
Binar masuk ke ruang tidurnya Theo dan Mada. Binar tertegun melihat Theo memeluk erat Mada dan air matanya pun menetes. Binar segera mengusap air mata yang sudah terlanjur jatuh itu lalu ia mengulas senyum.
Binar duduk di tepi ranjang menaruh nampan yang berisi air putih, roti tawar, dan obat untuk Theo di atas meja yang ada di dekat ranjang. Lalu ia memeluk Mada dan Theo.
Mada segera menegakkan badan lalu memutar badan menghadap ke bundanya, "Bunda, Ayah sakit"
Binar mengusap pipinya Mada sambil tersenyum ia berkata, "Ayah cuma kecapekkan. Kamu mandi gih! Bunda akan mengurus Ayah mumpung adek kamu masih bobok"
Mada menganggukkan kepalanya lalu bangkit dan berlari masuk ke kamar mandi.
Binar memegang dahinya Theo, "syukurlah udah nggak panas"
Theo menarik tangannya Binar lalu ia genggam, "panas? siapa yang panas?"
"Kamu semalam gelisah Mas, ngigau manggil-manggil namaku pas aku menyusui Aries. Lalu aku mengecek kondisi kamu, badan kamu panas banget. Aku kompres terus sampai........"
"Kamu nggak tidur sama sekali?" Theo langsung mengusap pipi ranumnya Binar.
Binar tersenyum, "nggak apa-apa lagian aku nggak kerja kan hari ini jadi akan aman. Sekarang makanlah dulu roti ini lalu kamu minum obat dari dokter Hendrik"
Theo memakan rotinya sambil terus menatap Binar lalu berkata sambil mengunyah roti, "Nanti anak-anak biar sama aku. Kamu tidurlah setelah ini"
Binar tersenyum lalu berkata, "iya Mas"
Theo meminum obatnya bertepatan dengan suara tangisannya Aries yang menjerit mencari bundanya.
Theo terkekeh geli di saat Binar sempat mengecup bibirnya sebelum Binar bangkit dan melesat berlari untuk mengecek keadaannya Aries.
Theo melempar senyum ke Mada yang melangkah untuk mendekatinya. Mada lalu bertanya, "Ayah bisa mandi sendiri? mau Mada mandiin?"
Theo tertegun sejenak menatap wajah tampannya Mada lalu trsenyum lebar dan bangkit, "bisa dong, Ayah kan jagoan hehehehe"
Theo lalu mencium puncak kepalanya Mada lalu melangkah menuju ke kamar mandi.
Theo keluar dari kamar mandi dengan senyum lebar. Ia memakai jaket kado ulang tahun dari Binar. Binar menatap kagum suaminya dan berucap, "Ayah kalian tampan kan pakai jaket itu?"
"Ayah emang tampan. Tanpa memakai jaket itu pun Ayahku tetap tampan* sahut Mada.
Binar dan Theo tertawa lebar mendengar ucapannya Mada.
Binar menggendong Aries lalu bertanya, "yuk kita sarapan di bawah! tapi kamu emangnya udah beneran fit Mas?"
Theo tersenyum, "udah, yuk kita turun! habis sarapan kita berkeliling di mini zoo hotel ini"
"Hah? ada mini zoo juga di sini?" pekik Binar.
sambil mengunci pintu kamar mereka.
Mada menggandeng tangan ayahnya dan bertanya, "ada hewan apa aja Yah?"
"Ada kuda poni, kamu ingin naik kuda poni kan?"
"Benarkah?" Mada menengadahkan wajahnya untuk menatap ayahnya. "Mada beneran boleh naik kuda poni?"
"Boleh dong" Theo mengusap rambutnya Mada sambil tersenyum lebar.
"Tapi harus hati-hati" sahut Binar.
Mada menoleh ke Binar dan berkata, "baik Bunda"
Lalu dengan wajah penuh antusias Mada kembali mendongak dan bertanya, "Terus ada apalagi Yah?"
Theo tertawa gembira lalu berkata, "ikan, beberapa macam burung, dan kura-kura"
"Uya Uya" sahut Aries.
Theo mencium pipinya Aries, "iya, adek bisa lihat kura-kura nanti sama Bunda biar Ayah temani kak Mada naik kuda poni ya?"
"Ayah, makasih" sahut Mada.
Theo menunduk ke Mada yang masih ia gandeng, "untuk apa?"
"Untuk liburan yang asyik ini" ucap Mada dengan senyum riangnya.
"Ayah yang seharusnya berterima kasih karena, kalian menyukai kejutan dari Ayah ini, hehehehe"
"Ayah Mada adalah Ayah terhebat di dunia ini. Benar kan Bunda?" Mada menoleh ke Binar sambil duduk di salah satu meja yang berada di dalam restoran Diamond Hotel.
Binar tersenyum, "iya Ayah kamu memang is the best"
Mada lalu berdiri ia berlari kecil untuk mengambilkan Aries sebuah balon.
