
Binar bolak-balik ke kamar mandi dan dengan telaten, Theo mengantarkannya ke kamar mandi dan menunggui Binar di depan pintu kamar mandi.
Dan setiap kali Binar merasa haus dan ingin meraih gelasnya, Theo dengan sigap membantu Binar untuk minum dan berkali-kali bertanya, "kamu pengen apa? aku akan pesankan"
"Aku nggak pengen apa-apa. Kamu turunlah dulu ke kantin untuk makan. Aku nggak apa-apa kamu tinggal sebentar"
"Aku nggak mau meninggalkanmu sendirian saat ini. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku udah pesan bakso dan teh hangat kok, bentar lagi diantar ke sini. Aku makan di sini aja, nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa, justru aku berterima kasih kamu mengkhawatirkan aku dan memilih makan di sini"
Saat baksonya datang, Theo hanya kebagian dua pentol bakso saja karena, ternyata Binar mau dan Theo memberikan mangkuk baksonya ke Binar, lalu dengan lahap, Binar langsung menghabiskan semuanya.
Binar menatap Theo, "maaf aku habiskan. Kamu nggak pesan lagi?"
Theo menggelengkan kepalanya, "aku udah kenyang saat melihat kamu makan dengan lahap tadi"
"Heeee, maaf. Aku nggak nyangka kalau aku doyan Ama bakso yang kamu pesan. Habisnya kamu makan di depanku tadi begitu nikmat bikin aku pengen, heeee"
"Nggak apa-apa. Sekarang tidurlah!" ucap Theo.
Selang satu jam kemudian, Theo terus menepuk-nepuk punggungnya Binar dengan penuh kelembutan ketika Binar muntah-muntah di wastafel. Theo kemudian memapah Bina kembali ke ranjangnya lalu menaruh kembali kantong infus ke tempatnya.
Binar menatap Theo, "maafkan aku telah merepotkanmu. Maaf kamu ikutan begadang karena, aku"
Theo tersenyum tulus ke Binar sembari duduk di kursi, di samping bed-nya Binar, dia berucap, "jangan hiraukan aku! istirahatlah! aku akan menjagamu dan jangan sungkan untuk meminta tolong apapun ke aku"
Binar tersenyum dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya.
Theo memandangi wajah Binar dengan rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Ada rasa kecewa, sedih, dan rasa prihatin. Theo berdoa semoga Aksa bisa menerima kehamilannya Binar dan berbaikan dengan Binar sehingga Aksa bisa segera menikahi Binar.
Theo tersenyum bahagia saat melihat Binar akhirnya bisa tertidur dengan sangat nyenyak.
Theo bangkit dan melangkah ke sofa. Dia merebahkan dirinya di sofa itu dan mulai memejamkan kedua matanya.
Theo terbangun tepat di pukul enam pagi dan ranjangnya Binar kosong. Theo langsung bangun dan berteriak panik, "Binar? kamu di mana?"
Binar membuka pintu kamar mandi dan telah memakai kembali bajunya yang semalam karena, dia tidak sempat membawa baju ganti dan Theo tidak berani mengambilkan baju ganti ke rumahnya karena, ada Miko alias Mimi.
"Apa?" sahut Binar, "aku di kamar mandi ngapain kamu berteriak sekencang itu?"
"Fiuuuhhh, lega aku. Aku kira kamu hilang diambil sama alien, heeeee"
"Dasar gila" Binar terkekeh lalu duduk di sofa. Theo ikutan duduk di sebelahnya Binar dan langsung menautkan alisnya, "lho, infusnya kok udah dilepas? kamu udah nggak pusing, nggak mual, nggak lemas?"
Binar tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "aku baik-baik saja dan jam sembilan nanti aku sudah minta ijin pulang sama suster dan suster menyampaikannya ke dokter yang menangani aku dan dokter itu sudah memberikan ijinnya. Kita pulang jam sembilan nanti" ucap Binar.
"Kok pulang? kita nggak menemui Aksa ke kantormu? bukankah kamu perlu berbicara empat mata.dengannya? aku akan mengantarmu dan aku akan menunggu di parkiran mobil" ucap Theo.
