My Pretty Boss

My Pretty Boss
Hah?!



Theo akhirnya membawa Binar ke rumahnya.


"Duduklah dulu! aku pesankan makanan, emm, kamu mau makan apa?" tanya Theo.


"Aku tiba-tiba pengen makan steak dan kentang goreng, minumnya susu kocok cokelat"


"Oke aku pesan dua kalau gitu dan.......selesai. Nah, sambil nunggu pesanan kita datang, kamu ceritakan semuanya!"


"Aku yang meminta putus ke Aksa" Binar mendesah sedih.


"Hah!? kenapa?"


"Banyak hal yang membuat aku akhirnya meminta putus sama Aksa. Pertama, gara-gara berpacaran denganku, Aksa di cap sebagai cowok simpanan tante-tante girang. Kedua, Aksa mendapat tawaran beasiswa ke luar negeri. Kalau dia lanjut berpacaran denganku berarti aku menghalangi masa depannya Aksa karena, Aksa pasti nggak ingin ambil beasiswa itu. Ketiga, kata papanya Aksa, papaku penyebab perceraian papa dan mamanya Aksa. Papanya Aksa, mengatakan itu secara langsung di depanku dan Aksa............" Binar menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan, untuk menahan tangisannya.


"Dan Aksa......." Theo menuntut kelanjutan dari kalimat menggantungnya Binar.


"Aksa menelan mentah-mentah perkataan papanya, dia berlari meninggalkan aku begitu saja dan di saat aku berhasil mengejarnya, aku melihat ada kebencian dan kekecewaan yang dalam di kedua matanya. Dia sangat mencintai mamanya dan aku bisa paham kalau dia menyalahkan papaku dan menyalahkanku juga atas perceraian yang terjadi diantara papa dan mamanya. Karena itu semua, aku akhinya meminta putus. Aku ingin membebaskan Aksa dari semua beban, dia masih sangat muda, aku tidak tega jika dia harus menanggung beban yang begitu berat demi aku" Binar kembali mendesah.


Theo langsung menyandarkan kepalanya ke sofa, "yeeeaahh, masalah kalian berdua begitu kompleks dan pelik" Theo kemudian menegakkan kembali kepalanya dan menatap Binar, "kamu udah nanya ke papa kamu soal masa lalu papa kamu yang terkait dengan perceraiannya papa dan mamanya Aksa?"


Binar menggelengkan kepalanya lalu berucap, "aku takut menerima kenyataan kalau papa mengatakan iya. Papanya Aksa mengatakan kalau papa menggoda mamanya Aksa"


"Aku yakin banget kalau papa kamu bukan tipe pria seperti itu" ucap Theo.


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Binar.


"Papa kamu sebelas dua belas denganku. Aku tipe setia dan bukan cowok pebinor. Jadi aku yakin papa kamu nggak melakukan semua yang dikatakan oleh Kenzo Julian"


Binar menepuk bahunya Theo, "hahahaha, makasih udah menghiburku"


"Aku nggak menghiburmu. Itu benar. Aku dan papa kamu tuh tipe setia dan Family man banget, bro!" ucap Theo sambil menepuk bangga dada bidangnya.


"Hahahaha, aku seharusnya menangis ya, tapi entah kenapa aku belum bisa mengeluarkan air mata sampai detik ini"


"Menangis lah kalau kamu mau menangis!" ucap Theo kemudian.


Binar menatap Theo dan ucapannya Theo entah kenapa secara tiba-tiba membuat kedua pelupuk matanya terasa panas dan kedua air matanya mulai mengambang di sana.


Theo merentangkan kedua tangannya ke Binar, "menangis lah di pelukanku. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Aku juga nggak keberatan kaosku basah kena air mata dan ingusmu"


Binar terkekeh lalu bergeser maju ke Theo, dia membenamkan wajahnya di dada bidangnya Theo, menggelungkan kedua tangannya di pinggangnya Theo, dan pecahlah tangisannya.


