
Tepat jam lima pagi hari, Suster datang membawa troli berisi baskom, waslap, handuk kecil, dan peralatan untuk menyeka atau mengelap badan pasien yang belum diijinkan mandi.
Theo langsung mencengkeram lengannya Binar saat Suster tersebut mendekatinya.
Binar tersenyum geli kemudian berkata ke Suster tersebut, "Sus, biar saya saja yang mengelapnya"
Suster tersebut menoleh ke Binar lalu tersenyum dan berkata, "anda siapanya pasien?"
"Saya istrinya" jawab Binar sambil tersenyum ramah ke Suster tersebut.
"Waaahhh!" Suster tersebut memekik keras sambil memukul ujung kakinya Theo kemudian berkata, "tidak sia-sia ya Pak, anda merawat ketampanannya anda, hehehehe. Anda berhasil menikah dengan wanita secantik istri anda ini pasti berkat ketampanan anda itu. Selamat buat anda berdua. Anda berdua pasangan yang sangat serasi, hehehehehe. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak, Bu. Silakan menikmati acara melap-lapnya, he-he-he. Kalau sudah selesai pencet bel saja, saya akan kembali ke sini untuk mengambil kembali troli-nya"" Suster bertubuh tambun, berambut keriting dan berwajah ceria itu pun kemudian keluar meninggalkan Binar dan Theo.
Theo mengangkat kedua alisnya dan menatap Binar sambil terkekeh geli dia berucap, "yang bisa aku andalkan ternyata cuma ketampananku saja, ya, hufffttt! nasib-nasib"
Binar menepuk pundaknya Theo sambil tertawa terbahak-bahak kemudian dia berkata, "bisa buka baju sendiri?"
Theo langsung melancarkan aksi usilnya. Dia mencoba mengangkat kaosnya lalu, "aduh sakit! Sepertinya, aku nggak bisa buka kaos sendiri" Theo meringis ke Binar.
Binar tersenyum lalu membantu Theo membuka kaosnya dengan hati-hati dan pelan-pelan kemudian dia memekik, "yeeeaayy! aku berhasil membuka kaosmu"
Theo tertawa lepas lalu berkata dengan mimik jenaka, "baru kali ini aku melihat cewek memekik girang karena, berhasil membuka kaos seorang cowok"
Binar segera merengut, memukul lengannya Theo dengan pelan kemudian berkata, "kalau terus menggodaku, kamu lap sendiri nih" Binar mengambil waslap dan dia sodorkan ke Theo.
Theo semakin melebarkan tawanya kemudian berucap, "iya maaf! aku akan anteng deh, aku kunci nih mulutku" Theo memamerkan gerakan mengunci di depan bibirnya dan itu membuat Binar terkekeh geli lalu berucap, "dasar gila!"
Theo menarik bibirnya ke kanan dan ke kiri lalu menggetarkan badannya karena, dia hanya bisa tertawa tanpa membuka mulutnya karena, mulutnya sudah dia kunci.
Binar memulai aksinya, mengambil waslap, memasukkannya ke dalam baskom yang berisi air hangat lalu mengelap badannya Theo yang sangat sempurna. Ada roti sobek di sana, perutnya Theo sixpack sempurna. Secara naluri sebagai wanita dewasa yang normal, angannya melayang ke Aksa. Pada batas kesadarannya, wanita cantik istrinya Theo Revano itu, membandingkan tubuh Aksa yang cungkring dengan badan tegap dan perut sixpack-nya Theo lalu dengan tanpa sadar dia bergumam, "dia sangat cungkring beda banget dengan Theo"
"Siapa yang cungkring?" tanya Theo sambil menunduk untuk memandang wajahnya Binar.
Binar spontan mengangkat kepalanya karena, kaget dan secara tidak sengaja kepalanya menyundul dagunya Theo.
"Aduh!" pekik Theo dengan keras dan kepalanya Theo langsung terjatuh di atas bantal.
Binar langsung panik dan memeriksa dagunya Theo. Tubuh Binar secara otomatis jatuh di atas tubuhnya Theo dan menempel sempurna di atas dadanya Theo. Theo meringis merasakan desir di dadanya karena percikkan gairah berbaur dengan rasa nyeri di punggungnya namun, dia tahan karena, sebagai laki-laki dewasa yang sangat normal, dia menikmati momen di kala Binar menempel sempurna di atas tubuhnya.
Binar terus menekan dadanya Theo sambil memeriksa dagunya Theo dalam kepanikkan lalu memeriksa hidungnya Theo untuk memeriksa apakah ada luka dan darah di sana sembari berkata, "kamu nggak apa-apa kan? maaf aku nggak sengaja"
Theo mendekap Binar dengan meringis menahan sakit di punggungnya dia berkata, "kamu pasti sering bermain bola. Gila! Sundulan kamu keras banget tadi"
Binar mengangkat wajah cantiknya untuk memandang wajah suaminya dan dia segera menyadari ada sesuatu yang salah ketika dia melihat Theo meringis. Binar segera bangun sambil menarik tubuhnya Theo supaya Theo duduk kembali. Binar kemudian memandangi wajah tampannya Theo, "maafkan aku lagi! punggung kamu sakit ya? aku menekannya terlalu keras ya tadi?"
Theo menarik Binar lalu mendekap tubuhnya Binar sambil tersenyum riang dia berkata, "nggak masalah kok justru aku rela mengulangi lagi kejadian tadi secara slow motion, hehehehe"
Binar melepaskan diri dari dekapannya Theo dan mulai mengerucutkan bibirnya dan Theo langsung menggemakan tawa merdunya di dalam kamar VVIP itu.
Binar mengusapkan handuk di punggungnya Theo saat bagian depan badannya Theo, telah selesai dia lap.
