My Pretty Boss

My Pretty Boss
Kepahitan



Aksa melempar ponselnya hingga membentur tembok dan ponsel yang tidak bersalah itu, menjadi hancur berkeping-keping, seolah-olah mewakili perasaannya Aksa yang juga hancur berkeping-keping.


Aksa berteriak, "aaaaaaaaa!!!!" sekencang-kencangnya untuk mencoba melepas rasa sesak di hatinya. Kerinduannya pada Binar Adelard telah menjadi pahit dia rasakan.


Berlian membuka pintu kamarnya Aksa dan membeliak, "ada apa? kenapa ponsel kamu jadi hancur?"


"Siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamarku? hah!?"" Aksa melotot rajam ke Berlian.


Berlian mengangkat kedua pundaknya karena, kaget dibentak oleh Aksa dengan sangat keras. Kemudian dia memberanikan diri untuk berkata,


"Ada suara benda hancur dan kamu berteriak kencang sekali, aku takut kamu kenapa-kenapa dan......."


"Keluar!" Aksa langsung menunjuk ke arah pintu, menyuruh Berlian untuk keluar.


"Tapi Sa, kamu kenapa?"


"Keluar!!!" Aksa semakin meninggikan suaranya dengan mata melotot dan wajah memerah menahan amarah. Berlian segera berbalik badan dan berlari keluar dari kamarnya Aksa


Aksa kemudian tertawa di dalam kegetirannya dan bergumam di sela Isak tangisnya, "cih! aku begitu bodoh dipermainkan olehmu Binar. Sedari awal kamu berhubungan denganku hanya untuk main-main saja dan aku bahkan tidak curiga saat kamu meminta kita berpacaran secara sembunyi-sembunyi dan ternyata ini maksud kamu, kamu telah buka topeng kamu, cih!"


Aksa meraup wajah tampannya dan kembali berkata kepada dirinya sendiri, "kamu tidak pernah mau mengakui aku sebagai pacar kamu di depan semuanya karena kamu tahu soal papa kamu yang menyebabkan perceraian orang tuaku, dan ternyata sedari awal, kamu hanya ingin menikah dengan Theo Revano. Dasar wanita brengsek! tidak punya perasaan! aku sangat membencimu, Binar Adelard!" Aksa mengepalkan kedua tinjunya


Dan sejak hari itu, cowok cerdas yang selalu mengandalkan logika yang tanpa dia sadari logikanya yang masih labil itu, telah menggiringnya ke dalam siksa batinnya sendiri. Laki-laki tampan keturunan Julian itu, berubah menjadi sosok yang dingin, tidak pernah tersenyum, selalu muram dan menyendiri. Hatinya Aksa telah membeku, kelam dan menghitam bak jelaga. Sosok Aksa yang selalu ramah, sabar, baik hati, telah lenyap hilang ditelan kesedihan dan kekecewaan yang begitu besar di setiap detik napas hidupnya.


Lela bersikap dingin dengan Binar karena kemarahan dan kecemburuan terhadap Binar yang tidak bisa dia ungkapkan secara langsung. Lela duduk di depan meja kerjanya Binar dengan sorot mata tajam penuh kebencian, napas memburu, dan wajah mengeras.


Binar mengangkat wajah cantiknya dan nampak heran melihat wajahnya Lela, "ada apa? wajah kamu merah padam, kamu sakit? ayok, aku antar ke dokter!"


"Kapan kakak berpacaran dengan Kak Theo? kenapa bisa secara tiba-tiba kalian menikah?" tanya Lela masih dengan ekspresi wajah yang sama.


Binar tersenyum, "Aku dan Theo bertemu secara tidak sengaja, lalu kami bertemu lagi di acara makan siang dengan keluarga kami tapi waktu itu kak Mika nggak bisa datang dan dari situ kami menyetujui perjodohan kami. Soal pernikahan, emm kami merasa kalau kami sudah sama-sama matang secara umur jadi aku dan Theo memutuskan untuk menikah secepatnya. Resepsi akan digelar setelah kami sama-sama tidak sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing"


Lela kemudian bangkit dan berucap, "sudah selesai berkasnya?"