Theo menepuk-nepuk punggungnya Binar sambil berucap, "menangis lah sampai puas dan setelah makan nanti, aku akan temani kamu menemui papa kamu. Kamu tanyakan ke papa kamu, apa benar tuduhannya Kenzo Julian itu"


Binar menganggukkan kepalanya dan masih terus menangis untuk melepas semua kepedihan dan kesedihan di hatinya.


Aksa nampak kusut dan langsung menelan pil tidur yang sempat dia beli sebelum dia berangkat. Pil tidur itu yang mampu membantu dia bisa tertidur pulas di sepanjang perjalanan menuju ke Amerika memakai private jet milik papanya. Aksa bisa melupakan sejenak semua masalahnya.


Aksa begitu sedih dan selalu merasa ingin muntah setiap kali ingat kata putus yang keluar dari mulutnya Binar. Aksa juga merasakan sesak napas yang luar biasa saat kata-kata papanya, "Damian Adelard penyebab perceraiannya papa dan mama kamu" kembali terngiang-ngiang di telinganya. Untuk itulah dia memilih untuk menelan pil tidur.


"Kamu nggak kerja?" tanya Binar sambil memakan steak-nya.


"Aku udah nelpon asisten pribadiku untuk menghandle semuanya, khusus hari ini. Kalau misalnya nggak kerja sehari pun, aku juga nggak akan jatuh miskin, tabunganku masih banyak, kalau habis tinggal minta suntikan dana sama papa, heeeee" sahut Theo sambil menyomot kentang goreng miliknya.


"Hahahaha, andai hidupku bisa sesantai hidupmu. Andai aku tidak mengenal cinta dan......."


"Hei! cinta, sentuhan, pelukan, itu penting untuk kehidupan kita sebagai manusia. Jangan berkata begitu. Aku juga butuh cinta dan aku juga mengenal cinta saat ini" ucap Theo dengan kepolosannya.


"Beruntunglah wanita itu" sahut Binar.


"Siapa wanita yang beruntung itu?" Theo menautkan alisnya ke Binar.


"Wanita yang kamu cintai dan yang mencintai kamu. Pacar kamu lah!" Binar terkekeh geli ke Theo.


"Aku nggak bilang kalau aku punya pacar" ucap Theo dengan santainya.


Theo langsung tertawa terbahak-bahak kemudian dia berucap setelah berasil menguasai tawa-nya, "tenang! aku belum punya pacar. Tapi iya aku mencintai seseorang saat ini"


Binar menautkan alisnya, "siapa wanita yang beruntung itu? aku akan membantu kamu untuk mendapatkannya. Sebagai balas Budi karena, kamu udah banyak membantuku" ucap Binar.


Wanita itu kamu, Bin. Batin Theo sembari terus menatap wajah imutnya Binar.


"Kok malah bengong? katakan siapa namanya, rumahnya di mana? kerja di mana? aku akan membantumu mendapatkannya. Sejak SMA aku selalu berhasil menjadi Mak comblang, dan semuanya akhirnya menikah tapi ironisnya kisah cintaku sendiri berantakan, heeeeee"


Theo mengerjapkan kedua matanya dan mengalihkan pandangannya ke susu kocok cokelatnya dan berucap, "nggak usah. Aku bisa berusaha sendiri. Wanita mana yang bisa menolak kecerdasan dan ketampanan ku ini, heeee"


"Berarti kamu belum nembak cewek itu?" tanya Binar.


"Secara eksplisit belum, heeee. Tapi aku udah sering mengatakan cinta ke dia tapi dia selalu menganggapnya sebagai candaan" ucap Theo.


Binar kemudian menepuk-nepuk pundaknya Theo, "yang sabar, ya! aku doakan kamu berjodoh dengan wanita yang kamu cintai itu"


Theo ingin berkata Amin tapi dia nggak bisa karena, wanita itu adalah Binar dan Binar sangat mencintai Aksa bukannya dirinya apalagi saat ini, Binar telah mengandung anaknya Aksa.


"Kok nggak bilang Amin?" tanya Binar.


