My Pretty Boss

My Pretty Boss
Ada Apa Dengan Miko?



Dita mantan pacarnya Theo bangkit, menggandeng putra kecilnya yang masih berumur empat tahun untuk melangkah ke mejanya Theo. Dita putus dengan Theo karena, selingkuh dengan seorang laki-laki bule saat dia dan Theo berkuliah di luar negeri dan Dita akhirnya hamil di luar nikah tapi, laki-laki asli Jerman yang menghamili Dita itu pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab dan Theo yang akhirnya mengurus semuanya dan mengadopsi anaknya Dita karena, rasa kemanusiaan dan rasa persahabatan. Namun, di saat Dita menginginkan Theo untuk menikahinya, Theo menolaknya karena, Theo sudah tidak mencintai Dita.


Putra Dita diberi nama Theo Junior Danendra dan sejak lahir sampai berumur empat tahun, Theo selalu mengirim uang untuk keperluannya Theo Junior Atmaja yang kemudian berubah menjadi Danendra karena kedua orang tuanya Dita tidak rela nama keluarga Atmaja dipakai di belakang nama putranya Dita karena, anaknya Dita adalah anak di luar nikah dan kedua orang tuanya Dita tidak pernah mengenal papa kandung dari anaknya Dita itu. Nama Atmaja di nama belakangnya Dita pun dicoret oleh kedua orang tuanya Dita. Dita sungguh menyesali perbuatannya berselingkuh dan mengkhianati laki-laki setulus dan sebaik Theo Revano namun, nasi sudah menjadi bubur.


"Selamat petang" Dita berdiri di depan mejanya Theo dan Binar sambil menggendong putranya dan tersenyum ke semuanya. Andik bersitatap dengan Theo dan Theo langsung bangkit, "lho, kapan kamu tiba di Indonesia?"


Dita tersenyum, "maaf tidak mengabarimu, aku sudah di sini selama sebulan dan aku sudah berhasil membuka bisnis kue di sini kapan-kapan mampir ya, aku akan kasih incip-incip spesial untuk kamu"


Binar menoleh ke Theo dan berbisik di telinganya Theo, "cewek cantik ini siapa?"


Theo mencium pelipisnya Binar lalu merangkul bahunya Binar dan berkata, "kenalkan dia Dita Danendra dan itu putranya Theo Junior Danendra dan Dit, ini Binar Adelard istri tercintaku dan dia udah hamil empat bulan nih" Theo lalu mengelus perut buncitnya Binar dengan penuh cinta dan rasa bangga.


Binar menyambut uluran tangannya Dita sambil membalas senyumannya Dita.


Dita kemudian berkata, "anda beruntung memiliki Theo Revano dan......"


"Saya tahu. Saya sangat beruntung memiliki laki-laki tampan dan baik hati ini" Binar lalu berjinjit dan mencium pipinya Theo. Theo tersenyum lebar dengan kebahagiaan yang merekah manis di dalam hatinya. Theo lalu mempersilakan Dita untuk duduk. Dita pun duduk sambil memangku putranya.


Theo hendak duduk tapi, Binar segera menggandeng lengannya Theo dan berkata ke semuanya, "maaf, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan suami saya"


Theo tampak kebingungan saat Binar menariknya menuju ke teras belakang restoran Palma Kitchen. Binar segera melipat tangan dan berkata, "jelaskan Theo Revano!"


"Jelaskan apa?" Theo menengadahkan kedua telapak tangannya di depannya Binar.


"Kenapa putranya Dita Danendra bernama Theo Junior Danendra? Dita itu mantan pacar kamu, kan?"


Theo tertawa lirih lalu berkata, "apa kamu curiga kalau anaknya Dita itu anakku?"


Binar merengut dan menganggukkan kepalanya.


"Hahahaha, sayang, kamu lihat baik-baik nggak anaknya Dita tadi? Theo Junior Danendra berambut pirang, bermata biru, bagaimana mungkin dia anakku?"


Binar mengurai kerucut di bibirnya lalu menoleh ke belakang untuk melihat kembali sosok Theo Junior Danendra lalu dia kembali menatap Theo.


Theo tersenyum dan berkata, "see?.....menurut kamu, masuk akal nggak kalau dia anakku?"


