My Pretty Boss

My Pretty Boss
Tawa Kamu Cantik



Pagi merekah indah seindah senyumnya Binar. Nyanyian merdu kicauan burung di angkasa semerdu senandung lagu cinta yang meluncur manis dari bibir manisnya Binar di saat dia melangkah turun dari lantai atas menuju ke kamar mungilnya Bronzo. Binar membuka pintu kamarnya Bronzo dan Bronzo langsung menyalak ceria, seolah mengucapkan selamat pagi ke bos cantiknya.


Binar tertawa lirih, mengusap kepalanya Bronzo lalu memasangkan kalung ke lehernya Bronzo. Seperti hari-hari biasanya dia selalu mengajak Bronzo joging jam lima pagi di sekitar kompleks perumahannya yang lumayan luas dan akan berhenti di taman yang berada di tengah kompleks untuk melakukan beberapa senam kecil dan peregangan otot sementara Bronzo dia biarkan bermain di sekitar taman itu.


"Mi, aku joging dulu" pekik Binar ke arah dapur.


"Oke Non!" sahut Miko yang sudah berubah jadi Mimi dari arah dapur.


Binar menarik pelan Bronzo dan melangkah keluar. Binar langsung mengerem langkahnya saat dia membuka pintu rumahnya, "astaga! ngapain kamu sepagi ini ke sini?"


Theo nyengir kuda di depannya Binar, "aku mau menemanimu joging"


Binar melangkah mendahului Theo sambil menarik Bronzo, "kok kamu tahu, aku mau joging?"


Theo berlari kecil menyusul.langkahnya Binar lalu berjalan di sampingnya Binar, "tahu dong, kita kan tetanggaan. Aku ingat-ingat lagi ternyata aku sering melihat kamu melintasi rumahku saat kamu joging"


Binar menoleh ke Theo dengan kesal sambil terus joging, "bintitan entar kalau suka ngintip. Kamu ngintip aku dari dalam rumah kamu kan, saat aku lewat?"


Theo tertawa kecil, "Siapa yang ngintip, kamu sering lewat pas aku memandikan Suzy. Dasar kamunya aja yang sombong dan nggak mau menyapaku" ucap Theo dengan santainya sambil mengiringi Binar joging.


Binar mengerem langkahnya secaraendadak dan Theo hampir saja menabrak Binar. Binar kemudian memutar badan dan menghadap Theo, "siapa Suzy? kamu sudah punya istri ya? kalau sudah punya istri kenapa kamu setujui perjodohan ki......."


"Itu Suzy" Theo menunjuk ke mobil sport kesayangannya. Tanpa Binar sadari saat itu mereka telah berdiri di depan rumahnya Theo.


"Itu rumah kamu? dan......mobil itu, kamu kasih nama? dan namanya Suzy?" Binar tekekeh, "dari mana kamu tahu kalau mobil kamu tuh berkelamin betina?" Binar langsung bersedekap dan mengerutkan alisnya.


"Hahahaha, dari rasanya dong. Mobil itu enak untuk ditumpangi dan nggak pernah rewel berarti nurut kan sama aku ya secara rasa aku pikir dia cewek makanya aku kasih nama Suzy" ucap Theo dengan polosnya


"Dasar gila" Binar menggeleng-nggelengkan kepalanya di depan Theo dan Theo langsung menggelegarkan tawanya.


"Kamu mau mampir ke rumahku dulu? aku akan bikinkan kopi dan sandwich" ucap Theo dengan senyum tampannya.


"Kami bisa masak?" tanya Binar.


"Hahahahaha, bikin sandwich itu sangat gampang nona cantik, nggak perlu bisa masak untuk bikin sandwich" Theo semakin melebarkan senyum tampannya.


Binar meringis di depannya Theo, "aku bahkan belum pernah bikin sandwich, heeee"


"Mau aku ajari?" Theo menarik lengannya Binar dengan penuh semangat.


Bina menarik pelan lengannya dan melanjutkan jogingnya, meninggalkan Theo begitu saja. Theo langsung bergegas menyusul Binar, "ada apa?"


"Pasti adik kamu si cewek aneh ada di rumah kamu, kan? aku nggak mau bertemu dengan adikmu di pagi hari, merusak moodku entar" ucap Binar sembari melepas bebas si Bronzo di taman dan dia mulai melakukan peregangan otot.


Theo mengikuti gerakannya Binar lalu berucap, "adikku tinggal dengan papa. Aku tinggal sendiri di rumah itu"


Binar menoleh ke Theo, "gerakanmu salah tuh" Binar kemudian berdiri di belakangnya Theo dan membetulkan posisi lengannya Theo dari belakang. Tanpa Binar sadari dia memeluk Theo dari belakang.