Binar beradu pandang dengan Theo lalu Binar berkata, "aku lihat Mada hanya bisa berbicara banyak dengan kamu saja. Denganku pun ia nggak banyak ngomong. Gimana kalau ia tahu kamu......"
"Mada anak yang cerdas dan kuat" sahut Theo sambil tersenyum dan mencium pelipisnya Binar yang masih memangku Aries.
Mobil yang dikendarai oleh Aksa berhenti di depan Diamond Hotel bertepatan dengan masuknya Binar dan kedua putranya ke dalam sebuah mobil ambulance. Mobil ambulance itu segera pergi meninggalkan Diamond Hotel dengan suara sirene yang memekakkan telinga. Aksa segera menekan pedal gas mobilnya untuk mengikuti mobil ambulance tersebut.
"Apa Theo pingsan jadi harus dibawa ke rumah sakit? harusnya besok kan operasinya?" gumam Aksa sambil terus fokus mengemudikan mobilnya membuntuti mobil ambulance tersebut.
Selang satu jam lebih mobil ambulance itu berhenti di depan ruang IGD rumah sakit. Aksa mengawasi dari jarak jauh dan masih berada di dalam mobilnya.
Mada menangis dan terus memegangi tangan Theo yang terbaring di atas bed rumah sakit tersebut yang tengah didorong masuk ke dalam ruang IGD, Mada terus memegangi tangannya Theo sambil menangis tiada henti. Begitu pula dengan Binar yang terus berurai air mata sambil menggendong Aries.
Tidak begitu lama, Damian dan David berlari masuk ke dalam IGD lalu Damian keluar lagi dari IGD sambil menggendong Aries dan menggandeng tangan mungilnya Mada.
Aksa lalu keluar dari dalam mobilnya dan mengikuti langkahnya Damian. Aksa bisa mendengar Mada berkata di dalam isak tangisnya, "Opa, Mada pengen sama Ayah terus. Mada nggak mau Ayah sendirian"
Damian menghentikan langkahnya lalu berjongkok sambil mendekap Aries, "Ayah kamu udah dijaga Bunda kamu dan anak kecil nggak dibolehkan berada di IGD terlalu lama kan banyak orang sakit di dalamnya"
"Mada mau jadi dokter biar nanti kalau Ayah, Bunda, dan Adek, Opa, Tante dan Om sakit, Mada bisa jagain terus d dalam dan bisa beri kesembuhan"
Damian memerah matanya menahan haru lalu ia memeluk Mada dengan erat dan Aries nyeletuk, "ya ya tu na na?"
Damian semakin mengental kesedihannya dan mendekap kedua cucunya dengan sangat erat.
Aksa tertegun dan mematung lalu bergumam lirih, "Mada sangat menyayangi Theo ternyata. Kalau aku tiba-tiba menarik dia dengan pernyataan bahwa aku ayah kandungnya Mada maka Mada pasti akan kebingungan dan dia masih terlalu kecil untuk bisa mencernanya dengan baik dan aku nggak boleh gegabah lagi karena, aku bukanlah Aksa yang dulu" Aksa lalu memasukkan secarik kertas hasil tes DNA ke dalam saku kemejanya. "Aku akan melakukan pendekatan terlebih dulu ke Mada. Aku akan bersabar pada prosesnya demi Mada"
Aulia dan Mika berlari menyusul Daman. Mika menoleh ke Aksa di dalam laju larinya dan seketika itu ia berhenti dan berseru lirih, "Aksa?"
Aulia berjalan cepat sambil menggandeng James putra tunggalnya dan ia langsung memeluk Mada, "Ayah kamu orang baik dan kuat, ia akan baik-baik saja. Kita tunggu di ruang VVIP ya? Opa David udah memesan kamar spesial. Kita menginap di sini menunggu kabar dari dokter"
Mada menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Tante dan Opa Damian-nya.
Mika memekik ke Aulia, "aku nanti menyusul" Aulia menoleh ke Mika dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Pandangan Mika teralihkan ke Aksa, "kamu Aksa kan?"
Aksa menganggukkan kepalanya dan tersenyum untuk memberikan salam ke Mika, "iya saya Aksa. Selamat siang Bu"
"Kapan tiba di Indonesia? Binar dan teman-teman kamu udah tahu kamu di sini?"
Aksa tersenyum, "Beberapa hari yang lalu saya sudah di sini dan karena ada begitu banyak kejutan yang saya terima, saya belum sempat ke kantornya kak Binar dan menyapa teman-teman saya di sana"
"Lalu kamu ngapain di sini? kamu sakit apa mau nengok seseorang?"
Aksa memaksakan senyum di wajahnya dan berharap Mika tidak bisa merasakan senyumnya yang terbungkus rumitnya masalahnya yang menghinggapinya hingga membuat ia tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ibu tahu kamu belum bisa mengatakannya saat ini. Oke good luck untuk kamu, Ibu tinggal dulu" Mika lalu berlari kecil masuk ke dalam lift untuk menyusul Aulia.
Aksa mendesah panjang dan menjadi bingung melangkahkan kakinya. Ia harus ke ruang operasi menemui Binar ataukah harus menyusul Mada.