
Binar duduk di halaman belakang sambil terus memandang dan memainkan cincin pernikahannya yang melingkar cantik di jari manisnya.
Cincin benar-benar didesain untuk aku dan Theo. Sangat cocok menggambarkan kami berdua. Theo laksana gembok ini, penuh dengan berlian.....Iya ......hati Theo penuh dengan berlian, indah dan mulia. Sedangkan aku adalah bentuk hati yang berlubang ini. Aku terikat dengan gembok ini, yang indah penuh dengan berlian namun, hatiku tetap berlubang. Ucap Binar di dalam hatinya.
Binar menghela napas panjang kemudian mengalihkan perhatiannya ke hamparan rumput hijau nan asri yang ada di halaman belakang rumahnya Theo.
Bahkan rumput itu bisa tumbuh subur di sini dengan sangat cantiknya karena, sentuhan tangan Theo namun, cintaku, perasaanku, belum bisa tumbuh untuk Theo. Masih sebatas teman yang memiliki hutang budi yang begitu besar padanya. Aku berusaha mengimbangi sikap manisnya namun, perasaanku belum bisa bertumbuh manis seperti rumput itu. Binar berbicara kepada hatinya sendiri.
Binar kemudian mengelus perutnya, "terima kasih nak, kamu tidak rewel, kamu membantu mama menjadi kuat dan tabah di dalam menghadapi realita kehidupan yang keras ini" gumam Binar sambil terus mengusap perutnya.
Theo turun dari lantai atas lalu celingukkan mencari keberadaannya Binar.
Miko melintas di depannya Theo dari arah teras depan dan Theo langsung bertanya, "istriku mana?"
Alih-alih menjawab, Miko malah mematung di depannya Theo dan berucap di dalam hatinya, aaihhh! mas bro! kenapa kamu tampan sekali sih! bikin ai nggak ku ku, hiks hiks hiks.
"Ko!" pekik Theo dan buyarlah lamunannya Miko dan dia segera menjawab, "di halaman belakang, pak bos"
"Kenapa menatapku terus?" tanya Theo.
"Aaahhh! heeeee, mata ai emang nggak bisa diatur nih. Kalau lihat yang bening-bening secara spontan ingin menatapnya terus, hihihi" ucap Miko lalu bergegas pergi meninggalkan Theo sebelum kena sanksi pemotongan gaji.
Theo mendengus kesal sambil menggelengkan kepalanya kemudian berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya. Dia melihat Binar tengah duduk meringkuk diatas kursi rotan sambil mengelus perutnya.
"Kamu di sini ternyata. Aku cari ke segala penjuru rumah kok nggak ada"
Binar mendongakkan kepalanya dan tersenyum ke Theo, "aku cari udara segar"
Theo duduk dan menghadap ke Binar, "kamu mau keluar? jalan-jalan?" tanya Theo.
"Enggak, aku pengen di rumah aja hari ini"
"Nggak pengen makan steak, kentang goreng dan susu kocok cokelat lagi?" tanya Theo sambil melempar senyum manisnya ke Binar.
"Miko udah aku suruh bikin. Dan aku juga udah beli susu untuk ibu hamil kemarin, rasa cokelat juga, hehehehe"
"Kamu makan itu terus kalau, anak kamu kurang gizi gimana? kamu aku lihat juga nggak pernah menyentuh nasi, kalau makan nasi muntah dan sekarang ini kamu kelihatan semakin kurus" ucap Theo dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
"Aku rasa aman-aman saja selama ada yang bisa masuk ke perutku. Lagian aku minum susu ibu hamil dan minum vitamin dari dokter jadi aku rasa aman" ucap Binar.
"Besok adalah hari pernikahannya Hendra dan Aulia, aku udah pesankan beberapa baju untuk kamu. Sebentar lagi orangnya ke sini membawakan baju-baju pesananku. Kamu bisa mencoba dan memilihnya" ucap Theo.
"Kembalikan aja! aku punya banyak baju dan masih bagus semuanya. Nggak perlu baju baru" ucap Binar.
