My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aksa VS Theo



Aksa sungguh tidak menyangka duduk bersebelahan dengan Theo di dalam pesawat.


Theo menoleh ke Aksa, lalu bertanya, "kamu tadi diantar sama Binar nggak?" karena, dia memang tidak tahan berlama-lama diam membisu maka dia mulai membuka percakapan dengan Aksa.


Aksa memilih memejamkan mata dengan melipat tangan, alih-alih menjawab pertanyaannya Theo.


"Binar kemarin malam ada di mana?" Theo nekat terus bertanya walaupun Aksa tidak menggubrisnya.


Aksa menghela napas panjang dan tetap memejamkan matanya.


"Aku telpon Binar ah" ucap Theo kemudian.


Aksa langsung membuka mata dan menoleh ke Theo, "ngapain kamu nelpon Binar? jangan ganggu pacarku!"


"Hahahahahaha, yes! aku berhasil mendapatkan perhatianmu. Kita ngobrol santai aja ya, yuk!? karena, aku nggak bisa berdiam diri membisu terlalu lama maklum bibir seorang marketing, harus tetap digerakkan, heee" ucap Theo.


Aksa mendengus kesal, "apa yang bisa aku obrolkan denganmu?"


"Banyak dong, soal Binar, soal kerjaan kita di Bali nanti, terus........"


"Aku pilih tidur. Aku ngantuk habis lembur semalam" ucap Aksa sembari kembali bersandar di jok pesawat, memejamkan mata dan melipat tangan"


"Huuuffttt, emm, apa aku boleh tahu? kamu lembur ngerjain apa?" tanya Theo lagi, tanpa patah semangat dia terus berusaha untuk mengajak Aksa mengobrol.


Aksa yang pendiam merasa sangat malas meladeni keceriwisannya Theo lalu dengan sangat terpaksa dia menoleh ke Theo, "aku lembur mengerjakan apa, itu bukan urusanmu. Sekarang tolong diamlah! aku mau tidur"


"Wow! tidak bisa serigala muda, kamu harus menemaniku ngobrol karena, kalau tidak, aku akan mengganggumu terus atau aku akan chat dengan Binar, heeeee"


Aksa langsung membuka matanya, "kenapa kamu nggak ke belakang dan ngobrol dengan pramugari? mereka pasti dengan sangat senang akan meladeni keceriwisanmu itu" Aksa kemudian tersenyum tipis ke Theo.


"Waaah! nggak berani aku ngobrol dengan pramugari. Kalau mereka terus mengikutiku setelah aku ajak ngobrol, kan gawat" ucap Theo.


"Kenapa gawat? kamu kan masih single"


Theo kemudian meringis, "aku kan udah punya calon istri, namanya Binar, heeeee dan Aku bertekad untuk setia"


Aksa langsung melotot tajam dan berucap, "cih! pede betul kau"


"Pede- lah secara aku ini tampan, punya perusahaan, dan........"


"Dan tua" ucapannya Aksa langsung memotong kata-katanya Theo.


"Waaahh! berani benar kamu katakan aku tua. Aku baru tiga puluh dua tahun, itu tidak tua tapi ma.....tang! Matang, anak muda, camkan itu dan cewek biasanya sangat menyukai pria matang dan mapan seperti aku" ucap Theo dengan senyum bangganya.


"Kecuali Binar" sahut Aksa.


"Hahahahaha, walaupun mengobrol denganmu bikin aku sakit perut tapi lumayan lah daripada mulutku tidak bergerak sama sekali, hahahaha, lanjutkan serigala muda" ucap Theo.


Aksa menggeleng-nggelengkan kepalanya dan berucap, "dasar gila!"


