
Binar dan Aksa telah kembali ke rutinitas mereka. Bekerja di kantornya Binar. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangannya Mika Adelard, kakak perempuannya Binar yang sangat cantik, elegan dan ramah itu, selalu membuat semua anak buahnya Binar berdecak kagum setiap kali melihat Mika Adelard.
"Selamat pagi semua" sapa Mika Adelard ke semua anak buahnya Binar termasuk Aksa Putra Julian.
"Pagi Bu Mika!" sahut semuanya secara bersamaan seperti yang dilakukan oleh murid-muridnya Mika di setiap pagi ketika dia mulai memasuki kelasnya.
"Saya ke sini mau kasih oleh-oleh dan Lela, tolong dibagikan ke semuanya, ya!? aku mau menemui Binar dulu" ucap Mika sembari mengayunkan tangannya ke Lela.
Lela mendekat, tersenyum, meraih paper bag yang disodorkan oleh mika dan berucap, "siap, Bu"
Dan di dalam langkahnya menuju ke ruangannya Binar, Mika melewati meja kerjanya Aksa dan dia berhenti sejenak di meja itu. Aksa langsung bangkit dan tersenyum ke Mika.
"Kamu betah kan magang di sini?"
"Betah, Bu" Aksa masih mengulas senyum di wajah tampannya.
"Bos kamu nggak galak kan?"
Aksa masih tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak aneh-aneh, kan?"
Aksa bingung mau menjawab apa. Karena, Binar sudah melakukan banyak hal yang aneh-aneh ke dia karena, Binar adalah pacarnya dan Mika belum mengetahui soal itu.
"Aaah, emm, aneh-aneh yang bagaimana ya, Bu?" Aksa menautkan alisnya ke Mika Adelard.
"Iya misalnya, nyuruh kamu beli makanan, mijitin dia kalau dia capek, atau........"
"Uhuk!" Aksa langsung tersedak salivanya sendiri. Dan berkata di dalam hatinya, itu semua sudah saya lakukan Bu, bahkan yang lebih dari itu juga sudah saya lakukan karena, Binar adalah pacar saya.
Aksa begitu ingin mengeluarkan kata itu dari dalam hatinya namun, dia belum mendapatkan persetujuan dari Binar jadi dengan sangat terpaksa dia telan rasa itu untuk dirinya sendiri.
Binar keluar dari ruangannya dengan tergopoh-gopoh dia mendekati kakak perempuannya itu, "kak! kok kemari ada apa?"
Mika menoleh ke Binar, "oh, aku antar oleh-oleh dan......"
"Kenapa kakak nggak langsung ke ruanganku tapi malah di sini, menginterogasi Aksa?"
Aksa hanya bisa mengulas senyum ke Mika dan Binar.
"Iya karena, Aksa muridku jadi wajar kalau aku......"
Binar tidak mengijinkan kakaknya menyelesaikan kalimatnya. Binar langsung menarik tangan kakaknya menuju ke ruangannya. Setelah masuk, dengan segera Binar menutup pintu itu. Mika duduk di depannya Binar dengan tatapan heran.
Aksa kembali duduk sambil menatap ke arah ruangannya Binar. Dia kemudian terkekeh melihat tingkah konyolnya Binar yang langsung menarik tangannya Mika tanpa permisi dan Mika nampak kaget sekaligus kebingungan.
"Dia memang selalu sesuka hati tapi itu menggemaskan dan lucu" gumam Aksa lirih namun, pendengarannya Boy berhasil menangkap kalimat lirihnya Aksa.
Boy menoleh ke Aksa dan bertanya dengan mimik wajah penuh kejahilan, "siapa yang menggemaskan dan lucu?"
Aksa tersentak dan seketika itu pula menoleh kesal ke Boy, "apaan sih? kepo aja Lo"
"Hahahahaha" Boy langsung tertawa lepas lalu berucap, "kakaknya kak Binar sangat cantik, feminin, elegan, ramah, dan........"
"Hmm" sahut Aksa sembari membuka laptop dan buku sketsanya.
