My Pretty Boss

My Pretty Boss
Binar dan Embun



Binar dan Mimi telah masuk di dalam apartemennya Aksa. Masih tergeletak piring kotor, gelas, poci, mangkuk kecil, mangkuk sedang, mangkuk besar, dan nampan kotor di atas meja makan.


"Bos, ini apartemen-nya siapa? bos baru beli ya?" tanya Mimi.


"Apartemen pacarku dan aku ajak kamu ke sini untuk beres-beres di sini" kata Binar sambil meringis ke Mimi.


Mimi yang berbadan jangkung tapi kekar itu langsung memegang rok panjangnya dan merengut sambil menghentakkan kaki kirinya di atas lantai, "kirain ai mau diajak pikgenik, pipi ria, ternyata cuma mau disuruh beres-beres"


"Hahahaha, aku akan kasih satu bulan gaji kamu untuk sehari aja beres-beres di sini, gimana? eh tapi apa itu tadi pikgenik terus pipi ria?"


Mimi langsung merubah muka cemberutnya dengan senyum cerah ceria, "aaahhh! siap dong kalau bonusnya gede ai siap delapan enam, laksanakan Bos! dan emm, pikgenik itu piknik kalau pipi ria itu happy-happy ria, masak gitu aja nggak ngerti sih bos, katanya cerdas?" ucap Mimi sambil mulai membersihkan meja makan lalu menuju ke wastafel untuk mencuci perabot makan yang masih kotor.


"Kecerdasanku tuh untuk cari uang bukan untuk pipi ria" Binar langsung melotot ke Mimi.


Mimi langsung melepas tawa riangnya.


Binar berjalan pelan masuk ke dalam kamarnya Aksa. Dia melihat seprai, masih ada bercak darah dari segel kesuciannya yang telah dibuka oleh Aksa. Binar berpikir keras cara untuk menghilangkan bercak itu sambil menarik seprai itu untuk dia cuci.


Binar kemudian melangkah keluar dari dalam kamar menuju ke mesin cuci dia masukan seprei itu ke dalam mesin cuci dan dia arahkan sisi seprai yang ada bercak darah kesuciannya di depannya, lalu dia oleskan sabun mandi cair di atasnya dia kasih sedikit air dan dia kucek-kucek bercak darah kesucian di atas seprai itu dan berhasil, bercaknya hilang. Setelah itu dia masukkan deterjen cair ke dalam mesin cuci, dia tutup mesin cuci itu lalu dia tekan tombol start maka tergilinglah seprai itu dengan baju-baju dia dan Aksa di dalam mesin cuci itu.


Dia kemudian mengusap kedua tangannya dan bergumam, "beres!"


Binar masih melupakan soal pil KB.


Ketika Binar melangkah kembali ke ruang tengah, dia langsung menghentikan langkah kakinya. Dia melihat Mimi tengah berdiri di depan seorang wanita cantik seumuran kakak perempuannya dan seorang gadis cilik berumur delapan tahun dikucir kuda, berponi, dan berpipi gembul.


"Anda siapa?" Binar dan wanita tersebut melempar tanya ke satu sama lain secara bersamaan.


"Aaahhh, saya mamanya Aksa dan ini adiknya Aksa" wanita itu melempar senyum ramah dan cantiknya ke Binar sambil menggandeng putrinya, melangkah masuk dan duduk di atas sofa.


Binar tersenyum canggung dan ikutan duduk di atas sofa.


Aduh! aku harus gimana nih? batin Binar.


"Anda pasti kekasihnya Aksa. Aksa bercerita sama saya kalau dia memiliki kekasih" ucap Dara sambil tersenyum penuh arti ke Binar.


"Iya" jawab Binar dengan rona malu di wajah cantiknya.


Dia benar-benar merasa malu karena, umur mamanya Aksa tidak jauh beda dengannya dan dia semakin malu ketika dia melihat tatapan aneh dari adiknya Aksa.


"Selamat ya, saya doakan hubungan kalian langgeng" ucap mamanya Aksa dengan senyum tulusnya. "Lalu dia siapa?" Dara menoleh ke Mimi yang tengah tersenyum lebar ke semuanya.


"Aaah, dia asisten rumah tangga saya. Saya ajak dia bersih-bersih di sini, heeee" Binar semakin merasa salah tingkah di depan mamanya Aksa.


"Oh. Saya ke sini juga mau bersih-bersih di sini" ucap Dara.


"Aaah, nggak perlu. Biar saya saja yang membersihkan apartemen ini setiap hari" ucap Binar.


