
Aksa kemudian mengantarkan kakek dan neneknya ke kamar dan di saat ia menutup pintu kamar itu lalu berbalik badan, ia melihat senyum manisnya Monica yang terbingkai di wajah ayunya Monica.
Aksa memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya lalu menatap Monica, "ada apa?"
"Aku senang kamu balik lagi ke rumah dan aku lega kamu nggak kenapa-kenapa"
"Hmm. Terima kasih udah ijin pulang untuk menyambut kakek dan nenekku" ucap Aksa dengan wajah sayu.
"Kamu kenapa? apa kamu sakit? kenapa lesu begitu?" tanya Monica sambil mengangkat, berjinjit dan hendak menyentuh dahinya Aksa namun, Aksa segera melangkah mundur. Monica menarik tangannya kembali dan berucap, "maaf, emm soal pengakuan cintaku kemarin........"
"Maukah kamu menunggu? maaf jika aku egois tapi maukah kamu memberiku waktu? aku belum bisa mengambil keputusan saat ini" Aksa menatap lekat kedua mata lentiknya Monica.
"Berapa lama?"
Aksa mengangkat kedua pundaknya, "entahlah"
Monica menepuk pundaknya Aksa, "oke! aku akan menunggu tanpa batas waktu. Tidak apa-apa jangan kau jadikan beban. Kita biarkan semua mengalir seperti biasanya tapi kumohon jangan menjauhiku dan menutup diri dariku!?"
Aksa merapatkan bibir lalu menganggukkan kepalanya.
"Janji?" Monica mengulurkan jari kelingkingnya ke Aksa.
Aksa menarik tangannya lalu menautkan kelingkingnya ke kelingkingnya Monica, "janji" dan dengan cepat ia tarik kembali kelingkingnya. "Maaf aku lelah, aku akan ke kamar dulu"
Monica tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Aksa melepas jasnya dan ia lempar asal jas itu lalu ia melompat ke atas kasur dengan posisi tengkurap. Aksa membenamkan wajah tampannya di sana lalu berkata kepada dirinya sendiri, "Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? apa aku harus katakan ke kakek dan nenek kalau aku punya anak dari Binar? apa aku tutup dulu rahasia ini? kenapa proses pendewasaan diriku seberat ini? kenapa waktu selalu datang terlambat dan selalu terasa tidak tepat untukku?"
Binar dan Mika masih duduk di bangku di depan ruang operasi. Mika menyuapi Binar semangkuk bubur lalu memberikan segelas teh manis hangat untuk Binar. Karena, kalau tidak disuapi, Binar pasti tidak akan pernah makan.
Binar mengelus pipi kakak cantiknya, "makasih, Kak"
"Aku ke kantin dulu ya, mengembalikan mangkuk dan gelas ini"
Binar tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Kenapa lama sekali operasinya? ini sudah hampir empat jam mas Theo berada di dalam" Binar bangkit dan berjongkok di depan pintu ruang operasi. Ia menyentuh pintu kamar operasi itu dan mengirim doa untuk suaminya yang tengah berjuang antara hidup dan mati di meja operasi. Binar lalu berdiri dan mendaratkan keningnya di pintu ruang operasi dan bergumam, "aku butuh kamu Mas. Aksa sudah kembali dan aku tidak memiliki cukup daya untuk menghadapinya sendirian. Aku butuh kamu, Mas"
Tiga jam kemudian........dokter Hendrik keluar dari dalam ruang operasi dengan masih mengenakan masker dan peluh masih membahasi keningnya, ia menemui Binar.
Binar dan Mika segera bangkit dan menatap dokter Hendrik dengan harap-harap cemas.
"Operasinya berjalan dengan lancar dan baik. Tumor bisa dikeluarkan dengan sempurna"
"Syukurlah" Binar dan Mika saling berpegangan tangan.
"Tapi........"
"Tapi apa Dok?" tanya Mika dan Binar secara bersamaan.