Theo berkata, "hmm" sambil tersenyum ke arah Binar. Dia kemudian berucap, "udah selesai makannya? kita ke perusahaan papa kamu sekarang atau ke rumah beliau?"


"Sebentar! aku telpon papa dulu, nanya papa ada di mana saat ini"


Klik....."papa ada di rumah. Habis meeting dengan kliennya di luar terus papa memutuskan untuk pulang karena, kata papa, tiba-tiba dadanya terasa sesak" ucap Binar sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kerjanya.


"Heeee, papa kamu dan kamu nggak hanya mirip secara garis wajah tapi ternyata ikatan batin diantara kalian sangat kuat, ya"


"Iya. Papa selalu peka kalau menyangkut diriku karena, kak Mika lebih dekat sama mama jadi papa nggak begitu peka soal kak Mika dan kak Mika kehidupannya pun lurus-lurus saja nggak seperti aku, heeee"


"Hidup itu lebih enak kalau bergelombang, lurus terus bikin bosan juga, kan, heeee. Yuk kita berangkat ke rumah papa kamu"


Selang satu jam, mereka sudah duduk berhadapan dengan Damian Adelard.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya papanya sambil memeluk Binar, "kenapa jadi manja sama papa? minta dipeluk sama papa?"


"Nggak apa-apa pa. Binar sama Theo ke sini pengen nanya sesuatu, emm, tadi kita ketemu sama om Kenzo Julian dan om Kenzo mengatakan kalau papa......"


"Yang menggoda almarhum istrinya dan papa yang menyebabkan perceraian mereka?" sahut Damian Adelard.


"Iya. Apa itu benar, Pa?"


Damian mendesah panjang lalu menceritakan masa lalunya terkait dengan Dona dan Kenzo Julian. Semua hanyalah kesalahpahaman. Theo dan Binar bersitatap.


Selang satu jam kemudian, Binar dan Theo mengobrol di teras belakang rumah Damian Adelard.


"Benar kan, semua hanya kesalahpahaman. Papa kamu nggak bersalah justru Kenzo lah penyebab perceraiannya sendiri tapi dia menyalahkan orang lain, orang itu sakit, dia butuh diterapi seorang psikolog" ucap Theo.


"Iya" desah Binar.


"Lalu apa rencana kamu? menemui Kenzo menjelaskan ke dia kalau papa kamu nggak bersalah dan menemui Aksa ke Amerika untuk mengatakan kehamilanmu itu? aku akan menemanimu"


"Enggak semuanya. Aku jelaskan ke Kenzo kalau papa nggak bersalah juga percuma, dia tidak mau menerima penjelasan papa selama ini apalagi penjelasan dariku. Dan Aksa, dia sudah ambil jalannya, aku nggak mau menjadi penghalang untuk masa depannya, aku nggak mau dia menikahiku dan jadi gunjingan orang-orang, seorang pemuda menikahi seorang tante-tante"


"Tapi Binar, bagaimana dengan status anak kamu? bagaimana dengan martabat keluarga kamu? apa pendapat masyarakat sekitar, kolega kamu, kolega kakak kamu, kolega papa kamu, jika kamu ketahuan hamil di luar nikah dan melahirkan tanpa suami? keluarga kamu akan tercoreng nama baiknya" ucap Theo.


"Kamu benar. Tapi aku juga tidak mau memberitahu Aksa soal kehamilanku ini. Semua demi kebaikannya, aku nggak mau dia dapat cap buruk dari masyarakat jika dia menikahi aku dan saat ini dia masih kecewa denganku, dengan papaku........aku nggak mau memberitahu Aksa soal kehamilanku. Pokoknya enggak, titik!"


Theo mengacak-acak rambutnya menghadapi keras kepalanya Binar, "lalu? bagaimana dengan keluarga kamu? kamu memikirkan Aksa tapi nggak memikirkan keluarga kamu?"


Binar kemudian menatap Theo, "a.....apa ka....kamu mau menikahiku? nikah kontrak hanya sampai anak ini lahir lalu kau bisa menceraikan aku?"


"Hah!?" mulut Theo ternganga lebar ke arah Binar.