My Pretty Boss

My Pretty Boss
Theo dan Doanya



Aksa melangkah masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju ke kamarnya. Aksa duduk di tepi ranjang dan merenung sembari mengelus-elus dadanya, "kenapa dadaku selalu terasa hangat setiap kali aku bertemu dengan Mada? apa karena aku terkesan akan kecerdasannya? Mada masih berumur lima tahun dan sudah bisa membaca dengan lancar, Mada juga sudah bisa ambil inisiatif sendiri untuk mencari jalan keluar di saat ia tertimpa masalah, dan anaknya ramah. Atau karena..........Mada adalah anaknya Binar makanya aku langsung bisa menyayanginya dan rasa sayangku ke Mada......itu hanyalah sebuah refleksi rasa sayangku ke Binar?" lalu Aksa menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamarnya sambil mendesah panjang.


Tok, tok, tok


Pintu kamarnya Aksa diketuk oleh seseorang, Aksa bangkit lalu membuka pintu itu dan nampaklah wajah cantik dengan senyum lebar yang kemudian mengeluarkan suara, "ayok makan malam! dan terima kasih banyak untuk mobilnya tapi, gelang pesananku harus tetap dibuat"


Aksa melangkah keluar, menutup pintu kamarnya lalu mengacak-acak rambutnya Monica, "iya! aku udah gambar desainnya tinggal mengeksekusinya. Dua Minggu lagi jadi"


Monica segera menggelungkan kedua tangannya di lengan Aksa, "benarkah? boleh aku lihat gambar desainnya? terus bentuknya apa? sesuai dengan karakterku nggak?"


Aksa terus melangkah menuju ke ruang makan sambil terkekeh geli ia berkata, "tunggu aja nanti, dua Minggu lagi dan sepertinya iya mewakili karakter kamu yang ceriwis, ceroboh, dan berisik, hahahaha"


Monica melepaskan tangannya dari lengannya Aksa sembari mengerucutkan bibirnya selancip-lancipnya,


Aksa tertawa lepas dan mulai memakan makanannya, "kalau sampai bibir kamu kebablasan lancip kayak gitu aku sukurin entar, hahahaha"


Monica segera merapatkan bibirnya dan mendelik ke Aksa dengan menghembuskan napas kesalnya.


"Gimana di kantornya Binar? betah?" tanya Aksa.


"Hmm" Monica merespons pertanyaannya Aksa dengan acuh tak acuh karena, ia masih merasa kesal tidak diijinkan melihat gambar desainnya Aksa.


"Baguslah! Dan kalau kamu nanti disuruh menggambar di depan klien secara langsung bilang aja kalau kamu tuh grogian terus minta waktu untuk menggambar sendiri di ruanganmu lalu hubungi aku dengan segera, aku akan membuatkan desainnya"


Monica hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap Aksa.


Aksa terkekeh geli melihat tingkahnya Monica, "kalau marah terus, gelangnya nggak aku selesaikan. Biar jadi desain aja terus teronggok manis di laci meja kerjaku"


Monica langsung menatap Aksa, "oke aku senyum nih" Monica memamerkan deretan gigi putih rapinya ke Aksa lalu kembali berkata, "dasar menyebalkan!"


Aksa tersenyum lebar menatap Monica.


Dia memang lucu mirip banget sama Binar. Batin Aksa.


"Ayah!" Mada segera berlari masuk ke halaman rumahnya dan Binar segera beranjak dari atas pangkuan suaminya.


Theo menggelegarkan tawanya lalu memeluk erat Mada.


Binar mencebikkan bibirnya, "uluh, uluh yang anak Ayah, nggak melirik ke Bunda-nya sama sekali, nih?"


Mada masih mendekap Ayahnya dengan sangat erat dan menggelengkan kepalanya. Theo semakin mengeraskan tawa lepasnya melihat bibir monyongnya Binar dan Binar langsung mengacak-acak rambutnya Mada dengan gemas. David Revano papa mertuanya Binar bergegas menyerahkan Aries ke dalam dekapannya Binar karena, Aries mulai merajuk, rewel dan menangis histeris mencari bundanya.


Theo berdiri sambil menggendong Mada dan mempersilakan keluarga besarnya untuk masuk.


Mada mencium pipi ayahnya lalu merosot turun dari gendongan ayahnya dan segera berlari ke lantai atas menuju ke kamarnya untuk mandi.


"Aku juga ke atas dulu ya, mau mandiin Aries dan menyusuinya bentar" kata Binar kepada semua keluarganya sambil tersenyum.


Semua keluarganya menganggukkan kepala mereka secara bersamaan ke Binar dan Theo mengusap rambutnya Binar sambil tersenyum penuh cinta ia pun menganggukkan kepalanya ke Binar.


Hendra dan Aulia segera pamit untuk pulang karena James pun mulai merajuk dan rewel karena kecapekkan bermain seharian penuh di taman bermain tadi.


Tinggallah David dan Damian yang duduk di meja makan di depannya Theo. Mereka mulai menikmati masakan hasil kreasinya Binar dan Theo. "Ini masakan perdananya Binar, hehehehe, kita kolaborasi tadi karena, Binar mulai tertarik untuk belajar memasak maka saya mengajarinya tadi dan ta daaaa! inilah hasilnya, hehehehehe"


"Waahhh! aku nggak akan keracunan kan?" sahut Damian.


David langsung mencicipi martabak telurnya dan, "hmm! enak kok! udah sukses aja menantuku ya dalam hal memasak"


David dan Theo ikutan tertawa lepas. "Binar kalau punya kemauan sulit untuk diredam tapi, kalau sudah begitu biasanya hasil akhirnya pun sesuai ekspektasi, Pa" kekaguman berbalut cinta terdengar di nada bicaranya Theo saat laki-laki tampan itu membanggakan istrinya di depan papa dan papa mertuanya.


