My Pretty Boss

My Pretty Boss
My Sunshine



Keesokan harinya, tepat pukul enam saat Theo bangun dan telah selesai memasak nasi goreng untuk Binar. Theo kemudian naik kembali ke kamarnya untuk mandi. Selesai mandi dan berganti baju, Theo melihat Binar masih tertidur sangat pulas di balik selimut.


Theo duduk di tepi ranjang, dia menulis di atas secarik kertas mungil, nasi goreng udah siap untukmu my love dan cokelat ini nanti dimakan ya pas kamu merindukanku, my sunshine😘 aku berangkat kerja dan maaf tidak membangunkanmu karena, aku takut mengganggu mimpi indahmu😜 hari ini kamu di rumah aja. Aku yang akan kerjakan semua pekerjaanmu di kantor😎 Sampai bertemu saat langiit menjingga nanti, I Love You❤️


Laki-laki tampan itu tersenyum penuh cinta saat dia menempelkan kertas mini itu di atas kotak cokelat yang berbentuk love. Theo menoleh ke Binar lalu dia kecup cukup lama keningnya Binar sambil dia elus perutnya Binar.


Lima menit kemudian, Theo melesat keluar dari dalam kamarnya dan langsung turun menuju ke mobilnya. Dia berteriak ke Miko "aku berangkat, jaga Binar dan anakku!" Miko menganggukkan kepalanya sambil terus menyirami rumput setelah itu, Theo melambaikan tangan ke pak Samin yang tengah memberi makan Bronzo dan Snowy dan pak Samin membalas lambaian tangannya Theo dengan senyum ramahnya.


Sesampainya di kantornya Binar, Theo segera mengirim pesan text ke Andik untuk memberitahukan ke Andik bahwa dia sudah mendarat dengan sempurna di kursi kerjanya Binar.


Theo terlonjak kaget begitu pula dengan Lela saat Lela masuk sambil mendekap map-map berisi kertas kerja yang perlu dipelajari oleh Binar.


"Kak Theo? ngapain kakak di sini? maaf Lela tidak ketuk pintu karena, biasanya di jam segini kak Binar belum datang" kata Lela dengan wajah merona senang melihat laki-laki idamannya ada di depan dia di pagi hari.


"Oh! nggak apa-apa santai aja. Emm, yang kamu bawa itu perlu diperiksa ya? taruh aja, aku akan mulai mempelajarinya" kata Theo dengan santainya.


Lela semakin erat mendekap map-map tersebut lalu memandang Theo dengan ragu.


"Aku akan menggantikan Binar hari ini karena, Binar capek jadi Binar tidak kerja hari ini dan aku yang akan menggantikannya karena, aku yang sudah membuat Binar kecapekkan, hehehehe" Theo berucap sembari melepas jasnya dan menyisakan kemeja putih lengan panjangnya. Theo terlihat semakin tampan di matanya Lela. Lela terpana dan seketika itu pula dia membisu saat dia menatap pangeran tampan pujaan hatinya itu terus mengulas senyum di depannya.



"Hai girl! what's up? ada yang salah di wajahku, kenapa kamu menatapku terus?" tanya Theo.


Lela tersentak dan tanpa sengaja melepas map-map yang dia bawa. Lela segera membungkuk untuk memungut semua map yang berserakan di lantai sambil berkata, "maaf Kak! Lela melamun karena, capek"


Theo segera berdiri dan membantu Lela memungut map-map tersebut dan Lela tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia sengaja memegang tangannya Theo di saat mereka berdua telah selesai memungut semua map dan kemudian berdiri.


Theo menatap tangannya yang berada di dalam genggaman tangannya Lela lalu berdeham dan berucap, "maaf, bisa lepaskan tanganku?"


Lela membulatkan kedua matanya lalu melepaskan tangannya Theo dengan cepat dan dia segera menaruh map yang dia pegang di atas meja setelah itu dia duduk di sofa.


Theo memutari meja dan duduk kembali ke kursi kerjanya Binar lalu menatap Lela, "kenapa masih di sini?"


