My Pretty Boss

My Pretty Boss
Nyeri Hati



Binar dan Theo duduk bersebelahan di sofa ruang tamunya Theo. Mereka memegang buku nikah mereka masing-masing. Dua pasangan suami istri yang masih baru itu, menatap ke arah depan dengan bahu melengkung, wajah datar, dan pandangan kosong.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Binar lirih tanpa menoleh ke Theo.


"Aku juga tidak tahu" sahut Theo dengan suara datar mirip suara mainan robot-robotan yang hampir habis daya baterainya.


Binar menepuk pundaknya Theo tanpa menoleh ke Theo, "aku mulai hari ini, tinggal di sini ya?"


Theo ikutan menepuk pundaknya Binar tanpa menoleh ke Binar dan berucap, "iya"


Binar akhirnya bangkit, "aku pulang dulu kalau gitu, ambil barang-barangku juga mengambil Mimi"


Theo langsung mencekal pergelangan tangannya Binar, "jangan bawa Mimi ke sini! aku takut, hiks, hiks, hiks"


"Aku akan suruh Mimi untuk jadi Miko selamanya. Pakai baju cowok sepanjang hari dan untuk selamanya, gimana?" ucap Binar sambil terkekeh melihat ekspresinya Theo.


"Baiklah! aku akan coba menerima dia, asalkan dia Miko bukan Mimi"


Binar menepuk bahunya Theo, "oke! aku pulang dulu, nanti aku ke sini lagi sama Miko"


"Tapi sebelumnya, bawa sini buku nikah kamu!" Theo menengadahkan tangan kanannya ke arah Binar.


Binar menaruh buku nikahnya ke atas tangan itu dengan tanya, "kenapa?"


Theo menggenggam buku nikah dia dan Binar, sambil tersenyum dia berucap, "karena kamu itu ceroboh orangnya. Kalau sampai buku ini hilang, kebakar, atau robek kan bisa kacau. Maka dari itu, biar aku yang menyimpannya"


Binar tertawa dan berkata, "oke lah! aku turuti apa kata suamiku"


Theo merona mendengar kata suamiku meluncur dari mulutnya Binar lalu dia cepat-cepat mendorong tubuhnya Binar untuk pergi sambil berucap, "buruan pulang keburu sore. Aku juga mau beres-beres dan menyiapkan kamar, kita"


Binar tertawa dan melangkah keluar dari rumahnya Theo menuju ke rumahnya.


"Mi! kamu di mana?" teriak Binar begitu dia menginjakkan kaki ke dalam ruang tamunya.


"Non! kaget ai, kenapa teriak-teriak sih? ai nggak gudeg eh budeg" pekik Mimi alias Miko sambil tergopoh-gopoh menghampiri Binar.


"Siapkan semua baju-bajuku, peralatan kerjaku, dan baju-baju kamu juga, sekarang!" ucap Binar sambil duduk di sofa.


"Aaaaiihhhh, yiiiippiiii, horeeee!" Mimi melonjak gembira sembari bertepuk tangan, lalu bertanya, "kita mau piknik ya Non? berapa hari? jadi ai bisa perhitungkan berapa potong baju yang akan kita bawa"


"Semuanya dibawa" ucap Binar.


"Se....semuanya?!" Mimi langsung melotot dan hampir keluar kedua bola matanya itu.


"Aku sudah menikah dengan Theo Revano, tetangga kita, jadi.........."


"Huaaaaaaaa!!" Mimi langsung menjatuhkan dirinya di atas lantai dan menangis histeris.


Binar sontak berdiri dan bertanya, "kamu kenapa Mi? kesurupan, ya?"


"Huaaaaaa! kenapa bos tega banget merebut gebetan ai. Ai lebih dulu naksir ama dia kok nikahnya sama bos, sih? huaaaaaaa!"


"Hahahahahaha, emang dia mau nikah sama kamu? udah buruan siapkan semuanya! atau mau aku pecat?"


