
"Kita berangkat sekarang mbak Binar?" tanya klien wanitanya.
"Aaah, emm, sekarang?" tanya Binar.
"Iya maaf mbak, istri saya ini cantik, imut, menggemaskan tapi orangnya tidak sabaran, heeeee" sahut sang suami dari klien wanitanya Binar itu.
"Baiklah, anda bisa berangkat duluan nanti saya menyusul. Saya mau ambil tas kerja saya dan saya akan ajak salah satu dari anak buah saya" ucap Binar.
"Baiklah kami permisi dulu. Kita tunggu di apartemen baru kami" Suami istri tersebut kemudian bangkit, menyalami Binar dan pergi meninggalkan Binar..
Binar keluar dari ruang meeting mininya dan mengedarkan pandangan. Tampak lengang, semua anak buahnya ternyata ada jadwal keluar semuanya dan hanya tersisa Aksa. Binar bersitatap dengan Aksa dan Aksa langsung bangkit dan berjalan lebar mendekati Binar, "apa yang bisa saya bantu, bos?" Aksa tersenyum lebar ke Binar.
Shit! kenapa dia memiliki senyum yang begitu manis. Binar mengumpat kesal saat menyadari bahwa senyumnya Aksa ternyata merupakan kelemahannya dan dia melayangkan protes ke hatinya yang tanpa ijin darinya, berani berdegup dengan kencang.
"Kak?" Aksa kembali memanggil Binar.
Binar mengangkat kedua pundaknya karena, kaget dan lamunannya pun langsung buyar, "ada apa?"
"Lho kok malah nanya? kakak tadi nampak kebingungan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aksa.
Lela yang tengah beridiri di depan mesin fotokopi tidak jauh dari Aksa dan Binar kemudian menoleh dan berkata, "bos cantik kita itu memang lagi hobi banget melamun, Sa."
Aksa menoleh ke Lela dan mengulum bibirnya.
Binar langsung menoleh dan melotot ke Lela. Lela langsung menggemakan tawanya.
Lela kemudian masuk ke ruang kerjanya Binar dan membawakan tas kerjanya Binar, "ini tas kakak dan ini berkas kontrak kerja sama sudah aku fotokopi rangkap dua"
"Terima kasih" ucap Binar sembari mencangklong tasnya dan mendekap map yang berisi berkas kontrak kerja sama lalu dia menatap Aksa, "kamu bisa menemaniku?"
Aksa langsung tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
Lela mengulum bibir, "Sa, hanya kamu yang aneh di sini. Diajak pergi sama kak Binar tidak ketakutan dan menghindar tapi kamu malah bersemangat, heeee, aneh" Lela langsung melangkah pergi meninggalkan Binar dan Aksa sebelum dia kena semprot protesnya Binar.
Sepeninggalnya Lela, Binar menatap Aksa yang masih mengulas senyum di wajah tampannya, "jangan Ge-Er dulu, aku ajak kamu karena, terpaksa. Enggak ada orang lain selain kamu saat ini" Binar kemudian melangkah mendahului Aksa. Aksa berjalan mengikuti Binar sambil menyambar tas selempangnya.
"Biar aku yang nyetir" pinta Aksa sesampainya mereka di tempat parkir mobilnya Binar.
Binar hanya bisa menghela napas karena, Aksa kembali memakai bahasa informal saat berdua saja dengannya. Binar kemudian menyerahkan kunci mobilnya ke Aksa dan dia masuk ke pintu sebelah kiri untuk duduk di jok penumpang.
Aksa masuk ke belakang kemudi dan secara riba-tiba mencondongkan tubuhnya ke Binar.
Binar langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan dan memekik, "kau mau apa?!"
Aksa terkekeh, "mau pasangkan sabuk pengamannya kakak" Setelah memasangkan sabuk pengamannya Binar dia kembali menegakkan tubuhnya dan memasang sendiri sabuk pengamannya. Aksa mulai menjalankan mobil itu sembari berucap di sela-sela dia melirik Binar yang telah membuka kedua tangan dari wajah cantiknya, "emangnya kakak berpikir aku mau ngapain?"