"Oh! itu....emm anu ....kalau kak Theo ada kesulitan aku bisa langsung membantu kak Theo jika aku tetap di sini, hehehehe" Lela tersenyum penuh cinta ke Theo.


Theo tersenyum ramah lalu mulai mempelajari map-map tersebut. Theo menemukan kejanggalan di sana. Klien lama yang muncul di awal tahun, tidak tampak lagi di laporan terbaru. Theo lalu menatap Lela.


Lela segera berdiri dan duduk di depan meja lalu bertanya, "ada apa, Kak?"


"kenapa klien-kliennya Binar yang lumayan besar dan selalu memberikan repeat order dari awal tahun, kok udah nggak muncul lagi di Bulan ini?" tanya Theo.


Lela mulai kebingungan menjawab pertanyannya Theo itu karena, Lela sangat memahami kecerdasannya Theo dan jika dia salah mengeluarkan kata maka, Theo akan langsung menaruh curiga kepadanya.


Theo kembali bertanya saat dia melihat Lela tampak kebingungan, "kenapa? kamu pasti tahu karena, kamu asisten pribadinya Binar dan sudah ikut Binar sejak perusahaan ini berdiri, iya kan?"


Lela menganggukkan kepalanya lalu berkata, "aku tahunya, klien-klien itu pindah ke Darren Design"


Theo mulai melengkungkan alis, menggigit bibir bawahnya dan mempelajari map yang dia pegang sambil bersandar ke kursi.


Lela memandangi terus polah tingkahnya Theo dan dia berkata di dalam hatinya, ya ampun, membaca berkas aja kamu nampak sangat keren, Kak. Tunggu aja Kak, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku sepenuhnya.


Theo bertanya kembali tanpa menatap Lela, "kenapa tidak kamu follow up?"


"Hah?" Lela kembali tersentak dari lamunannya.


"Kliennya Binar, kenapa tidak kamu follow up?" tanya Theo sambil meletakan map yang sedari tadi dia pegang dan mulai menatap Lela dengan tajam dan penuh dengan keseriusan.


Lela mulai gelagapan, "emm, su.....sudah tapi mereka bilang, Darren memberi mereka harga yang lebih murah"


"Bagaimana Darren bisa tahu penawaran dia lebih murah? kok aneh, bukankah seharusnya soal harga itu private, Binar nggak akan mengumbarnya begitu saja, bagaimana Darren bisa tahu soal harga?" Theo mulai melipat tangan dan kembali bersandar ke kursi sambil terus menghunus tatapan tajam ke Lela.


Aaahhh sial! aku salah omong lagi. Batin Lela.


"Hmm? kenapa diam?" tanya Theo dengan wajah penuh keseriusan.


"Lela juga nggak tahu, Kak" kata Lela dengan nada suara dia buat sesantai mungkin karena, sejujurnya seluruh rubuhnya mulai bergetar melihat tatapannya Theo.


"Baiklah!" Theo kemudian bangkit dan dengan segera Lela bertanya, "Kak, emm, mau ke mana?"


"Mau bikin kopi" kata Theo dengan santainya.


"Kakak duduk saja. Lela akan bikinkan kopi untuk kakak"


Theo memasukkan kedua tangannya ke saku celananya lalu menatap Lela, "aku biasa bikin kopi sendiri karena, tidak semua orang bisa pas membikinkan kopi untuk aku, hehehehehe"


"Aku yakin pasti kopi bikinanku pas untuk kakak, emm, satu sendok makan kopi hitam, setengah sendok krimer plus satu sendok kecil gula kan?"


Theo tersenyum ke Lela dan menganggukkan kepalanya.


"Oke! kakak duduk aja! Lela akan bikinkan kopinya" Lela bergegas keluar dari ruangannya Binar sebelum Theo sempat mengucapkan kata terima kasih kepadanya dan Lela berpapasan dengan Andik. Mereka bersitatap untuk sepersekian detik lalu mereka saling melempar senyum dan melanjutkan langkah mereka masing-masing.


Andik masuk dan segera duduk di depan meja, "itu tadi asisten pribadinya nyonya yang bernama Lela?"


