My Pretty Boss

My Pretty Boss
Irama Detak Jantung



Aksa menulis kata di bawah lukisan hasil karyanya. Lukisan wajah ayunya Binar. Coretan nan dalam yang terlahir dari tangannya dan tercipta dari pedihnya hati yang dia miliki, dia coba tuk buatkan rasa di sana.


Biar pun ku lukis senja tak bisa mengalahkan indahmu. Walaupun kini ku tak bisa lagi mendengar ceritamu diselingi tawa dan tangismu namun, aku cukup puas, ku mampu tuk melukis wajah ayumu ini. Dingin mulai merayap perlahan tuk menguasai hatiku dan aku lega, sebelum hatiku benar-benar membeku, aku masih mampu membingkai wajahmu di benakku dan ku abadikan di sini. Cinta dan benciku hanyalah untukmu Binar Adelard.


Aksa kemudian menutup buku sketsa gambarnya dan dia masukkan ke dalam laci, dia kunci dan kemudian dia bangkit ke balkon dan dia lempar kunci itu sejauh-jauhnya. Lelaki tampan putra seorang konglomerat ternama Kenzo Julian itu lalu bergumam, "selamat tinggal kekasih terindahku"


Setelah menghela napas beberapa kali, Aksa kemudian berputar badan, membuka kunci pintu kamarnya dan melangkah keluar. Dia berjalan ke ruang makan dengan kedua tangan berada di dalam saku celana dan tubuhnya melengkung lesu.


Berlian menatap Aksa yang mulai duduk di depannya. Gadis cantik itu tersenyum lebar karena, baru kali itu, Aksa mau makan satu meja dengannya dan duduk di depannya. Berlian dengan penuh semangat mengambilkan sepiring nasi dan dia taruh di depannya Aksa namun, Aksa menyingkirkannya.


"Aksa? kenapa disingkirkan sih? aku tulus mengambilkan nasi untukmu"


Aksa diam saja dan mengambil nasinya sendiri lalu makan di dalam kebisuan dan mengabaikan keberadaannya Berlian.


Berlian mendengus kesal dan berkata di dalam hatinya, percuma juga makan satu meja tapi dia tidak mengganggap aku ada. Dia hidup sendiri dan tidak pernah bersosialisasi, apa dia benar-benar robot?


Berlian kemudian mencoba berkata, "aku coba masak kue bolu, kamu coba ya?"


Aksa tetap menunduk menatap piring nasi dan lauknya. Sama sekali tidak ada reaksi.


Berlian tetap memotong kue bolu hasil karyanya, dia taruh di atas piring kecil dan dia letakkan di depannya Aksa, "cicipi ya?! kalau suka, besok aku bikinkan lagi"


Aksa menyingkirkan piring kecil berisi bolu lalu bangkit dan meninggalkan Berlian begitu saja. Aksa kembali masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya.


Berlian mendengus kesal dan membanting sendok di atas piringnya kemudian berucap, "huh! menyebalkan! untung saja wajahnya tampan kalau jelek udah aku lap pakai kain lap ini, huufftttt! sabaaaaarrrrr!"


"Iya Non, yang sabar! tuan muda karakternya memang seperti itu. Dulu kalau ke rumah papanya juga diam saja. Tuan muda hanya bisa tersenyum, ngobrol, dan tertawa, dengan non Embun" sahut Bi Atik, asisten rumah tangganya Kenzo Julian yang Kenzo suruh untuk mengurus Aksa selama di Amerika.


"Embun ya? sayangnya Embun nggak ikut kita ke sini kalau ikut, bisa membantuku untuk membuka celah hatinya Aksa untukku. Aku ingin banget bisa ngobrol dengan Aksa walaupun hanya lima menit doang tapi, Aksa nggak pernah ada waktu untukku"


"Sabar Non! walaupun tuan muda itu pendiam, tapi dia orangnya baik hati. Nanti lama-lama, tuan muda juga mau ngobrol sama Non" sahut Bi Atik.


"Semoga Bi" sahut Berlian.


Binar tengah mengajari anak-anak panti untuk menggambar dan Binar berucap, "kak Binar ajari adik-adik cara menggambar seekor kelinci tapi, adik-adik bisa tambahkan apa aja selain gambar kelinci, sesuai dengan imajinasinya adik-adik"


"Kak Binar!" ada salah satu anak laki-laki berumur enam tahun mengacungkan jarinya.


"Iya?" Binar menoleh ke anak laki-laki itu.


"Tolong ajarkan gambar papa dan mama"


Binar tersenyum dan tertegun menatap anak laki-laki itu lalu berkata, "baiklah! kakak akan ajarkan cara menggambar papa, mama, adik, dan kakak"


"Yyeeeaaayyy" semua anak panti berteriak girang menyambut ucapannya Binar.


Theo Revano mengabadikan kebersamaan Binar dan anak-anak panti di dalam kameranya. Dia memang hobi memotret dan ingin menjadi seorang fotografer, itulah kenapa dia selalu membawa kamera super mahal kesayangannya ke manapun dia pergi.


