My Pretty Boss

My Pretty Boss
Hadiah Ala Theo Revano



Theo kemudian menuntun langkahnya Binar menuju ke sebuah kursi dan membantu Binar untuk duduk. Theo duduk di sebelahnya Binar dan bertanya, "kamu beneran nggak apa-apa?"


Binar tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "aku ini jagoan jadi berhentilah khawatir yang berlebihan padaku"


"Hendra memang brengsek! sekali lagi aku melihat dia mengganggu kamu, aku akan langsung menghajarnya"


"Kamu pandai mengatur emosi ya, aku salut. Kamu masih bisa menahan diri tidak menghajar Hendra tadi karena, masih banyak tamu dan kamu menjaga nama baik adik kamu, kan?" Binar memandangi wajah tampannya Theo dengan sorot mata penuh dengan kekaguman.


"Ah, hahahaha, biasa aja jangan dilebih-lebihkan" ucap Theo dengan wajah merona dan laki-laki tampan itu pun menggaruk kepalanya dengan kikuk karena, malu mendengarkan pujian dari istri cantiknya.


Binar terkekeh geli melihat tingkah konyolnya Theo lalu berkata, "semudah itu kamu merasa malu, ppffftt"


"Iya itu.....emm....itu karena, aku jarang dipuji oleh wanita secantik dan semanis kamu" ucap Theo dengan masih menggaruk kepalanya.


Binar tertawa lirih dan berucap, "kamu juga manis kok"


Theo semakin salah tingkah dan meringis di depannya Binar dengan wajah yang semakin memerah karena, bahagia bercampur malu mendapatkan pujian bertubi-tubi dari wanita yang sangat dia cintai.


Binar tersenyum lebar lalu bertanya, "kamu tahu kalau Hendra itu brengsek tapi, kenapa kamu ijinkan dia menikah dengan Aulia, adik kamu satu-satunya?"


"Ikatan keluarga Revano dengan keluarga Herlambang sangatlah rumit. Keluarga Revano berhutang budi dengan keluarga Herlambang karena, pak Burhan Herlambang papanya Hendra meninggal gara-gara melindungi papa dari tusukan seorang demonstran"


"Demonstran?" tanya Binar.


"Iya. Saat itu ada yang memfitnah papaku telah melakukan bisnis kotor dan menyebabkan banyak karyawannya menderita lalu terjadilah demo besar-besaran. Papa akhirnya menemukan bukti dan memberikan penjelasan melalui konferensi pers untuk membersihkan nama baiknya dan dia bersedia menanggung kerugian semua karyawan walaupun bukan papa yang melakukan bisnis kotor dan penggelapan dana produksi"


"Terus?" tanya Binar.


"iya tetap saja ada yang terlanjur membenci papa dan dia tidak percaya akan bukti-bukti yang dibeberkan papa lalu dia nekat maju ke depan dengan sebilah pisau dapur. Papanya Hendra melihatnya dan langsung memeluk papa, maka papanya Hendra yang terkena tusukkan dan akhirnya meninggal di rumah sakit setelah sempat dirawat selama lima hari"


"Papa membiayai Hendra sampai Hendra lulus kuliah S2 di luar negeri dan papa juga yang menanggung biaya pengobatan mamanya Hendra yang terkena penyakit jantung. Hendra tumbuh bersama denganku dan Aulia, itulah kenapa sedari kecil Aulia sudah mengagumi, dekat, manja, dan akhirnya mencintai Hendra. Mamanya Hendra mengetahui kalau Aulia mencintai Hendra maka, beliau kemudian meminta Hendra untuk menikahi Aulia setelah lulus S2"


"Kenapa mamanya Hendra tidak nampak saat ini?"


"Beliau habis menjalani operasi transplantasi jantung dan masih terbaring lemas di rumah sakit namun, beliau ingin Hendra dan Aulia secepatnya menikah"


"Oh" sahut Binar.


"Aku sudah kasih tahu ke Aulia kalau Hendra tidak mencintainya dan Hendra itu tipe laki-laki yang egois namun, Aulia tetap mencintai Hendra dan tetap ingin menikah dengan Hendra. Aku hanya bisa mendoakan semoga mereka bahagia dan akhirnya Hendra bisa mencintai Aulia. Aku hanya bisa membiarkan mereka berproses"


"Kamu kakak yang baik, perhatian, dan lembut" ucap Binar.


"Terima kasih" ucap Theo dengan senyum tampannya.


Tiba-tiba, Binar memegang dadanya dan merasa ingin muntah tapi tidak bisa keluar.


