
Aksa mengajak Binar ke pantai. Aksa berpikir ingin membicarakan permasalahan mereka sampai tuntas. Sesampainya di pantai, Binar menoleh ke Aksa, "kenapa ke sini? aku capek pengen pulang ke rumah nenek"
Aksa membuka sabuk pengamannya lalu mengusap rambutnya Binar dan menghela napas panjang, "kita butuh bicara berdua saja saat ini"
Binar membuka sabuk pengamannya dan tersenyum tipis, "aku............"
"Soal tadi aku minta maaf, tanpa minta persetujuan darimu aku membawamu ke restorannya Alex untuk aku kenalkan ke teman-temanku. Itu karena, aku ingin mengenalkan kamu ke teman-temanku sebagai calon istriku, bahkan aku ingin berteriak ke seluruh dunia dengan lantang kalau aku, Aksa Putra Julian sangat mencintai Binar Adelard dan akan menikahinya" ucap Aksa serius sambil terus mengelus rambut lembutnya Binar.
Binar menatap Aksa dengan sangat dalam. Binar sungguh tidak menyangka kalau Aksa telah sebegitu dalamnya mencintai dia. Bahkan ada kata menikah meluncur dari bibirnya Aksa.
"Binar? jangan hanya diam dan menatapku seperti itu, katakan sesuatu!"
Binar menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu dia hembuskan secara perlahan lalu berucap, "aku nggak menyalahkanmu atas kejadian tadi. Aku cuma sedih kalau kamu mendapatkan cibiran dari banyak orang karena, kamu berpacaran dengan cewek yang jauh lebih tua dari kamu. Kamu dipandang orang sebagai piaraanku, tante-tante...........hmmpppt"
Aksa langsung menutup bibirnya Binar dengan bibirnya. Dia mencium bibirnya Binar dengan begitu lembut dan dalam. Selang tiga menit kemudian dia lepaskan bibir manis milik kekasihnya itu dan dia berucap, "abaikan semua penilaian negatif dari orang lain. Kita toh nggak minta makan sama mereka, kita nggak ada hutang sama mereka, jadi untuk apa kita pedulikan omongan mereka! Yang penting kita. Kita yang menjalaninya. Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku, itu cukup" Aksa mengusap bibirnya Binar dengan ibu jarinya.
Butiran bening dari kalbunya Binar menetes bebas di atas pipinya. Binar tidak kuasa lagi menahan tangisannya di depan Aksa.
Aksa langsung memeluk Binar dan kembali berucap sambil mengelus punggungnya Binar, "tunggu aku wisuda! setelah itu aku akan melamarmu. Aku akan cari kerja setelah kita menikah, aku akan bertanggung jawab menghidupi kamu dan aku akan membuatmu selalu bahagia dengan cintaku"
Binar menarik diri dari dalam pelukannya Aksa lalu menatap Aksa masih berurai air mata, "Bagaimana soal kak Binar dan Kak Abimana, mereka dosen kamu. Kalau mereka tidak menyetujui hubungan kita? terus papa aku? papa udah menjodohkan aku dengan Theo dan........"
Aksa mencium keningnya Binar lalu berucap, "aku akan berjuang sampai mendapatkan restu dari mereka kalau kakak dan papa kamu tidak memberikan restu. Aku akan terus berjuang untuk membuktikan keseriusanku, membuktikan kalau aku juga bisa bertanggung jawab dan menghidupi kamu walaupun aku jauh lebih muda dari kamu" keseriusan terdengar di nada bicaranya Aksa.
Binar menempelkan ujung hidungnya ke ujung hidungnya Aksa, "bagaimana kalau selamanya mereka nggak akan pernah memberikan restu mereka?"
"Aku akan terus berjuang" Aksa mengusap rambutnya Binar lalu mengusapkan ujung hidungnya ke pipinya Binar lalu ke lehernya Binar. Aksa menelusupkan wajahnya agak lama di lehernya Binar lalu dia menyandarkan dagunya di atas pundaknya Binar.
Binar mendesah panjang tanpa dia sadari karena, dia sudah merasa pesimis sebelum melihat perjuangannya Aksa untuk mendapatkan restu dari papa dan kakaknya.
Kak Mika dan kak Abimana-nya adalah orang yang sangat memedulikan afeksi yang normal bukan yang abnormal seperti afeksi dia dan Aksa. Binar sudah bisa melihat jelas di depan matanya kalau, kak Mika dan kak Abimana-nya berkata Big No! pada dia dan Aksa. Lalu papa-nya, akan pingsan karena, papa-nya sangat menjunjung tinggi martabat, harga diri, dan pandangan dari masyarakat umum.
"Percayalah padaku, aku akan berhasil memenangkan hati keluarga kamu seperti kamu telah berhasil memenangkan hati mama Dara, Embun, kakek, dan nenek ku" ucap Aksa dengan sorot mata penuh dengan harapan dan Binar hanya bisa mengulas senyum di wajah cantiknya.
Mika keluar dari kamar untuk membelikan Arga, es krim. Mika menuju ke restoran hang berada di dekat lobi hotel miliknya mister Herald. Di dalam perjalanan menuju ke restoran tersebut, Mika berpapasan dengan Camelia. Camelia tersenyum penuh arti ke Mika lalu berkata, "bisa kita bicara berdua?"
Mika tersenyum dan berucap, "maaf saya tergesa-gesa jadi saya tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan anda saat ini, maaf" Mika melanjutkan kembali langkahnya namun, dengan cepat dan tanpa basa-basi, Camelia mencekal lengannya Mika.
