
"Kamu marah sama aku ya?" Binar menoleh ke Aksa, dia tersenyum centil sambil mengayun-ayunkan tangannya Aksa yang dia genggam ke udara bebas.
Aksa menoleh ke Binar, tersenyum manis dan menggelengkan kepalanya, "aku nggak pernah bisa marah sama kamu karena, kamu terlalu imut dan menggemaskan" Aksa berucap lalu mencubit mesra pucuk hidungnya Binar.
Binar mencebikkan bibirnya, "nggak marah kok tadi melompat turun dari mobil nggak pamit"
"Iya karena, kamu nggak mau turun dan aku teringat sama kakek dan nenek yang masih harus menghadapi papaku. Aku jadi khawatir dan....."
"Ke.....kenapa khawatir? papa kamu galak ya?" Binar langsung mengerem langkah dan menghentikan ayunan tangannya.
Aksa terkekeh, dia melepaskan tangannya dari genggaman tangannya Binar dan di saat dia hendak memegang kedua bahunya Binar, Binar mundur.
"Ada apa lagi sekarang?" Aksa berucap sembari melangkah pelan mendekati Binar namun, Binar terus mundur, berputar badan dengan cepat dan berlari ke belakang pohon.
Aksa menautkan alisnya dan berlari mengejar Binar, "kenapa? kamu takut apalagi sekarang?"
Binar mendorong tubuhnya Aksa, "cepat ke sana! Nenek dan kakek menunggumu, papa kamu juga"
"Lalu kamu?" Aksa menahan tubuhnya dari dorongan kedua tangannya Binar.
Binar menghempaskan rasa tidak percaya dirinya lalu berucap, "aku berubah pikiran. Aku nggak berani, emm, belum berani bertemu dengan papa kamu. Cepat ke sana!" Binar kembali mendorong dada bidangnya Aksa dan terus mendorongnya sampai Aksa bergerak mundur.
Aksa hanya bisa mendesah lalu berputar badan dan meninggalkan Binar sendirian, bersembunyi di balik pohon itu.
Binar berjongkok sambil menunggu papanya Aksa pergi dari sana sehingga dia bisa menyusul Aksa, nenek, dan kakek.
"Gila! aku deg-degan nih. Baru kali ini aku merasakan debaran jantung karena, takut setengah mati. Papa mertua maafkan aku, hiks, hiks, aku belum berani menemui Anda, saat ini. Kok aku bilangnya papa mertua sih?" Binar menepuk kepalanya lalu melanjutkan ucapan tidak jelasnya, untuk dirinya sendiri, "huuuffttt, aku bahkan belum berani untuk sekadar bermimpi menikah dengan Aksa, kok bisa-bisanya manggil papanya Aksa dengan sebutan papa mertua. Dasar gila, kau Binar, gila!" Binar kemudian mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya.
Nenek, kakek dan papanya Aksa menoleh di saat mereka mendengar suara langkah kaki dan secara serempak tersenyum ke Aksa.
Aksa melangkah lemas karena, dia masih merasa kecewa, belum bisa mengenalkan calon istrinya ke papanya.
"Lho Binar mana?" tanya neneknya Aksa.
"Binar sedikit pusing dan beristirahat sebentar di mobil. Nanti dia nyusul ke sini setelah hilang pusingnya" ucap Aksa dengan desahan panjang karena, dia terpaksa harus berbohong kepada neneknya.
Aksa bersimpuh lalu memegang pusara mamanya, "ma, ini Aksa. Aksa sebentar lagi lulus kuliah dan akan menikahi gadis pilihan Aksa, restui kami dari Surga sana ya, ma?!"
Kenzo Julian langsung memegang kedua bahu putra tampannya itu, mengajak Aksa untuk berdiri dan menautkan kedua alisnya, "menikah?"
"Iya Pa" Jawab Aksa singkat dengan senyum tampannya.
"Dengan siapa? kenapa belum kau kenalkan ke papa?" Kenzo masih menautkan kedua alis tebalnya ke arah Aksa.
"Kami sudah kenal dengan calon istrinya Aksa dan kami merestuinya" sahut kakeknya Aksa dengan senyum lebarnya.
Kenzo mengangkat kedua tangannya dari pundaknya Aksa lalu memutar badan menatap kakek dan neneknya Aksa, "Ayah dan Ibu sudah kenal dengan calonnya Aksa?"
"Mama Dara dan Embun juga sudah kenal dan sudah menyetujui hubungan kami" sahut Aksa.
Kenzo melangkah mundur dan meraup wajah gantengnya, "dan hanya papa yang belum tahu soal ini?"
"Pa, bukannya menyembunyikan tapi, belum ada waktu yang tepat untuk mengajaknya berkenalan dengan papa" ucap Aksa.
