My Pretty Boss

My Pretty Boss
Kita Bisa Berpacaran



Binar menekan dalam-dalam pedal gasnya karena, kesal. Tiba-tiba ada sirene mobil polisi terdengar begitu dekat di telinganya dan mobil polisi tersebut menghadang mobilnya.


Binar langsung mengerem mobil sedan merahnya, "shit! kena tilang deh. Huufftttt sial sekali aku hari ini, aarrgghhhh!" Binar meraup rambutnya dengan kedua tangannya dan.....Tok tok tok.....Jendela kaca mobilnya diketuk oleh petugas kepolisian tersebut. Binar membuka kaca mobilnya, tersenyum dan bertanya, "saya tahu saya salah, saya ngebut dan saya kena tilang. Berikan saja surat tilangnya dan saya akan ke pengadilan kapan?" Binar menengadahkan telapak tangannya tanpa memandang petugas kepolisian tersebut.


"Maaf nona, bisakah anda keluar dulu?" pinta petugas kepolisian itu.


Binar mendengus kesal lalu meraih jaket putihnya dan dia kenakan untuk menutupi baju kerjanya yang kotor kena cipratan genangan air hujan. Binar membuka pintu mobilnya dan melangkah turun sambil menutup kembali pintu mobilnya.



Petugas kepolisian tersebut memberikan senyuman ke Binar, "apa kabar Binar?"


Binar mengernyit, "apa kamu Damar? Damar Atmaja?"


Laki-laki tampan dengan seragam dina kepolisan itu pun tersenyum lebar ke Binar sambil menganggukkan kepalanya.


Binar langsung memeluk laki-laki tersebut tanpa ragu dan sungkan karena, Damar adalah sahabatnya semasa SMA. Damar terkekeh dan membalas pelukannya Binar.


Binar kemudian menarik diri dari pelukannya Damar lalu menepuk bahunya Damar, "kenapa kau tak datang ke reuni kemarin? aku sendirian di sana dan kesepian" Binar langsung mengerucutkan bibirnya.


"Kan ada Hendra, dia pasti datang, kan?" tanya Damar dengan sorot mata penuh selidik.


"Jangan sebut nama dia lagi!" Binar mendengus kesal, "emm, aku kena tilang ya? mana surat tilangnya terus kapan aku sidang?"


"Kamu tidak kena tilang kok. Aku hapal mobilmu. Aku hanya ingin menyapamu. Kamu ingat terakhir kita ketemu, kamu aku tilang kan?" Damar kemudian tertawa lirih, "ini semacam Dejavu bagiku"


Binar langsung tergelak geli, "iya Dejavu juga bagiku. Huffttt, aku sepertinya terlahir di dunia ini untuk menciptakan suatu masalah ya, hahahaha" Binar tertawa kecut.


"Ada apa? kamu sepertinya sedang ada masalah yang sangat berat" Damar menunduk untuk melihat lekat kedua bola mata indah miliknya Binar.


"Kamu bisa tidak makan siang denganku? aku akan curhat sama kamu" kata Binar.


"Emm, aku masih dinas nih. Aku longgar nanti sore. Kita makan malam saja gimana?" Damar tersenyum ke Binar.


"Oke, jam delapan malam aku tunggu di resto Bambu" Binar tersenyum lebar ke Damar.


"Oke" sahut Damar sambil membentuk huruf O dengan jari-jarinya dan dia arahkan ke Binar.


"Well, aku pergi kalau begitu, sampai ketemu nanti malam" Binar menepuk kembali bahunya Damar lalu masuk ke dalam mobilnya dan Damar menutupkan pintu mobilnya Binar sembari berucap, "hati-hati dan jangan ngebut!"


"Oke" Binar menoleh ke Damar sambil memakai sabuk pengamannya dan melambaikan tangan ke Damar sambil melajukan mobilnya pelan-pelan.


Damar menatap kepergian mobilnya Binar, "dia masih sangat imut dan cantik. Sayangnya hatinya hanya untuk Hendra Herlambang" ucap Damar pada dirinya sendiri.


Binar makan siang di kedai sederhana yang menawarkan ramen, makanan kesukaannya selain mie ayam. Setelah mengabiskan ramen seafood-nya dia pun kembali ke kantornya.


Binar melangkah lebar menuju ke ruangannya namun dicegah oleh Lela, "kak, ada klien di ruang meeting"


"Siapa?" tanya Binar.


"Dia hanya mengatakan kalau dia dari..........."


"Aku sudah menunggumu dari tadi" Hendra keluar dari ruang meeting perusahannya Binar saat mendengar suara langkah kaki dan suaranya Binar yang sangat dia hapal.


Binar melotot ke Lela lalu melotot ke Hendra Herlambang.


"Apa salahku? kenapa kakak melotot ke aku?" Lela melayangkan protes ke Binar.