Binar menggelengkan kepalanya lalu memeluk pinggangnya Theo dan berkata, "maafkan aku, Mas! aku dengan ceroboh mencurigai kamu" Theo tertawa lepas lalu memeluk Binar dan mengecup belahan rambutnya Binar.


Dita melihat kemesraan Theo dan Binar dari tempat ia duduk dan menghela napas panjang. Hilang sudah harapan dia untuk mencoba memenangkan kembali hatinya Theo.


Theo mengelus punggung istri yang sangat ia cintai itu dan berkata, "Dita selingkuh dengan bule Jerman saat aku masih berpacaran dengannya sampai dia hamil"


Binar mendongakkan kepalanya untuk menatap Theo dan berucap, "hah?"


"Aku akan ceritakan detailnya nanti di rumah, kita balik ke meja dulu ya, kasihan mereka semua menunggu kita"


Binar tersenyum, mengecup bibir suaminya lalu melepas pelukannya dan menggandeng tangan suaminya untuk melangkah bersama, kembali ke meja mereka.


Binar dan Theo duduk kembali dan melanjutkan makan malam mereka dengan obrolan ringan dan sesekali diselingi tawa renyah. Dita kemudian pamit, bangkit sambil menggendong putranya dan pergi meninggalkan mejanya Theo. Tanpa Dita sadari, Miko terus menatap Dita sedari tadi bahkan mengikuti arah perginya Dita. Entah kenapa, ada desiran hebat di hatinya Miko saat dia menatap Dita untuk pertama kalinya dan terkesan dengan ceritanya Dita, gaya bicara, dan selera humornya Dita. Ada apa dengan Miko?


Selang tiga puluh menit kemudian, Theo, Binar, Miko, dan Andik pun sampai di rumah mereka.


Theo memeluk Binar di atas ranjangnya dan mulai menceritakan perihal Dita. "Aku dan Dita bertetangga dan bersekolah di sekolahan yang sama sedari kita TK. Aku dan Dita bersahabat sejak kami masih unyu, imut dan menggemaskan, heeeeee"


"Terus?" tanya Binar.


"Terus pas kami lulus SMA aku dan Dita memutuskan untuk berpacaran dan kuliah di tempat yang sama dan melanjutkan kuliah kami ke luar negeri. Kami tinggal satu atap, di rumah papaku yang ada di Amerika tapi, aku tidak pernah melanggar batas. Aku selalu menjaga kesuciannya Dita" ucap Theo.


Binar tersenyum bangga ke Theo lalu mencium pipinya Theo, "aku bangga sama kamu, Mas"


Theo terkekeh lalu berkata, "aku menjaga Dita karena, mama dan papanya Dita sangat memercayaiku dan aku sudah menganggap Dita seperti Aulia. Aku berpikir sederhana saja, jika aku menjaga kesuciannya Dita maka Aulia juga akan mendapatkan laki-laki yang akan selalu menghargai kesuciannya"


"Terus?"


"Terus, aku tiba-tiba mendapatkan telepon dari temanku yang melihat Dita masuk ke dalam sebuah kamar hotel dengan laki-laki bule. Aku segera bergegas ke hotel itu dan aku mengetuk pintu kamar hotel itu. Laki-laki bule itu yang keluar dan Dita menyusul hanya mengenakan jubah mandi. Aku segera berbalik badan dan meninggalkan mereka begitu saja dan Dita tidak mengejarku"


"Kamu sedih waktu itu?"


"Lalu?"


"Keesokan harinya, Dita pulang, meminta putus denganku dan mengemas barang-barangnya. Dita memutuskan tinggal bersama pacar bulenya itu. Aku berusaha mencegah, memberinya nasehat agar dia berpikir masak-masak dan mengingat kedua orang tuanya sebelum ia mengambil keputusan tinggal bareng pacar bulenya itu namun, Dita mengabaikan aku dan keluar dari rumah papaku begitu saja dan kami pun hilang kontak"


"Dia setipe denganku ya? aku dan Dita sama-sama ceroboh, impulsif, dan........"


"Beda tentu saja beda" sahut Theo, "Kamu aku cintai dan Dita tidak aku cintai, hehehehe"


Binar tertawa lalu berkata, "lanjutkan cerita kamu!"


