My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aksa Membaca Buku Harian Itu



Aksa bertemu dengan Boy di sore hari di Resto Bambu. Boy ternyata datang sendirian dan tidak mengajak pacarnya.


"Katanya mau ngenalin pacar kamu, kok datang sendiri?" tanya Aksa dengan wajah datar.


Boy meringis lalu berkata, "aku takut kalau pacarku naksir kamu, hehehehe. Kamu kan jauh lebih tampan, lebih tinggi, dan lebih keren dari aku"


"Dasar gila!" Aksa tertawa tipis ke Boy.


Saat makanan pesanan mereka datang, Aksa yang duduk di depannya Boy, mengarah ke pintu masuk resto tersebut, secara tiba-tiba menjadi tertegun menatap ke arah depan. Boy segera memutar badan dan dengan segera dia mengerti alasannya, kenapa Aksa tiba-tiba merapatkan bibirnya, menjadi tertegun, membisu, dan mematung ketika menatap ke arah pintu masuk resto tersebut.


Binar melangkah masuk ke dalam resto tersebut sambil menggelungkan tangannya di lengannya Theo pun menjadi tertegun. Pandangannya bertemu dengan Kedua bola mata indah miliknya Aksa.


Theo melihat Aksa kemudian menunduk untuk melihat Binar yang masih diam mematung menatap Aksa. Theo mengelus tangannya Binar kemudian bertanya, "Aksa di sini?"


"Iya" sahut Binar lirih.


"Kita samperin dia, apa kita cari tempat duduk dan abaikan dia, atau kita keluar saja dan pindah ke resto yang lain?" tanya Theo.


Binar mendesah panjang dan berkata, "kita duduk saja di situ dan kita abaikan dia"


Theo tersenyum dengan perasaan yang campur aduk kemudian menuntun Binar untuk duduk di meja yang agak jauh dari tempatnya Aksa dan Boy.


"Kapan Aksa balik dari Amerika?" ucap Theo setelah dia duduk di sampingnya Binar.


"Kemarin siang. Dia ke kantor aku, untuk ambil surat rekomendasi magang dan......."


"Tamu dari luar negeri yang kemarin, adalah Aksa?" tanya Theo dengan suara lirih sambil terus menatap Binar.


"Iya. Tapi aku benar-benar nggak tahu kalau tamu dari luar negeri yang kemarin ternyata Aksa. Ratna tidak memberitahuku kalau itu Aksa waktu Ratna meneleponku, kemarin dan......" Binar nampak gugup karena, dia takut Theo marah dan kecewa padanya.


Theo meraih tangannya Binar dan dia genggam sambil dia elus mesra tangan yang berada di dalam genggamannya itu lalu berkata, "aku tidak marah. Kamu nggak usah gugup dan ketakutan seperti itu. Aku tahu karakter kamu, kamu nggak akan cerita kalau tidak ada yang tanya" Theo mendesah panjang kemudian berkata lagi, "tapi, aku mohon mulai dari sekarang, sekecil apapun masalah kamu, kamu ceritakan ke aku walaupun aku tidak bertanya karena, aku tidak ingin kamu menanggung beban apapun itu secara sendirian"


Binar menitikkan air mata kemudian menjatuhkan kepalanya di atas bahunya Theo dan Binar kemudian berkata, "maafkan aku. Aku janji mulai dari sekarang akau akan ceritakan semua hal sekecil apapun ke kamu"


Theo mengusap kedua pipinya Binar lalu mencium puncak kepalanya Binar kemudian berkata, "aku pesankan salad untuk kamu tadi, setelah makan steak, kamu makan salad ya, biar seimbang gizi untuk anak kita, emm, maaf untuk anak......."


"Iya mas, untuk anak kita, demi anak kita, aku akan makan makanan bergizi, seperti salad, buah, biar seimbang dan nggak melulu makan daging"


Theo mengusap perut buncitnya Binar dengan senyum lebar dia lalu berkata, "aku sudah menganggap anak ini, anakku. Tapi, apa Aksa sudah kamu kasih tahu kalau kamu mengandung anaknya? kemarin kamu bertemu muka dengannya, kan?"