Binar hanya mendengus kesal lalu melangkah mendahului Hendra, masuk ke dalam ruang meetingnya.


Hendra tersenyum lebar dan mengikuti langkahnya Binar, "aku bahkan hapal suara derap langkah kaki dan suara merdu kamu saat mengeluarkan kata-kata barusan. Itu bukti kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu" Hendra berucap sembari duduk di sofa di depannya Binar.


"Nggak usah sebut kata cinta lagi! ada perlu apa kamu kemari?" tanya Binar sambil melempar tas kerjanya di atas sofa.


"Kau makin cantik kalau marah" ucap Hendra sambil tersenyum.


"Hendra Herlambang! kalau kamu terus seperti ini maka aku akan menyuruh satpam untuk menyeretmu keluar dari kantorku"


"Hahahahaha, oke! walaupun aku jujur dan tulus mengatakan semuanya tadi tapi, aku akan mulai bicara bisnis sama kamu saat ini" ucap Hendra Herlambang.


Binar bersedekap dan menatap tajam ke Hendra dengan wajah datar.


"Aku serius ingin memakai desain dari perusahaanmu untuk pembangunan hotel kami" ucap Hendra.


"Berapa nominal yang kau tawarkan? asal kau tahu desainku sangat mahal"


"Aku nurut aja sama kamu. Kamu akan buka harga berapa aku akan mengiyakan" Hendra tersenyum penuh arti ke Binar.


"Aku akan profesional. Sebentar aku ambil beberapa contoh desainku beserta bahan-bahannya" Binar berdiri untuk keluar dari ruang meeting tersebut meninggalkan Hendra Herlambang dan di saat dia membuka pintu ruang meeting dia melihat Lela dan Aksa berdiri di depan pintu itu, "kalian kenapa berdiri di sini?" Binar berucap sembari menutup kembali pintu ruang meeting itu.


"Apa dia Hendra Herlambang?" tanya Lela dan Aksa secara bersamaan lalu Aksa dan Lela pun bersitatap.


"Bukan urusan kalian. Emm, Aksa kamu punya desain terbaru dari karya kamu? aku belum sempat bikin lagi yang baru" ucap Binar.


Lela langsung balik ke ruangannya dan Aksa tersenyum ke Binar, "ada tapi di apartemen saya. Kalau anda membutuhkannya saya bisa menggambarnya secara langsung di depan klien kita"


"Oke, ikut aku masuk ke dalam" Binar membuka kembali pintu ruang meetingnya dan mempersilakan Aksa untuk masuk mendahuluinya.


"Kenalkan ini Aksa karyawan magang di sini. Dia masih fresh untuk ide-ide desainnya dan kata kak Mika dia sangat cerdas. Aku tinggalkan kalian berdua. Kamu bisa utarakan kemauan kamu biar Aksa yang menggambarnya" Binar langsung memutar badan dan pergi begitu saja meninggalkan Aksa dan Hendra.


"Kamu masih muda dan sangat tampan. Terlihat cerdas pula" ucap Hendra sambil memberikan senyum ke Aksa, "aku Hendra Herlambang"


Aksa langsung mencengkeram erat pensil yang tengah dia pegang dan menatap kesal ke Hendra Herlambang.


Jadi ini yang namanya Hendra Herlambang. Gagah dan tampan. Aku bisa kalah saing nih. Batin Aksa.


"Kenapa kamu nampak begitu tidak menyukaiku?" tanya Hendra heran.


Aksa hanya tersenyum dan berucap, "kita mulai saja, apa yang ada di benak anda untuk desain hotel anda dan saya akan menggambarnya"


Hendra mulai mengutarakan ide-idenya untuk desain hotel barunya dan mengutarakan keinginannya supaya perusahannya Binar memakai bahan-bahan yang berkualitas super. Hendra tidak keberatan dengan harganya.


Aksa manggut-manggut sembari terus menggambar. Setelah selesai, Aksa menyodorkan hasil desainnya ke Hendra dan Hendra langsung menyukainya, "benar kata kak Mika, kamu memang cerdas dan berbakat"


"Anda juga mengenal bu Mika, kakak perempuannya kak Binar?" Aksa bertanya dengan penuh kecemburuan.


"Iya. Aku dan Binar sangat dekat jadi otomatis aku pun kenal dengan kakaknya Binar, kenapa memangnya?" tanya Hendra dengan heran ke Aksa.


Aksa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya lalu dia berdiri, "karena anda menyukai desain saya maka mulai hari ini kita akan bekerjasama"


Hendra bangkit dan bertanya, "lho, aku nggak akan pergi dengan BInar? bukan Binar yang akan mengeksekusi desain ini?"


"Aku rasa tidak. Saya yang akan pergi ke Bali untuk mengeksekusi gambar desain saya" ucap Aksa lalu pamit pergi meninggalkan Hendra begitu saja.