"Selang setahun, Dita tiba-tiba datang menangis dengan perut besarnya. Dita berkata kalau pacarnya ternyata pria beristri dan balik ke Jerman begitu saja tanpa menikahi Dita. Aku menghela napas panjang. Aku kemudian merawat Dita sampai dia melahirkan, aku adopsi anak itu menjadi anak angkatku dan Dita tetap tinggal di rumah papaku saat kuliahku telah usai dan aku balik ke Indonesia. Aku terus mengirimi Dita uang untuk kelangsungan hidupnya di Amerika atas seijin papaku"


"Untuk itulah dia namakan putranya Theo karena, Theo adalah nama dewa penolongnya" Binar berucap sambil mengelus pipinya Theo.


Theo mengecup keningnya Binar, "sekarang tidurlah!"


Binar memejamkan mata di dalam pelukannya suami tercintanya.


Aksa bangun tidur dengan rasa mual. Aksa muntah-muntah tanpa sebab. Laki-laki tampan itu menautkan alisnya dan bergumam, "aku makan apa kemarin? kok tiba-tiba mual kayak gini? dan kenapa tiba-tiba aku pengen banget makan alpukat kocok? aku udah gila nih kayaknya"


Aksa memakai kaos putih, kemeja biru, dan celana jins belelnya lalu mengecek email lewat ponsel pintarnya lalu dia melompat ke udara dan berteriak, "yes!" saat membaca balasan email dari Binar Adelard.


Aksa berjalan menuruni tangga sambil bergumam, "foto profil? aduh! foto cewek mana yang akan aku pakai menjadi foto profilku?"


Aksa bertabrakan dengan Monica saat dia menapakkan kaki di lantai bawah karena, dia terus menatap ponselnya. Aksa segera berucap, "maaf" dan menolong Monica untuk bangun dari atas lantai marmer mewah itu.


Monica berdiri di depannya Aksa sambil mengelap kaos dan celana jins-nya dengan telapak tangannya, lalu menatap Aksa sambil tersenyum dia berkata, " aku nggak papa. Kamu nggak papa?"


Aksa tersenyum dan terus menatap Monica.


Monica menunduk untuk melihat pakaiannya lalu melempar pandangan penuh tanya ke Aksa dan bertanya, "ada yang salah dengan penampilanku? kenapa menatapku terus?"


"Umm, aku boleh minta tolong?" tanya Aksa.


"Apa dulu?"


"Umm, aku melamar ke sebuah perusahaan di Indonesia tapi karena suatu hal aku nggak bisa mengatakan kalau aku cowok, aku mengaku kalau aku cewek dan aku butuh foto cewek untuk aku jadikan foto profilku dan.........."


"Kamu mau minta fotoku untuk kau pasang di foto profil kamu itu?"


Aksa tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.


"Aku mau tapi, kamu harus ceritakan detailnya ke aku. Alasan kenapa kamu mengaku sebagai cewek"


Aksa merapatkan bibir dan menatap Monica dengan keraguan.


Monica segera berucap, "ceritakan semuanya atau aku nggak akan kasih foto aku"


Aksa akhirnya tersenyum dan berkata, "baiklah"


Monica tersenyum senang karena, akhirnya dia bisa mulai berteman dengan Aksa. Monica dan Aksa kemudian melangkah menuju ke ruang makan sambil berbincang ringan. Dan atas seijin Monica, Aksa memasang fotonya Monica di foto profilnya dengan nama Silver Butterfly.


"Terima kasih" kata Aksa tulus ke Monica dan Monica tersenyum, "sama-sama tapi jangan lupa kamu berhutang cerita sama aku"


Aksa tersenyum dan berkata, "sepulang kuliah nanti, aku akan cerita ke kamu"


Monica tersenyum lebar ke Aksa dan kakek Felix menatap keakraban keduanya dengan senyum bahagia dan berharap Aksa dan Monica berjodoh.


Darren mencoba masuk ke dalam obrolannya Aksa dan Monica dengan bertanya, "cerita apa sih? aku boleh tahu?"


Aksa dan Monica menoleh ke Darren secara bersamaan dan berkata, "rahasia" secara kompak lalu Aksa dan Monica bersitatap dan tertawa renyah berbarengan.


Darren hanya bisa menghela napas panjang menatap Aksa dan Monica sedangkan kakek Felix ikutan menggemakan tawa renyahnya ke udara.