"Iya" Theo menjawab Andik dengan senyum menggoda saat dia melihat Andik kembali menatap ke arah perginya Lela. Theo lalu berdeham, "Ehem! kenapa melihat ke arah luar terus?"


"Hehehehe" Andik segera menoleh ke bos besarnya dan berkata, "emm, cantik juga ya si Lela itu"


"Beraksi apa Bos? Andik cuma ngomong kalau dia itu cantik kok" ucap Andik, "nih Bos, berkas yang perlu Bos tandatangani" kata Andik sambil menaruh map yang sudah terbuka di depannya Theo.


Theo tersenyum lebar lalu berucap, "cinta itu berawal dari pujian yang lahir dari kekaguman netra kamu"


"Huufftt, Bos! fokus aja ke kerjaan deh, malah bikin puisi" sahut Andik sambil merengut dan Theo segera menggelegarkan tawa renyahnya lalu berucap, "aku akan dukung seribu persen jika kau mulai mendekati Lela, hehehehe karena, aku lihat si Boy udah punya pacar tadi"


"Boy? siapa lagi si Boy?" tanya Andik.


"Boy dan Lela itu adik tingkatku. Boy naksir Lela tapi tadi aku lihat Boy mencium kening seorang gadis di tempat parkir jadi aman karena Boy udah punya pacar maka kau bebas dari segala hambatan, jika kau ingin mendekati Lela. Jalan tol Bro! maju gas polll! hahahahahaha"


"Apaan sih Bos. Saya masih belum kepikiran soal pacar" sahut Andik.


"Wow! nyesel entar kalau kamu nggak buruan cari pacar terus nikah karena, nikah itu mengasyikkan, Bro!" Theo meringis ke Andik.


Andik hanya mendesah panjang sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya"


Binar bangun dengan menyandarkan diri ke ranjang lalu menoleh ke kanan, suaminya sudah tidak berbaring di sampingnya. Binar menoleh ke kiri dan menemukan sekotak cokelat. Dia meraih kotak cokelat itu dengan senyum bahagia lalu mulai membaca kertas kecil yang tersemat di sana. Binar terkekeh penuh cinta dan bergumam, "mas Theo menggemaskan banget sih, bisa-bisanya dia gambar emotikon di sini" Binar mengusap kertas kecil itu lalu mencium kertas mungil itu dan kembali bergumam, "aku sudah merindukanmu, Mas"


Binar meraih ponselnya lalu menelepon Theo.


Theo hendak menyeruput kopi buatannya Lela yang kemudian dia letakkan kembali kopi itu di atas meja saat dia melihat ponselnya dan dengan senyum bahagia dia segera angkat panggilan ponsel itu dan memekik riang, "pagi cintaku"


Andik dan Lela bersitatap saat mendengar Theo mengucapkan kata itu lalu mereka berdua berinisiatif untuk keluar dari ruangan itu meninggalkan Theo sendirian.


Sial! bahkan kopi bikinanku saja kalah dengan pesona kak Binar. Lela mengumpat kesal di dalam hatinya.


Andik dipersilakan Lela untuk duduk di ruang tamu dan Lela melangkah pergi begitu saja meninggalkan Andik sendirian.


"Yeaaahh kok pergi? padahal aku ingin mulai mengobrol dengannya" gumam Andik sambil menatap ke arah perginya Lela.


"Aku merindukanmu, Mas. Kok pergi nggak bilang-bilang, sih" Binar melemparkan protes ke Theo.


"Aku juga sangat merindukanmu, sayang. Mas, nggak tega membangunkanmu tadi.maaf ya, habisnya kamu imut banget kalau tidur jadi sayang untuk dibangunkan, hehehehe. Ini mas di ruanganmu"


"Nah itu yang mau Binar tanyakan, kok Mas ada di ruanganku? emangnya Mas ngerti soal kerjaanku?" tanya Binar.


"Aku orangnya bisa cepat belajar dan aku akan handle kerjaan kamu hari ini dengan baik. Lela udah kasih jadwalnya ke aku. Percayalah dan jangan khawatir! aku akan kerjakan dengan baik tugas kamu hari ini dan kamu istirahat aja di rumah jangan kerjakan apapun, oke!? Oh iya! aku udah masak nasi goreng untukmu, cepat dimakan ya! aku taruh di tempat penghangat nasi biar awet hangatnya" kata Theo.