Binar diam membisu dan tidak menanggapi ucapannya Aksa.
Binar kenapa pikiran kamu selalu nggak jelas kalau berkaitan dengan Aksa? Binar mendengus kesal di dalam hatinya.
Aksa melirik Binar dan kembali terkekeh, "kakak itu polos ya, nggak pernah bersikap basa-basi sama siapapun"
"Sok tahu kamu. Kamu baru beberapa hari ini mengenalku jadi jangan sok tahu soal aku" ucap Binar.
"Aku nggak butuh waktu lama untuk mengetahui karakternya kakak karena, kakak itu selalu nampak apa adanya, nggak bisa berpura-pura, dan impulsif, eh ada satu lagi ding, kakak itu cengeng, pffttt" Aksa mengulum bibir menahan tawanya.
Binar langsung memukul bahunya Aksa dan Aksa langsung melepas bebas tawanya ke udara.
"Kak? kita jadi kan keluar nanti malam?" tanya Aksa sambil melirik Binar.
"Aku kayaknya nggak bisa. Aku ada acara dadakan" ucap Binar.
"Acara apa? segitu pentingnya ya acara itu sampai-sampai kakak batalkan makan malam kita" kekecewaan nampak di wajah tampannya Aksa dan terdengar di suara lirihnya Aksa..
"Aku rasa pertemuan kita nanti malam pun juga tidak penting lagi. Aku sudah dijodohkan. Aku sudah menyetujuinya karena............."
"Kita bicarakan sepulang dari apartemen klien kita" Aksa langsung memotong ucapannya Binar sambil mencengkeram kemudi mobil itu karena, kesal dan cemburu.
Binar menghela napas panjang kemudian membisu.
Sesampainya mereka.di dalam.apartemen kliennya Binar, klien tersebut yang bernama pak Hieran dan ibu Nuk, tersenyum lebar menyambut Binar dan Aksa.
"Waaahhh! sepertinya mereka ini calon pengantin baru selanjutnya" ucap Bu Nuk dengan santainya.
"Uhuk....Uhuk!" Binar kembali tersedak salivanya dan Aksa langsung menepuk pelan punggungnya Binar.
Aksa menatap bu Nuk dengan senyum tampan khasnya.
"Tuh sayang, benar kan kataku. Mereka mesra sekali, kita aja kalah sayang. Mereka berjodoh wajah mereka mirip, sama-sama imut, heeee" bu Nuk kembali berucap dengan kepolosannya
"Amin!" sahut Aksa.
Wajah Binar langsung memerah. Secara spontan bos cantiknya Aksa itu menoleh sekaligus melotot ke Aksa saat mendengar kata Amin keluar dari mulutnya Aksa.
Aksa tersenyum dan mengelus tengkuknya.
Pak Hieran tersenyum lebar lalu berkata ke istrinya, "sayang, berhenti menggoda mbak Binar. Memerah tuh wajahnya, kasihan"
"Hahahaha, iya benar. Maafkan saya mbak Binar udah bikin mbak Binar merona"
Binar hanya bisa melempar senyum canggung ke semuanya lalu menundukkan wajah cantiknya.
Hai hati! berhentilah berdegup lagi seperti ini. Pekik Binar di dalam hatinya.
Kenapa wajah kak Binar langsung merona dan dia langsung menundukkan wajah dan tidak berani menatapku lagi. Apa kak Binar ada rasa sama aku? atau aku hanya Ge-Er selama ini? Tanya Aksa di dalam hatinya, sambil mengeluarkan alat tulis dari dalam tas selempangnya.
Beberapa jam kemudian Binar dan Aksa pamit pulang dan pergi meninggalkan klien mereka.
Binar masuk ke dalam mobil dan dengan segera memasang sabuk pengamannya sendiri. Aksa terkekeh menatap Binar. Aksa terus menatap Binar dan belum melajukan mobil yang mereka tumpangi.