Theo merona malu dan merasa luar biasa bahagia sampai dia tersedak salivanya sendiri karena salah tingkah, "uhuk!"


"Hmm, harusnya yang modus tuh cowok ya tapi kenapa nih cewek yang modusin aku terus ya, heeeeee" Theo terus melakukan gerakan mengikuti gerakannya Binar sambil melirik ke Binar.


Binar menepuk bahunya Theo, "siapa yang modus, jangan halu pagi-pagi entar kesambet kapok"


"Kalau kesambet cinta cewek secantik kamu, aku tidak keberatan" ucap Theo dengan polosnya.


Binar terus melakukan gerakan peregangan otot dan senam kecil tanpa menghiraukan ucapannya Theo dan Theo kembali menggelegar kan tawanya.


Tanpa mereka sadari dari kejauhan Hendra terus mengawasi mereka dari dalam mobilnya, "sial! aku kalah cepat dengan kak Theo. Aku ingin bicara dengan Binar sambil menemani Binar joging tapi kalah cepat dengan kak Theo, sial! sial! sial!" Hendra memukul kemudi mobilnya dengan sangat kesal karena, cemburu.


"Aku akan beli anjing juga" ucap Theo saat Binar telah berputar badan dan hendak pulang sambil menarik tali pengamannya Bronzo.


"Kamu suka anjing?" tanya Binar.


"Nggak juga sih" kata Theo dengan santainya.


"Lalu kenapa mau beli?" Binar menoleh ke Theo dengan heran sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke rumah.


"Untuk menemani Bronzo kamu, kasihan tadi dia kesepian. Kita ngobrol dan dia hanya bisa duduk di dekat kita tanpa aktivitas kan kasihan. Kalau aku beli anjing, anjingku kan bisa bermain dengan Bronzo dan kita bisa mengobrol lebih lama tanpa merasa sungkan sama Bronzo" ucap Theo dengan polosnya.


Binar langsung melepas tawanya dan memukul bahunya Theo, "mana ada sungkan sama Bronzo. Bronzo tadi duduk di dekat kita karena, dia capek. Ngapain kamu merasa sungkan sama Bronzo"


Theo mengerem langkahnya dan menatap Binar, "kamu cantik sekali kalau tertawa lepas seperti ini" tanpa sadar Theo mengulas senyum.


Binar mengentikan tawanya dan melanjutkan langkahnya, "jangan gombal! pagi-pagi ngegombal entar........"


"Kesambet" Theo melengkapi kalimatnya Binar sambil terkekeh geli.


Binar pun terkekeh dan menghentikan langkah setelah sampai di depan pintu rumahnya.



Binar tersenyum ke Theo, "terima kasih udah menemaniku joging"


"Hanya ucapan terima kasih saja?" tanya Theo sambil cemberut.


"Lalu apa?" Binar menatap Theo dengan heran.


"Undang aku sarapan di rumahmu, ya, heeee. Aku pengen sarapan berdua dengan calon istriku" ucap Theo.


Binar tersenyum sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya lalu berucap, "Oke! ayok masuk!"


Undangan Binar membuat hati Theo berbunga-bunga. Dia melangkah masuk ke dalam rumahnya Binar dengan penuh semangat namun, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan bersembunyi di belakangnya Binar saat Mimi mendekat ke arahnya dan berteriak manja, "wow! mas tampanku di sini ternyata, aw! aw! aw! pujaan hati apa kabarmu? bahagia hatinya Mimi, merekah indah bak bunga, menggelenyar gemas bak jelly, hihihihi"


Theo langsung berucap, "lain kali saja kamu yang makan di rumahku ya. Sepertinya untuk selamanya aku nggak bisa makan di rumahmu" dan Theo bergegas berbalik badan lalu berlari keluar meninggalkan Binar yang keheranan dan Mimi yang terus berteriak, "mas tampan, jangan pergi!"


Theo mengerem laju larinya lalu melangkah lemas menuju ke rumahnya dengan kesal dan napas terengah-engah. Dia phobia dengan cowok yang gemulai kayak Mimi tadi dan semakin ketakutan saat Mimi tadi terlihat begitu tertarik kepadanya, "aaaaa!! sial!! kenapa ada makhluk jadi-jadian kayak tadi sih, di rumahnya Binar. Lalu selanjutnya bagaimana nih? aku kan nggak berani lagi ke rumahnya Binar, hiks hiks hiks" Theo menundukkan wajah tampannya sambil menyusuri jalan beraspal dengan lunglai, menuju ke rumahnya.