Mimi langsung bangkit dan berlari menuju ke lantai atas mendengar kata pecat keluar dari mulut bos cantiknya.


Selang dua jam, Mimi turun dari lantai atas sembari menarik dua buah koper besar, dan mencangklong tas besar yang berisi perlengkapan kerja bosnya.


Binar tersenyum puas dan mengacungkan jempolnya ke Mimi, "bagus! dan satu lagi, kamu ganti baju gih! jangan pakai daster lagi mulai hari ini dan untuk selamanya"


Mimi menatap daster yang dia pakai kemudian mengangkat wajahnya yang sebenarnya sangat tampan itu ke bosnya, "lho kenapa, bos?"


"Suamiku phobia sama cowok berdaster, jadi jika kamu masih ingin ikut aku, kamu harus tampil maskulin sepanjang hari dan untuk selamanya, mulai hari ini. Buruan ganti! pakai kaos dan celana pendek dan jangan yang bermotif bunga-bunga atau polkadot!"


Selang dua puluh menit, Mimi telah berubah menjadi Miko dan berdiri di depan bosnya, "aku mau berubah jadi Miko selamanya tapi kasih Miko kenaikkan gaji dong bos! kalau harus jadi Miko seterusnya tuh, ai penuh tekanan batin dan itu tuh butuh biaya yang sangat banyak untuk sembuh"


"Dasar mata duitan. Oke aku naikkan gaji kamu dua kali lipat" ucap Binar, "tapi kamu juga harus doakan aku setiap hari biar rejeki lancar jaya jadi bisa terus menggaji kamu, secara gaji kamu sangat besar sekarang"


Miko langsung menengadahkan kedua tangannya ke atas dan berdoa, "beri bos ai rejeki yang banyak ya Tuhan, amin, amin, amin"


Binar tersenyum lebar lalu bertanya, "harus tiga kali ya amin-nya?"


"Iya harus, Non! biar manjur, heeeeee"


"Obat kali, manjur. Yuk buruan ke rumahnya Theo" ucap Binar, "dan ingat harus macho, maskulin, no lenjeh-lenjeh kalau nggak, aku nggak jadi naikkan gaji kamu"


"Siap dong! duit memang selalu bisa mengalahkan cinta, hihihihihi. Rasa cinta ai untuk babang tampan Theo, udah mati hanya demi rupiah alias fulus, hihihihi" sahut Miko sembari memasukkan semua koper ke bagasi mobilnya Binar.


"Terus rumah Non, gimenong eh gimana?" ucap Miko dengan gaya maskulin"


Binar tertawa tiada henti melihat Miko terus berusaha menjadi maskulin laku dia berucap sembari menyetir mobilnya, "aku akan sewakan saja, nanti"


"Oke! Miko setuju! kalau disewakan, rumah Non bisa terawat kalau dibiarkan kosong sayang, rumah sebesar dan sebagus itu nantinya rusak"


"Hmm. Kamu memang pintar" ucap Binar sambil menepuk puncak kepalanya Miko.


Sesampainya di rumahnya Theo, Theo dan Miko bersitatap. Miko langsung bersikap sempurna, tegap dan membusungkan dadanya agar nampak maskulin di depannya Theo. Theo akhirnya bernapas lega karena, Miko berubah menjadi maskulin dan tidak membuatnya merasa takut.


Miko masih membusungkan dada dan bersikap gagah dengan suara maskulin dia bertanya, "koper-kopernya ini, ditaruh mana bos Theo?"


"Koper Binar biar aku yang bawa ke kamarku. Emm, kamu langsung aja ke kamar kamu, dari sini lurus, ada perempatan belok kanan lalu pertigaan ke kiri, nah kamarmu di sebelah kanan pertigaan itu"


Miko menatap geli ke Theo, "bos Theo lucu juga ya, kasih arahan pakai perempatan, pertigaan, memangnya kita lagi di jalan raya, nih, heeeeee"


Theo tersenyum lebar ke Miko. Lalu menoleh ke Binar, "kamu pasti lelah, ayok aku tunjukkan kamar kita" ucap Theo sembari menarik kopernya Binar.