"Aksa sudah memberikan surat pengunduran diri dan dia kirim via email tadi pagi" desah Binar penuh dengan kesedihan.
"Pengunduran diri? lho? lalu ujian skripsi-nya? bukankah harus kelar magang dulu baru boleh ikut ujian skripsi lalu wisudanya gimana? bukankah sayang kalau harus berhenti di tengah jalan?" Theo mengerutkan dahinya di depan Binar.
"Dia mengatakan di surat pengunduran dirinya kalau dia lanjut magang di perusahaan papanya" ucap Binar.
"Perusahaan papanya? papanya punya perusahaan? siapa nama papanya?"
Binar menghela napas panjang karena, dia merasa berat untuk mengucapkan nama dari papanya Aksa, lalu dia menjawab pertanyannya Theo, "namanya Kenzo Julian"
"Hah? dia putranya seorang konglomerat terkenal, Kenzo Julian? tapi kenapa dia magang di tempatmu kenapa dia tidak.........."
Binar menoleh ke Theo dengan sorot mata penuh kekesalan dan Theo langsung mengunci mulutnya rapat-rapat, lalu meringis dan menggaruk kepalanya, kemudian berkata, "maaf! aku banyak tanya, heeeee"
"Kita langsung pulang saja"
"Nggak boleh gitu dong. Kasihan anak kamu dan Aksa berhak tahu. Kamu nggak boleh egois. Kita ke perusahaan papanya Aksa. Aku tahu tempatnya" ucap Theo.
"Tapi........"
"Aku akan menemani kamu, nggak usah takut. Kenzo Julian itu berteman akrab dengan papaku tapi papaku lebih suka berteman dengan papamu karena, Kenzo Julian itu orangnya kaku dan nggak asyik, heeeee. Tapi aku nggak takut sama dia, dia kenal baik kok sama aku dan dia respect sama aku jadi kamu nggak usah takut! ada aku" ucap Theo sambil menepuk dadanya.
Binar tersenyum lebar ke Theo sambil menganggukkan kepalanya. Walaupun Theo super ceriwis namun, entah kenapa Binar merasa nyaman dan merasa terlindungi saat Theo bersama dengannya.
Dokter wanita, dokter spesialis kandungan, yang menangani Binar melakukan visitasi ke kamar rawat inap ya Binar dan tersenyum lebar saat dia mengetahui Binar sudah membaik dan sudah bersiap untuk pulang. Dokter itu pun berkata, "saya ijinkan anda pulang. Minum vitamin dan obat penguat kandungan dengan rutin dan jika ada keluhan sekecil apapun langsung temui saya!"
"Baik dok. Terima kasih untuk bantuan dokter dan perhatiannya dokter" sahut Binar.
"Sama-sama dan anda pak, anda harus jadi suami siaga" ucap dokter wanita itu sambil mengulas senyum ramahnya ke Theo.
Dokter spesialis kandungan itu kemudian pamit dan pergi meninggalkan kamar rawat inap ya Binar. Setelah menyelesaikan semua administrasinya, Binar diantar Theo menuju ke perusahannya Kenzo Julian.
"Kamu lapar? kita sarapan dulu? aku lihat kemarin kamu muntah terus dan masih tertolong infus jadi kamu nggak lemas tapi sekarang kamu udah lepas infus jadi harus makan" ucap Theo.
"Baiklah" ucap Binar dengan suara lemas.
"Kamu pengen apa?" tanya Theo.
"Emm, apa ya? aku malas makan sebenarnya" ucap Binar. Dia merasa sedih sekaligus diserang kebingungan yang begitu besar. Dia juga takut menerima penolakan dari Aksa nanti.
"Kamu harus makan demi anak kamu. Ingat kamu udah berbadan dua sekarang" kata Theo.
"Baiklah. Emm, makan bubur ayam saja" ucap Binar.
"Aaahh! aku tahu ada bubur ayam enak di dekat perusahannya Kenzo Julian. Kita mampir dulu ke sana"
Binar menoleh ke Theo dan sambil tersenyum dia berucap, "terima kasih banyak untuk semuanya dan maaf......."
