
"Kita tunggu Miko pulang apa mau ke kamar sekarang?" tanya Theo sambil melepas pelukannya setelah Binar sudah menghentikan tangisannya.
"Ka....kamu mau apa?" tanya Binar sambil mengusap air mata yang masih membekas di kedua pipinya.
"Hahahaha, iya tidur lah, hahahaha! emang kamu mikirin apa?" Theo memandang wajah imutnya Binar yang tengah merona malu dengan bibir terkulum menahan geli.
"Nggak! nggak mikir apa-apa" ucap Binar sambil berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Theo yang masih mengulum bibir menahan tawa.
Theo bangkit dan melangkah lebar menyusul langkahnya Binar. Mereka berdua akhirnya sampai di dalam kamar dan merebahkan diri secara bersamaan di atas ranjang karena, lelah batin dan raga sudah mendera mereka dengan begitu hebatnya.
Binar menoleh ke Theo, "maaf, apa boleh aku memegang tangan kamu lagi? aku baru bisa tidur setelah memegang tangan kamu"
Theo tersenyum lalu menyerahkan tangan kanannya untuk digenggam Binar.
Binar menggenggam tangan kanannya Theo, menaruhnya di atas perutnya, dan secara ajaib dia bisa jatuh ke alam mimpi hanya di dalam hitungan detik saja.
Theo tidur miring menatap Binar sambil tersenyum, "kamu itu polos banget jadi cewek padahal umur kamu udah kepala tiga. Tapi, justru itu daya pikatmu. Kamu begitu.........menggemaskan" gumam Theo.
Theo tidur miring sambil menopang kepalanya dengan tangan kirinya. Dia mencium pipinya Binar kemudian, berbisik, "selamat malam cantik. Mimpi indah istriku tercinta" sekali lagi dia menatap wajah cantiknya Binar, mendesah panjang sambil tersenyum, kemudian dia pejamkan matanya untuk mencoba menggapai Binar di alam mimpi
Keesokan harinya..............
Binar memakai gaun berwarna merah yang terbuka dadanya melingkar di bahu. Dress tersebut terbuat dari benang sutra berwarna merah cerah dengan panjang sampai tumit.
Theo keluar dari kamar mandi dan langsung tertegun menatap Binar yang nampak seperti bidadari dengan balutan gaun panjang berwarna merah menyala membuat kulit putihnya Binar semakin memancar sempurna keindahannya. Theo terpana dan tanpa sadar berkata, "cantik sekali. Kalau kamu pakai itu, mempelai wanitanya bisa kalah sama kamu. Kalah cantik, kalah anggun, dan kalah sek.....si....."
Binar tertawa lirih, "mempelai wanitanya adalah adik kamu lho dan Aulia itu sangat cantik, dia tinggi, lebih tinggi dari aku, langsing, dan......."
Theo memeluk Binar dari belakang lalu menaruh dagunya di atas pundaknya Binar, "dan kamu tetaplah yang paling cantik dan seksi di mataku, hehehehe"
Binar mengurai tautan tangan Theo yang menggelung manis di pinggangnya kemudian berbalik badan untuk memandang Theo, "cepat ganti baju yang serasi dengan gaun-ku ini.
Theo mundur lalu menatap Binar, "kamu serius pakai gaun ini?"
"Kenapa? kata kamu bagus, seksi, anggun" ucap bInar sambil mengusap gaun yang dia pakai.
"Tapi, terlalu terbuka dan kamu terlihat begitu sempurna. Aku merasa nggak rela aja kalau berjuta mata laki-laki memandang istriku, menggoda istriku, dan istriku akan punya banyak pengagum rahasia nanti pas di pesta" ucap Theo.
"Aku sudah tua dan sudah menikah siapa yang akan memandangku, menggodaku, dan mengagumiku secara diam-diam?" ucap bInar.
Theo masih memandang Binar dengan tatapan mata tidak rela kalau kecantikan, keseksian, dan kesempurnaannya Binar terpampang nyata di luar rumah.
"Baiklah, aku ganti deh. Aku akan pakai yang warna........."
Theo memegang pergelangan tangannya Binar, "nggak usah! Aku nggak boleh mengekang kebebasanmu dalam mengekspresikan diri. Tapi, selama acara berlangsung, jangan pernah menjauh dari sisi-ku! jangan pernah melepaskan genggaman tanganku! oke?"