"Aku ingin kita tampil serasi. Aku pesan baju couple untuk kita hehehehe"
Binar tersenyum, "oh! baiklah! kalau gitu aku pilihkan yang seusai untuk kamu pakai nanti. Suamiku harus nampak paling tampan besok"
"Bos! ada tamu. Tamu itu menurunkan dua Toli penuh jejeran baju dari mobil Van dan katanya udah ada janji ketemu sama bos Theo"
"Oke, kita ke sana Ko. Makasih" sahut Theo. Kemudian Binar dan Theo pun berdiri dan berjalan menuju ke ruang tamu.
"Haaiii tampan!" sapa Indira, teman kerjanya Theo yang selalu mengurus baju, aksesoris dan penunjang lainnya untuk shooting iklan di perusahannya.
"Hmm. Kenalkan ini istriku" ucap Theo sambil merangkul bahunya Binar.
Binar mengulurkan tangannya ke Indira dan Indira menyambutnya dengan ramah juga hangat.
"Saya Indira koleganya bos Theo. Saya bahagia akhirnya bos Theo menikah dengan istri seimut dan secantik anda. Ini contoh baju couple terbaik koleksi saya. Silakan dipilih dan dicoba!"
Binar menoleh ke Theo. Theo melepas rangkulannya dan berkata, "pilihlah! aku ngikut aja" Theo kemudian duduk di sofa.
Binar memilih tiga potong baju couple yang dia pikir cocok untuk dia pakai bersama dengan Theo.
"Waaahhh! anda punya selera yang cukup tinggi, nyonya. Anda beruntung memiliki istri sehebat ini, bos Theo" Indira berucap sembari menepuk bahunya Theo.
Theo menautkan alisnya ke Indira, "bisa nggak, tidak pakai tepuk-tepuk bahu? sakit nih!" Theo berkata sambil mengelus-elus bahunya.
"Hahahaha, maaf Bos! nggak sengaja saking bahagianya Indira bisa bertemu dengan wanita secantik dan sehebat nyonya Theo, hehehehe. Bagi Bos Theo anda anugerah tapi bagi anda musibah ya nyonya, hihihihi?" Indira meringis ke Theo dan Theo menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya menatap Indira.
"Justru kebalik Indira. Bagi saya, Theo adalah anugerah dan bagi Theo saya adalah musi ........."
"Jangan berkata ngawur! kamu bukan musibah bagiku, kamu anugerah terindah yang belum pernah aku miliki di dunia ini" sahut Theo dengan cepat sambil menatap lekat ke kedua bola mata cantik miliknya Binar.
"Ehem, uhuk! udahan deh sweet-sweetnya, bisa kena diabetes entar Indira kalau kelamaan di sini melihat kemesraan kalian berdua, hehehehe. Silakan dicoba dulu nyonya, saya tunggu di sini!"
Binar membawa tiga potong baju yang dia pilih dan dia bawa naik ke kamarnya.
Indira menoleh heran ke Theo, "lho kok nggak ikut naik tuk coba bajunya?"
"Biar istriku dulu baru aku nyusul entar kalau dia udah selesai"
"Kenapa nggak barengan?" Indira menautkan alisnya.
"Kamu mau nunggu sampai besok?"
"Kenapa?"
"Ehem, uhuk! kenapa ngomongnya polos gitu sih Bos, jiwa jomblo Indira meringis perih nih" ucap Indira.
"Hahahaha" Theo langsung melepas tawa renyahnya. Kemudian dia berkata, "kamu mau aku kenalkan sama Miko? biar nggak jomblo lagi?" Theo terkekeh geli.
"Siapa Miko?"
"Tadi yang kamu temui"
"Aaahh! mau dong! dia tampan sekali. Apa Miko masih jomblo, Bos?"
"Masih" kata Theo sambil tersenyum lebar.
"Mau, mau" pekik Indira dengan penuh semangat.
"Nah ini dia orangnya datang. Panjang umur kamu, baru aja kita omongin terus nongol" kata Theo sambil tersenyum lebar ke Miko.
Miko menaruh tiga botol minuman soda dingin dan camilan di atas meja lalu bertanya, "ada apa kok ngomongin saya?"
"Ini ada yang pengen kenal sama kamu, Indira namanya, masih jomblo, pekerja keras, baik hati, tidak sombong dan........."