Binar menggelengkan kepalanya berbarengan dengan bunyi desahan napas panjangnya, "belum. Dia masih membenciku dan aku tidak berniat memberitahukannya selama dia masih membenciku karena, aku tidak ingin terjadi hal di luar harapanku seperti, Aksa merebut anak ini, atau papanya Aksa akan melakukan hal buruk pada anak ini dan............" Binar kemudian menyembunyikan wajahnya ke dada bidangnya Theo. Dia ketakutan sendiri dengan bayangan-bayangan buruk yang ada di benaknya.


"Ssstttt!" Theo membelai kepalanya Binar lalu berkata, "jangan takut, ada aku di sini. Kalau kamu belum bisa mengatakan ke Aksa kalau kamu mengandung anaknya aku paham tapi, aku harap suatu saat nanti kamu bisa mengatakan kebenarannya ke Aksa karena, anak ini berhak tahu siapa papa kandungnya walaupun aku juga mencintai anak ini" Theo kemudian mengelus perutnya Binar.


"Terima kasih papa Theo, udah menyayangiku" sahut Binar sambil mengelus tangannya Theo yang masih melekat di atas perut buncitnya Binar dan Theo langsung tergelak geli lalu mencium keningnya Binar penuh dengan cinta kasih.


Aksa dari kejauhan terus menatap kemesraannya Theo dan Binar lalu dia bangkit untuk berpindah tempat duduk, kemudian dia duduk di sebelahnya Boy dan memunggungi Binar dan Theo.


Boy segera berkata, "aku tahu kalau kamu dulu berpacaran dengan kak Binar"


Aksa menoleh ke Boy, "hah? bagaimana kau bisa tahu? Binar, eh, kak Binar, kasih tahu ke kamu?" tanya Aksa.


Boy menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar dan berkata, "aku tahu saat aku ke apartemen kamu dan melihat sepatu cewek. Aku hapal kalau sepatu itu adalah sepatunya kak Binar"


Aksa berkata, "oh!"


"Hanya oh saja? kamu nggak nanya-nanya lagi?" Boy menautkan alisnya ke Aksa.


"Percuma juga nanya-nanya lebih jauh lagi. Aku dan dia udah putus dan......"


"Dia yang minta putus dan aku menyetujuinya karena, aku kecewa dengannya. Pertama, aku kecewa dan merasa capek karena, dia selalu menolak jika aku memintanya mengakui hubunganku dengannya ke publik dia selalu memiliki segudang alasan saat dia menolak permintaanku itu. Kedua, dia menyembunyikan soal papanya. Papanya yang menyebabkan papa dan almarhum mamaku bercerai, dan yang terakhir, aku lihat saat dia meminta putus sama aku, kala itu, sama sekali tidak ada keraguan dan kesedihan tersirat di dalam kedua matanya" Aksa kemudian menghela napas panjang untuk melepas sesak di dadanya.


Boy hanya bisa diam. Dia tidak mau menanggapi ceritanya Aksa karena, dia takut salah dan hanya akan menambah kesedihan di hatinya Aksa.


Aksa kemudian bangkit, menepuk pundaknya Boy, dan berkata, "aku pamit ya. Aku akan berkemas, besok lusa pagi-pagi buta aku akan balik ke Amerika"


"Lho katanya besok? kok masih lusa lagi baliknya?"


"Papa, mama, dan adikku pengen ikut" sahut Aksa.


Boy ikutan bangkit lalu memeluk Aksa. Setelah melepaskan pelukannya Boy menepuk pundaknya Aksa, "ati-ati di jalan dan sukses untuk studi kamu. Makasih untuk traktirannya"


Aksa tersenyum kemudian melangkah pergi meninggalkan Boy dan resto tersebut tanpa menoleh ke arah Binar dan Theo.


Dara sudah kembali dari Kudus. Dara bersyukur dia sempat mengunjungi makamnya Dona untuk meminta restunya Dona karena, Dara ingin mengungkapkan kebenaran ke Aksa agar, Aksa tidak lagi hidup alam kebingungan, kebencian, dan dendam, lewat buku hariannya Dona.