"Iya! sekarang cepat ganti baju gih! aku tunggu di bawah" ucap Binar.
"Bantu aku pakai baju! aku janji nggak akan macam-macam lagi kali ini karena, kita diburu waktu. Kalau telat papa bisa melotot, hehehehe"
Binar tersenyum lebar lalu mengambil setelan baju miliknya Theo yang terlipat rapi di atas ranjang. Binar memakaikan satu per satu setelan tersebut dengan telaten dan dia juga memasangkan dasi dengan penuh kelembutan.
Selang lima belas menit kemudian, Binar mengusap jasnya Theo dan berucap, "udah selesai dan kamu terlihat tampan, seksi, dan sempurna"
Theo tersenyum lalu berucap "terima kasih" kemudian mengecup pipinya Binar.
Binar tersenyum dan berkata, "kita berangkat sekarang?"
"Oke bidadari cantikku" sahut Theo.
Miko tertegun memandang kedua bosnya saat menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan. Miko langsung memekik, "wow! kalian pasangan sempurna. Yang satu cantik banget dan yang satunya tampan sempurna"
"Terima kasih" sahut Binar dan Theo secara bersamaan.
"Jaga rumah dengan baik Ko!" ucap Binar kemudian.
"Siap Bu Bos. Tapi nanti jangan lupa oleh-olehnya, ya, hehehehe" kata Miko.
"Oke" sahut Binar sembari terkekeh dan melanjutkan langkahnya menuju ke mobilnya Theo.
Theo mengendarai mobilnya setelah dia memastikan Binar sudah duduk dengan nyaman dan memasangkan sabuk pengamannya Binar.
Binar menoleh ke Theo dan berucap, "terima kasih"
Theo melirik sekilas ke Binar sambil tersenyum dia bertanya, "emang kalau kamu pergi, sering kasih oleh-oleh ke Miko?"
"Iya hehehehe, aku kasihan sama dia seharian di rumah sendirian. Paling cuma sama pak Samin yang mengurus anjing kita, si Bronzo dan si Snowy"
"Maaf, kamu nggak aku ijinkan megang anjing lagi karena, kamu lagi hamil. Aku takut kamu kenapa-kenapa" ucap Theo.
"Iya aku ngerti kok. Ada pak Samin juga yang mengurus Bronzo dan Snowy"
"Biasanya kamu kasih oleh-oleh apa ke Miko?" tanya Theo.
"Pantas kalau pak Samin dan Miko sangat menyayangimu. Kamu baik dan perhatian sama mereka"
"Itu karena, mereka juga baik dan perhatian sama aku" sahut Binar lalu lanjut bertanya, "kenapa kamu nggak punya asisten rumah tangga? rumah sebesar itu selama ini, kamu urus sendiri?"
"Aku pernah punya asisten rumah tangga. Beliau sudah ikut keluargaku sejak aku masih SD dan setelah mama meninggal, Bi Inah ikut aku. Namanya Bi Inah"
"Sekarang di mana Bi Inah?"
"Beliau sudah meninggal. Setelah beliau meninggal, aku tidak ingin punya asisten rumah tangga lagi karena, aku orang yang tidak mudah percaya sama orang, hehehehe dan jika asisten rumah tanggaku cewek, masih muda dan seksi, AW! aku takut kalau aku tergoda"
Binar langsung tertawa lepas dan menepuk bahunya Theo sambil berucap, "dasar mesum!"
Theo tertawa ngakak dan berucap, "aku ini laki-laki normal kalau ada cewek seksi mondar-mandir terus di dalam rumah kan berbahaya untuk kesehatan jantungku, hahahahaha. Maka dari itu, aku putuskan tidak mencari asisten rumah tangga. Aku urus semuanya sendiri. Itung-itung oleh raga di hari Minggu, nyapu, ngepel, memandikan Suzy, mobil kesayanganku ini, dan berkebun"
Binar tersenyum ke Theo dan berucap, "kamu hebat!"
"Terima kasih" ucap Theo.