"Iya aku dari dulu emang gila karena, belum bertemu dengan bidadari seperti Binar tapi celakanya saat sudah bertemu, aku malahan menjadi semakin gila, hahahaha. Kau tahu? aku serius dengan Binar. Aku benar-benar mencintainya dan ingin memilikinya, ingin menjadikannya istriku"


Aksa langsung menggeram dan menggertakkan gigi, "aku nggak akan pernah membiarkanmu memilikinya. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menikahinya karena, aku yang akan menikahinya"


"Hahahaha, jarak usia kalian cukup jauh. Kalau tidak salah sepuluh tahun ya? apa kamu yakin bisa terus mencintai Binar di saat kamu nanti berumur tiga puluh tahun dan Binar......sudah berumur empat puluh tahun. Binar mulai beruban, mulai keriput, dan ada flek hitam di wajahnya dan........"


"Aku nggak peduli soal itu. Aku yakin aku akan tetap mencintai Binar sampai tua, selama-lamanya karena, aku mencintai pribadinya, kelucuannya, sikapnya, dan bukan fisiknya" ucap Aksa.


"Benarkah? aku yakin kamu tertarik awal mulanya karena, Binar cantik, imut, dan menarik benar, kan?" ucap Theo.


"Aku mengagumi fisiknya tapi aku mencintai pribadinya" ucap Aksa.


Shit! pandai berkata-kata juga ya serigala muda ini. Batin Theo.


"Lalu keluarganya? bagaimana dengan keluarganya? apa papanya Binar bisa menerima menantu semuda kamu, belum lulus kuliah, dan belum memiliki pekerjaan tetap"


ucap Theo.


"Aku sebentar lagi lulus. Empat bulan lagi aku wisuda dan aku akan bekerja di salah satu perusahaan. Aku akan berjuang, berkarir demi Binar dan aku yakin aku akan sukses ke depannya dan bisa membahagiakan Binar. Kalau aku sukses aku yakin papanya Binar akan menerimaku" ucap Aksa dengan polosnya.


"Hahahahaha, impian seorang serigala muda yang keren namun, Bro! realita itu kejam tidak semudah kau mengucapkannya. Dunia kerja itu ngeri, banyak saingan jika kamu tidak punya chanel atau kenalan orang dalam maka akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan sekarang ini" ucap Theo.


"Aku yakin aku bisa dan Binar penyemangat-ku" Keseriusan terdengar di nada suaranya Aksa.


"Bermimpilah sampai kenyang, kita akan lihat siapa yang akan berdiri dengan tegak dan gagah di sebelahnya Binar hingga akhir nanti" ucap Aksa dengan santainya.


"Woookkeeey Pulgoso! Kita akan lihat nanti" ucap Theo.


"Siapa Pulgoso?" tanya Aksa dengan sorot mata penuh tanda tanya.


"Hahahaha, kamu nggak pernah lihat telenovela yang berjudul Marimar ya? telenovela yang ngetren di jamanku, emm, pas aku lihat telenovela itu, kamu pasti masih duduk di bangku Sekolah Dasar jadi pasti nggak pernah lihat. Iya, kan?" Theo terkekeh geli.


"Aku tanya siapa Pulgoso jawabnya apa? hmm, dasar gila" Aksa mendengus kesal.


"Hahahaha, kamu lucu Pulgoso, hahahaha" Theo semakin melebarkan tawanya.


Tiba-tiba ibu-ibu yang duduk di jok di depan mereka, menoleh dan berkata, "mas, jangan mau dipanggil Pulgoso sama kakak anda. Pulgoso itu nama anjingnya Marimar"


Aksa langsung menggertakkan gigi di depannya Theo dan Theo kembali terbahak lepas lalu berucap, "makasih Bu, untuk infonya" ucap Theo ke ibu itu, lalu dia menoleh ke Aksa, "ya mending aku panggil kamu Pulgoso daripada serigala muda, iya kan?"


Aksa kemudian melipat tangan lalu memejamkan matanya kembali.


"Hei! jangan tidur! sebentar lagi sampai" ucap Theo sambil menepuk bahunya Aksa.


