My Pretty Boss

My Pretty Boss
Semangat!!!



Binar menatap jendela dan pandangannya menyusuri jalanan yang dilalui mobilnya Theo. Pandangannya tertuju ke jejeran pedagang kaki lima yang dilewati mobilnya Theo namun, benaknya melayang-layang meninggalkan raganya.


Aku awalnya mencintai Hendra Herlambang dengan sangat mendalam dan setia menunggunya tapi, cintaku kemudian beralih ke Aksa Putra Julian dan aku sangat memujanya namun, kini aku menikah dengan Theo Revano. Kenapa takdir cintaku tidak bisa berhenti di tempat yang aku dambakan? Batin Binar.


"Kalau mau tidur, rebahkan kepalamu di bahuku nggak apa-apa" suara Bass nan merdu miliknya Theo sontak membawa Benak Binar ke kenyataan hidup. Binar kemudian menoleh, menggelengkan kepala sambil tersenyum ke Theo.


"Kamu pengen jajanan kaki lima itu? Kok dari tadi kamu menatap ke luar jendela terus?" tanya Theo.


"Aku nggak ngerti jajanan kaki lima karena, aku nggak pernah jajan di kaki lima, hehehehe" ucap Binar.


"Ada banyak yang enak-enak nyonya" sahut Andik.


"Misalnya apa?" tanya Binar.


Andik kemudian meminggirkan mobilnya untuk berjaga-jaga kalau semisal Binar ingin turun dan mencoba jajanan kaki lima. Andik lalu berucap, "ada Cilok, makanan yang terbuat dari tepung Aci terus dikasih saos, kecap, sama bubuk cabai, lalu ada rujak, manisan, dan........"


Binar langsung menoleh ke Theo dengan sorot mata berkelip-kelip seperti bintang yang bahagia menyambut datangnya sang rembulan malam. Lalu berucap dengan malu-malu, "aku mau Cilok dan manisan, hehehe, kita turun yuk!"


Theo menahan Binar, "kamu di dalam mobil aja! panas kalau turun"


"Saya akan belikan nyonya" sahut Dion.


"Nggak! kamu juga di dalam mobil, aku yang akan turun. Cuma Cilok dan manisan? lainnya? ada es dawet, es buah?" ucap Theo sambil membuka pintu mobilnya.


"Aku nggak terbiasa minum es di pinggir jalan, takut batuk karena, kebanyakkan gulanya tidak asli" sahut Binar.


"Oke! Cilok dan Manisan" ucap Theo.


Binar menahan lengannya Theo saat Theo memutar badan hendak turun. Theo menoleh dan menatap heran uang seratus ribu yang disodorkan Binar ke arahnya.


"Apa ini?" Theo menautkan alis tebalnya.


"Untuk beli Cilok dan Manisan. Kurang ya?" tanya Binar.


"Bukannya kurang tapi kita ini suami istri. Nggak perlu perhitungan kayak gini, simpan aja uangmu" Theo langsung turun dari dalam mobil dan Binar memasukkan kembali uangnya ke dalam tasnya.


"Bos kamu baik banget ya? aku kira bos kamu itu hanya tahu soal menjahili orang dan becandain orang ternyata, dia juga bisa serius dan berhati hangat" ucap Binar ke Andik.


"Bos Theo memang baik hati nyonya. Pada siapa saja dia baik hati dan selalu bersikap ramah" sahut Andik.


"Oh" sahut Binar.


Aku yang terlalu Pe-De kali ya menganggap Theo menyukaiku. Dia ternyata memang baik sama semua orang. Hufffttt! mana mungkin dia menyukai aku. Aku ini ceroboh, galak, impulsif, dan seorang wanita yang hamil. Theo hanya terdorong rasa kemanusiaan aja saat dia menolongku. Batin Binar.


"Tapi, walaupun bos Theo baik dan ramah sama semua orang, saya lihat kalau bos Theo memberikan perhatian yang lebih pada anda, nyonya" ucap Andik.


"Itu hanya karena, rasa kasihan dan........"


"Itu bukan rasa kasihan nyonya. Percaya sama saya kalau bos Theo menganggap anda spesial. Apakah Anda benar-benar merasa cemburu tadi? maaf kalau saya bertanya seperti ini karena, saya ingin bos Theo benar-benar bahagia dengan pernikahannya dan tolong buka hati anda sedikit demi sedikit untuk bos Theo, nyonya" ucap Andik.


"Aku tadi beneran cemburu tapi lebih ke perasaan nggak rela kalau milikku diimpikan apalagi sampai diambil oleh orang lain. Tapi iya, aku berjanji aku akan mulai membuka hati untuk Theo"


"Terima kasih nyonya" sahut Andik.


"Sama-sama. Aku juga berterima kasih sama kamu yang sudah mau berbagi soal Theo ke aku" sahut Binar.


Theo membuka pintu mobilnya dan menyerahkan tas kresek yang berisi Cilok dan Manisan ke Binar.


Binar menerimanya dengan penuh semangat lalu berucap, "terima kasih" kemudian membuka Ciloknya terlebih dahulu.


Andik tersenyum dan melajukan lagi mobil mewah milik bosnya.