"Binar dari dulu emang keras kepala dan kamu juga jangan terlalu sering memanjakannya! jika harus di stop maka kamu harus bisa tegas" sahut Damian.


"Siap Pa" sahut Theo sambil tersenyum lebar.


Damian dan David memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian di taman bermain di mana Mada sempat terpisah dari mereka.


"Anak kamu Mada itu cerdas banget, dia baru berumur lima tahun tapi udah mau masuk SD. Apa boleh masuk SD kalau umurnya belum tujuh tahun?" tanya David.


"Kalau di sekolahannya Mada asal di tes masuk SD sudah lolos maka diperbolehkan masuk SD" sahut Theo.


"Cucuku emang luar biasa hebat kayak Opanya ya?" sahut David.


"Opa yang mana nih?" Damian mulai melempar protes ke David.


"Akulah, kan yang ngomong barusan aku?" sahut David dengan santainya.


"Lalu aku?" Damian mengerucutkan bibirnya di depannya David.


"Iya kamu juga Opanya, dasar" kekeh David.


Damian langsung tersenyum lebar.


Mada bergabung di meja makan dan langsung duduk di sebelah ayahnya. Mada menoleh ke ayahnya dan berkata tidak seperti biasanya, "Ayah, Mada minta disuapin sama ayah boleh?"


Theo tersentak kaget dan langsung menoleh ke Mada, "kamu sakit?" Theo segera menyentuh keningnya Mada.


Mada menggelengkan kepalanya, "Mada cuma kangen banget sama Ayah dan ingin disuapi sama Ayah"


David dan Damian tersenyum lebar ke Mada lalu David berkata, "Ayah kamu itu anaknya Opa kalau Opa minta dan Opa bawa ke rumah Opa boleh? Opa kesepian di rumah sendiri" goda David dengan senyum tampannya.


Mada segera melompat di atas pangkuannya Theo lalu mendekap Theo dengan sangat erat dan tanpa mereka duga, Mada menangis sambil berkata, "jangan ambil Ayah. Ayah miliknya Mada, jangan ambil Ayah!"


Theo mendelik ke papanya dan David segera berucap, "maafkan Opa, Opa cuma bercanda kok sayang, maafkan Opa, ya!"


Mada lalu memutar badan dan dengan masih duduk di atas pangkuan ayahnya, ia mengusap air matanya dengan kedua tangan mungilnya lalu sambil terisak ia berucap, "jangan ambil Ayah ya Opa?!"


"Iya, iya, ayah kamu hanya milikmu saja. Nggak akan Opa ambil" sahut David.


Damian langsung menjewer telinganya David, "nih lihat, Opa David, Opa jewer nih karena udah usil godain Mada" David segera berpura-pura meringis kesakitan di depannya Mada.


Mada kemudian mengganti tangisnya dengan senyum lebar lalu terkekeh geli menatap tingkah konyol kedua opa yang sangat menyayanginya itu.


Theo mendekap Mada lalu mencium kepalanya Mada dan mulai menyuapi Mada makan.


Kenapa Mada yang terbiasa mandiri tiba-tiba manja banget sama aku dan posesif banget kayak gini? Apa Mada bisa merasakan kegalauanku? Batin Theo


Langit semakin tegas memamerkan kepekatannya dan menorehkan gelapnya di kedua bola mata indah miliknya Theo. Langit menyandera tatapannya Theo di sana. Dengan menengadahkan wajah tampannya ke pekatnya langit di tengah malam, Theo bersimpuh, mengangkat tangan di depan wajah, dan berdoa, "Tuhan, hambaMu ini siap menerima ganjaran dariMu karena, telah bersikap egois atas Mada dan Aksa. Curahkan semua kekecewaanMu hanya kepadaku saja, Tuhan dan hambaMu ini memohon, jangan hukum istri hamba! Hukum saja saya! Namun, Tuhan jikalau Engkau hendak menghukum hambaMu ini, hamba mohon jangan lama-lama ya Tuhan karena, hukuman terberat bagi hamba adalah dipisahkan dengan keluarga kecil hamba dan hambaMu ini tidak sanggup jika harus dipisahkan terlalu lama dengan keluarga kecil yang sudah Engkau anugerahkan kepada hambaMu ini"


Theo menghela napas sebentar untuk mendekap erat air matanya agar tidak tertumpah keluar karena, ia malu pada sang langit. Lalu ia kembali melanjutkan doanya, "hambaMu akan memberitahukan soal tumor yang ada di otak hamba kepada istri hamba besok, tolong Engkau buka hati istri hamba beri istri hamba ketabahan sehingga istri hamba bisa kuat dan tegar saat mendengar soal tumor ini. Dan saya mohon lindungilah, lancarkanlah operasi pengangkatan tumor di otak hamba, dan jika hambaMu harus menderita hilang ingatan, atau koma, atau mengalami salah satu efek samping dari operasi pengangkatan tumor di otak hambaMu ini, hamba mohon jangan Engkau biarkan terlalu lama ya Tuhan karena, seperti yang tadi saya bilang, saya nggak bisa pisah terlalu lama dengan keluarga kecil pemberianMu. Dan satu lagi Tuhan, jika saya harus mengalami salah satu efek samping itu maka tolong jaga dan lindungi keluarga kecil saya dari segala marabahaya, godaan, dan pencobaan. Amin!"


Theo lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan bangkit, memutar badan dan masuk kembali ke dalam kamarnya.