
Di saat Binar keluar dari dalam toilet, Hendra langsung menggenggam pergelangan tangannya Binar, "batalkan perjodohanmu dengan kak Theo!"
Binar menarik tangannya dan bersedekap di depannya Hendra, "nggak mau! urus saja rencana pernikahanmu dengan Aulia yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi dan jangan menggangguku lagi, dasar brengsek!"
"Darimana kamu tahu kalau aku akan menikah dengan Aulia tiga bulan lagi? aaah, dari kak Theo ya?" Hendra tersenyum ketus.
"Dan kamu nggak katakan soal itu ke aku. Kamu bahkan mengumbar janji akan menikahiku dan akan melepaskan Aulia? cih! dasar cowok playboy cap cicak"
"Itu benar Bin. Aku memang hanya mencintaimu dan pernikahan kami dipercepat itu juga atas usulnya Aulia dan aku juga baru tahu kemarin malam" ucap Hendra.
"Terus saja berbohong, terus saja menyia-nyiakan perasaanku ke kamu yang dulunya tulus aku miliki hanya untuk kamu, terus saja bermain-main dengan rasa cintaku ini, dasar brengsek!" Binar tanpa sadar meneteskan air matanya di depan Hendra.
Hendra hendak mengusap air mata itu tetapi dengan cepat Binar berbalik badan, berlari dan meninggalkan Hendra begitu saja.
Brrrruuggg
Tubuh limbungnya Binar menubruk dada bidangnya Theo dan Theo langsung memeluk erat Binar saat melihat Binar terisak menangis, "ada apa? apa yang membuatmu menangis sehebat ini?" Theo berucap sembari menepuk-nepuk pelan penuh kasih sayang punggungnya Binar.
Binar hanya dia membisu dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya Theo.
"kamu cengeng juga ya ternyata" Theo terkekeh.
Binar menarik diri dari pelukannya Theo dan menerima sapu tangan yang disodorkan oleh Theo. Dia usap air mata dan ingusnya dengan sapu tangan itu lalu dia masukkan sapu tangan itu ke dalam tasnya.
"Kenapa kau masukkan ke tas kamu? itu sapu tanganku" ucap Theo.
"Sapu tanganmu kotor kena ingus dan air mataku. Biar aku cuci dulu nanti kalau udah bersih aku kembalikan"
"Lalu jasku ini? jasku juga kena ingus dan air mata kamu nih" ucap Theo sambil tersenyum menggoda di depannya Binar.
"Lepas aja! aku akan cuci juga" ucap Binar serius.
"Waaahhh! kalau mau lepas jas bukankah lebih baik jika kita masuk ke dalam kamar? Karena, aku ini cowok pemalu. Theo kemudian mengulum bibirnya.
Binar langsung tertawa kecil dan menepuk bahunya Theo, "kalau masuk ke dalam kamar dengan diriku, apa kamu yakin akan selamat dan aman?" Binar terkekeh dan berjalan pelan mendahului Theo untuk kembali ke meja papanya.
Theo kemudian menggemakan tawanya dan berjalan mengiringi langkahnya Binar.
"Aku akan jaga sapu tangan kamu dan aku akan ..........."
"Oke kalau begitu. Aku akan ke rumahmu untuk mengambil sapu tanganku, aku jadi punya alasan untuk bisa bertemu lagi denganmu, heeee" Theo langsung memotong ucapannya Binar dan meringis ke Binar.
Binar terkekeh, "terima kasih udah menenangkan dan menghiburku"
"Sama-sama" sahut Theo.
Aku nggak akan biarkan siapapun membuatmu menangis Binar. Ucap Theo di dalam hatinya.
Aksa makan siang dengan Boy dan terus mengumbar senyum tampannya di depan Boy ketika dia melamunkan kembali ucapannya Binar. Aksa merasa gemas.sekaligus geli dengan tingkah polosnya Binar dan terus berucap di dalam hatinya, "lucu dan menggemaskan sekali sih kak Binar. Bisa-bisanya kasih tahu ke aku dengan polosnya kalau dia terus membayangkan aku berada di atas ranjangnya setiap pagi dan aku mengucapkan kata, apa kakak tidur nyenyak semalam, pfffttt, konyol, sangat konyol, pfffttt.
"Aksa! hei Bro! kamu melamunkan apa kok senyum-senyum terus?" pertanyannya Boy membuyarkan lamunannya Aksa.
