu, "kau siapa? kenapa nggak ketuk pintu dulu?"


"Aaahh! maaf tuan muda. Saya udah ketuk pintu beberapa kali tapi, nggak ada sahutan makanya saya masuk begitu saja. Saya diutus tuan Kenzo untuk mengajari anda soal bisnis papa anda" sahut wanita cantik itu dengan senyum ramahnya.


Aksa segera mengangkat tangannya dan menunjuk ke pintu, "aku nggak butuh bantuan siapa pun. Keluar!"


Wanita itu melangkah mendekat sambil berkata, "saya nggak berani keluar. Saya harus menjalankan perintah papa anda kalau nggak saya akan......"


"Keluar!!!!" Aksa berteriak dengan kencang dan dengan mata melotot tajam.


Wanita cantik itu terlonjak kaget lalu berkata, "Anda tampan dan menarik tapi sayangnya galak banget. Kalau gitu saya permisi" wanita cantik itu segera berputar badan dan keluar dari ruangan tersebut.


Aksa duduk kembali di kursinya dengan kesal.


Dara dan Embun sampai di rumah kakek dan neneknya Aksa. Kakek dan neneknya Aksa menyambut Dara dan Embun dengan tangan terbuka. Embun pun Langsung akrab dan disayangi oleh kakek dan neneknya Aksa. Kakeknya Aksa kemudian mengajak Embun untuk melihat tambak di saat Dara ingin mengatakan hal penting.


"Saya dari dulu memang tidak memercayai cerita kalau mbak Dona, almarhum, berselingkuh dengan pak Damian Adelard" ucap Dara.


"Dona itu keras kepala anaknya. Apalagi kalau dia merasa terluka dan tidak dipercayai. Dia akan menutup diri pada orang itu dan memilih untuk menjauh dari kehidupan orang itu" sahut neneknya Aksa.


Dara menghela napas panjang lalu berkata, "saya tahu karakternya almarhum dan saya menyayangkan hal itu. Saya ke sini juga ingin membahas soal Aksa. Saya tahu kalau Aksa pernah mengajak Binar ke sini. Aksa bercerita ke saya kalau dia telah mengenalkan Binar kepada anda dan dia begitu bahagia karena, Binar dan anda bisa saling menyayangi"


"Iya benar dan kami berencana akan menikahkan mereka berdua setelah Aksa wisuda" ucap neneknya Aksa dengan sumringah.


Dara menatap wajah bahagia milik neneknya Aksa itu dengan penuh kesedihan. Dara kemudian berkata, "dengan sangat menyesal saya harus memberitahukan kepada anda, kalau Binar dan Aksa telah putus"


"Apa? kenapa bisa putus?" neneknya Aksa terlonjak kaget.


"Ibu tenang dulu. Mereka putus karena, Aksa mendengar cerita versi papanya mengenai perceraian papanya dengan mamanya" ucap Dara. "Binar memutuskan Aksa karena, Aksa cenderung memercayai ucapan papanya dan Binar melepaskan Aksa untuk membebaskan Aksa dari beban berat itu dan untuk membebaskan Aksa meraih beasiswa S2, meraih masa depannya Aksa yang cerah itu. Aksa sekarang melanjutkan studi S2 di Amerika, Bu"


Neneknya Aksa nampak sedih dan kecewa. Wajah renta yang masih terlihat sangat cantik itu, menyandarkan bahunya di kursi teras dengan desahan panjang.


"Maafkan Aksa, Bu. Pikirannya masih kalut saat ini dan dia pergi ke Amerika secara dadakan jadi dia tidak sempat memberikan kabar ke nenek dan kakeknya"


"Kasihan Aksa. Dia menjadi korban keegoisannya Kenzo" desah neneknya Aksa.


"Saya kemari ingin mengajak Ibu dan Bapak ke Amerika. Papanya Aksa akan menggelar acara pertunangan Aksa dengan putri koleganya secara live dan besar-besaran di sana. Saya ingin anda hadir karena, anda begitu berarti bagi Aksa begitu pula sebaliknya"


"Apa Aksa mencintai wanita itu?" tanya neneknya Aksa.


Neneknya Aksa kembali mendesah panjang penuh dengan kesedihan.


Neneknya Aksa kemudian bangkit dan berkata, "tunggu sebentar ya, Nak!" lalu melangkah masuk. Selang sepuluh menit, neneknya Aksa kembali keluar dan menyerahkan sebuah buku harian berwarna kuning emas ke Dara.


Dara menerima buku harian tersebut kemudian membantu neneknya Aksa untuk duduk kembali lalu bertanya, "ini apa Bu?" sambil duduk.