Dara mondar-mandir di depan teras istana suaminya. Dara ingin menyerahkan buku hariannya Dona secara langsung ke Aksa tanpa sepengetahuannya Kenzo. Dara paham betul watak dan karakter suaminya jika, buku hariannya Dona sampai diketahui Kenzo, Kenzo hanya akan melakukan. dua hal yaitu, membuang buku harian itu dan kembali memprovokasi Aksa untuk semakin membenci keluarga Adelard.


Aksa akhirnya melangkah masuk lalu memeluk mama tirinya dengan penuh kasih sayang lalu berkata, "kok di luar, Ma?"


"Mama menunggu kamu. Mama mau kasih ini tapi, jangan kamu baca di sini. Mama mohon bawa dan simpan baik-baik buku harian ini sekarang jika kamu belum memiliki waktu untuk membacanya" Dara segera memberikan buku hariannya Dona ke Aksa.


Aksa menerima buku harian itu dengan menautkan kedua alisnya, "ini buku hariannya siapa, Ma?"


"Nanti kamu akan tahu kalau kamu membacanya. Sekarang cepat bawa ke kamar kamu dan jangan sampai papamu tahu!"


Aksa masih menautkan alisnya sambil melangkah lebar naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Aksa melihat buku harian berwarna kuning emas itu kemudian dia memasukkan buku harian itu ke dalam tas selempangnya. Aksa kemudian berkemas lalu mandi dan keluar dari kamarnya untuk bermain dan bercanda dengan Embun.


Buku hariannya Dona masih meringkuk cantik di dalam tas selempangnya Aksa dan Aksa belum sempat membacanya kala itu, hingga sampai di hari keberangkatan mereka ke Amerika untuk acara pertunangannya Aksa dan Berlian.


Mereka sekeluarga sampai di kediamannya Kenzo yang berada di Amerika dengan selamat dan segera bersapa ramah dengan Berlian. Berlian pun bisa cepat akrab dengan Embun karena, sikap cerianya Berlian. Berlian menyambut rencananya Kenzo Julian dengan sangat bahagia dan dia melompat hendak memeluk Aksa saking gembiranya mendengar bahwa lusa dia akan bertunangan dengan Aksa namun, Aksa menahan Berlian dan berkata dengan wajah dan nada suara yang dingin, "jangan pernah menyentuhku!"


Kenzo menoleh tajam ke Aksa dan hendak menegur.Aksa atas sikap dinginnya Aksa ke Berlian namun, Dara segera mencegahnya dengan berkata ke Berlian, "maafkan Aksa ya Nak, Aksa masih belum bisa membuka dirinya untuk kamu"


Kenzo menoleh ke Dara dengan menghela napas panjang dan Berlian segera berucap, "iya Om, Tante, Berlian paham. Berlian akan bersabar demi cinta Berlian ke Aksa"


Aksa diam saja. Dia memandang ke arah depan dengan pandangan kosong dan Dara memandang Aksa dengan penuh keprihatinan.


Hari yang ditunggu-tunggu Kenzo dan Berlian telah tiba. Yakni hari pertunangannya Aksa dan Berlian. Semua media televisi telah hadir untuk meliput acara pertunangan tersebut yang digelar secara besar-besaran di sebuah hotel bintang lima.


Lima jam sebelumnya Aksa menyempatkan diri untuk menelepon nenek dan kakeknya. Aksa mengabarkan soal putusnya dia dengan Binar dan soal pertunangannya dengan seorang gadis yang bernama Berlian. Neneknya mendesah panjang dan hanya bisa berkata, "semoga kamu bahagia dan apakah kamu sudah membaca buku harian mama kamu? mama Dara kamu pasti sudah memberikannya ke kamu?"