Binar mengikuti langkahnya Theo dan ketika Theo membuka pintu kamarnya, Binar langsung merasa takjub dan berkomentar, "sempurna. Kamu punya selera tinggi juga ya, dalam penataan ruangan"


Theo menarik kopernya Binar dan menaruhnya di depan lemari besar yang tertanam di dalam dinding kamarnya. Lemari besar itu berwarna putih tulang, sangat sempurna dipadukan dengan warna biru tua, dinding kamarnya Theo.


Kemudian Theo menoleh ke Binar yang telah duduk di tepi ranjang, "kamu lupa kalau aku bergerak di bidang periklanan. Jadi aku harus jago di dalam memadu padankan warna dan gaya"


Binar menepuk ranjangnya Theo dan berucap, "ranjangnya juga pas, baik warna maupun ukurannya dan......." Binar menengadahkan muka lalu ternganga, "astaga! lukisan pesawat tempurnya indah sekali"


Theo tertawa bangga, "aku suka menatap langit-langit kamar dan aku merasa hambar kalau kosong, makanya aku lukis pesawat di sana karena, aku suka pesawat"


Binar tersenyum bangga ke Theo, "kamu melukisnya sendiri?"


"Iya! emm, emang nggak bagus sih yang penting berbentuk pesawat dan kalau aku menatap ke atas, nggak kosong lagi, ada obyek yang bisa aku lihat" ucap Theo.


"Bagus kok! aku suka!" Binar kemudian merebahkan diri di atas ranjangnya Theo dan menatap ke atas lalu terkekeh geli, "bahkan ada planet, bumi, bintang, dan bulan, ya? kenapa nggak matahari?"


"Karena, aku sering menatap langit-langit kamarku kan pas malam hari jadi ya aku lukis bintang dan bulan" ucap Theo yang secara tidak sadar, merebahkan diri di sebelahnya Binar.


Pasangan suami istri yang masih sangat baru itu, asyik menikmati lukisan hasil karyanya Theo, di langit-langit kamarnya Theo dan tanpa mereka sadari, kepala mereka menempel sempurna sembari terus membahas lukisan tersebut.


Aksa telah sampai di Amerika bersama dengan Berlian. Mereka tinggal bersama di bawah satu atap di dalam istananya Kenzo Julian yang ada di Amerika. Kenzo memang sengaja membiarkan Berlian tinggal satu atap dengan Aksa supaya kedua muda mudi tersebut bisa semakin akrab satu sama lain dan harapannya Kenzo Julian, di saat Aksa dan Berlian telah lulus menempuh S2 mereka, maka Aksa dan Berlian bisa menikah.


Aksa langsung masuk ke dalam kamar yang dia pilih sebagai kamarnya dan tidak menghiraukan Berlian. Aksa membersihkan diri lalu melangkah menuju ke balkon. Dia menengadahkan wajah tampannya ke menjingganya senja, untuk membunuh rasa sepi di hatinya. Kerinduannya akan Binar Adelard harus menepi di pojok hatinya, gemuruh yang dia rasakan seolah tiada mau berhenti dan membuatnya hampir gila.


"Mentari aja tega meninggalkan senja ketika sudah waktunya. Maka kau pun tega meninggalkan aku saat kau rasa sudah tepat waktunya bagi kamu untuk meninggalkanku, Binar?" Aksa bergumam dengan suara bergetar.


"Kenapa kita harus bertemu jika akhirnya harus berpisah dan kita nggak mungkin bisa bersatu karena, aku membenci papamu. Kamu menyembunyikan soal papa kamu, dan aku mulai takut jika lama kelamaan aku juga membencimu, Binar" Aksa kemudian menutup wajah tampannya dengan kedua tangannya dan menangis histeris tanpa tahu kapan nyeri di hatinya akan berakhir. Desah napas Aksa memburu merindukan wajah ayu-nya Binar Adelard.