"Makasih Mas. Aku beruntung memiliki suami seperti kamu" ketulusan terdengar di nada bicaranya Binar.


"Aku juga beruntung banget bertemu kamu dan akhirnya bisa menikah denganmu karena, kamu cinta pertamaku" sahut Theo.


"Gombal!" Binar berucap dengan nada jahil.


"Lho kok gombal sih? beneran!" pekik Theo dengan senyum geli.


"Lalu apa kabarnya dengan Dita? dia pacar pertama kamu, kan?"


"Hahahaha, aroma cemburu nih, hahahahaha. Dengar ya sayangku, manisku, cintaku, emm, pacar pertama itu belum pasti cinta pertama kita. Aku dan Dita itu berinisiatif untuk berpacaran karena, kami dekat sedari kecil dan yeaahhh, hanya itu, nggak ada getar-getar manis yang aku rasakan saat aku bersama denganmu" ucap Theo.


"Umm, emang kamu tuh juaranya bikin hatiku kembang kempis kayak gini" Binar terkekeh geli.


"Hahahaha, aku serius sayang, kamu itu cinta pertama dan selamanya bagiku" sahut Theo.


"I Love You, Mas"


"I Love You too" sahut Theo dan Theo segera pamit ke Binar lalu dia tutup sambungan teleponnya saat Lela mengetuk pintu lalu melangkah masuk dengan seorang klien.


Theo mempersilakan klien itu masuk. Klien wanita yang cantik dan seksi itu terus mengumbar senyum ke Theo. Klien itu tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan seorang laki-laki tampan dan murah senyum


"Silakan duduk!" ucap Theo dengan sangat ramah.


Klien itu duduk di sofa lalu bertanya ke Theo, "anda pegawai barunya Bu Binar?"


Theo tersenyum lalu duduk agak jauh dari kliennya Binar hari itu yang adalah seorang wanita yang sangat cantik dan seksi. Lalu Theo berucap dengan sopan, "saya suaminya Bu Binar. Saya menggantikan istri saya karena, istri saya capek dan tidak bisa ngantor hari ini. Emm, ada yang bisa saya bantu?"


Wanita cantik nan seksi itu kemudian mendesah kecewa karena, laki-laki tampan yang ada di depannya adalah suaminya Binar Adelard.


"Bu Binar beruntung memiliki suami yang tidak hanya tampan tapi juga baik, ramah, dan cerdas seperti anda" ucap wanita itu setelah dia dan Theo sukses mencapai kesepakatan untuk saling bekerja sama.


"Terima kasih banyak anda sudah memercayai kami untuk mendesain resort anda. Kami berjanji akan memberikan kepuasan pada anda dan satu lagi, saya yang beruntung memiliki istri seperti Binar Adelard. Dan saya sangat mencintai istri saya itu" Theo menganggukkan kepala dan tersenyum ke kliennya Binar itu.


Wanita itu pun pamit dan keluar dari ruangannya Binar dengan senyum ramah lalu berkata, "semoga saya juga bisa menemukan pasangan yang baik dan tampan seperti anda"


Theo kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah klien wanita itu pergi, Andik masuk dan Theo langsung memeluk Andik dan memekik senang, "aku berhasil mendapatkan kontrak kerja sama yang lumayan besar untuk Binar, Yes!"


Andik melepaskan diri dari pelukannya Theo lalu berucap, "kita harus meninjau syuting nih, Bos"


"Oke siap! sekalian makan siang dan aku juga ingin mengunjungi klien-kliennya Binar yang telah berpindah ke Darren Design" Theo menyambar jas dan Map yang berisi daftar klien-kliennya Binar lalu dia melesat keluar dari kantornya Binar bersama dengan Andik tanpa pamit ke Lela.


Lela masuk ke ruangannya Binar dengan kecewa karena, Theo sudah tidak berada di sana dan kopi buatannya pun belum diminum oleh Theo.


"Huufftt! sabar Lela! sebentar lagi kak Theo akan jadi milikmu selamanya" gumam Lela.