"Kita masih harus menunggu sampai besok perkembangannya. Kalau sampai besok Theo tidak siuman maka itu berarti Theo akan koma untuk waktu yang tidak bisa kita prediksi lamanya. Kalau siuman kita akan lihat apa yang terjadi nanti. Saya permisi" dokter Hendrik berlalu dari hadapannya Binar dan Mika dengan cepat.
Binar dan Mika terduduk di atas bangku secara bersamaan. "sabarlah! kota doakan terus suami kamu semoga besok ia siuman dan tidak terjadi apa-apa"
"Amin" sahut Binar.
Seorang perawat menemui Binar dan berkata, "pasien sudah kami pindahkan ke kamar ICU khusus. VVIP sesuai yang keluarga kalian pesan. Anda bisa menemuinya di sana tapi hanya diperbolehkan satu orang saja yang masuk karena, pasien masih belum stabil kondisinya"
Mika langsung menepuk pundaknya Binar, "dampingi suami kamu! kakak akan antar kamu ke sana"
Binar menggenggam tangan kakaknya lalu mereka berjalan mengikuti langkah perawat tersebut.
Binar masuk ke dalam ruang ICU VVIP tersebut dan berganti baju dengan seragam khusus yang disediakan ruangan ICU tersebut dan Binar pun diharuskan memakai penutup kepala, sarung tangan, dan masker.
Binar lalu berdiri di sebelah bed suaminya. Dia menitikkan air mata melihat wajah tampannya Theo ditempeli banyak sekali last medis dan kepala Theo menjadi gundul dan hampir dipenuhi wound dressing atau perban penutup luka. Bau disinfektan begitu menyengat di ruang VVIP ICU tersebut dan bunyi detak alat medis di sekitar Theo yang tiada henti berbunyi, membuat Binar semakin terpuruk.
Mika kembali ke kamar khusus di mana seluruh keluarganya berkumpul. Ia mengabarkan berita baik kalau operasinya Theo telah selesai dan berjalan dengan lancar namun, Theo masih belum sadar.
"Binar menunggu Theo di ruang ICU karena, hanya diperbolehkan satu orang saja yang masuk dan menunggui pasien" ucap Mika kemudian.
"Mada juga ingin melihat Ayah, boleh?"
Mika berjongkok di depan Mada, "tunggu sampai Ayah kamu dipindahkan ke kamar biasa ya, nanti kamu bisa menunggui Ayah kamu sepanjang hari. Kalau masih di ICU belum boleh"
Mada tertunduk kecewa. Mada begitu merindukan ayahnya dan ingin tidur di sebelah ayahnya malam itu.
David mengangkat Mada ke dalam gendongannya, "kamu lihat wajah opa!"
Mada melihat wajah opa David-nya.
"Wajah opa mirip kan dengan ayah kamu dan bau badan opa juga sama dengan bau badan ayah kamu karena, opa memakai parfum yang sama dengan ayah kamu. Opa juga ingin jadi keren kayak ayah kamu maka Opa pakai parfum yang sama, hehehehe"
Mada tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya, "Opa mirip sama Ayah, bau badannya pun sama. Lalu?"
"Opa akan tidur sama kamu malam ini menggantikan ayah kamu, mau?"
Mada tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan semua yang berada di dalam kamar itu menjadi terharu.
Sebelum kita tidur kita berdoa bareng terlebih dahulu untuk kesembuhannya Theo. Selesai berdoa mereka menuju ke ranjang mereka masing-masing yang sudah tersedia di kamar VVIP yang sangat luas itu.
Mada satu ranjang dengan opa David-nya dan berkat usapan, kehangatan, dan dongeng dari David Revano, Mada bisa tertidur juga akhirnya setelah seharian merengek terus ingin berada di samping ayahnya.