"Kenapa nggak jalan?" tanya Binar.
"Hubungan apa? sudah jela kan aku bos kami dan kamu karyawan magang di perusahaanmu" ucap Binar dengan jelas dan tanpa jeda untuk menutupi kegugupannya.
"Paling nggak kakak bertanggung jawab atas apa yang sudah kakak lakukan" ucap Aksa.
"Tanggung jawab apa?" Binar melepaskan sabuk pengamannya lalu menghadap ke Aksa sambil bersedekap.
"Kakak sudah menciumku, kakak minta sama aku untuk menjadi pacarnya kakak dan kakak sudah mengacak-acak hati dan pikiranku beberapa.hari ini" Aksa mendengus kesal.
"Aku mabuk saat itu katanya kau sudah abaikan semua perkataanku saat aku mabuk" Binar mengalihkan pandangannya. Dia tidak berani menatap Aksa karena, dia masih bingung dengan perasaannya sendiri.
"Aku bohong" ucap Aksa.
"Apa?" Binar masih belum berani menatap Aksa, dia berucap sambil membuka kaca mobilnya dan menatap trotoar.
"Aku bohong kalau aku telah mengabaikan ucapan kakak saat itu. Kakak bilang itu ciuman pertama bagi kakak dan itu juga ciuman pertama bagiku" ucapannya Aksa melirih.
Binar langsung menoleh karena kaget, "be....benarkah itu juga merupakan ciuman pertamamu? bukankah kamu punya pacar? kamu tidak pernah berciuman dengan pacar kamu?"
Aksa menggelengkan kepalanya dengan kejujuran, "aku bersumpah demi apapun di dunia ini, aku belum pernah berciuman dengan Rita, bahkan mengecup bibirnya pun aku belum pernah. Emm, nama mantan pacarku adalah Rita"
Ada rasa bersalah yang begitu dalam di hatinya Binar, "maafkan aku"
"Kakak mabuk saat itu. Aku tidak menyalahkan kakak. Aku hanya butuh kepastian dari kakak" ucap Aksa, "kakak tidak menolakku waktu aku nembak kakak tapi kakak juga tidak memberikan aku kepastian dari hubungan kita"
"Kenapa kamu belum pernah berciuman dengan Rita? berapa lama kalian berpacaran?" tanya Binar.
"Kenapa kakak malah tanya soal itu?" Aksa mengela napas panjang.
"Jawab dulu" pinta Binar.
"Oke! tapi setelah aku jawab, kakak akan kasih kepastian hubungan kita?"
Binar menganggukkan kepalanya.
"Oke! aku dan Rita berpacaran selama setahun lebih. Dia yang nembak aku duluan. Aku menerimanya karena dia baik dan ramah. Aku sayang sama dia, iya aku sayang tapi kalau cinta entahlah. Mungkin karena rasaku ke dia tidak maksimal maka aku tidak bisa menciumnya di bibir karena, tidak ada passion ke sana. Aku cuma mengecup kening, pucuk hidung, kalau nggak kedua pipinya. Itu juga mungkin yang membuatnya akhirnya berselingkuh dariku" ucap Aksa.
"Kamu sedih saat putus darinya?" tanya Binar.
"Rasanya hanya seperti kehilangan seorang sahabat. Aku merasa kehilangan karena, aku dan Rita sering bersama mengerjakan tugas dan berangkat kuliah bersama selama satu tahun lebih. Sekarang aku sudah merasa biasa tanpa adanya Rita. Itu juga karena aku kecewa dia tega berselingkuh" ucap Aksa.
"Apa yang kamu rasakan ke aku sekarang ini?" tanya Binar.
"Aku menyukai kakak. Aku benar-benar ingin menjadi pacarnya kakak. Asal kakak tahu, baru kali ini aku nembak seorang cewek" ucap Aksa serius.
"Aku bilang aku sudah dijodohkan. Bukankah itu sudah menjadi kepastian untukmu" ucap Binar.