Mika menarik lengannya lalu berbalik badan menghadap ke Camelia, "kenapa anda mencekal lengan saya?"
"Saya sudah katakan kalau saya ingin bicara dengan anda dan saya tidak pernah menerima suatu penolakan" ucap Camelia dengan sorot tajam penuh kecemburuan ke Mika.
"Oke baiklah, emm, kita bicara di mana?" tanya Mika mengalah.
"Di teras belakang saja. Ikuti saya!" ucap Camelia.
Mika berjalan di belakangnya Camelia sambil mengetikkan pesan text ke suaminya. Mika memberitahukan ke Abimana kalau dia akan berbicara dengan Camelia di teras belakang karena, Camelia yang mengajaknya.
Mika duduk di depannya Camelia. Mereka duduk di bangku yang mengelilingi sebuah meja bundar mini, di dekat kolam renang, di tengah hamparan bunga dan rumput hijau yang indah dan alami.
"Pemandangan di sini sangat indah dan sejuk, ya" ucap Mika dengan riangnya. Mika mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa kaku diantara dia dan Camelia.
"Saya mencintai suami anda. Ijinkan saya menjadi istri muda dari suami anda" ucap Camelia dengan wajah kaku dan sorot mata penuh keseriusan.
Mika untuk sejenak tercengang lalu berucap, "tapi suami saya tidak mencintai anda dan tidak berniat menjadikan anda sebagai istri mudanya"
"Tidak mencintai saya? bahkan kami sudah berciuman. Saya katakan berciuman karena, suami anda membalas ciuman saya dengan rasa dan gairah yang besar dan itu bukan cinta?" Camelia menyeringai ke Mika.
"Dengar nona! maaf jika saya katakan kalau anda terlalu bermimpi dan berharap. Seorang lelaki normal akan secara spontan mengikuti naluri alaminya untuk membalas ciuman dari seorang wanita jika wanita itu terlebih dahulu menciumnya dan......"
"Bagaimana anda tahu kalau saya yang lebih dulu mencium Abimana? Abimana udah ceritakan semuanya?" tanya Camelia.
Mika mendesah panjang, dia mencoba untuk bersikap waras di tengah ketidakwarasan wanita di depannya, lalu berucap, "mas Abimana cerita atau tidak itu urusan pribadi saya dengan mas Abimana tapi yang pasti, mas Abimana tidak pernah mencintai anda dan......."
"Hentikan Lia!" suara mister Herald terdengar menggelegar di udara dan membuat kedua wanita yang tengah mengobrol menoleh dan seketika itu pula berdiri menghadap ke mister Herald.
"Pa!" pekik Camelia.
"Hentikan dan jangan mempermalukan papa dan diri kamu seperti ini! mister Abimana tidak pernah mencintaimu jadi berhentilah berharap! jangan ganggu rumah tangganya mister Abimana!" ucap mister Herald penuh dengan ketegasan.
"Nggak bisa Pa! aku terlanjur menginginkan Abimana dan aku nggak akan melepaskannya. Aku mencintainya, Pa!" Camelia berteriak lantang dengan tanpa rasa malu.
Mister Herald menoleh ke Mika, "maafkan putri saya! saya gagal mendidiknya menjadi pribadi sebaik dan seanggun anda, nyonya Mika"
Mika tersenyum, "karena putri anda anak tunggal jadi wajar kalau dia sedikit manja dan......."
"Diam kamu! aku tidak butuh penilaian kamu atas diriku. Aku lebih segala-galanya dari kamu" pekik Camelia kesal dan Mister Herald menampar Camelia dengan sangat keras.
Camelia menyentuh bekas tamparan papanya dan menatap tajam ke papanya.
"Kamu tidak meminta maaf tapi malah semakin menjadi-jadi maka papa perlu menamparmu untuk sadar dan berubah. Jangan seperti mama kamu, mama kamu merusak rumah tangga orang dan menjadi benalu sampai mama kamu meninggal. Papa menamparmu karena, papa nggak mau kamu menjadi seperti mama kamu" ucap mister Herald.
Camelia mundur selangkah menjauhi papanya. Papanya tidak pernah menceritakan kalau mamanya telah merusak rumah tangga orang lain. Camelia menatap papanya dengan sorot mata tidak percaya.
"Itu benar. Mama kamu lari dengan kolega papa. Dia selingkuh dari papa dan memilih pria itu. Papa nggak pernah cerita soal ini karena, papa nggak ingin kamu membenci mama kamu. Papa ingin kamu memiliki kenangan yang baik tentang mama kamu. Tapi kelakuan kamu ini membuat papa terpaksa mengatakan semuanya agar kamu tidak menjadi perebut laki orang seperti mama kamu" Mister Herald melangkah mendekati Camelia namun, Camelia terus melangkah mundur.
"Dan kau tahu siapa laki-laki idaman lainnya mama kamu? yang membuat mama kamu meninggalkan kita? laki-laki itu adalah papanya mister Abimana"
Mika langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya dan Abimana menjatuhkan gelas yang dia pegang. Arga yang berada di dalam gendongan papanya sampai tersentak kaget.
Semua mata akhinya tertuju ke Abimana. Mika bergegas mengambil Arga dari gendongannya Abimana dan membawa Arga pergi menuju ke restoran untuk membeli es krim dan Abimana menatap tajam ke mister Herald dan Camelia.
Camelia menatap papa dan Abimana dengan terus menggeleng-nggelengkan kepalanya dan berurai air mata.