
Satu Minggu kemudian. Aksa pun juga tidak berniat menceritakan tawaran beasiswa yang dia dapat dari kampusnya ke Binar karena, dia memang tidak berniat untuk menerima tawaran itu.
Sore hari ketika jam kerja telah habis masa-nya dan semua koleganya telah pergi meninggalkan kantor, Aksa menemui Binar di ruang kerjanya Binar, "mama Dara mengajak kita makan sekarang, kamu ada waktu?"
Binar meraih tas kerjanya lalu bangkit dan tersenyum ke Aksa, "bisa dong. Kita pergi sekarang?"
"Hmm" ucap Aksa sambil merangkul Binar dan mereka pun berjalan menuju ke lantai bawah memakai lift khusus untuk CEO. Aksa mencium pipinya Binar, "aku sangat merindukanmu. Sepanjang hari ini aku di proyek terus dan bisa bertemu denganmu hanya pas jam pulang kantor"
Binar mengangkat wajahnya lalu tersenyum, "jangan lebay! kita bukan remaja lagi"
Aksa terkekeh geli mendengar ucapannya Binar.
Saat lift terbuka, Aksa dengan sangat terpaksa melepas rangkulannya dan mereka berjalan berjauhan. Sesampainya di dalam mobilnya Binar, Aksa kembali protes, "aku ingin segera wisuda dan mengumumkan hubungan kita ke publik juga menemui keluarga kamu untuk melamar kamu"
Binar menoleh ke Aksa yang sudah mulai meluncurkan mobil itu lalu berucap, "sabar! sebentar lagi tercapai. Sebentar lagi kamu wisuda dan kita bisa umumkan hubungan kita secara terbuka ke semua orang"
Iya, kalau kamu tidak pergi ke luar negeri, Sa. Batin Binar.
Selang satu jam, mereka sampai di restoran di mana Dara dan Embun telah menunggu mereka. Dara bangkit dan melambaikan tangannya ke Binar dan Aksa. Binar dan Aksa tersenyum sambil membalas lambaian tangan itu, mereka mendekati mejanya Dara dan Embun lalu duduk di depannya Dara dan Embun.
"Mama udah pesankan makanan dan minuman kesukaan kamu kalau Binar, maaf, aku nggak tahu kesukaanmu, jadi silakan pesan sendiri! jangan sungkan!" ucap Dara dengan senyum tulus dan ramahnya.
"Terima kasih" sahut Binar sembari memesan beberapa makanan dan minuman kesukaannya.
Aksa membelai rambutnya Binar, "Binar tuh pemakan segala, Ma. Misalkan tadi mama pesankan steak dan milkshake cokelat dia juga akan menikmatinya" Aksa kemudian menoleh dan tersenyum ke Binar.
Binar tersenyum lebar dan merona malu karena, Aksa membelai rambutnya di depan Dara dan Embun.
Dara yang memahami rona wajah itu langsung berkata ke Binar, "nggak usah malu. Aksa terbiasa membelai rambut. Dia juga sangat suka membelai rambutnya Embun"
"Aaahh, hahahaha, iya. Hai Embun! apa kabar?" Binar menyapa Embun yang tengah menikmati nasi goreng kesukaannya.
Embun mengangkat wajahnya dan menatap Binar, "Baik, Tante. Embun kangen sama senyum cantiknya Tante"
"Hahahaha, makasih sayangku. Tante juga kangen sama wajah imut kamu"
Mereka berempat kemudian tertawa dan melanjutkan obrolan juga candaan mereka disela makan sore mereka kala itu.
Tiba-tiba terdengar bunyi langkah sepatu yang mantap, mendekat ke arah meja mereka dan Dara langsung bangkit dan berucap, "mas?"
"Tega kalian ya, makan sore tanpa mengundang papa" ucap Kenzo.
Binar dan Aksa langsung mematung. Mereka nampak ragu ketika mencoba untuk bangkit dan berbalik badan. Namun, walaupun berat untuk mereka lakukan akhirnya, Binar dan Aksa pun bangkit dan berbalik badan.
"Pa!" Aksa menyapa papanya lalu meraih tangan papanya dan mencium punggung tangan itu.
Binar melakukan hal yang sama namun, Kenzo menepis tangan Binar dengan sangat kasar.
Aksa langsung menatap tajam ke papanya dan memekik, "Pa! kenapa kasar sama pacar Aksa"
"Pacar? apa papa ijinkan kalian berpacaran. Enak aja bilang pacar. Papa udah pilihkan calon istri yang bibit, bebet, dan bobotnya jelas. Nggak seperti wanita ini" tunjuk papanya Aksa ke Binar dengan sorot mata penuh dendam dan kebencian.
"Mas! hentikan! ada Embun" pekik Dara.
Kenzo kemudian diam namun, masih mengeraskan wajahnya. Begitu pula dengan Aksa. Sedangkan Binar hanya bisa diam membisu dan mematung.
Dara kemudian menghampiri suaminya lalu menggelungkan tangan di lengan suaminya, "duduk dan minum dulu, mas! tenangkan diri mas dan jangan kasar sama Binar. Dia gadis yang baik dan sangat mencintai putra kamu"
"Cinta? itu bukanlah cinta itu obsesi benar kan, nona Binar Adelard? saya tanya sekarang, berapa umur anda?" Kenzo menatap ke Binar tanpa keramahan sama sekali.