Aksa menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "aku butuh kata tidak dari mulut kakak atau kata iya dari mulut kakak. Bukan kata itu"
Binar menghela napas panjang, "aku menyetujui perjodohan itu untuk menghindari Hendra. Hendra masih sering menggangguku dan cowok yang dijodohkan ke aku adalah kakak dari calon istrinya Hendra"
Aksa meraih tangannya Binar lalu menggenggamnya dan Binar membiarkannya.
Aksa tersenyum kemudian bertanya, "apa kakak menyukai laki-laki itu? apa kakak mencintainya?"
Binar mendesah dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau aku?"
"Aku menyukaimu" Binar langsung menundukkan wajahnya karena malu.
Aksa terkekeh lalu mencubit dagunya Binar dan mengangkat wajahnya Binar, "aku menyukaimu dan kamu menyukaiku apa salahnya kalau kita berpacaran sekarang ini?"
"Semua terasa tidak benar bagiku karena aku pihak cewek. Aku sudah dijodohkan dan aku jauh lebih tua dari kamu. Berpikirlah dengan jernih jangan dibutakan oleh cinta"
"Oooo, jadi secara tidak langsung kakak sudah bilang kalau kakak cinta sama aku. Aku tadi bilangnya suka lho kak" Aksa mengulum bibir menahan tawa.
"Kau!" Binar langsung menari tangannya dari dalam genggaman tangannya Aksa.
Aksa kembali menarik tangannya Binar dan kembali dia genggam, "aku nggak suka kalau cinta itu dikatakan buta. Aku lebih suka bila cinta itu dikatakan bertoleransi"
Binar tersenyum ke Aksa, "kenapa begitu?"
"Kalau buta aku nggak mungkin bisa melihat kecantikannya kakak, kepolosannya kakak, imutnya kakak dan.........."
"Tua. Aku jauh lebih tua dari kamu" Binar melengkapi ucapannya Aksa dengan ucapannya.
"Hahahaha, aku tidak pernah melihat umurnya kakak, itu yang aku katakan tadi kalau cinta bertoleransi. Cinta itu saling memahami, menghormati, dan menghargai satu sama lain, itulah maksudku dengan cinta itu bertoleransi. Aku melihat kakak sebagai seorang cewek yang aku suka. Aku nggak peduli dengan perbedaan umur kita" ucap Aksa.
"Bagaimana dengan laki-laki yang sudah aku setujui untuk menjadi calon suamiku?" tanya Binar.
"Apa kakak akan menikah dengannya?" tanya Aksa.
"Tidak!" Binar langsung menggelengkan kepalanya, "kami akan memutuskan perjodohan kami setelah Hendra menikah, tiga bulan lagi" ucap Binar.
"Kita jalani aja masa berpacaran kita selama itu pula" ucap Aksa.
"Tetapi aku tidak bisa mengumumkan kamu ke publik sebagai pacarku" ucap Binar.
"Nggak masalah. Anggap saja aku magang menjadi pacarmu" ucap Aksa.
"Tapi itu nggak adil buatmu" Binar menatap ragu ke Aksa.
"Aku akan menjadi pacar rahasia kamu tapi aku minta jika hubungan kita lancar sampai tiga bulan ke depan, kamu putuskan perjodohanmu dan menikah denganku" ucap Aksa serius.
"Apa?! menikah? aku belum kepikiran untuk menikah denganmu atau dengan siapapun" Wajah Binar langsung pias karena panik mendengar kata menikah.
Aksa terkekeh, "nggak usah panik kak, kalau kakak belum mau menikah ya kakak umumkan ke publik kalau aku adalah pacar kakak. Tiga bulan ke depan jika hubungan kita lancar, kakak harus umumkan ke publik kalau aku adalah pacar kakak dan kakak putuskan perjodohan kakak dengan laki-laki itu!?"
Binar mengangguk ragu sedangkan Aksa langsung memekik girang lalu memeluk Binar, "aku akan menjadi pacar terbaik buatmu"