
Pergumulan berat selama bertahun-tahun yang bersemayam di dalam hati dan benak Binar, kembali terbuka nyata. Pergumulan berat yang membuat Binar berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam karena, adanya rasa penyesalan, kesedihan, dan kebingungan yang mengepung sanubarinya, kembali terkuak.
Binar menatap Aksa dan berucap, "aku sungguh-sungguh meminta maaf dari awal aku menyetujui kita berpacaran aku sudah melakukan kesalahan besar. Seharusnya aku tidak menerima kamu sebagai pacarku saat itu"
"Lalu kenapa kau menerimaku jadi pacar kamu saat itu?"
Binar menghela napas panjang, "jujur awalnya karena rasa penasaran, adrenalinku terpacu karena, pesona kamu. Alasan yang lainnya karena, aku belum pernah berpacaran. Aku penasaran bagaimana rasanya berpacaran saat itu makanya tanpa berpikir panjang aku menerima kamu menjadi pacarku"
"Kamu tidak pernah mencintaiku?" sorot mata Aksa meredup karena kekecewaan.
"Bukan seperti itu" Binar mengusap air matanya yang menetes lalu kembali berucap, "aku mencintaimu tapi juga takut menghadapi cibiran dunia karena, kamu jauh lebih muda dari aku. Aku memang pengecut"
"Untuk itulah kamu dengan mudahnya berkata putus saat aku marah dan menjauh dari kamu? Karena, selamanya kamu nggak akan siap menghadapi dunia jika kita tetap berpacaran?"
"Maafkan aku Sa! aku bingung dan juga muak dengan semua yang terjadi kala itu. Cibiran dari teman SMA kamu dan masyarakat sekitar saat kita di Kudus, lalu hinaan dari papa kamu, dan penolakan kamu waktu itu terjadi secara bertubi-tubi dan itu membuatku semakin takut. Takut kalau aku akan menjadi beban kamu. Aku lihat ada kesempatan bagus untuk kamu saat itu. Untuk kamu meraih mimpi ke luar negri dengan beasiswa kamu maka dari itu, aku memutuskan untuk membebaskanmu dari aku. Aku hanya akan menjadi penghalang bagi masa depan kamu, sampai kapan pun" Binar mulai terisak.
Aksa masih belum bisa merespons dan ia merapatkan bibir sambil terus menatap Binar.
"Saat kamu pergi meninggalkanku di restoran kala itu, aku langsung pulang ke rumah dan pingsan. Mas Theo yang menolongku dan membawaku ke rumah sakit dan saat itulah aku tahu kalau aku hamil. Aku bingung, panik, dan frustasi karena, aku nggak ingin membebani kamu dengan kehamilanku dan aku pikir kamu masih marah dan aku takut jika kamu akan bertindak di luar ekspektasiku kala itu. Aku memang pengecut dan selamanya........." Binar terengah-engah menahan kesedihan yang menyesakkan hatinya Lalu ia menghela napas panjang untuk kembali berkata, "selamanya aku nggak akan pernah pantas untuk kamu"
"Maafkan aku. Aku bodoh sekali waktu itu. Aku percaya pada papaku begitu saja. Bahkan aku juga sempat membenci almarhum mamaku saat itu. Aku marah, kecewa, benci, bukan hanya denganmu tapi juga dengan mamaku, dengan kakek dan nenekku. Itulah kenapa tanpa berpikir panjang aku menerima beasiswa itu dan pergi ke Amerika. Aku ingin menghindari semua masalah di sini dan menghindari indahnya kebersamaan kita waktu kita masih bersama, mengindari kenyataan bahwa kita telah putus yang terasa menyesakkan dadaku saat itu"
"Aku sudah memaafkanmu dan bukan itu intinya. Intinya, sampai kapan pun kita tidak mungkin bisa bersama" sahut Binar dengan cepat.
"Karena kamu sudah menikah saat ini?"
"Kalau misalnya aku belum menikah pun, aku akan tetap menolak kamu karena, aku nggak pantas untuk kamu"
"Tapi jauh di lubuk hatiku, aku masih sangat mencintaimu Bin"
"Belajarlah mencintai lagi. Dengan Monica. Dia gadis yang sangat baik dan tepat untuk kamu"
"Kamu enak ngomong seperti itu. Aku menyukai Monica iya itu benar tapi untuk mencintainya, kenapa terasa sangat sulit bagiku"
"Sadarlah Sa! kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita sudah salah sedari awal, harusnya kita tidak nekat berpacaran dan......."
Aksa menarik Binar lalu ia nekat mencium bibirnya Binar. Dia cium bibir ranum itu dengan penuh gairah dan kerinduan. Menempel, mengusap dengan bibirnya, mencium, menghisap dan semakin menekan bibirnya Binar dengan penuh damba. Untuk sesaat Binar terbius dan terkulai lemas. Aksa segera mengambil kesempatan itu untuk mengunci bibirnya Binar yang masih terasa begitu manis dan memabukkan bagi Aksa. Aksa enggan untuk melepaskan bibir yang begitu ia rindukan itu.