Hendra menghela napas panjang karena kecewa. Dia sungguh berharap bisa berduaan saja dengan Binar saat dia dan Binar menggarap pembangunan hotel barunya yang ada di Bali.


Hendra kemudian merapikan jasnya dan melangkah keluar dari ruang meeting tersebut. Dia berbelok dan mengetuk pintu ruangannya Binar. Binar keluar dan menutup pintu ruangannya, dia tidak mengijinkan Hendra untuk masuk ke dalamnya.


Hendra tersenyum kecut dan berucap, "aku pamit, untuk nominalnya aku ngikut aja. Aku suka desainnya Aksa tadi dan aku mau pakai desain itu untuk hotelku"


"Oke! terima kasih untuk kerja samanya" Binar mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan Hendra menyambutnya. Hendra menggenggam erat tangannya Binar dan menatap lekat wajah cantiknya Binar dengan penuh arti. Dengan sigap Hendra membuka pintu ruangannya Binar dan mendorong Binar untuk masuk ke dalam bersamanya.


Hendra menutup pintu ruangannya Binar dan menarik tubuh rampingnya Binar ke dalam dekapannya. Hendra mengunci tangannya Binar ke belakang tubuhnya Binar sehingga Binar tidak bisa bergerak untuk menyerangnya.


"Lepaskan aku!" Binar menggertakkan giginya dan melotot tajam ke Hendra.


Alih-alih melepaskan Binar, Hendra mencium bibirnya Binar. Namun Binar tidak membalas ciumannya Hendra alih-alih dia menggigit bibirnya Hendra sampai Hendra melepaskan kuncian bibirnya di bibirnya Binar.


"Kau menggigitku? bukankan kau senang, aku memberikan ciuman pertama untuk kamu"


"Cih! ciumanmu tadi bukan ciuman pertama bagiku"


Hendra menatap tajam ke Binar, "jadi benar kamu sudah punya pacar. Katakan siapa pacar kamu? katakan!" Hendra mulai berteriak karena, cemburu dan teriakannya Hendra itu membuat Aksa yang baru tiba dari ruang fotokopi langsung menerjang masuk ruang kerja. ia cantiknya.


Aksa langsung menegang, meradang penuh amarah ketika melihat bos cantiknya berada di dalam dekapannya Hendra Herlambang dan Aksa melihat ada darah mengering di bibirnya Hendra.



Shit! berani benar dia mencium kak Binar dan syukurin kak Binar menggigitmu. Aksa berkata di dalam hatinya sembari melepas kemeja kerjanya dan dia hempaskan kemeja itu dengan asal di atas lantai.


Hendra dan Binar menoleh menatap Aksa dan Hendra langsung melepaskan Binar.


Aksa melesat dan mendaratkan bogem mentah di wajah tampannya Hendra.


Hendra mundur beberapa langkah ke belakang dan mengusap darah yang keluar di sudut bibirnya. Hendra menyeringai dan melesat hendak meninju Aksa namun dengan sigap, Binar berdiri di depannya Aksa. Binar melindungi Aksa dari tinjunya Hendra dan berucap, "pergi!" Binar menatap tajam ke Hendra.


"Aku akan pergi tapi aku akan tetap berjuang memenangkan hatimu" Hendra melangkah pergi meninggalkan Aksa dan Binar.


Binar memutar badan dan memeriksa buku-buku jarinya Aksa, nampak memerah.


Binar mengangkat wajahnya untuk menatap Aksa yang tingginya 185 centimeter jauh lebih tinggi dari Binar, "kau tidak apa-apa? sini biar aku obati memar ini" Binar menarik tangannya Aksa dan mengajaknya duduk di sofa.


Binar mengambil salep untuk memar dari dalam kota obatnya dan mengoleskan dengan pelan di buku-buku jarinya Aksa.


"Kenapa kakak membiarkan dia mencium kakak? kakak masih menyukainya? masih mencintainya?" tanya Aksa.


"Dia yang tiba-tiba menciumku. Terima kasih kamu sudah menolongku" ucap Binar.


"Kenapa kakak melindungiku tadi? harusnya kakak biarkan saja saya berduel dengan si brengsek tadi. Kenapa kakak melindungi saya? apa kakak sudah ada rasa untuk saya dan ini, kakak juga mengobati memar saya, kenapa kakak peduli sama saya?" Aksa menatap lekat ke Binar dan Binar tidak berani membalas ucapannya Aksa alih-alih bangkit dan mengambil kemejanya Aksa, "pakailah! hari ini dingin"


Aksa memakai kembali kemejanya dan terus menatap Binar yang masih menghindari tatapannya.



Aksa kemudian tersenyum dan berucap, "aku akhirnya putus dengan pacarku, kak. Aku single sekarang. Jika kakak ingin kita berpacaran aku rasa sah-sah saja" ucap Aksa dengan polosnya sambil terus mengulas senyum di wajah tampannya.


Blush.........Binar langsung merona malu.