Binar menyerahkan berkas yang sudah dia setujui ke Lela dan berucap, "kamu beneran nggak apa-apa"


"Kakak nggak usah sok baik. Nggak usah sok peduli sama Lela" lalu Lela pergi meninggalkan Binar begitu saja.


Binar menatap punggungnya Lela sambil menautkan alisnya, "ada apa dengan anak itu? kenapa dia sepertinya marah padaku? tapi apa salahku?"


Theo masih duduk di meja kerjanya dan sesekali dia menguap. Kantuk yang begitu berat tengah melandanya saat itu karena, semalam dia harus meredakan gairahnya sebagai laki-laki normal yang tidur di sebelah wanita cantik dan sangat dia cintai. Dan tangannya terus digenggam wanita cantik yang secara sah telah menjadi istrinya itu.


Iya secara sah, Binar memang istrinya namun, Theo sadar dan masih bisa menahan diri karena secara perasaan, Binar belum siap untuk menjadi istri yang sesungguhnya. Itulah kenapa semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak dan mengantuk berat di jam kerja.


Tok tok tok


Pintu ruang kerjanya Theo diketuk oleh seseorang. "Masuk" sahut Theo.


Andik asisten pribadinya Theo melangkah masuk dengan seorang wanita cantik, langsung, dengan tinggi menjuntai bak jerapah namun, pinggangnya sempurna bak lekukkan gitar Spanyol.


"Bos, Frida ingin bertemu dengan anda" ucap Andik.


"Oke, duduklah Frida!" Theo tersenyum ramah ke Frida. Frida adalah seorang model tetap yang sudah lama bekerja sama di perusahaan periklanan miliknya Theo Revano.


"Saya permisi bos" ucap Andik.


"Tunggu! tetaplah di sini" entah kenapa saat itu perasaan Theo mengharuskan Andik tidak meninggalkannya sendirian dengan super model nan cantik yang bernama Frida.


"Tapi Theo, aku butuh bicara empat mata denganmu"


Andik hendak berbalik badan namun, Theo langsung melotot ke Andik dan Andik kembali berdiri dengan sikap sempurna di sebelahnya Frida.


Theo kemudian menatap Frida, "anggap saja Andik tidak ada. Sekarang katakan apa keperluanku datang menemuiku sekarang ini?"


"Emm, bisakah kita makan malam nanti, untuk merayakan keberhasilan iklan kita dan ada yang ingin aku katakan ke kamu. Tidak jadi aku katakan sekarang karena, ada Andik" sahut Frida.


"Katakan sekarang! atau tidak aku kasih kesempatan selamanya. Mulai hari ini dan seterusnya aku akan makan malam di rumah jadi, aku nggak akan memenuhi undangan makan malam darimu" ucap Theo sambil tersenyum.


Sial! kenapa harus ada Andik. Batin Frida kesal.


Lalu Frida mengalihkan pandangannya ke Theo, "huufttt, baiklah. Aku akan katakan sekarang. Aku sudah lama menyimpan rasa sama kamu Theo"


"Hah?!" Theo dan Andik menarik dagu mereka ke bawah secara bersamaan.


"Iya itu benar dan aku berani nembak kamu karena, aku rasa kamu memiliki perasaan yang sama ke aku" ucap Frida dengan senyuman manjanya.


"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?"


"Iya karena, kamu selalu mengajak aku makan malam setiap kali iklan kita tayang dan sukses besar di pasaran, terus di saat aku sakit, kamu mengantarkan aku ke dokter. Kamu bahkan selalu mengingatkan aku untuk makan siang, dan kamu memberikan perhatian lebih ke aku dibandingkan dengan model yang lainnya" ucap Frida penuh dengan kepercayaan diri.


"Itu aku lakukan karena, aku ini bos kamu. Aku hanya ingin berperan sebagai bos yang bertanggung jawab, dan juga aku menghormati kamu, lebih percaya sama kamu untuk menemaniku makan malam karena, aku menganggapmu sebagai sahabat dan karena, kita sudah bekerja sama selama bertahun-tahun" sahut Theo.


