
Setelah mengantarkan kakek dan neneknya pulang, Aksa mengajak Binar ke restoran milik teman SMA-nya dulu. Aksa begitu antusias ingin memamerkan kekasihnya yang cantik, imut, menggemaskan, yang bernama Binar Adelard.
Aksa menyetir jenis MPV keluaran tahun 2010 itu dengan senyum yang terus mengembang di wajah tampannya.
Binar menoleh ke Aksa dan tergelitik untuk bertanya, "kenapa tersenyum terus?"
Aksa mengusap singkat rambut pendek model bob-nya Binar lalu berkata dengan senyum yang masih terlukis indah di wajah tampannya, "aku bahagia banget bisa jalan-jalan dengan Binar Adelard cewek cantik yang sangat cocok diberi nama Binar Adelard"
Binar mencebikkan bibirnya sambil terkekeh dia bertanya, "memangnya kamu tahu arti namaku?"
"Tahu dong. Arti nama kamu, bersinar-sinar, mulia dan tegas. Tapi imut dan menggemaskan di penglihatanku" ucap Aksa dengan semakin melebarkan senyumnya saking bersemangatnya karena, sebentar lagi dia akan memamerkan pacarnya ke semua teman SMA-nya dulu
Restoran-nya Alex, teman SMA-nya Aksa dulu selalu menjadi tempat tongkrongan teman-teman SMA se-angkatan mereka jadi bisa dipastikan saat ini pun, restoran itu akan ramai dipenuhi teman-teman SMA se-angkatannya Aksa.
"Aku juga tahu arti nama kamu dan kamu cocok juga dengan nama kamu, emm, Aksa Artinya seorang laki-laki yang hanya mencintai seorang wanita bernama Binar Adelard" ucap Binar dengan wajah ceria khasnya.
Aksa melirik Binar sekilas kemudian secara perlahan dia meminggirkan laju mobil yang dikemudikannya.
"Kenapa minggir?" tanya Binar.
Aksa melepaskan sabuk pengamannya lalu Aksa menatap mata Binar, mencondongkan tubuhnya ke arah Binar, dan melepas sabuk penanganannya Binar.
Binar nampak kebingungan dan berucap, "apa yang akan kau lakukan? hmmmpppttt" Bibir Binar langsung terkunci dengan bibirnya Aksa.
Aksa kemudian mencium bibir ranum kekasihnya itu dengan lembut, penuh penghayatan, pelan, dan sensual. Membuat Binar mendesah pasrah dan lemas terkulai. Aksa memang sangat lihai dinilai oleh Binar, di dalam mencium Binar karena, rasa cintanya yang begitu besar untuk Binar membuat ciumannya terasa begitu memabukkan bagi Binar.
Aksa kemudian melepas ciumannya lalu mengusap pipinya Binar yang memerah. Aksa tersenyum penuh cinta, tepat di saat Binar membuka kedua mata indahnya. Aksa kemudian mencium keningnya Binar, lalu menempelkan ujung hidungnya ke ujung hidungnya Binar, dan berbisik di sana, "kamu kenapa terasa begitu manis dan semakin manis setiap hari. Aku sangat mencintaimu"
Binar langsung mendorong tubuhnya Aksa, "ka...kamu" Binar memukul dada bidangnya Aksa, "kenapa menciumku di tempat umum begini? kalau ada yang melihat gimana?" Binar berucap sambil memasang kembali sabuk pengamannya.
Aksa tertawa lebar, menegakkan tubuh jangkungnya dan berucap, "nggak ada yang akan melihat kita. Aku hapal daerah ini. Ini daerah sepi jarang ada orang lewat jadi cocok untuk orang berpacaran" Aksa mengangkat alisnya ke arah Binar.
Binar kemudian terkekeh dan menepuk bahunya Aksa, "dasar kamu! lalu kenapa kamu tiba-tiba menciumku?"
"Karena kamu menggemaskan. Dan sesuai dengan arti namaku kan tadi, kata kamu arti namaku adalah seorang laki-laki yang hanya mencintai seorang wanita yang bernama Binar Adelard makanya harus aku buktikan dong dengan cara mencium kamu" ucap Aksa dengan senyum lebarnya.
"Dasar!" ucap Binar sambil memukul kembali bahunya Aksa.
Aksa tertawa lepas lalu memasang sabuk pengamannya dan dia lajukan kembali mobil kebanggaan dan kesayangan kakeknya itu.
"Tapi aku beneran tahu arti nama kamu" ucap Binar sambil menoleh ke Aksa yang tengah fokus menatap jalan raya di depannya.
Aksa tersenyum lalu menoleh sekilas ke Binar, "benarkah?"
"Benar dong dan aku nggak akan bercanda lagi kali ini"
Aksa kembali terkekeh geli dan berucap, "oke katakan apa arti namaku?"
"Artinya adalah orang yang selalu jernih raut mukanya. Aku sangat suka arti nama kamu, sangat cocok dengan karakter dan wajah tampan kamu itu"
Aksa mengelus singkat pipinya Binar dan melempar sekilas senyum ke Binar, "terima kasih sayang. Almarhum mama yang kasih nama itu. Kata mama, mama kasih nama itu ke aku karena, waktu aku bayi, aku wajahku jernih banget maka mama secara spontan langsung memanggilku Aksa"
"Andai aku bisa bertemu dan berkenalan dengan mama kamu, aku pasti sangat senang. Mama kamu sangat cantik,lembut, dan baik seperti kamu kata nenek semalam"
"Mama juga pasti akan sangat kenal bertemu dan berkenalan denganmu. Tapi sayang, takdir berkata lain" ucap Aksa lirih.