Aksa terlonjak dan langsung berucap "dia lucu" tanpa sadar.
"Hahahaha, siapa yang lucu?" Boy langsung tergelak geli menatap Aksa.
"Apa? oh.....emm....dia lucu........itu anjingnya kak Binar, heeee, si Bronzo, lucu kan?" Aksa tersenyum lebar ke Boy dan terkesan canggung.
"Hahahaha, kamu ngebayangin Bronzo tapi wajah kamu memerah tadi, apa kamu normal? pfffttt" Boy terkekeh.
"Heeeeee" Aksa hanya bisa meringis ke Boy lalu mencoba mengalihkan perhatiannya Boy dengan bertanya, "kamu udah punya pacar?"
"Belum. Aku mencintai seorang cewek teman kuliahku dulu tapi dia hanya mencintai seniorku" ucap Boy sambil memandang ke arah Lela terus tanpa dia sadari.
Boy terus tersenyum memandang ke arah Lela.
Aksa mengikuti arah pandangnya Boy dan menoleh ke belakang, dia melihat sosok Lela, "kamu mencintai kak Lela?"
Boy mengangguk lemah dan seketika itu pula dia meredupkan sorot matanya, "tapi apalah aku ini, cuma seorang karyawan biasa. Lela menyukai cowok mapan, kaya, dan tampan"
"Kamu juga tampan kok" sahut Aksa sembari memutar kepalanya dan kembali menatap Boy.
"Yeeeaahhh banyak yang bilang aku tampan, aku tahu itu, hahahaha. Tapi, aku belum mapan dan tidak kaya" ucap Boy.
"Apa kak Lela udah menikah dengan seniornya itu?" tanya Aksa.
"Belum. Lela tidak berani menyatakan cintanya ke senior kami karena, senior kami itu dari keluarga terpandang, putra seorang konglomerat dan sepertinya dia sudah mulai melupakannya karena, senior kami itu melanjutkan S2 ke luar negeri" ucap Boy.
"Kenapa tidak kamu Pepet terus kak Lela di saat senior kalian berada di luar negeri?" tanya Aksa.
"Sudah. Berkali-kali aku menyatakan perasaanku ke dia dan berulangkali pula Lela menolakku" Boy memasang wajah memelas.
"Selama kamu masih memiliki rasa untuk kak Lela dan selama kak Lela masih single, aku rasa kamu teruskan saja perjuanganmu untuk mendapatkannya" ucap Aksa, "aku yakin suatu saat kak Lela akan luluh bro. Seperti halnya batu jika ditetesi air terus menerus, batu itu akan berlubang, iya kan?"
"Yeeeaahh. Aku akan ikuti saranmu itu. Makasih Sa" ucap Boy.
Boy dan Aksa kemudian bangkit dan kembali ke ruang kerja mereka untuk kembali bergulat dengan tugas-tugas mereka di hari itu.
Binar berjalan dengan langkah lebar dan tidak berani menoleh ke Aksa. Aksa mengulum bibir menahan geli melihat Binar berjalan dengan sangat cepat di depan mejanya dan tidak berani menoleh sedetikpun untuk sekadar menyapa atau melihatnya sekilas.
Pfffttt, kak Binar memang sangat menggemaskan dengan kepolosan dan kekonyolannya. Dia pasti masih malu dengan ucapannya ke aku tadi, pfffttt. Membuatku sungguh tidak sabar untuk berttemu dengannya nanti malam. Batin Aksa.
Binar menghempaskan diri di atas kursi kerjanya dan kembali mengacak-acak rambutnya, "kenapa aku menyetujui perjodohan tadi? aku memang selalu bodoh jika dihadapkan dengan masalah cinta, hiks hiks hiks. Lalu gimana dengan Aksa? apa aku batalkan saja makan malamku dengan Aksa? aku tidak tega menolak Aksa. Aku nggak tega melihat ada guratan kekecewaan di wajah tampan nan imutnya itu. Tapi aku juga tidak bisa menerimanya menjadi pacarku, aaarrgghhh!" Binar kembali menaruh keningnya di atas meja kerjanya.
Lela kemudian masuk ke dalam ruangan bos cantiknya setelah mengetuk tiga kali dan tidak ada jawaban. Lela melihat bosnya menelungkupkan wajah cantiknya di atas meja, "kak? kakak sakit?"
