My Pretty Boss

My Pretty Boss
Lela Mulai Melancarkan Aksinya



Binar mengikuti arah laju ya bed-nya Theo yang didorong oleh petugas medis menuju ke ruang UGD. Theo tidur di atas bed itu dengan posisi telungkup karena, punggungnya terluka dan belum sadarkan diri.


Dokter menyuruh Binar untuk keluar dan tirai di salah satu bilik yang ada di dalam ruang UGD tersebut ditutup rapat oleh dokter yang menangani Theo.


Andik berlari kencang kemudian berdiri di sampingnya Binar, "gimana bos Theo, nyonya?"


Binar terisak dan berucap, "aku belum tahu kondisinya. Dia masih diperiksa oleh dokter. Semoga suamiku tidak kenapa-kenapa"


"Amin" sahut Andik.


Andik menelepon salah satu anak buahnya yang masih berada di lokasi shooting, "tolong kamu selidiki kenapa lampu sebesar itu bisa jatuh dan terarah ke nyonya Theo Revano!"


"Baik Bos!" sahut anak buahnya Andik dan klik, Andik memutuskan sambungan teleponnya.


Binar menoleh ke Andik dengan sorot mata penuh ketakutan kemudian bertanya, "kamu pikir kejadian tadi disengaja?"


"Saya yakin begitu, nyonya makanya tadi saya menyuruh anak buah saya untuk menyelidikinya"


"Tapi kenapa aku? aku baru sekali ini datang ke lokasi kerjanya Theo dan aku nggak kenal semuanya" gumam Binar.


"Makanya kita perlu untuk menyelidikinya lebih lanjut" sahut Andik.


"Tapi, lokasi shooting tadi di outdoor, nggak ada CCTV bagaimana kita bisa menangkap pelakunya jika memang kejadian tadi disengaja untuk mencelakaiku?"


"Ada banyak jalan menuju ke Roma, nyonya. Saya sudah sering menangani masalah seperti ini jadi......."


"Tunggu! sering? jadi Theo juga pernah mengalami hal yang mengerikan seperti tadi?" tanya Binar.


"Iya. Dunia bisnis periklanan adalah dunia bisnis yang kejam, nyonya dan kita sudah terbiasa akan hal itu. Bos Theo juga selalu menang dan lolos dari berbagai ancaman karena, bos Theo itu sangat cerdas dan pandai bela diri"


"Benarkah? Suamiku pandai bela diri?" Binar bertanya sembari mengangkat kedua alisnya ke Andik.


"Iya itu benar, nyonya. Memangnya kenapa?" Andik balik bertanya.


"Tapi kenapa di awal perjumpaanku dengan Theo Revano, aku dengan mudah menjatuhkannya di atas aspal" Binar mulai mengerutkan keningnya di depan Andik.


Andik tersenyum, "itu karena, bos Theo sangat menghormati wanita dan saya yakin dia melemah kalah saat itu karena, dia tertarik pada anda"


Binar tersenyum dan merona kemudian berucap, "oh!"


Andik dan Binar segera menghampiri dokter yang telah membuka tirai di bilik tempat Theo diperiksa. "Gimana, Dok?" tanya Binar dan Andik secara bersamaan.


"Untuk luka luar sudah kami obati tapi kita akan rontgen dulu tuan Theo Revano dan saya minta anda menunggu di kamar rawat inap"


Binar segera memesan kamar VVIP kemudian dia dan Andik menunggu Theo dari ruang Rontgen di kamar VVIP tersebut.


Selang satu jam, bed-nya Theo didorong masuk ke dalam kamar tersebut dan mereka masih harus menunggu hasil rontgen-nya keluar.


Andik pamit pulang untuk mengambil baju gantinya Binar dan Theo. Binar tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke Andik.


"Andik, tunggu!"


"Iya Nyonya?" Andik menoleh ke Binar saat tangannya sudah membuka pintu kamar tersebut.


"Di rumahnya bos kamu, ada asisten rumah tanggaku dan dia agak aneh jadi kamu jangan kaget, ya"


"Oh! terima kasih untuk infonya, saya permisi Nyonya"


Sepeninggalnya Andik, Binar duduk di sebelah bed-nya Theo dan Theo masih tidur dengan posisi telungkup. Binar menatap Theo dengan penuh kesedihan.


"Kenapa kamu selalu ada untukku? kenapa kamu selalu melindungiku?" gumam Binar sembari mengelus pipinya Theo.


"Itu karena, aku sangat mencintai kamu, sayang" sahut Theo dengan mata yang masih terpejam.


Binar segera memeluk Theo saking gembiranya dan berkata, "syukurlah kamu sudah sadar"


Theo membuka kedua matanya lalu meringis dan mengaduh karena, tanpa Binar sadari, lengan Binar mengenai luka di punggungnya.


"Aahh! maaf! aku nggak sengaja" ucap Binar sembari melepas pelukannya.


"Sayang sekali ya, aku dapat pelukan pas aku sakit kayak gini, huuffttt, nasib-nasib" ucap Theo.


Binar terkekeh dan berkata, "nanti kalau sudah sembuh aku akan peluk kamu lama banget, sampai kamu puas"


Theo melebarkan kedua kelopak matanya, menggoyangkan kepalanya, tersenyum lebar dan berkata, "benarkah? janji?"