Aksa segera melompat dan mengambil buku harian yang berwarna kuning emas dari dalam tasnya, "Aksa lupa, Nek. Ini akan Aksa baca dan Maaf Aksa tutup dulu telponnya"


Aksa menutup sambungan teleponnya dan mulai membuka buku harian berwarna kuning emas itu. Aksa menjadi terhanyut karena, di luar dugaannya dia menemukan sosok papanya yang sebenarnya. Di dalam halaman pertama buku hariannya Dona, Dona menulis tentang awal-awal pernikahannya yang bahagia karena, dia bisa menikah dengan laki-laki yang dia cintai dan yang sangat mencintainya namun, sekaligus terkekang saat mendapati ternyata Kenzo Julia seorang yang super posesif, cemburuan, dan selalu menuduh Dona untuk hal yang tidak pernah Dona lakukan. Walaupun Kenzo tidak pernah main fisik namun, sikap super posesifnya sangat menyiksa batinnya Dona.


Hingga sampai ke halaman yang menceritakan saat Kenzo menemukan Damian Adelard memeluk Dona sehingga menimbulkan kesalahpahaman.


Tulis Dona di buku hariannya, "cintamu untukku tidak pernah aku rasakan indah, justru cinta kamu menjadi duri dalam dagingku, Mas. Kenapa kamu selalu memandang rendah ke aku, tidak pernah mempercayaiku. Aku capek terus menjelaskan ke kamu, Mas. Aku selalu sedih melihat sorot mata penghakimanmu atas apa yang tidak pernah aku lakukan. Oleh sebab itu, aku memilih diam dan akhirnya menyetujui perceraian kita karena, aku udah merasa capek setiap hari kamu kekang, kamu batasi ruang gerakku, kamu hakimi aku dengan kata-kata yang sangat kasar jika aku kau dapati makan bersama dengan klien pria. Maaf jika aku egois dan tidak memikirkanmu Aksa Putra Julian, putra tunggal-ku. Mama egois mengambil langkah meninggalkan papa kamu di dalam kebisuan karena, mama sakit hati dikata-katai kasar sama papa kamu, dilukai secara lisan dan fisik, Papa kamu tidak sengaja mendorong mama sampai mama terbentur dan pingsan, dan di saat mama sadar pun, papa kamu tidak menjadi luluh dan meminta maaf ke mama dan meminta maaf ke om Damian Adelard atas tuduhan ngawurnya, papa kamu justru pergi meninggalkan mama lalu meminta untuk bercerai padahal mama dan om Damian Adelard sungguh-sungguh tidak pernah berselingkuh"


Tangan Aksa bergetar saat dia menutup kembali buku harian berwarna kuning emas milik almarhum mamanya. Pandangannya sejenak kabur oleh air mata yang tanpa dia sadari telah membanjiri kedua pipinya Seketika itu pula Aksa merasakan kekecewaan dan kebencian yang mendalam atas papanya. Aksa kemudian, mengusap asal kedua pipinya, meraih tas selempangnya dan memasukkan kembali buku harian itu ke dalam tas selempangnya lalu, dia melesat keluar dari dalam rumah papanya tanpa diketahui oleh siapapun.


Saat waktunya tiba, Kenzo dan Dara mengetuk pintu kamar Aksa dan setelahenubggu selama lima belas menit dan tidak ada jawaban dari dalam kamar itu maka, Kenzo segera mendobraknya dan mendapati kamar itu telah kosong. Semua pegawainya Kenzo yang berada di rumah itu segera Kenzo perintahkan untuk mencari Aksa di segala penjuru rumah itu dan Aksa tidak diketemukan bahkan ponselnya Aksa pun tidak aktif.


Kenzo dan Dara terduduk lemas karena, Aksa telah hilang. Dara seketika itu pula menyesal karena, kesibukan mempersiapkan acara pertunangannya Aksa dia mengabaikan Aksa dan tidak mendampingi Aksa saat Aksa membaca buku hariannya Dona. Dara merasa menyesal dan dia kemudian menangis dengan sangat hebatnya.


Aku yakin beberapa menit yang lalu Aksa pasti membaca buku hariannya mbak Dona Harusnya aku mendampingi Aksa saat dia membaca buku hariannya mbak Dona. Harusnya aku tidak menyerahkan begitu saja buku harian itu ke Aksa. Kenapa aku menjadi begitu bodoh. Sekarang Aksa di mana? Batin Dara sambil terus menangis di dalam pelukan suaminya.