Binar langsung mengangkat wajahnya dan berucap asal, "iya. Sakit jiwa"
"Hah? jangan bercanda kak!" ucap Lela serius sambil menaruh tumpukkan map di atas meja kerjanya Binar lalu duduk di kursi dan mencondongkan diri untuk menatap Binar lebih dekat, "kakak masih memikirkan Hendra ya?"
Binar hanya diam membisu dan kedua bola matanya menjadi berkaca-kaca.
Lela langsung bangkit dan memeluk bos cantiknya itu, "kak, kakak itu sangat cantik, mapan, dan keren. Banyak cowok yang tertarik sama kakak. Kenapa kakak tidak move on aja dari rasa kakak ke Hendra brengsek itu. Kenapa kakak tidak terima saja pak Danu dari Sinar grup, dia mengajak kakak makan malam bulan lalu dan nembak kakak, kan?"
Binar berucap di dalam pelukannya Lela, "Danu itu guyonannya garing. Kalau dia bikin guyonan, dia ketawa sendiri dan aku hanya melongo karena, nggak paham dengan yang dia tertawakan"
Lela terkekeh mendengar ucapan polosnya Binar, "kalau pak Bram? dia berhasil membuat kakak tertawa kalau pas rapat pemegang saham kan? dia matang dan kaya. Lela lihat dia juga sangat mencintai kakak"
"Bram udah hampir empat puluh tahun umurnya dan aku yakin sebentar lagi dia akan berperut buncit dan berkepala botak. Aku nggak suka cowok berperut buncit dan berkepala botak" Binar berucap serius di sela-sela isak tangisnya namun Lela menjadi tergelak dibuatnya.
"Pak Bram memang duda tanpa anak. Istrinya meninggal beberapa tahun yang lalu dan dia mulai mendekati kakak. Aku rasa walaupun pak Bram nantinya buncit dan botak, dia akan tetap keren dan gagah" ucap Lela di sela gelak tawanya.
Binar langsung melepaskan diri dari pelukannya Lela dan menengadahkan wajah cantiknya untuk menatap Lela yang tengah berdiri di depannya, "buat kamu saja kalau gitu"
Lela langsung melangkah menjauhi Binar sembari berjalan keluar dari ruang kerja bos cantiknya itu dia berucap, "hatiku udah ada yang punya kak"
"Gila kau! kau nggak mau tapi kau sodorkan ke aku" Binar memekik sewot ke Lela dan Lela langsung menggemakan tawa renyahnya ambil menutup pintu ruang kerjanya Binar.
Sepeninggalnya Lela, Binar menoleh ke tumpukan map yang teronggok rapi di samping kirinya, "aku sepertinya tidak bisa bekerja hari ini. Aku pergi jalan-jalan saja. Emm, tapi ke mana? belanja sendirian nggak asyik"
Binar kemudian bangkit dan masuk ke dalam ruang istirahatnya. Dia merebahkan diri di atas ranjang kecil tapi elegan dan anggun itu dan tidak begitu lama dia pun menghempaskan segala capek fisiknya dan lelah hatinya ke alam mimpi. Binar tertidur pulas tanpa memikirkan semua kerjaannya di hari itu.
Beberapa jam berlalu dan Binar dibangunkan oleh Lela ketika ada seorang tamu yang bersikeras ingin menemui Binar dan meminta Binar untuk mendesain apartemen baru mereka.
Binar mendengus kesal dan terpaksa bangun untuk menemui kliennya itu sambil merapikan rambutnya.
Sepasang suami istri telah menunggu Binar di ruang meeting. Awalnya percakapan mereka normal dan Binar berhasil memikat sepasang suami istri itu untuk berbisnis dengannya. Namun, di saat suami istri itu berucap kepadanya, "menurut mitos, jika seorang lajang mendesain rumah atau apartemen sepasang pengantin baru maka di dalam waktu dekat, anda pun akan menikah"
"Uhuk!" Binar langsung tersedak salivanya sendiri lalu berucap, "aaahhh, hahahaha, bagaimana mungkin saya akan menyusul menikah. Saya saja belum memiliki pacar"
"Kalau begitu dalam waktu dekat anda akan bertemu dengan belahan jiwa anda, jodoh anda" ucap klien wanitanya dan suami dari klien wanitanya itu tersenyum dan menyetujui ucapan istrinya.
Binar hanya bisa tersenyum lebar.