"Manis, imut, menggemaskan. Aku Indira" sahut Indira.
"Oh. Aku Miko" ucap Miko singkat.
"Gitu aja?" tanya Indira.
"Lalu mau gimana lagi?" tanya Miko heran.
Theo tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya Miko. Miko menatap bosnya dengan kesal.
Indira menatap Miko lalu berkata, "ajak aku keluar makan kek habis ini"
"Nggak bisa! aku banyak kerjaan dan sama bos Binar aku nggak boleh berkeliaran di jalan tanpa bos Binar" ucap Miko.
Theo menyandarkan kepalanya dan masih tertawa renyah.
"Kenapa nggak boleh keluar sendiri?"
"Boleh kok" sahut Binar sambil turun dari lantai atas.
"Bos!" Miko menghentakkan kaki ke lantai dan melotot ke Binar karena, dia nggak ingin keluar dengan seorang wanita. Dia inginnya keluar dengan seorang pria.
"Kamu ajak Indira keluar, aku kasih bonus dan uang saku untuk berkencan gimana?" ucap Binar karena, Binar berharap, Miko bisa sembuh dan tertarik dengan seorang wanita.
"Waahhh! kalau gitu lain perkara, Miko setuju! sebentar Miko ganti baju dulu"
Theo semakin keras tawanya dan Binar terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya.
"Gimana?" tanya Theo.
"Saya ambil tiga-tiganya dan kamu coba dulu kemejanya!" ucap Binar sambil menyerahkan tiga potong kemeja ke Theo. Theo meraihnya dan bergegas naik ke kamarnya untuk mencoba tiga potong kemeja pilihan istri tercintanya sambil masih tertawa.
"Saya baru kali ini melihat bos Theo begitu bahagia nyonya" ucap Indira.
"Benarkah? lalu selama ini?" tanya Binar.
"Bos Theo jarang sekali tersenyum, tertawa lepas dan selalu menenggelamkan semua pikiran dan waktunya untuk bekerja. Bos Theo memang suka bercanda dan santai orangnya tapi, jarang terlihat bahagia untuk dirinya sendiri" ucap Indira.
"Aku ikut bersyukur kalau Theo bisa bahagia hidup denganku" ucap Binar.
"Saya lihat kalian pasangan yang sangat serasi. Anda cantik, imut, anggun, dan bos Theo, tampan, gagah, juga imut. Anda sadar kan nyonya, bos Theo masih seperti cowok berumur belasan. Wajahnya imut"
"Aaahhh! iya kamu benar. Theo memang berwajah imut, hehehehe dan terima kasih untuk pujianmu, Indira. Aku doakan kencan kamu dan Miko malam ini berjalan dengan lancar" ucap Binar.
Indira merona malu dan menepuk bahunya Binar, "saya malu nih nyonya. Secara Miko kan tampan banget, apa saya pantas berkencan dengan Miko"
"Pantas dong. Kamu tuh manis, ramah, dan baik hati. Miko pasti akan tersentuh malam ini" ucap Binar.
"Makasih untuk dukungannya, hehehehe"
Theo turun dan berkata, "emm, aku bingung memilihnya sendiri. Apakah kamu bisa membantuku memilihnya?"
Binar tersenyum dan berkata ke Indira, "sebentar ya, saya naik dulu"
"Jangan lama-lama iya-iya nya ya nyonya?!" sahut Indira.
Binar menautkan alis dan tersenyum kecil ke Indira sambil berjalan karena, dia tidak paham akan maksudnya Indira dan Theo melotot ke Indira. Indira meringis ke Theo.
Binar membuka kancing kemeja yang dipakai Theo satu per satu dengan pelan, dan hal itu membuat Theo menahan napas. Dia terpercik gairah karena, wangi rambutnya Binar menusuk tajam indra penciumannya lalu dia memegang tangannya Binar, "biar aku lakukan sendiri"
Binar menepis tangannya Theo, "aku kan istri kamu jadi harus aku yang melakukannya"
Theo meneguk salivanya dengan berat dan berucap di dalam hatinya, hiks, hiks, hiks, aku menderita menahan juniorku nih Binarku, hiks, hiks, hiks.