"Di mana pacar kamu sekarang? di mobil kan? ayok ajak papa ke sana! kenalkan papa pada pacarmu itu!" pinta papanya Aksa dengan penuh semangat sambil menarik tangannya Aksa.
Aksa menahan langkah papanya dan berucap lirih, "Binar belum siap bertemu dengan papa"
"Jangan dipaksa kalau Binar belum siap!" sahut neneknya Aksa. Neneknya Aksa sangat memahami perasaannya Binar. Binar belum seratus persen memiliki kepercayaan diri untuk berkenalan dengan papanya Aksa terkait dengan perbedaan umurnya dengan Aksa.
Papanya Aksa melepaskan tangannya Aksa lalu berucap, "Binar? sepertinya papa pernah mendengar nama itu. Binar siapa namanya?"
"Binar Adelard" jawab Aksa.
Dhuaaaarrrrr
Bagai tersambar petir di siang bolong, papanya Aksa melangkah mundur dan tercengang lalu berucap seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, "Bi.....nar Ade....Lard?"
"Iya benar. Namanya cantik, secantik orangnya. Anaknya juga baik, tulus, polos, dan kami suka sekali sama Binar" sahut kakeknya Aksa.
Kenzo menggelengkan kepalanya berkali-kali lalu raut mukanya berubah menjadi sangat menakutkan dan di dalam kegeramannya itu dia berucap, "aku melarang kamu menikahinya! putuskan hubungan kamu dengan Binar Adelard detik ini juga!"
"Pa! tapi kenapa? Aksa sangat mencintainya"
"Jangan kau ulangi sikap kamu yang seperti ini! Egois dan seenaknya sendiri. Cukup putriku saja yang menjadi korban atas keegoisanmu" sahut kakeknya Aksa dengan geram.
"Cukup! pergilah!" sahut neneknya Aksa.
"Ma?" Kenzo menatap neneknya Aksa dengan wajah memelas.
"Pergilah! Dona akan sedih melihatmu seperti ini. Sudah cukup Dona kau bikin sedih saat Dona masih hidup dan jangan buat dia sedih juga saat ini. Kalau kamu tidak bisa menerima hubungan Aksa dengan Binar Adelard maka jangan kasih restumu itu dan jangan datang jika aku menikahkan mereka berdua kelak, di sini!" ucap neneknya Aksa.
"Tapi Aksa putra saya, Ma dan saya yang seharusnya menikahkannya, menjadi walinya, membiayainya" ucap Kenzo.
"Tapi kamu tidak menyetujui hubungan mereka jadi aku yang akan menikahkan mereka kelak" sahut kakeknya Aksa.
"Tapi Binar Adelard dia, dia putrinya Damian Adelard dan........."
"Diam! cukup! pergilah jika kau hanya mau mengungkit masa lalu dan dendam nggak jelas kamu itu. Pergilah!"pekik neneknya Aksa dengan sangat kesal dan mulai terisak. Aksa langsung meraih bahu neneknya dan memeluk erat tubuh renta nenek kesayangannya itu.
Neneknya Aksa tidak pernah mau kalau cucu tunggal kesayangannya mengetahui kesalahpahaman diantara papanya Binar dan papanya Aksa. Neneknya Aksa ingin, Aksa tumbuh menjadi anak yang baik dan tidak pendendam seperti papanya.
Kenzo kemudian meraup kasar wajah gantengnya memutar badan dan pergi meninggalkan Aksa dan mantan mertuanya itu.
Binar melihat Kenzo, papanya Aksa telah melangkah pergi dan melajukan mobil mewahnya meninggalkan area pemakaman. Kemudian dia bangkit dan keluar dari balik pohon itu. Dia bergegas berlari menuju ke makam mamanya Aksa. Binar menghentikan laju larinya ketika dia mendapati neneknya Aksa menangis, "ada apa? kenapa nenek menangis?" tanyanya.
Neneknya Aksa mengusap air matanya dan tersenyum, "nggak apa-apa nak. Kemarilah! ucapkan salam ke calon mama mertuamu" neneknya Aksa tersenyum sembari mengayunkan tangan kanannya ke Binar.
Binar melangkah mendekat lalu bersimpuh di depan makamnya Dona. Binar menempelkan kedua telapak tangannya di depan pusaranya Dona dan berucap, "ini Binar Adelard. Anda sangat cantik, pantas kalau putra Anda juga sangat tampan. Salam kenal. Asal Anda tahu, saya langsung menjadi penggemar anda saat saya melihat foto cantik anda. Kecantikan anda sungguh bisa membuat semua wanita di dunia ini iri plus kagum termasuk saya, heeee"
Aksa, Nenek, dan kakek tersenyum lebar menatap kepolosannya Binar.