Binar segera mengumpulkan seluruh kesadarannya dan mendorong dengan keras tubuhnya Aksa. Lalu ia mendelik ke Aksa. Ia hendak menampar Aksa tapi ia tahan tangannya di udara.
Aksa memegang pergelangan tangan Binar yang masih melayang di udara lalu ia memekik, "tampar aku, ayok tamparlah aku!"
Aksa ikutan bangkit dan ia segera memeluk Binar, "maafkan aku! aku khilaf karena, aku sangat merindukanmu"
Binar mendorong rubuhnya Aksa kembali dan langsung melangkah beberapa langkah ke arah belakang.
Aksa mendesah panjang dan Binar segera berucap, "jangan pernah memegang tanganku, jangan memelukku, jangan menyentuhku dan jangan pernah menciumku lagi! aku sudah menikah dan aku mencintai suamiku" Binar berucap dengan kelopak mata yang tergenang air mata.
Aksa hendak nekat meraih tangannya Binar namun, dokter Hendrik telah hadir diantara mereka. Aksa lalu menarik kembali tangannya dan ia masukkan ke dalam saku celananya. Binar merapikan rambutnya dan menghadap ke dokter Hendrik sambil mengulas senyum.
Dokter Hendrik melirik ke Aksa dan bertanya ke Binar, "pemuda ini siapa?"
"Ah! dia mantan karyawan saya Dok" ucap Binar dan Aksa kecewa mendengar ucapannya Binar. Aksa langsung pergi meninggalkan dokter Hendrik dan Binar tanpa pamit karena, kesal.
Dokter Hendrik mengabaikan sikap Aksa dan segera berucap, "Maaf lama menunggu, ayok masuk ke dalam!" ucap dokter Hendrik.
Aksa melangkah lebar kembali ke kamar neneknya dengan benang ruwet di benaknya.
Binar duduk di depan meja kerjanya dokter Hendrik, "ada apa Dok? suami saya baik-baik saja, kan?"
"Theo sudah stabil kondisinya walaupun belum sadar dari komanya. Aku putuskan besok Theo bisa dipindahkan ke kamar reguler biar ia bisa berkumpul dengan keluarganya. Siapa tahu jika ia dikelilingi putra-putranya ia akan segera sadar dari koma-nya"
"Terima kasih banyak Dok" Binar memekik kegirangan karena, dengan begitu, Mada dan Aries bisa bertemu dengan ayah mereka.
"Sama-sama dan Sus tolong siapkan semuanya untuk kepindahannya Theo" ucap dokter Hendrik ke salah seorang perawat yang mendampinginya dinas di malam itu.
"Baik Dok" sahut perawat tersebut.
Binar lalu bangkit dan pamit untuk kembali ke ruang ICU.
Binar segera memakai kembali seragam khusus di ruang ICU tersebut lalu ia duduk di samping bed suaminya, "sayang, ada kabar gembira. Besok kamu udah pindah ke kamar reguler. Kamu bisa berkumpul lagi dengan anak-anak"
Binar lalu teringat dengan suratnya Mada. Ia buka surat itu dan tersenyum penuh haru saat ia membacanya sekilas surat itu. Lalu Binar berkata, "ada surat dari Mada. Aku bacakan ya"
Binar lalu membaca surat itu:
Dear Ayah, Mada kangen banget sama Ayah. Mada pengen di hari pertama Mada masuk SD diantar sama Ayah tapi sayangnya Ayah sakit. Mada berbohong sama Bunda kalau Mada sudah punya teman. Maafkan Mada ya Ayah karena, udah membohongi Bunda. Mada nggak ingin Bunda sedih karena, Mada belum punya teman di hari pertama Mada masuk SD. Teman sebangkunya Mada seorang cewek, berkucir dua dan berponi, Ia tampak aneh di mata Mada dan ia ceriwis sekali. Dikit-dikit minta diajari dan banyak nanya yang nggak penting. Mada sangat malas meladeninya dan karena, Mada banyak diam jadi teman-teman sekelas pun enggan mendekati Mada. Mereka tahu kalau Mada diam karena, Mada merindukan Ayah. Maka dari itu Mada belum punya teman. Mada Sangat merindukan Ayah. Cepat sembuh ya Ayah. Mada sangat mencintai dan menyayangi Ayah.
Binar mengusap air matanya sambil mengulas senyum, "Mada lucu ya Mas, sama seperti kamu lucunya" dan saat ia melihat ke tangan Theo, ia kembali melihat tangan Theo bergerak-gerak dan bukan hanya jari telunjuknya saja yang bergerak tapi, semua jari jemarinya Theo di tangan kanannya bergerak.
Binar memekik senang dan ia langsung menggenggam tangan suaminya yang terus bergerak. Binar menangis bahagia saat ia merasakan tangan Theo menggenggam erat tangannya. Binar angkat tangan itu dan ia cium tangan itu, "memang kamu dan Mada sepertinya diciptakan untuk saling melengkapi dan nggak bisa dipisahkan. Setiap kali aku bercerita soal Mada, kamu langsung memberikan respons. Semoga besok, di kamar reguler, di saat Mada bisa menyentuh kamu secara langsung, kamu bisa segera sadar ya Mas"