Theo menganggap Andik sebagai adik laki-lakinya bukan sebagai asisten pribadi dan selalu meminta Andik untuk memanggilnya kakak atau mas karena, panggilan tuan bagi Theo terdengar aneh dan dia tidak suka dipanggil tuan. Akhirnya mereka sepakat Andik memanggil Theo bos karena, Andik merasa nggak pas memanggil Theo kak atau mas. Hubungan Theo dan Andik sangat dekat, mereka saling menyayangi satu sama lain.


"Mau?" Binar menyodorkan sundukkan Cilok ke Theo.


Theo menoleh ke Binar, "boleh makan berdua kayak gini?"


"Boleh dong. Emang kenapa? kamu nggak ada penyakit epilepsi kan? pffftttt" ucap Binar sambil terkekeh.


"Ya udah, aaaaaaa!" ucap Binar.


Theo membuka mulutnya dengan rona malu. Itu adalah pertama kalinya dia disuapi oleh seorang wanita selain Aulia Revano adik perempuannya.


"Enak ya?" ucap Binar sambil menatap lekat kedua manik hitamnya Theo untuk mencari persetujuan di sana.


Theo tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "iya enak, makasih"


"Kalau gitu habiskan nih!" Binar menaruh plastik Cilok dengan sundukkannya ke pangkuannya Theo lalu dia membuka plastik manisannya.


"Lho hei! piye Ki? gimana ini? kok udah makan Ciloknya? kan masih banyak nih?" Theo memegang plastik berisi Cilok dan menoleh ke Binar.


"Aku udah eneg makan dua Cilok sisanya buat kamu aja, hehehehe. Aku mau coba manisannya"


Theo menggelengkan kepalanya sambil mulai memakan Cilok pemberiannya Binar.


Andik tersenyum geli sambil terus fokus menyetir mobil.


"Emm, manisannya segar dan maaf aku nggak berbagi ke kamu, hehehehe" Binar meringis ke Theo.


Tanpa sadar tangannya Theo terangkat dan dia mengelus rambutnya Binar, "habiskan kalau habis dan tugasku menghabiskan Cilok ini"


Binar dan Theo kemudian bersitatap lalu tertawa renyah secara bersamaan. Andik pun ikutan tertawa bahagia.


Selang sepuluh menit kemudian mereka sampai di restoran khusus berbagai macam jenis steak. Mereka kemudian turun dari dalam mobil.


Binar langsung memesan steak, kentang goreng dan susu kocok cokelat, kesukaannya Aksa Putra Julian.


Theo dan Andik memesan spageti dan jus mangga.


Binar menatap Theo lalu menatap Andik, "kalian seleranya sama ya?"


"Iya nyonya. Selera kamu sama di dalam segala hal" sahut Andik dengan senyum bangganya.


"Eits! soal cewek kita beda selera" sahut Theo.


"Hahahaha, iya soal cewek kita beda selera" sahut Andik.


Binar ikutan tertawa ringan lalu bertanya ke Theo, "seperti apa cewek menurut selera kamu?"


Theo menatap Binar lekat-lekat lalu berucap, "mandiri, cantik, imut, berambut hitam lurus, sehat jasmani dan rohani......"


Binar tertawa dan langsung memukul bahunya Theo, "kok pakai sehat jasmani dan rohani segala sih? hahahahaha"


"Hahahaha, lho iya iya dong. Kalau nggak sehat jasmani dan rohani kan berbahaya bagi lingkungan sekitar, hahahaha" sahut Theo.


Binar dan Andik menggeleng-nggelengkan kepala mereka sambil terkekeh.


"Lalu apalagi?" tanya Binar.


"Gampang mewek tapi nggak cengeng, jagoan, berkulit putih, berhidung mungil dan mancung, berbibir tipis tapi berisi dan indah, tegar, cerdas,


baik hati, galak tapi juga ramah sama semua orang" ucap Theo.


Andik langsung memandang ke istri tuannya lalu berkata dalam hati, Semua ciri fisik yang disebutkan oleh bos Theo itu ada di diri nyonya Binar. Semoga nyonya Binar menyadarinya.


Namun, harapan Andik tidak menjadi kenyataan karena, Binar tidak menyimak ciri fisik wanita idamannya Theo dan dia langsung menepuk pundaknya Theo, "semoga aku bisa menjadi wanita impian kamu itu"


What?! dia nggak ngeh kalau yang aku sebutkan tadi semuanya ada di diri dia? Batin Theo..


Theo kemudian menatap Andik seolah curhat dengan kode sorot mata dan Andik langsung paham dia kemudian berucap, "nyonya, anda sudah memenuhi syarat menjadi wanita yang didambakan bos saya"


"Aaahhhh! jangan bikin aku Ge-Er Andik" sahut Binar.


Theo menggigit tissue yang dia pegang dan terus menatap Andik dengan muka mewek karena, Binar masih saja belum peka akan perasaannya yang sesungguhnya ke Binar Andik berucap semangat tanpa bersuara sambil menatap bos besarnya di saat Binar menoleh ke pramusaji yang telah datang mengantarkan makanan pesanan mereka.


Hiks hiks hiks. Perjalanan kamu masih sangat panjang untuk memenangkan hati Binar Adelard, wahai Theo Revano. Semangat!!! Theo menyemangati dirinya sendiri di dalam hatinya.