My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aku Bahagia



Theo melangkah gontai menuju ke parkiran mobilnya. Andik sang asisten pribadinya langsung berlari kecil menyambut kedatangan bosnya, "bos ada apa? kok mukanya ditekuk dan punggung bos melengkung empat puluh lima derajat gitu? ada masalah serius ya?" ucap Andik sembari melangkah masuk ke dalam mobil.


Alih-alih menanggapi Andik, Theo bergumam dengan sendirinya, "kalau aku tidak menjaga nama baik kamu, serigala muda itu sudah aku ajak duel. Dasar sial! kenapa aku diharuskan bersaing dengan pemuda yang masih sangat muda"


"Bos, ada apa?" Andik menoleh ke bosnya.


Theo menghela napas panjang lalu berucap, "nggak ada apa-apa jalankan saja mobilnya. Mampir ke pet shop ya, aku mau beli calon pengantin wanita untuk Bronzo"


Andik mengerutkan dahi sembari mengemudikan mobil lalu menoleh sekilas ke bosnya, "siapa Bronzo? cari calon wanita kok ke pet shop, bos?"


"Bronzo itu anjing milik calon istriku. Biar dia tidak menggangguku di saat aku mengobrol dengan calon istriku maka, aku Carikan dia calon istri juga" sahut Theo dengan santainya.


"Ooooo, heeeee" Andik menoleh sekilas ke bosnya lalu meringis, "ide bagus itu bos"


"Ideku memang selalu bagus" Theo tersenyum lebar ke arah Andik.


Aksa menutup pintu ruangannya Binar lalu melangkah dan duduk di depan meja kerjanya Binar. Aksa masih mengeraskan wajahnya dan menatap Binar dengan sangat tajam.


Binar beberapa kali menghela napas panjang kemudian berucap, "maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu aku hanya bingung dan masih belum percaya diri untuk mengungkapkan hubungan kita ke publik. Alsannya tidak di kamu tapi di aku. Aku ini jauh lebih tua dari kamu dan.........."


"Kamu nggak serius dengan hubungan kita, masa magang berpacaran kita pun kamu anggap hanya main-main dan kamu akan berencana putus denganku setelah masa magang selesai, begitu?" kekesalan terdengar di nada bicaranya Aksa.


"Bukan begitu" Binar berucap lirih dan mulai menundukkan wajah cantiknya.


"Aku merasa kalau hanya aku yang bersemangat dengan hubungan kita dan hanya aku yang berupaya untuk menjaganya agar berjalan dengan lancar. Jangan-jangan kamu berencana untuk menyembunyikan hubungan kita ini untuk selamanya?" Aksa berucap dengan kesal.


Binar mengangkat wajah cantiknya, "apa yang selamanya? A....a.....apa kamu berencana untuk berpacaran denganku se....se.....selamanya?"


Aksa tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, "kalau masa magang tiga bulan berpacaran kita telah selesai dan berjalan dengan lancar, aku berencana untuk menjadi pacarmu selama-lamanya"


Blush


Binar merona malu. Seorang pemuda yang usianya jauh di bawah usianya mengatakan kalau ingin menjadi pacarnya selamanya.


"Tapi apa kata publik nanti? aku jauh lebih tua dari kamu" Binar kembali menundukkan wajah gamangnya.


"Yang menjalani kita. Kalau kita enjoy dan saling cinta, untuk apa kita peduli dengan pendapat publik" ucap Aksa serius.


Binar mengangkat kepalanya dan menatap Aksa, "aku yang belum bisa percaya diri berdiri di sampingmu. Aku pasti terlihat sebagai wanita yang tidak tahu malu yang.........." Binar mulai terisak dan tidak melanjutkan ucapannya.


Aksa kemudian bangkit dan menghampiri Binar. Aksa berdiri di sebelah kursinya Binar lalu memeluk Binar, "jangan dipikirkan terlalu serius! kita jalani saja dulu hubungan kita ini" Aksa kemudian menghela napas panjang, "aku sungguh menginginkan kamu putuskan perjodohanmu dengan serigala tua tadi. Tapi setelah kupikirkan lagi, mungkin memang benar keputusanmu karena, Hendra kemarin tidak takut denganku dan Hendra masih tetap mendekatimu padahal aku sudah daratkan bogem mentah di wajahnya. Jadi ya memang hanya si serigala tua itu yang bisa menjagamu sementara dari Hendra. Demi keselamatanmu aku ijinkan kamu tetap menjalani perjodohanmu. Tapi, ada tapi lagi nih, aku minta sama kamu, kamu jangan kasih kesempatan ke serigala tua tadi untuk merangkulmu seperti ini, untuk menenangkanmu seperti ini dan.............."