Aksa diam saja dan tetap memejamkan matanya. Aksa yang kalem, tidak suka berkelahi jika tidak mendesak, sabar, dan cenderung pendiam itu, lebih memilih untuk mengabaikan semua ucapannya Theo.


"Hei bro! kita lanjutkan obrolan kita. Aku janji deh, nggak akan memanggilmu Pulgoso lagi, heeee"


Tiba-tiba seorang pramugari datang mendekati mereka untuk menawarkan snack dan minuman hangat.


Pramugari itu langsung berdiri mematung karena, untuk sesaat dia terpesona melihat kesempurnaan ciptaan Tuhan yang terlukis di wajah kedua penumpang yang ada di depannya. Yang satu masih sangat muda dan sangat tampan dari outfit yang dikenakan bisa dipastikan kalau pemuda itu anak orang kaya dan yang satu lagi, dari outfit yang dikenakan, dia pasti seorang pengusaha hebat dan nampak tampan juga matang.


Theo menatap pramugari itu, "ada apa, ada yang salah di wajah kami berdua?" tanya Theo kemudian.


"Aahhh, tidak. Anda ingin kue yang matang, eh, yang mana maksud saya?" tanya pramugari itu dengan gugup di saat dia melihat Aksa secara tiba-tiba membuka mata dan menatapnya.


Astaga! matanya indah banget dan membuatnya menjadi semakin tampan. Batin pramugari itu.


Aksa menegakkan tubuhnya di saat dia melihat pramugari itu terus menatapnya.


"Hei! nona, dia sudah punya pacar" Sahut Theo sambil melambaikan tangan di depan wajah sang pramugari.


"Oh. Anu, saya tidak bermaksud, emm.......anda mau kue yang mana? dan minum apa?" sahut pramugari itu.


"Aku kue cokelat saja dan adikku ini......"


Aksa menoleh ke Theo dengan sorot mata kesal, bisa-bisanya dia menyebut adik ke aku. Batin Aksa.


Theo terkekeh geli menerima sorot mata kesal dari Aksa lalu berbisik, "cepat ambil kue dan minumannya, kalau tidak, dia akan segera memakan kita"


Aksa langsung mengambil kue cokelat dan secangkir kopi. Theo kembali terkekeh dan dia mengambil segelas jus jeruk lalu berucap, "terima kasih" ke pramugari itu.


Sang pramugari tersenyum manis menanggapi keramahannya Theo, lalu berucap, "adik anda ini sudah punya pacar lalu anda? anda masih single ya? saya boleh minta nomer ponsel anda? kalau dikasih bonus nomer ponsel adik anda ini, juga nggak apa-apa, heeee"


Theo tersenyum lebar, "saya sudah memiliki calon istri jadi maaf, saya tidak bisa kasih nomer ponsel saya karena, calon istri saya itu pencemburu dan galaknya minta ampun"


Aksa langsung menendang kakinya Theo dan Theo langsung tertawa lebar. Sang pramugari kemudian tersenyum canggung dan pergi meninggalkan kedua laki-laki tampan tersebut.


"Kamu jangan sok tahu soal Binar" Aksa kembali melempar protes ke Theo.


"Semua cewek tuh pencemburu dan........"


"Itu benar mas. Semua cewek itu pencemburu" sahut ibu-ibu yang duduk di jok depan mereka.


Waahhh! baru kali ini aku dibela sama ibu-ibu. Batin Theo terkekeh geli.


Aksa memakan kue-nya dan tidak menggubris Theo yang masih saja terus berdengung melepas keceriwisannya seperti suara lebah di telinganya Aksa.


"Kamu lihat kan tadi. Cewek tadi lebih menyukai pria yang matang. Buktinya dia minta nomer ponselku bukan nomer ponselmu"


Aksa hanya menghela napas panjang menanggapi semua ocehannya Theo.


Penerbangan yang sungguh menyiksa. Batin Aksa.


Penerbangan yang seru. Batin Theo.