"Hmm aja?" tanya Boy.
"Iya terus? Bu Mika udah menikah dan dia dosenku jadi tidak sepantasnya aku mengagumi beliau lebih dari seorang dosen" ucap Aksa kesal tanpa menoleh ke Boy.
"Iya aku kan cowok normal, wajar kalau aku mengagumi cewek secantik Bu Mika" ucap Boy tidak kalah kesalnya dan kembali fokus ke pekerjaannya.
"Lalu apa kabarnya kak Lela?" tanya Aksa.
"Aku sepertinya menyerah saja. Dia memiliki kriteria cowok yang sangat tinggi. Aku tidak ada di alam kriteria itu" ucap Boy dengan desahan panjang untuk melepas kesedihan dan kekecewaannya.
"Lela suka cowok tinggi, tampan, dan......."
"Kamu tinggi dan tampan kan?"
"Masih ada lanjutannya jangan asal main potong, hadeeehhh!" sahut Boy kesal.
"Hahahaha, maaf! terus apa? lanjutkan!" ucap Aksa sambil terkekeh geli.
"Lela suka cowok yang memiliki perusahaan, seorang CEO, keluarga konglomerat, punya mobil, punya rumah mewah, dan hartanya tidak habis sampai tujuh turunan. Sedangkan aku, hanya karyawan biasa, udah bisa beli rumah tapi rumah yang aku beli tuh kecil dan masih aku cicil belum lunas, dan aku tidak punya mobil" Boy kemudian kembali mendesah panjang.
"Berarti kak Lela tuh matre. Cari aja cewek yang mencintai kamu apa adanya, yang nggak matre, dan cantik yang sesuai dengan selera kamu karena, kalau cantik dan sesuai dengan seleramu maka, lama-lama nanti kamu pun akan mencintainya" ucap Aksa.
Boy menepuk pundaknya Aksa, "iya kamu benar. Lalu kabar pacar kamu gimana? dia tipe yang seperti apa? matre atau mencintai kamu apa adanya?"
"Kasih tahu nggak, ya?" Aksa menoleh sekilas ke Boy.
"Sa! masak sama aku, kamu nggak mau cerita soal pacar kamu. Aku udah cerita soal aku ke kamu lho" ucap Boy kesal. Boy begitu penasaran dengan pacarnya Aksa karena, Aksa bisa dengan mudah melepas begitu saja Rita pacarnya Aksa yang dulu, yang begitu cantik dan menarik terlepas dari perselingkuhan yang dilakukan oleh Rita.
"Hahahahaha, oke aku katakan seperti apa pacarku. Umm, dia cantik, imut, menggemaskan, baik, nggak matre, dan mencintaiku apa adanya. Bahkan kemarin pacarku aku ajak ke Kudus dan aku kenalkan ke kakek dan nenek-ku dan mereka bisa cocok. Dia nggak rewel soal masakan sederhana yang dimasak oleh nenek-ku dan nggak rewel tidur di kasur kuno dan bukan springbed" ucap Aksa dengan rasa bangga dan penuh cinta.
"Waaahhh! nasib cowok yang tampannya sempurna seperti kamu memang selalu beda dengan cowok yang tampannya pas-pas an kayak aku, ya, aku ngenes pollll nih, hiks, hiks, hiks. Kamu beruntung menemukan cewek seperti itu. Dari cerita kamu, cewek kamu itu dewasa banget ya, memang usia kalian terpaut berapa tahun?"
"Sepuluh tahun" sahut Aksa tanpa berpikir panjang.
"Haaaahhh? kamu phedopilia ya? kamu berpacaran dengan gadis berumur sepuluh tahun dong kalau kamu dua puluh tahun sekarang ini dan pacarmu terpaut sepuluh tahun dari kamu? Sa! yang benar saja?!" Boy langsung memekik kaget.
"Hah? apa?" Aksa menoleh ke Boy dengan menautkan alisnya.
"Kamu dan pacar kamu terpaut sepuluh tahun kan, berarti ........."