"Ijinkan saya bertanggung jawab atas putra anda, saya akan membahagiakannya dan........"
"Hei! harusnya cowok yang mengucapkan kata itu" ucap Aksa kemudian melepas tawa renyahnya diikuti oleh tawa renyah kakek dan neneknya.
Binar menoleh lalu memasang wajah penuh tanda tanya, "Kok pada ketawa? saya serius nih Tante Dona tapi lihatlah semua malah tertawa"
Aksa, nenek dan kakek semakin melebarkan tawa mereka.
Mika terlonjak kaget di saat dia tengah berendam di dalam bak mandi mewah, Abimana masuk dan langsung mengunci pintu kamar mandi itu. Abimana mulai gemetar memandang istrinya yang nampak begitu cantik bak putri duyung di negeri dongeng.
Abimana melangkah mendekat sembari melucuti semua pakaian yang dia kenakan kala itu dengan suara riuh seperti gunung meletus seolah hendak keluar dari dada Abimana. Tiba-tiba Abimana menggeram dan meloncat ke dalam bak mandi. Mika memekik karena cipratan air, lalu terkekeh dan berucap, "sayang! kok nyusul sih? Arga gimana?"
"Arga masih tidur dan sangat nyenyak jadi aman" ucap Abimana sambil menunduk, mengepalkan tangan pada rambut basahnya Mika dan mencium bibir istrinya itu dengan penuh damba.
Abimana melepas ciumannya dan beralih ke telinganya Mika untuk membisikkan kata, "kau cantik bak putri duyung, wangi, halus, dan seksi"
Mika mendesah sambil mendekap erat tubuh polos suaminya. Abimana mencari bibirnya Mika kembali memberikan ciuman yang manis dan mulai menggerakkan lidah dengan gesit, mengunci kedua bibir mereka sementara jari-jarinya terus mengelus, ibu jarinya menggoda, telapak tangannya membelai hingga sampai di akhir klimaks penyatuan cinta mereka di pagi itu.
Mika menyuruh Abimana untuk keluar dari dalam kamar mandi terlebih dahulu karena, dia masih harus membersihkan bak mandi itu.
Abimana telah berganti baju dan keluar dari dalam kamar mandi dengan senyum bahagia penuh kepuasan setelah mendapatkan layanan penuh cinta dari istri cantiknya yang sangat dia cintai itu. Abimana terlonjak kaget mendapati tatapan tajam dari putranya.
"Kamu kok sudah bangun?"
"Hmm? kenapa papa udah gede tapi masih minta dimandiin sama mama? Ish, ish, ish, papa kalah sama Arga. Arga aja bisa kok mandi sendiri" Arga melipat tangan lalu menggeleng-nggelengkan kepalanya ke papa tampannya.
Abimana meringis sambil mengelus tengkuknya dia mati kutu kehilangan kata untuk menanggapi protesnya Arga.
Mika yang belum keluar dari dalam kamar mandi, akhirnya membuat Abimana menghela napas dan mencoba mengeluarkan kata, "siapa yang dimandiin sama mama?"
"Kamar mandi dikunci dan papa ada di dalam sama mama kan, jadi pasti papa minta dimandiin sama mama" ucap Arga dengan kepolosannya.
"I...itu tadi pintu kamar mandinya macet dan mama terkunci di dalam jadi papa tadi membantu mama membetulkan pintunya" ucap Abimana asal.
"Oh begitu ya, heeeee. Maafkan Arga deh udah protes ke papa. Habisnya papa yang nyuruh Arga untuk mandiri, mandi sendiri, apa pun kalau bisa juga harus dilakukan sendiri tanpa bantuannya mama, jadi Arga......."
Mika langsung tertawa sambil melangkah dari dalam kamar mandi dan berucap, "dengar tuh, Pa! Arga benar tuh, jempol untuk Arga"
"Iya iya jempol untuk Arga. Anak papa memang pintar" Abimana langsung memeluk Arga, menggelitik dan menciumi wajah tampan putranya itu.
Arga tertawa renyah dan di saat dia berhasil melepaskan diri dari pelukan dan gelitikan papanya, dia langsung melesat ke dalam kamar mandi dan Abimana langsung menangkup wajah tampannya lalu menjatuhkan diri di atas ranjang sambil terkekeh.
Mika ikutan terkekeh, "kamu harus lebih waspada kalau mau minta jatah. Anak kita tambah gede dan tambah pintar"
Abimana kemudian melepas tawa riangnya dan berucap, "kalau mau dikasih lagi aku mau. Mumpung Arga masih mandi tuh"
Mika menggelengkan kepalanya dengan penuh semangat dan Abimana kembali tertawa terbahak-bahak.