Aries tidur satu ranjang dengan Damian. Mika sekeluarga memutuskan untuk pulang karena, esok harinya dia dan suaminya harus dinas, Arga juga masuk sekolah. Aulia tidur satu ranjang dengan James putra tunggalnya karena, Hendra harus baik ke kantor ada urusan mendadak yang harus diselesaikan malam itu juga.
Keesokan harinya, Aksa pergi ke rumah sakit bertepatan dengan bunyi ayam jantan yang begitu nyaring menyemangati dirinya. Aksa meninggalkan secarik kertas di atas meja makan untuk kakek dan neneknya. Di kertas itu dia menulis kalau ada urusan penting yang harus ia kerjakan jadi tidak bisa menemani kakek dan neneknya sarapan. Aksa begitu bersemangat karena, semalam lewat pesan text Binar mengijinkannya mengantarkan Mada pergi ke sekolah.
Sesampainya di rumah sakit, Aksa langsung menuju ke lantai khusus ruang VVIP, ia sudah berhasil mendapatkan kamar yang dipesan atas nama bapak David Revano. Dia mengetuk pintu itu dan Mada yang membukanya. Mada telah siap berangkat ke sekolah.
Aksa segera tersenyum, berjongkok dan memeluk Mada dengan sangat erat. Damian menyusul Mada keluar lalu menunduk melihat seorang pemuda tengah berjongkok dan memeluk cucu kesayangannya ia segera berkata, "siapa kamu?"
Aksa melepaskan pelukannya lalu berdiri dan tersenyum ke Damian, "pagi Om, saya Aksa Putra Julian.Emm saya diutus kak Binar untuk mengantar Mada ke sekolah"
Damian menautkan alisnya dan segera melangkah keluar dari dalam kamar ketika ia menangkap sesuatu yang tampak janggal. Ia melihat kemiripan wajah yang sangat sempurna antara Mada dan Aksa lalu ia bergumam di bawah kesadarannya, "kenapa kalian berdua sangat mirip?"
Aksa tersenyum, "mungkin hanya suatu kebetulan saja Om, kalau wajah kami sangat mirip. Emm, apa boleh saya mengantarkan Mada ke sekolah sekarang?"
"Kamu putranya Julian ya?"
Aksa menganggukkan kepalanya sembari terus tersenyum.
"Mana buktinya kalau Binar yang menyuruh kamu mengantar Mada ke sekolah?"
Aksa menunjukkan pesan text dari Binar yang ada di dalam ponselnya ke hadapannya Damian.
"Oke! Kamu berkata jujur tapi aku tetap harus ikut. Aku takut cucuku kenapa-kenapa. Ayok berangkat sekarang, takut telat nanti" Damian kemudian melongokkan kepalanya ke dalam dan berteriak ke David yang masih berada di dalam kamar mandi, "aku pergi antar Mada ke sekolah aku nitip Aries, belum bangun dia"
"Ya! hati-hati!" sahut David dari arah kamar mandi.
Aksa terpaksa membiarkan Damian ikut demi mendapatkan kepercayaan Damian karena, untuk hari-hari selanjutnya ia akan terus mengantarkan Mada ke sekolah selama Theo masih dirawat di rumah sakit.
Binar menerima kotak makan dari salah seorang perawat. "Dari siapa Sus?"
"Dari seseorang yang bernama Aksa dia nitip pesan, anda harus jaga kesehatan dan jangan lupa makan. Makanlah dulu nyonya! saya akan jaga suami anda"
Binar tersenyum mengucapkan terima kasih lalu melangkah ke ruangan khusus untuk bersantai, untuk makan, menonton TV, membuat teh dan kopi.
Binar membuka kota makan itu, salad buah dan sayur kesukaannya. Tanpa sadar Binar tersenyum dan bergumam, "dia masih ingat menu sarapan kesukaanku di saat aku kecapekkan" Binar lalu menampar pipinya, "untuk apa aku tersenyum, shit! jangan gila Binar!"