Binar mengusap-usap pundaknya Aksa, "mama kamu, udah tenang dan bahagia penuh kedamaian di Surga jadi jangan sedih lagi, ya!? aku akan menyayangimu sebagai ganti kasih sayang mama kamu. Ya walaupun nggak sama karena, aku nggak selembut mama kamu dan aku keras kepala orangnya tapi aku janji akan menyayangimu dengan sepenuh hatiku"
Aksa meraih tangannya Binar yang bersandar di pundaknya lalu dia cium telapak tangan itu dan berucap, "aku juga akan menyayangimu dengan sepenuh hatiku"
Selang sepuluh menit kemudian, mereka telah sampai di restorannya Alex.
Tepat di langkah pertama Aksa masuk, ke restoran tersebut, semua yang tengah duduk di meja bundar di tengah restoran tersebut menoleh dan langsung bangkit dengan berteriak, "Aksa!"
Binar secara spontan menarik tangannya namun, langsung ditahan oleh Aksa dan dengan paksa Aksa mengajak Binar melangkah karena, Binar terus mengerem langkahnya. Aksa harus berusaha untuk melangkah menuju ke meja bundar itu dan akhirnya dengan helaan napas panjang dan senyum lebar dia berucap, "hai! kenalkan ini calon istriku" ketika langkahnya telah terhenti di depan meja bundar itu.
Semua menatap Binar dalam diam. Mereka semua tercengang ke arah Aksa dan Binar. Ada yang berkata di dalam hatinya, gila cantik banget calon istrinya Aksa. Namun, tidak sedikit yang bertanya di dalam batin mereka, berapa umurnya? kenapa dia nampak lebih dewasa dari Aksa.
Binar tersenyum canggung dan melambaikan tangan ke semuanya dan berucap dengan lirih, "hai salam kenal nama saya Binar Adelard" suara Binar hampir tidak kedengaran karena, dia berucap dengan rasa malu. Dia kehilangan rasa percaya dirinya yang biasanya begitu besar sebagai seorang Binar Adelard saat itu.
Semua kemudian mempersilakan Aksa dan Binar untuk duduk bergabung di meja mereka. Binar mencubit pahanya Aksa dan melotot ke Aksa.
Aksa melepas cubitannya Binar lalu mengangkat tangan Binar di atas meja dan dia genggam terus tangan itu.
Binar mencoba menarik tangannya dari genggaman tangannya Aksa namun, tidak berhasil. Aksa menggenggam tangannya dengan sangat erat.
Aksa kemudian mencium pelipisnya Binar sambil berbisik, "jika kau terus berusaha melarikan diri maka aku akan mencium kamu saat ini juga"
Binar kemudian membisu lalu mematung dan badannya terasa sangat pegal karena terus mematung, merasa canggung dan kikuk di depan teman-temannya Aksa yang masih terus menatapnya.
"Waaahh Aksa! kamu sangat pandai memilih calon istri. Calon istri kamu sangat imut dan cantik" ucap Alex.
Aksa menoleh ke Alex lalu tersenyum bangga dan berucap, "iya, aku sangat beruntung memiliki calon istri secantik dia" Aksa kemudian mencium tangannya Binar yang masih dia genggam dengan sangat erat.
"Kalian teman kuliah?" tanya Rena pacarnya Alex.
Binar menggelengkan kepalanya.
"Berapa umurmu? maaf jika aku bertanya soal umur karena, kamu nampak lebih dewasa dari Aksa" ucap Mila.
Roni menyenggol bahunya Mila, "kenapa kamu pakai bahasa informal padanya. Kamu, kita, baru bertemu dengannya"
"Nggak apa-apa kan Binar? karena, kamu pacarnya Aksa berarti kamu teman kami juga dan aku merasa nggak perlu ada bahasa formal diantara kita?" ucap Mila.
Binar tersenyum tulus dan berucap, "iya nggak apa-apa"
"Tuh kan nggak apa-apa" ucap Mila ke pacarnya kemudian dia menoleh ke Binar, "dan aku langsung menyukaimu Binar"
"Terima kasih" Binar tersenyum tulus ke Mila lalu berucap "umurku tiga puluh tahun"
"Hah?!" semua langsung tercengang ke arah Aksa dan Binar.
Binar tersenyum ke semuanya dan berkata, "iya itu benar. Aku jauh lebih tua dari kalian semua"
"Maafkan saya kak Binar eh maafkan aku kak. Aku sudah memanggil Binar begitu saja tanpa embel-embel, kak" ucap Mila.
Binar tersenyum, "nggak apa-apa. Mau manggil kak nggak apa-apa, mau manggil Binar aja juga nggak apa-apa"
Aksa kembali mencium tangannya Binar dengan penuh cinta. Aksa senang melihat Binar sudah mulai mencair dan bisa mulai mengobrol tenang dengan teman-temannya.
Mila kemudian menoleh ke semua temannya, "wajah apa itu? kenapa kalian tercengang? wajar jika mereka saling mencintai karena, cinta tidak mengenal batasan usia dan aku rasa mereka cocok satu sama lain dan yang penting mereka saling mencintai dengan tulus. Aku mendukung kalian Aksa, kak Binar"
Semua kemudian mengganti wajah kaget mereka dengan senyum dan berucap, "kami juga mendukung kalian"
Binar merasa lega dan bahagia sekali lalu dia berucap, "terima kasih"
Mereka kemudian melanjutkan makan siang mereka dengan penuh rasa kekeluargaan dan canda ria tiba-tiba seseorang menyiram rambutnya Binar dengan segelas Air putih. Binar kaget setengah mati lalu bangkit dan berbalik badan untuk melihat siapa yang berani menyiram dirinya dengan air.
Semua ikutan berdiri dan Aksa langsung melotot tajam ketika dia melihat siapa ya h telah berani menyiram kepalanya Binar dengan segelas air putih.