"Pa!" Aksa memekik kesal dan mulai mengepalkan kedua tangannya menahan emosi untuk tidak memukul papanya.
"Sa.....saya tiga puluh tahun" ucap Binar sambil menundukkan wajahnya.
"Nah! lihat! itu obsesi gila seorang perawan tua, cih! berani benar kamu menggoda anakku dan........"
Aksa mulai melayangkan tinju ke papanya namun, dengan sigap Binar menangkap tangannya Aksa lalu dia genggam dengan sangat erat tangan itu.
"Asal papa tahu, aku yang mengejar-ngejar Binar. Aku yang lebih dulu jatuh cinta kepadanya dan........."
"Papanya penyebab mama kamu dan papa bercerai. Papanya yang bernama Damian Adelard telah menggoda mama kamu di saat papa nggak ada dan selamanya papa nggak sudi menerima dia sebagai menantu papa!!!!" Kenzo berteriak lantang ke Aksa.
Aksa seketika itu pula menarik paksa tangannya dari genggaman tangannya Binar. Aksa mundur menjauhi Binar dan menatap Binar dengan sorot mata ambigu.
"Iya! itu alasan yang sebenarnya kenapa papa tidak Sudi menerima wanita keturunan Adelard menjadi menantu papa apalagi dia jauh lebih tua dari kamu" Kenzo masih mengeraskan nada bicaranya karena kesal teringat kembali akan masa lalunya di saat Damian Adelard memeluk almarhum Dona, mantan istrinya, yang juga mama kandungnya Aksa Putra Julian.
"Tapi om, saya tidak........."
Aksa kemudian berlari keluar meninggalkan semuanya begitu saja.
Binar memandang ke Dara dan Dara menganggukkan kepalanya sebagai kode kalau dia setuju jika Binar mengejar Aksa saat itu.
Binar kemudian berkata, "maaf, saya permisi" dan langsung mengejar Aksa. Binar berhasil meraih tangannya Aksa dan menahan laju larinya Aksa.
Kenzo hendak mencegah laju larinya Binar namun, Dara dengan cepat memeluk tubuhnya Kenzo, "biarkan mereka selesaikan permasalahan mereka, mas!"
Aksa menepis kasar tangannya Binar dan berbalik badan menatap Binar dengan perasaan yang kacau balau. Dia sungguh kecewa karena, dia pikir apa yang dikatakan papanya adalah benar. Papanya Binar yang menyebabkan perceraian diantara papa dan mamanya. Menyebabkan dia dan Mamanya menderita sampai mamanya akhirnya meninggal dalam kepiluan tanpa laki-laki yang sungguh-sungguh dia cintai.
"Aku akan bebaskan kamu dari perasaan menyakitkan itu Sa. Kita putus saja" ucap BInar dengan tegar walaupun di dalam, hatinya hancur berkeping-keping di saat dia mengeluarkan kata putus.
Aksa terkekeh dan berucap dengan wajah datar dan sorot mata tajam, ada tersirat kebencian disertai kekecewaan yang dalam di sana, "kamu memang sedari awal hanya ingin coba-coba dengan hubungan ini, cih! kamu bahkan mengucapkan kata putus dengan santainya dan kamu menyembunyikan masalah papa kamu dariku, tega kamu Binar. Papa kamu yang sudah membuat mama dan papaku bercerai!"
"Aku tidak tahu soal itu, sungguh!"
"Cih! kau bilang tidak tahu dengan polosnya dan kau bilang putus dengan mudahnya. Apa karena aku jauh lebih muda dari kamu, maka kamu permainkan aku seenaknya? begitu Binar?" Aksa berteriak kesal ke Binar.
"Lalu kalau kita tidak putus, kita akan lakukan apa? coba katakan, apa yang akan kita lakukan dengan semua masalah yang begitu besar yang menghadang kita sekarang ini, hah? dan bukan aku yang menyembunyikan sesuatu ke kamu tapi kamu yang menyembunyikan sesuatu dariku" pekik Binar dengan garangnya.
"Apa? aku tidak pernah menyembunyikan apapun dari kamu. Aku bukanlah seorang pengecut seperti kamu, cih!"
"Beasiswa ke luar negeri. Bagaimana dengan itu?" ucap Binar tidak kalah kesalnya.
"Aku tidak menceritakan ke kamu karena, aku tidak berniat untuk pergi. Aku ingin melamarmu dan........shit! sekarang percuma berkata soal lamaran. Aku nggak mau jadi menantu papa kamu dan karena kamu minta putus, baiklah! mulai dari sekarang kita putus" ucap Aksa lalu berjalan pergi meninggalkan Binar.
Binar melangkah maju menuju ke parkiran mobilnya dengan tegar dan tanpa menoleh ke belakang. Dia telah kehilangan Aksa namun, rasa kecewa dan kesedihan yang begitu dalam justru membuat wanita cantik keturunan Adelard itu tidak mampu mengeluarkan air mata.
Binar masuk ke dalam mobilnya, memasang sabuk pengamannya lalu melajukan mobilnya meninggalkan restoran itu, meninggalkan Aksa, meninggalkan kisah cinta yang begitu indah yang hanya sesaat saja bisa dia rasakan. Kisah cinta yang sangat dia sukai karena, dia selalu merasa melayang bak berada di negeri dongeng kini, kisah cinta itu harus hancur lebur ketika harus terbentur realita kehidupan yang ada di depan matanya.