"Itu buku hariannya Dona. Dia menulis banyak hal di sana dan saya baru saja menemukannya satu bulan ini saat suami saya membetulkan loteng kecil kami yang ada di pojok kanan rumah kami. Sejak Dona meninggal, suami saya memang jarang membersihkan loteng kecil itu secara rutin karena, malas. Tapi entah kenapa dua Minggu yang lalu, suami saya tiba-tiba naik, membetulkan dan membersihkan loteng itu lalu menemukan buku hariannya Dona itu"


Dara membuka buku harian itu. Di halaman kelima, dari buku harian itu, Dara mulai terisak dan tidak sanggup untuk melanjutkan membuka halaman berikutnya.


"Andai kami lebih awal menemukan buku harian itu maka, kesalahpahaman Kenzo akan Dona tidak akan berlarut-larut seperti ini dan Aksa tidak akan menjadi korban" kesedihan yang mendalam terdengar di nada bicaranya neneknya Aksa.


Dara mengusap air matanya lalu menatap neneknya Aksa, "saya akan berikan buku harian ini ke Aksa. Walaupun sudah terlambat, paling nggak, Aksa tidak menyimpan dendam dan kebencian pada Binar dan papanya Binar"


"Iya benar. Dan semoga Aksa bisa berbaikan lagi dengan Binar dan .........."


"Iya bisa berbaikan tapi tidak bisa bersatu lagi, Bu"


"Kenapa?" tanya neneknya Aksa sambil menegakkan tubuhnya.


"Binar telah menikah"


"Oh!" kekecewaan yang begitu dalam terdengar pilu di nada bicaranya neneknya Aksa.


Dara berkata, "Saya juga merasa kecewa. Saya mendukung hubungan mereka selama ini karena, saya lihat Aksa begitu mencintai Binar dan begitu bahagia bersama dengan Binar namun, takdir berkata lain" Dara kemudian mendesah.


"Andai waktu bisa diputar kembali" sahut neneknya Aksa.


"Waktu tidak bisa diputar kembali namun, kita masih bisa berharap, kalau jodoh, Aksa dan Binar bisa bersatu kembali kalau tidak, kita doakan Aksa bisa lepas dari Binar dan menemukan pasangan hidup yang baik, tulus, dan cantik, seperti Binar" ucap Dara.


"Amin. Terima kasih banyak, sudah menyayangi Aksa seperti anda menyayangi putra anda sendiri"


"Saya menyayangi almarhum mbak Dona. Kami bersahabat jadi, saya juga menyayangi putranya mbak Dona" sahut Dara dengan senyum manisnya.


"Anda berhati hangat seperti Dona. Bolehkah saya memeluk anda sebagai gantinya Dona?"


Dara tersenyum, menganggukkan kepalanya, lalu bangkit dan bersimpuh di depan neneknya Aksa kemudian dia peluk erat pinggang neneknya Aksa itu dengan penuh cinta kasih.


Selang sepuluh menit kemudian, Dara mengajak Embun kembali ke hotel. Neneknya Aksa meminta Dara menginap namun, Dara mengatakan kalau Kenzo akan menyusulnya ke hotel jadi dengan sangat terpaksa, nenek dan kakeknya Aksa melepas kepergiannya Dara.


Neneknya Aksa kemudian berkata, "saya dan suami saya tidak akan pergi ke Amerika karena, faktor usia. Lutut saya sudah mengalami osteoporosis jadi nggak bisa lagi melakukan perjalanan yang panjang. Sampaikan saja ke Aksa untuk menelepon kami dan maaf kalau saya tidak mendoakan kelancaran dari pertunangannya Aksa Karena, Aksa tidak mencintai wanita pilihan papanya itu"


Dara tersenyum lalu berkata, "baik Bu. Saya akan sampaikan semuanya ke Aksa. Ibu dan Bapak jaga kesehatan selalu, nggih (iya)!?"


"Kakek, kalau main ke rumahnya Embun, nanti Embun ajak mancing ya dan ajari Embun memelihara ikan" celetuk Embun dengan wajah ceria di wajah imutnya.


Kakeknya Aksa berlutut, mencium kedua pipinya Embun kemudian berkata, 'oke cantik. Kakek pasti akan main ke rumah kamu dan kakek akan ajari kamu caranya piara ikan, hahahaha"


Embun mencium pipinya kakeknya Aksa dan berkata, "terima kasih, Kek. Embun sayang banget sama kakek......sama nenek juga"


Kakek dan neneknya Aksa tersenyum penuh kasih ke Embun dan Dara.


Dara dan Embun kemudian melambaikan tangan mereka dan pergi meninggalkan rumah kakek dan neneknya Aksa.