Binar semakin hebat tangisnya dan memeluk erat Aksa. Aksa tersenyum lalu menunduk untuk mencium pucuk kepalanya Binar, "Binar, aku rasa aku sudah mulai mencintaimu"


Binar menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah tampannya Aksa. Aksa menunduk menatap Binar lalu mengusap air matanya Binar dengan kedua tangannya lalu berucap, "jangan menangis lagi!"


"Aku minta maaf aku nggak bisa memutuskan perjodohanku dengan Theo karena, Hendra benar-benar takut dan hormat sama Theo jadi kalau aku masih memiliki status sebagai calon istrinya Theo maka Hendra tidak akan menggangguku lagi" Binar masih menengadahkan wajahnya dan masih menatap Aksa.


Binar tersenyum dan berucap, "aku hanya mencintaimu" tanpa dia sadari dia ucapkan kata cinta.


Aksa tersenyum lebar dan menatap Binar dengan penuh arti.


"Ada apa?" tanya Binar.


"Apa benar kamu mencintaiku?" tanya Aksa sambil mengusap-usap kepalanya Binar dengan kedua tangannya.


Binar berucap "tidak. Aku belum mencintaimu" lalu menundukkan wajahnya.


Aksa mencubit dagunya Binar dan mengangkat wajahnya Binar, "aku sudah mendengarnya maka percuma saja jika kamu berkilah, pffttt"


Binar semakin memerah wajahnya dan membuat Aksa nekat mencium bibirnya Binar karena, gemas menatap wajah imutnya Binar yang tengah merona malu.


Ciuman yang lembut, penuh perasaan namun penuh kehati-hatian. Binar membeliak untuk sepersekian detik kemudian memejamkan kedua matanya. Di awal sentuhan bibirnya Aksa, Binar membeku dan tidak bereaksi namun ciumannya Aksa berhasil membiusnya menjadi tidak sadarkan diri ketika dia membalas ciumannya Aksa dan merasakan desiran hangat yang luar biasa di sekujur tubuhnya seolah menginginkan sang waktu membeku dan mengabadikan ciuman yang pertama bagi kedua insan penuh cinta itu.


Aksa kemudian menarik bibirnya dan menatap Binar yang masih membuka bibir dan memejamkan kedua matanya. Aksa mengusap lipsticknya Binar yang berantakan di sekitar bibirnya Binar sambil tersenyum penuh cinta lalu merapikan rambutnya Binar dan berucap, "maaf jika aku tidak lihai melakukannya. Ini pertama kalinya aku mencium seorang wanita di bibir"


Binar membuka kedua matanya, menengadahkan wajah imutnya, dan pandangan penuh cintanya beradu dengan pandangan mesranya Aksa, "aku juga nggak tahu ciuman yang lihai itu yang seperti apa, heeee. Aku juga baru pertama kali ini berciuman dengan seorang pria dan thank God, pria yang berciuman denganku sangatlah tampan, heeee"


Aksa terkekeh, "apa kamu sudah memakan cokelat yang aku berikan?" tanya Aksa sambil menangkup wajah cantik kekasih hatinya itu.


Binar menggelengkan kepalanya, "maaf belum sempat aku cicipi cokelatnya. Tapi kenapa kamu tanyakan hal itu?"


"Percuma aku kasih cokelat ya, ternyata tanpa makan cokelat, aroma kamu sudah manis semanis cokelat" Aksa tersenyum menatap Binar lalu mencium keningnya Binar dan bangkit.


Binar kembali merona malu dan memukul bahunya Aksa yang semakin melebarkan senyum tampannya.


Aksa mengusap rambutnya Binar, "aku keluar dulu, kelamaan berduaan denganmu bisa kacau pikiranku, heeee" Aksa kemudian keluar dari dalam ruangannya Binar dan Binar menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menggoyang-nggoyangkan kursi kerjanya yang beroda, saking bahagianya mendapatkan ciuman hangat, lembut, dan penuh cinta untuk pertama kalinya di sepanjang hidupnya.


Aksa berdiri mematung di depan pintu ruang kerjanya Binar ketika mendapatkan ada sepuluh pasang mata tengah menatapnya penuh simpati.


Boy berucap ke Aksa, "kau tidak apa-apa kan?"


Aksa tersenyum kemudian melangkah menuju ke kursinya lalu menatap ke semuanya, "aku tidak apa-apa"


"Kamu tidak dimarahi kan sama kak Binar?" tanya Ratna.


Aksa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil membuka laptopnya.


"Syukurlah" sahut semua koleganya Aksa dan Aksa semakin melebarkan senyumannya.


Aku tidak apa-apa teman-teman. Justru aku merasa sangat bahagia saat ini. Batin Aksa.