Theo merinding saat Binar mulai mengelap lengannya yang berotot indah dan lengan itu membuat Binar terbuai untuk beberapa saat dan di luar batas kesadarannya, Binar menusuk-nusuk, menyentuh dan mengusap otot indah di lengannya Theo.
Theo berkali-kali kesulitan untuk menelan salivanya dan tenggorokannya tiba-tiba merasa kering. Theo mematung namun, jantung, desiran darah, dan nalar kelaki-lakiannya bekerja dengan cepat dan giat.
"Sayang, agak cepat ngelapnya bisa? dan ke.....kenapa....... ka......kamu tusuk dan kamu elus lenganku seperti itu?"
"Ahhhh!" Binar kembali kaget dan secara spontan melepaskan lengannya Theo dan badannya mundur. Posisi Binar yang berada di atas kasur membuat Binar hampir jatuh saat dia memundurkan badannya dan dengan sigap Theo menahan tubuhnya Binar agar tidak terjatuh dan menariknya ke dalam pelukan lengan kekarnya.
Wajah mereka menjadi begitu dekat dan Theo menempelkan keningnya di atas keningnya Binar, "Sayang, mas ingin mencium kamu" suara serak mewakili gairah yang terpendam di dalam dirinya Theo.
Binar mendesah panjang dan dadanya berdegup dengan sangat kencang. Fantasi liarnya sebagai wanita normal yang dipeluk lengan kekar menari-nari indah di dalam benaknya.
Satu detik berlalu....tik....tak....tik....tak........
Tiga detik hampir berlalu dan..........Ceklek........
Pintu kamar itu terbuka. Theo menarik keningnya dan Theo kemudian bersitatap dengan Andik dalam suasana canggung.
"Ma....maafkan saya" ucap Andik dan segera memutar badan hendak keluar dari kamar itu namun, dicegah oleh bInar, "baju gantinya mana?"
Andik melangkah mendekat sambil menyerahkan tas ransel yang berisi baju gantinya Theo ke Binar dengan canggung.
"Kenapa nggak ketuk pintu dulu?" tanya Theo dengan suara lembut tanpa emosi.
"Su...sudah Bos tapi, nggak ada sahutan makanya saya langsung berinisiatif untuk langsung masuk" sahut Andik
Tidak begitu lama pintu kembali terbuka dan Miko melangkah masuk dengan senyum lebar dan menenteng tas ransel miliknya Binar, "ai, bawa baju gantinya Bos cantik, nih dan bawakan steak, kentang goreng, vitamin, dan susu"
Binar memakaikan kaos ke Theo sambil berucap, "kamu kok ikut ke sini?"
"Hehehehe, habisnya yang datang berondong ganteng kayak mas Andik gini makanya ai ingin ikut, hehehehehe"
Andik tersenyum dengan terpaksa sambil menggaruk-nggaruk kepalanya.
"Kamu nggak diapa-apain kan sama dia?" tanya Binar ke Andik.
Andik meringis dan menggelengkan kepalanya sedangkan Miko menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal dan berkata, "Bos! tega oh tega aaaahhhh....... sama ai! masak ai difitnah ngapa-ngapain nih! babang ganteng, hiks, hiks, hiks" lemah gemulainya Miko muncul kembali.
Theo langsung memandang ke arah Miko dan berucap" Ko! harus macho!"
"Aaaasiaappp, Bos!" Miko segera mengambil sikap sempurna dan bersikap macho kembali.
Binar dan Andik tertawa geli dan Miko menatap semuanya dengan mengerucutkan bibir seksinya.
Theo sarapan disuapi oleh Binar dan Miko menyuapi Binar. Andik tersenyum geli menatap semuanya Kemudian nyeletuk, "kalian benar-benar lucu"
Theo terkekeh, "hidupku sekarang ini memang menjadi penuh warna berkat Binar dan terhibur akan adanya Miko"
Miko memekik senang dan berucap dengan suara lembut dan bertiingkah gemulai, "aiihhh Bos, makacih weleh-weleh nih, Bos muji ai, aaiiihhhhh! ai happy banget nih!"
"Ko! macho!"
"Siap Bos!" sahut Miko sambil duduk dengan sikap sempurna dan mengeluarkan suara bass-nya.
Andik langsung terpingkal-pingkal melihat tingkah konyolnya bos besarnya dan Miko sedangkan Binar tersenyum lebar sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya.
Theo kemudian bertanya ke Andik, "gimana hasil penyelidikannya? siapa yang tega hendak mencelakai istriku?"
"Masih belum ketemu, Bos. Kita masih menunggu mobil merah milik sang sutradara yang ada kamera di bagasinya dan kemarin mobil sutradara kita, parkir dengan bagasi tepat mengarah ke lampu yang jatuh mengenai Bos"
"Oke! kalau begitu teruskan penyelidikanmu dan tolong handle kerjaanku"
"Baik Bos. Kalau begitu saya permisi. Nyonya saya permisi dan......"
"Ayang Miko, merelakan kepergianmu babang tampan Andik.hehehehehe" sahut Miko dengan cepat sambil mengeringkan matanya ke Andik.
Andik bergidik sambil tersenyum lalu bergegas pergi meninggalkan kamarnya Theo.
"Dia takut tuh sama kamu" ucap Binar.
"Tapi sebentar lagi nggak akan takut lagi sama ai. Ai yangkin itu" sahut Miko.
"Yakin kok jadi yangkin sih?" Binar menautkan alisnya ke Miko.
"Hehehehe, ini bibir siapa? bibir ai, kan? suka-suka ai lah, mau bilang yangkin atau yakin" ucap Miko sambil mencebikkan bibirnya ke Binar. Binar langsung menepuk bahunya Miko dengan sangat keras sampai Miko mengaduh kencang dan membuat Theo tertawa lepas.