Mereka akhirnya sampai di tempat pesta dan Theo terus memeluk pinggangnya Binar. Bahkan ke toilet pun, Theo antar dan Theo tunggu di depan pintu. Binar sampai tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "banyak yang lebih cantik, anggun dan seksi dari aku tuh, kok kamu setakut ini aku bakal jadi sorotan dan bakal digoda sama cowok lain"
"Ini karena, aku selalu ada di sampingmu. Coba kalau kamu sendirian, wow! bisa-bisa kamu dikelilingi berpuluh-puluh serigala berbulu domba" ucap Theo.
Binar terkekeh geli, "aku nggak sehebat itu. Aku ini biasa-biasa aja, tinggi badanku aja cuma 165 cm"
"Tapi imut, cantik, dan seksi" ucap Theo.
Binar merona malu dan langsung menepuk dada bidangnya Theo.
Di saat Theo dan Binar tengah menikmati salah satu hidangan di depan sebuah tenda prasmanan, ada lima orang bersetelan rapi mendekati Theo, "pak Theo. Anda tampan sekali. Apa kabar?"
"Masih ingat dengan kami?" tanya salah satu dari kelima cowok bersetelan mahal itu.
Theo menyalami satu per satu Kelima laki-laki yang berdiri di depannya lalu berkata dengan penuh keramahan, "tentu saja saya ingat, pak Felix, pak Sam, pak Gading, pak Leo dan pak Surya. Senang bertemu kembali dengan anda semua"
"Sama-sama pak Theo dan wanita yang sangat cantik ini siapa?" tanya pak Sam.
"Ini istri saya"
"Oh, maaf jika saya telah lancang memuji kecantikan istri anda, pak Theo" ucap pak Sam.
"Tidak apa-apa karena, istri saya ini memang sangat cantik dan saya beruntung memilikinya" kata Theo sambil mempererat pelukannya di pinggang rampingnya Binar.
Binar tersenyum dan berkata, "terima kasih"
Theo menjadi tersita perhatiannya dan tangannya terlepas dari pinggangnya Binar untuk menyalami beberapa koleganya yang mendekatinya lagi.
Binar tersenyum lalu memutar badan dan keluar dari lingkaran kolega-kolega suaminya. Binar memutuskan untu memberikan Theo waktu untuk bersosialisasi.
Binar melangkah menuju ke tenda tidak jauh dari Theo, yang menawarkan empek-empek Palembang.
Binar terlonjak ketika pundaknya ditepuk seseorang dan dia menoleh, "Hendra?"
Hendra menarik Binar ke tempat yang sepi. Binar mengumpat kesal. Dia tidak berdaya melawan Hendra karena, Binar sedang hamil.
Hendra melepaskan tangannya Binar lalu berucap, "kita melarikan diri bersama yuk!"
Binar memundurkan langkah lalu melipat tangan memandang wajah sempurnanya Hendra yang dulu sangat dia puja. Kemudian Binar berkata, "dengarkan aku baik-baik dan ini terakhir kalinya aku berkata kepadamu! aku tidak mencintaimu dan berhentilah menggangguku!"
Hendra mengusap kasar rambutnya, "tapi aku hanya mencintaimu. Aku tidak pernah mencintai Aulia. Kau tahu itu!" pekik Hendra.
"Ssssttt, diam! jangan mempermalukan Aulia! bagaimana pun juga, Aulia adalah adik ipar ku" pekik Binar kesal lalu memutar badan dan wajahnya menabrak dada bidang seseorang, Binar berucap, "maaf" lalu mendongakkan wajahnya dan Binar langsung tersenyum lega dan memeluk laki-laki itu.
Theo mendekap Binar dan melotot ke Hendra, "kenapa kamu meninggalkan Aulia sendirian saat ini?"
"Aulia ke toilet" ucap Hendra.
"Dan kenapa kamu mengganggu istriku?" Theo mulai menggertakkan gerahamnya.
Hendra diam membisu.
"Pergilah! jika di lain kesempatan aku melihat kamu nekat menggoda istriku lagi, aku akan bikin perhitungan denganmu. Pergilah!"
Hendra segera berputar badan dan pergi dalam diam meninggalkan Theo dan Binar.
Theo kemudian melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahunya Binar, "kamu nggak apa-apa, kan?"
Binar berucap, "nggak apa-apa"
Theo mendesah lega lalu kembali memeluk Binar.