"Aaah, emm, aku salah dengar, aku kira kamu nanya umur adikku, heeeee. Maaf! umur adikku bukan sepuluh tahun juga sih, heeee. Adikku masih delapan tahun dan aku asal jawab aja tadi, heeee, maaf!" ucap Aksa.
"Fiuuuhhh! lega aku. Aku kira aku berteman dengan seorang phedopilia. Lalu berapa jarak umur kamu dengan pacarmu?" tanya Boy dengan rasa penasarannya yang begitu besar.
"Ra...ha...sia" ucap Aksa tanpa menoleh lagi ke Boy.
Boy hanya bisa mendengus kesal.
"Apa?!" Binar memekik kaget ke kak Mika-nya.
"Memangnya kenapa kalau Aksa dapat beasiswa kuliah ke luar negeri. Kenapa kamu sekaget itu?" tanya Mika heran sambil melipat tangannya.
"Aaah! nggak papa, emm, itu, umm, Aksa kan masih belum habis masa magangnya. Ini aja baru jalan dua Minggu" ucap Binar sembari menatap berkas-berkasnya untuk menutupi rasa kagetnya atas berita beasiswa Aksa untuk kuliah ke luar Negeri.
"Aksa sudah menerima amplop pemberitahuan beasiswa itu tadi. Aku melihatnya di atas meja kerjanya tadi. Aku rasa dia akan menerima beasiswa itu karena, itu juga merupakan suatu keharusan dari pihak kampus"
"Lalu magangnya?" tanya Binar.
"Awal bulan besok dia harus berangkat kalau dia menerima beasiswa itu dan pihak kampus memberikan hak istimewa ke mahasiswa berprestasi seperti Aksa. Pihak kampus akan memberikan surat rekomendasi ikut ujian skripsi lebih cepat bahkan tanpa menyelesaikan masa magang terlebih dahulu dan ujian skripsi-nya bisa dilakukan secara virtual" ucap Mika, "harusnya Aksa menerima beasiswa itu karena, dia akan mendapatkan banyak keuntungan dan itu baik untuk masa depannya"
Binar diam saja membisu dan terus menatap berkas-berkasnya padahal benaknya mulai melayang-layang ke masa depannya dengan Aksa. Jika Aksa menerima beasiswa itu maka, dia akan berpisah dengan Aksa untuk waktu yang lama dan dia juga tidak bisa melarang Aksa untuk tidak menerima tawaran beasiswa itu karena, betul apa yang dikatakan oleh kak Mika-nya, itu sangat bagus untuk masa depannya Aksa.
"Bin? kakak lihat kamu sibuk. Kakak pulang dulu kalau gitu dan ini oleh-oleh untuk kamu dan Mimi" Mika bangkit sembari menaruh dua buah paper bag di atas meja kerjanya Binar.
Binar bangkit lalu memutari meja kerjanya dan memeluk kakaknya, "ati-ati, kak!"
Mika melepas pelukannya Binar, dia tersenyum lalu berbalik badan pergi meninggalkan Binar.
Binar duduk dan bersandar lepas di kursi kerjanya sambil melipat tangan. Dia benar-benar merasa malas untuk berpikir dan bekerja di saat itu.
Pikiran dan perasaannya menjadi kacau terkait hubungan rumit yang dia miliki bersama Aksa. Dia menyesali perbuatan gegabahnya menerima Aksa menjadi pacarnya. Dia menyesal mengikuti rasa penasarannya akan rasa sebuah percintaan, dia begitu ingin mengecap manisnya berpacaran tanpa berpikir panjang ketika dia menarik Aksa Putra Julian ke dalam dekapannya.
"Lebih baik aku tidak usah bahas soal beasiswa itu ke Aksa. Kalau dia mengundurkan diri magang dari sini bulan depan maka, aku pura-pura tidak tahu aja dan aku ijinkan saja. Kalau memang harus berakhir hubungan kami, ya berakhirlah" desah Binar panjang berpasrah diri akan masa depan yang memang masih nampak sangat buram bagi hubungan dia dan Aksa.