"Aku nggak percaya. Pasti kamu mencintaiku juga. Jujurlah Theo!" pekik Frida kesal.


Theo menyisir asal rambutnya dengan tangan lalu berucap, "jujur yang bagaimana lagi. Aku udah jujur sama kamu. Aku hanya menganggapmu sebagai rekan kerja dan seorang sahabat, nggak lebih"


"Tapi kita sudah melalui banyak hal bersama-sama selama ini, bagaimana mungkin kamu tidak ada perasaan cinta untuk aku?" Frida memberikan tatapan menuntut ke Theo.


"Maaf jika aku telah memberikan harapan ke kamu secara tidak sengaja. Tetapi jujur, aku tidak pernah mencintai kamu ataupun semua model yang bekerja di perusahaanku ini. Aku mengganggap profesional hubunganku dengan kamu dan semua model lainnya karena, kalian partner kerjaku nggak ada rasa cinta, maaf" keseriusan terpancar dari kedua bola mata indah miliknya Theo Revano.


"Aku kurang apa? aku cantik sempurna, aku selalu ada untuk kamu dan kamu tahu, aku selalu berusaha mendapatkan apapun dengan gigih jadi aku akan terus berusaha membuatmu mencintaiku"


"Perasaan dan pekerjaan adalah dua hal yang berbeda. di dalam pekerjaan jika kau gigih maka kau bisa meraih apapun yang kau mau namun, di dalam perasaan, segigih apa kau berusaha, tetap tidak bisa kau menangkan jika perasaanmu bertepuk sebelah tangan" ucap Theo seolah berkata juga untuk dirinya sendiri.


"Aku percaya sedikit waktu lagi, kau akan bisa membalas cintaku dan........"


"Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai istriku" sahut Theo dengan cepat


"Apa? kau bohong, kan?"


Theo mengambil buku nikah yang sejak pagi tadi dia simpan di kantong jas bagian dalam. Theo menggeser buku nikah yang dia letakkan di atas meja ke arahnya Frida.


Frida mengambilnya dan membuka kedua buku nikah itu. Frida langsung melempar kedua buku nikah itu di atas meja dan Frida langsung bangkit, mendengus kesal, dan dengan langkah kesal dia pergi meninggalkan ruangannya Theo Revano.


Theo mengambil kedua buku nikah itu laku memasukkannya kembali ke dalam kantong jasnya.


"Apa ada jadwal keluar hari ini?" tanya Theo ke Andik yang masih mematung setelah melihat adegan drama yang disajikan oleh Frida.


"Nggak ada Bos"


"Sore hari nanti?"


"........emm, ada jam lima sore dengan pihak Julian grup"


"Baiklah. Sekarang tolong antarkan aku ke kantornya istriku. Aku mau makan siang dengannya lalu berbelanja baju. Aku akan ajak istriku ikut meeting dengan Julian grup nanti sore"


"Kenapa nggak bawa mobil sendiri, Bos? biasanya anda kalau makan siang bawa mobil sendiri"


"Aku ngantuk berat saat ini jadi tolong anter ya?"


"Oh! saya paham. Pengantin baru biasa lah ngantuk berat di jam segini, pasti kemarin malam habis lembur mencangkul kan, Bos?.cerita dong Bos, berbagi ilmu mencangkul ke saya, biar saya siap pas saya menikah nanti" ucap Andik sembari mengiringi langkah bosnya.


Theo menoleh kesal ke Andik lalu berucap, "anak di bawah umur belum boleh tahu"


"Si....siapa yang dibawah umur? saya udah dua puluh lima tahun nih"


"Makanya buruan nikah biar tahu sendiri gimana cangkul mencangkul itu"


Andik hanya bisa mendesah panjang menanggapi ucapan Bosnya itu


Theo masuk ke dalam mobil dan langsung memejamkan mata dan berkata di dalam hatinya, gimana mau berbagi ilmu ke kamu Andik? aku aja belum pernah mencangkul.