Binar tersenyum lebar kemudian berkata, "iya janji"


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena, kamu udah melindungiku dan melindungi anakku" Binar mengelus perutnya.


"Bukankah kamu ada rapat dengan klien kamu?" tanya Theo.


"Aku udah suruh Lela untuk menanganinya. Sebentar lagi Lela akan kasih laporan" ucap Binar.


Lela menemui kliennya Binar sambil membawa CEO perusahaan saingannya Binar Adelard Lela dan berkata, "saya bersedia bekerja sama dengan anda untuk menggulingkan Binar Adelard asalkan saya bisa bekerja di tempat anda setelah Binar Adelard bangkrut"


"Baiklah! aku akan angkat kamu menjadi direktur pelaksana jika kita telah berhasil menjatuhkan Binar Adelard"


"Sekarang kliennya Binar Adelard itu, silakan anda prospek! saya di sini saja mengamati" ucap Lela.


Darren tersenyum lebar kemudian melangkah ke meja kliennya Binar dan mulai melancarkan aksinya kemudian, bingo! dia dapatkan kontrak besar tersebut.


Lela tersenyum puas, "rasakan pembalasanku kak Binar Adelard


Darren adalah seorang laki-laki yang pernah mengutarakan cinta ke Binar dan ditolak mentah-mentah oleh Binar dan Darren ternyata masih terus menyimpan rasa kecewanya itu. Dia ingin melihat Binar hancur kemudian merengek kepadanya meminta belas kasihannya.


Lela kemudian menelepon Binar, "Kak! maaf! klien kita tidak setuju dan dia beralih ke Darren grup"


Binar mendesah kecewa dan berucap, "ya sudahlah, nggak apa-apa. Mungkin belum rejekiku. Makasih Lela" ucap Binar kemudian dia masuk kembali ke dalam kamar untuk menyuapi Theo makan sore.


"Gimana?" tanya Theo.


"Apanya?" Binar balik bertanya.


"Kontraknya? sukses kan?" tanya Theo.


Binar berucap, "gagal karena, bukan aku sendiri yang menemui klienku itu tapi, nggak apa-apa, masih ada kesempatan yang lain. Sekarang yang paling penting adalah kesehatanmu" Binar berucap sembari membantu Theo untuk duduk.


Theo tersenyum nakal dan berkata, "cium pipiku dulu baru aku dapat tenaga untuk bisa duduk. Kalau belum dicium aku kok lemas banget ya?"


Binar tersenyum lalu mencium pipinya Theo, "udah ada tenaga?"


Theo tersenyum lebar kemudian mencoba untuk duduk dengan bantuannya Binar. Dokter sudah mengijinkan Theo untuk duduk karena, hasil Rontgen-nya bagus, tidak ada tulang yang patah.


Binar menyuapi Theo dengan penuh ketelatenan dan kesabaran.


"Aku bisa makan sendiri, sayang. Sini piringnya!" Theo mencoba meraih piring yang dipegang Binar namun Binar segera menjauhkan piring itu dari jangkauannya Theo, lalu berkata, "pasien itu harus nurut, biar cepat sembuh"


Theo tersenyum, "aku bahagia banget saat ini, kamu tunggui, kamu kasih senyum terus, dan kamu suapi aku"


Binar tersenyum, "kalau bahagia berarti harus nurut"


"Iya aku nurut deh" sahut Theo sembari terkekeh senang.


"Emm, sayang.........."


Binar menaruh piring yang telah kosong di atas meja di samping bed-nya Theo kemudian menoleh ke Theo, "iya Mas, ada apa?"


"Aaaiiihhh! aku senang mendengar kata Mas keluar dari mulut kamu, boleh aku peluk kamu?" pinta Theo sembari merentangkan kedua tangannya ke Binar.


"Hmm, kalau kena luka kamu lagi gimana?"


Theo lalu mengerucutkan bibirnya dan Binar kembali bertanya, "ada apa Mas? Mas mau ngomong apa tadi?"


"Umm, besok kan setiap jam lima pasti suster datang untuk mengelap badanku, nah aku nggak mau dilap sama suster. Emm, apa boleh aku minta kamu saja yang mengelapnya?" tanya Theo dengan sorot mata memelas seperti anak kecil yang sedang meminta dibelikan es krim.


Binar tertawa kecil dan bergegas menjawab, "tentu saja boleh, Mas. Aku kan istri kamu, kamu boleh minta apa saja, aku akan melakukannya dengan senang hati"


"Benarkah? kalau cium lagi di pipi boleh?"


"Hmm, ini sakit apa modus ya? dari tadi mintanya peluk dan cium terus" Binar mencebikkan bibirnya lalu menatap Theo sambil melipat tangan.


"Salah sendiri kenapa kamu terlahir begitu cantik dan sempurna bahkan bidadari-bidadari di langit ketujuh minder sama kecantikan kamu itu dan wajah kamu itu imut menggemaskan kamu tahu itu?"


"Tahu dong. Aku memang dari kecil awet imut, pffttt" Binar mengulum bibir menahan geli.


"Dasar narsis, pppfffttt" sahut Theo dan mereka berdua tertawa secara bersamaan.



Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin, 🙏🤗❤️