Theo segera berlari mengambil kantong plastik dan berkata, "Apa kamu capek? mau minum apa untuk menghilangkan rasa mual kamu? biar aku ambilkan" Theo berkata begitu karena, melihat Binar wajahnya mulai terlihat pucat dan napasnya mulai tidak beraturan.


Binar menepis kantong plastik yang dibawa Theo dengan sopan kemudian, menarik napas lalu menghembuskannya pelan-pelan dan dia melakukan hal itu sebanyak tiga kali tanpa merespons pertanyannya Theo.


Theo berjongkok di depannya Binar lalu mendongakkan wajah tampannya untuk melihat wajahnya Binar, "Bin, kamu baik-baik saja?"


Binar kemudian tersenyum, "iya, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa capek terlalu banyak berdiri dan berjalan ke sana kemari mencoba semua makanan, hehehehe dan ajaibnya aku nggak muntah. Asalkan nggak menyentuh nasi, aku nggak muntah ternyata"


Theo langsung tersenyum dan bernapas lega. Dengan masih berjongkok di depannya Binar dia berucap, "fiuuhh syukurlah kalau kamu nggak apa-apa. Apa kita pulang saja? acaranya juga sudah hampir selesai. Tapi sebelum pulang, aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat"


"Ke mana?"


"Ke suatu tempat di pinggiran kota. Dua jam dari sini, kamu kuat nggak?" tanya Theo.


"Kuat, asalkan bersama denganmu aku akan kuat hehehehe"


Theo bangkit sambil mendaratkan kecupan di bibirnya Binar.


Binar mendongakkan wajahnya, menatap Theo sambil mengusap pipinya.


"Hahahaha, itu hadiah karena, kamu sudah banyak memberikan pujian untukku dan bahkan merayuku hari ini" kata Theo dengan santainya.


"Merayu?" Binar menautkan alisnya sambil bangkit.


"Kamu barusan bilang kalau kamu akan kuat asalkan bersama denganku dan itu rayuan bagiku" Theo tersenyum lebar ke Binar dan Binar terkekeh geli lalu berkata, "oh.....begitu ya tuan Theo Revano......setiap perkataanku selanjutnya pasti akan kamu anggap rayuan biar kamu bisa cium-cium, iya kan?"


Theo merangkul bahunya Binar sambil terkekeh geli dia berkata, "kalau begitu kamu sudah mulai mengenal dengan baik suami tampanmu ini dan aku suka, mmuuaaahh" Theo mencium pelipisnya Binar lalu berkata, "dan aku harus kasih hadiah lagi dong"


Binar tertawa sambil menepuk dada bidangnya Theo.


Mereka kemudian menemui kedua papa kesayangan mereka dan berpamitan karena, Theo masih ada urusan lainnya.


"Sebentar lagi selesai, kok nggak nunggu dulu sih?" tanya David Revano.


"Yang penting, kita sudah foto keluarga dan aku sudah kasih kado buat Aulia jadi maaf banget Pa, aku harus pergi sekarang karena, mendesak"


Theo terkekeh dan Binar merona malu dan langsung berkata, "Pa! apaan sih?"


"Hahahahaha, ya udah sana kalau memang mendesak" Sahut papanya Theo dan disambut gelak tawa lepas dari papanya Binar.


Binar dan Theo tersenyum lebar, menggelengkan kepala mereka kemudian, menyalami satu per satu kedua papa kesayangannya mereka lalu pergi meninggalkan tempat pesta pernikahannya Aulia dan Hendra.


"Tidurlah kalau mau tidur!" ucap Theo sambil terus fokus menyetir mobilnya.


"Hmm. Tapi kamu nggak apa-apa menyetir sendirian? nggak ditemani ngobrol nggak ngantuk?" tanya Binar sembari menoleh ke Theo.


Theo melirik sekilas ke Binar dan sambil tersenyum dia berkata, "aku sudah terbiasa menyetir sendirian ke luar kota kalau Andik repot. Tidurlah!"


Binar kemudian melempar senyum ke Theo lalu menyandarkan kepalanya di jok mobil dan mulai memejamkan matanya. Entah kenapa semenjak dia hamil dia seringkali didera rasa kantuk yang sangat hebat di tengah hari.


Theo melirik Binar kemudian tersenyum saat melihat Binar sudah tertidur dengan sangat cantiknya. "Kamu tertidur begitu aja terlihat sangat cantik, Bin" gumam Theo.


Selang dua jam, Theo membangunkan Binar dengan penuh kelembutan. Binar membuka kedua matanya dan bertanya, "sudah sampai?"


"Iya, kita sudah sampai" Sahut Theo.


"Panti Asuhan Harapan?" Binar berucap sambil melepas sabuk pengamannya dan mulai turun dari dalam mobilnya Theo.