Binar tersenyum bahagia dan berucap, "pasti! kakak akan datang lagi ke sini secepatnya"


Sepuluh menit kemudian Binar dan Theo sudah berada di dalam mobil menuju ke rumah mereka.


"Waaahhh! aku kalah tenar sama kamu. Hanya dalam waktu sebentar saja, anak-anak panti sudah menyayangimu" ucap Theo sambil melirik sekilas ke Binar dan memberikan senyum tampannya.


"Mereka juga menyayangimu kok. Aku lihat pas mereka bermain dengan kamu, mereka terlihat sangat bahagia" Binar menoleh ke Theo dan tersenyum.


"Terima kasih udah mau menemaniku ke panti" ucap Theo.


"Terima kasih juga udah mengajakku ke panti. Aku sangat bahagia bisa kenal, berbagi ilmu menggambar, dan berinteraksi dengan anak-anak panti. Emm, kenapa kalau kita jadi donatur, kita harus mengisi di buku pendaftaran? kita harus nulis nama dan nomer telpon kita?" tanya Binar.


"Itu karena, pihak panti selalu mengundang pihak donatur setiap satu tahun sekali pas peringatan berdirinya panti itu tapi, aku tidak pernah bisa datang" ucap Theo.


"Oh" sahut Binar.


Pantas kalau Theo dan Aksa tidak saling kenal sebelum akhirnya mereka ditakdirkan bertemu karena, aku. Batin Binar.


Hendra dan Aulia telah sampai di rumah papanya Aulia. Theo memberikan hadiah pernikahan untuk Hendra dan Aulia berupa rumah paket honeymoon tapi, Aulia memilih pulang ke rumah papanya.


Hendra berkata kepada Aulia, "kita hanya akan di sini selama seminggu setelah itu kita pulang ke rumah kita. Kita harus mandiri dan aku ingin istriku mandiri nggak bergantung lagi pada papanya"


"Rumah kita? itu rumah dari kak Theo, hadiah dari kak Theo. Kamu bahkan belum bisa beli rumah untuk kita" ucap Aulia dengan polosnya karena, dia kesal dengan Hendra. Aulia melihat Hendra menarik tangannya Binar di pesta pernikahan mereka.


Hendra menggeram kesal dan merasa sangat tersinggung dengan ucapannya Aulia. Hendra melepas jas dan dasinya lalu melemparnya dengan asal dan keluar dari dalam kamarnya. Hendra pamit kepada papa mertuanya kalau ada proyek besar dan akan lembur di kantor.


Aulia duduk di tepi ranjang dan terisak menangis. Dia lelah dengan sikap Hendra yang tidak pernah bisa mencintainya seperti dia mencintai Hendra. Kekecewaan, kemarahan, dan kekesalan hatinya, dia limpahkan ke sosok Binar Adelard.


Di dalam Isak tangisnya, Aulia menggeram, "aku akan bikin perhitungan denganmu Binar Adelard"


Hendra masuk ke dalam ruang kantornya dan merebahkan diri di atas sofa dan berkata kepada dirinya sendiri, "kamu itu dengan mudahnya berganti cowok, dari karyawan magang kamu yang masih sangat muda itu, kamu pindah ke kak Theo tapi, kenapa kamu nggak mau menerimaku. Aku bahkan mau kau jadikan simpanan, Bin. Asalkan aku bisa hidup bersama denganmu. Aku hanya mencintaimu"


Theo membopong Binar yang tertidur lelap masuk ke dalam rumahnya. Miko mendekatinya dan Theo langsung berkata, "mobilnya belum aku kunci, tolong kau ambil barang belanjaan ku dan ada dua paper bag warna merah, itu oleh-oleh untuk kamu dan pak Samin, dan jangan lupa kunci mobilnya!"


"Baik Bos!" Miko berucap lalu bergegas ke teras depan untuk melaksanakan perintah bos tampannya.


Theo menaruh Binar pelan dan penuh kelembutan di atas ranjang. Kemudian melepas kedua sepatunya Binar. Theo mencubit dagunya sendiri sambil menatap Binar, "apa aku bangunkan saja ya? Binar kan belum mandi dan dia butuh berganti baju. Di rumah ini semuanya cowok lalu siapa yang harus mengganti bajunya Binar jika Binar tidak bangun, masak aku?"


Theo akhirnya menghela napas dan meninggalkan Binar sebentar untuk membersihkan diri di kamar mandi.


Selang dua puluh menit kemudian Theo keluar dari dalam kamar mandi dan Binar belum bangun. Akhirnya Theo duduk di tepi ranjang dan membelai pelan pipinya Binar sambil berbisik, "Bin, bangun dulu, mandi! kamu juga belum minum vitamin dan susu"


Binar mengerjapkan matanya dan membuka kedua kelopak mata nan indahnya. Binar membeku memandang wajahnya Theo yang hanya berjarak satu centimeter dengan wajahnya.


Glek! kedua sejoli itu secara bersamaan menelan saliva mereka dan bersitatap dengan kode-kode yang tersamar diiringi indahnya irama detak jantung masing-masing.