"Kita ini teman. Teman nggak ada kata maaf dan terima kasih" ucap Theo.
Binar terkekeh lalu menepuk pelan bahunya Theo, "kalau teman tanpa kata maaf dan terima kasih, itu namanya teman nggak tahu diri, hmm, dasar kamu ini"
Theo ikutan terkekeh dan menoleh sekilas ke Binar, "aku senang kamu bisa tersenyum dan tertawa seperti ini. Kamu harus bahagia karena, jika kamu sedih, anak kamu bisa merasakannya"
Binar tersenyum dan sambil memegang perutnya, dia berucap, "dia masih sangat kecil, perasaannya belum terbentuk jadi aku rasa jika saat ini aku sedih, khawatir dan bingung maka, masih aman dan tidak akan berpengaruh ke anakku"
"Tetap saja dia bisa merasakannya. Makanya kamu harus selalu gembira biar anak kamu nantinya lahir ke dunia ini menjadi anak yang ceria" ucap Theo.
Binar membisu dan terus mengelus perutnya yang masih datar.
Maafkan mama nak, kamu harus tumbuh di rahim mama di saat papa kamu memusuhi mama dan menjauhi mama. Batin Binar.
Mereka akhirnya sampai di depan warung bubur ayam. Dan benar kata Theo, Bubur ayam di warung itu sangat enak. Binar menghabiskan dua mangkuk bubur ayam dan dia bisa melupakan sejenak kesedihan dan kekhawatirannya di saat dia menikmati kelezatan bubur ayam itu.
Selang setengah jam, mereka berdiri di depan meja resepsionis di dalam perusahaannya Kenzo Julian.
"Katakan kalau Theo Revano ingin bertemu"
Theo kemudian menoleh ke Binar, "kamu duduk di sini aja dulu. Tunggu aku dan jangan ke mana-mana! Aku akan menemui Kenzo dan Pulgoso eh Aksa terlebih dahulu"
Binar tersenyum, menganggukkan kepala dan duduk di sofa yang ada di samping meja resepsionis itu.
Di saat Theo hendak melangkah masuk dia berpapasan dengan Kenzo Julian. Kenzo tidak melihat keberadaannya Binar karena, Binar tertutup meja resepsionis yang sangat besar itu.
"Theo?" sapa Kenzo.
Binar langsung membeku mendengar suaranya Kenzo.
"Om, apa kabar?" tanya Theo dengan senyum ramahnya dan dia langsung menyalami Kenzo.
"Baik. Kamu ada keperluan apa kemari?"
"Emm, saya ingin bertemu dengan Aksa sebenarnya"
"Ooooo, Aksa tidak ada di sini. Aksa terbang ke Amerika. Dia ambil beasiswanya dan terbang dini hari tadi ke Amerika, jadi om akan ke kampusnya Aksa sekarang untuk mengurus semuanya. Aksa menugaskan om untuk mengurus surat-surat dan semua prosedural yang diperlukan"
"Tapi om, putra om, Aksa......dia telah........."
"Selamat siang om" sapaan Binar ke Kenzo memotong ucapannya Theo.
Kenzo melirik sekilas ke Binar kemudian menoleh ke Theo, "maaf om buru-buru. Lain kali kita ketemu lagi" dan bergegas meninggalkan Theo dan Binar tanpa menjawab sapaannya Binar.
Theo berbalik badan dan memegang kedua bahunya Binar, " kenapa kamu mencegah aku mengatakan soal kehamilan kamu ke Kenzo? dan kenapa tidak kau katakan sendiri ke Kenzo?"
Binar berkata lirih, "Aksa telah pergi jauh untuk apa aku katakan soal kehamilanku ini"
Theo kemudian meraup wajahnya, "lalu sekarang gimana? kita susul Aksa ke Amerika? aku akan pakai pivate jet-nya papa"
"Nggak! ini nggak ada kaitannya denganmu jadi jangan libatkan diri kamu dan jangan libatkan papa kamu. Aku tidak mau merepotkan semuanya"
"Lalu apa mau kamu sekarang?"
Binar hanya bisa mengangkat kedua pundaknya dengan wajah penuh kesedihan.