"Iya, Minggu pertama di awal Bulan aku selalu ke sini untuk memberikan sembako dan uang sekadarnya untuk biaya pendidikan anak-anak di sini" ucap Theo.


"Sembako? kapan kamu beli sembako?"


"Pas kamu tidur tadi"


"Kok aku nggak dibangunkan?" tanya Binar sembari berdiri di sebelahnya Theo yang masih mengambil sembako dari dalam bagasi mobilnya.


Binar hendak membantu tap Theo segera melarangnya, "jangan! kamu lagi hamil. Nah, itu anak-anak udah datang untuk menolongku. Kamu langsung masuk saja! ibu pantinya baik dan ramah kok orangnya"


Binar tersenyum dan melangkah masuk ke dalam panti dan Binar langsung disambut dengan tangan terbuka oleh ibu Asih, penanggung jawab Panti Asuhan Harapan.


Binar duduk dan mengobrol dengan ibu Asih. Binar dan Ibu Asih bisa cepat akrab karena, mereka sama-sama suka mengobrol dan sama-sama ramah.


"Saya senang, pak Theo Revano akhirnya menikah dengan wanita yang baik dan ramah" ucap Bu Asih.


"Terima kasih Bu, emm, suami saya sering ke sini?"


"Nggak sering tapi setiap bulan di Minggu pertama, pasti pak Theo ke sini dan tidak pernah telat" ucap Bu Asih, "anda beruntung bisa menikah dengan pak Theo Revano. Beliau berhati hangat"


"Iya Bu, anda benar. Saya beruntung menikah dengan Theo Revano. Emm, apa saya juga boleh jadi donatur?"


"Boleh. Sebentar saya ambilkan dulu buku daftar donaturnya. Anda isi nama dan nomer telepon anda"


Binar menerima buku pendaftaran tersebut lalu membukanya, "waaahhh! banyak juga dermawan di negri ini ya, Bu. Selain suami saya, masih ada lagi donatur yang lainnya"


"Iya nyonya. Kami bersyukur banyak yang bersedia menjadi donatur untuk panti asuhan kami ini. Tapi, penyumbang terbesar tetaplah tuan Theo Revano dan yang kedua, tuan muda Aksa Putra Julian"


"Ak......Aksa Putra Julian?" Binar membeliakkan kedua matanya.


"Iya nyonya. Tuan muda Aksa Putra Julian adalah putra dari konglomerat tuan Kenzo Julian dan tuan muda Aksa selalu menyempatkan diri ke sini untuk memberikan sumbangan berupa uang"


Binar membuka-buka buku pendaftaran itu dan benar dia membaca nama Aksa Putra Julian dan tanpa Binar sadari, dia mengusap tulisan itu. Tulisan yang sangat dia kenali dan sangat dia rindukan.


Aku nggak menyangka kalau dua orang laki-laki di dalam hidupku adalah donatur terbesar di panti asuhan ini. Batin Binar.


Theo tiba-tiba masuk dan duduk di sebelahnya Binar. Binar menutup buku pendaftaran itu dan menyerahkannya kembali ke Bu Asih laku dia berkata, "saya akan transfer ke rekeningnya ibu nanti ya karena, saya nggak bawa uang tunai saat ini"


"Baiklah nyonya" sahut Bu Asih.


"Kamu jadi donatur juga?" tanya Theo.


"Iya. Aku ingin berbagi juga di sini" sahut Binar.


"Emm, kamu mau ke halaman, bermain dengan anak-anak? karena, saat Bu Asih mempersiapkan masakan, aku ajak anak-anak bermain sepak bola atau petak umpet, hehehehe. Tapi kamu duduk aja, jangan ikut bermain!"


"Iya. Ayok kita ke halaman. Emm, Bu Asih, kami permisi ke halaman ya"


"Oh, iya nyonya, silakan! saya juga mau ke dapur untuk menyiapkan makanan"


Binar duduk di bangku menatap Theo yang tengah asyik bermain dengan kedua puluh anak-anak di panti itu. Yang paling muda berumur enam tahun dan yang paling besar berumur lima belas tahun dan tidak ada seorang bayi di sana karena, jika ada bayi maka dengan segera ada keluarga yang mengadopsinya.


Binar tersentuh melihat Theo begitu menyayangi anak-anak panti itu.


Benar kata ibu panti kalau Theo itu berhati hangat.


Binar kemudian mengelus perutnya lalu bergumam, "aku sangat yakin kalau, Theo juga akan menyayangi anakku dengan penuh cinta dan kasih sayang. Terima kasih Tuhan, Engkau sudah memberikan malaikat tanpa sayap bagiku dan bagi calon anakku, ini"