"Hah?! setiap hari bos? katanya tadi cuma sehari?" Mimi secara polos melempar protes dan Binar langsung bangkit dan mendorong Mimi ke arah dapur dan berkata, "ssstttt! bikinkan minum dan soal bayaran nanti gampang"


Mimi langsung melempar huruf O dengan jarinya ke Binar sambil tersenyum lebar.


Binar kembali duduk di depannya Dara memasang senyum lebar nan cantiknya.


"Anda cantik, imut, dan mandiri, pantas jika Aksa memilih anda untuk menjadi pacarnya. Emm, saya ibu tirinya Aksa dan......."


"Tapi Ma! Embun tidak menyukai Tante ini. Embun tidak mau Tante ini merebut kak Aksa dari Embun. Kak Aksa hanya miliknya Embun seorang" Embun langsung melipat tangan, merengut dan menatap tajam ke Binar.


Waaaahhhh sainganku berat banget nih, hiks hiks hiks. Batin Binar.


"Hahahaha, maafkan putri saya. Embun sangat dekat dengan Aksa dan mereka saling menyayangi. Bahkan jika Embun sakit demam asal Aksa datang dan tersenyum aja kepadanya maka demamnya Embun langsung turun tanpa minum obat, heeeee. Embun bukannya tidak menyukai anda, dia memang tidak menyukai wanita yang dekat dengan Aksa selain saya dan Embun" ucap Dara.


"Oh, heee. Nggak apa-apa kok. Saya nggak tersinggung dengan sikapnya Embun. Saya juga memiliki keponakan cowok berumur lima tahun jadi saya paham akan kepolosannya anak kecil" sahut Binar.


"Minta maaf sama Tante!" ucap Dara ke Embun.


Embun bangkit berucap, "maaf" sambil membungkukkan badan di depan Binar lalu duduk kembali kemudian berucap, "tapi saya tetap tidak menyukai anda jika anda merebut kakak saya"


"Hahahaha, Tante nggak akan merebut kakak kamu, Tante ingin mengajak kamu bekerja sama bagaimana?" Binar menaikkan kedua alisnya ke Embun.


"Bekerja sama?" tanya Embun.


Mimi menaruh minuman di atas meja dan kembali lagi ke dapur untuk membuat camilan dengan bahan yang ada di dalam lemari es. Mimi sangat pandai memasak jadi bahan yang ada bisa dia sulap menjadi makanan yang lezat.


"Kita akan bekerja sama membuat kak Aksa kamu happy. Kamu senang kan kalau kakak kamu happy?" tanya Binar.


"Tentu saja Embun happy kalau kakak happy" ucap Embun.


"Kalau gitu, nanti pas kak Aksa pulang dari Bali, kita bikin kejutan.kita hias apartemen ini, Kita berbelanja, beli balon, beli cokelat, beli......."


Embun langsung merubah mendung di wajahnya dengan keceriaan dan menyambung ucapannya Binar, "kue mangga, kak Aksa sangat menyukai kue mangga, steak, kentang goreng, lalu anggur hijau, kita harus beli itu karena, itu semua kesukaannya kak Aksa, benar kan, ma?"


Dara tertawa bahagia, mengelus jejeran rambut di atas keningnya Embun lalu berucap, "iya benar, sayang"


Lalu Dara menoleh ke Binar dan berucap "terima kasih" karena, Binar telah berhasil memenangkan hatinya Embun.


Embun kemudian bangkit dan dengan polosnya duduk di atas pangkuannya Binar, "balonnya warna merah, kak Aksa suka warna merah"


Binar tertawa senang melihat Embun mulai membuka hati untuknya lalu dia memeluk Embun, mencium pipi gembulnya Embun dan berucap, "oke! warna merah dan kamu nanti yang memilihkannya ya?! karena, Tante nggak pintar memilih balon dan aksesoris lain yang disukai kakak kamu"


"Serahkan sama Embun" Embun menepuk bangga dadanya tapi kemudian menautkan alis dan menatap Binar, "tapi Tante nggak akan merebut kak Aksa dariku, kan?"


Dara dan Binar langsung menggemakan tawa mereka lepas ke udara. Binar kemudian berucap, "Tante nggak akan merebut kakak kamu sayang karena, selamanya dia adalah kakak kamu dan kita ini adalah sebuah tim, tim yang akan selalu bekerja sama untuk selalu membuat kakak kamu happy, oke?"


Embun berkata "oke!" dengan penuh semangat lalu mencium pipinya Binar dan berbisik, "Embun menyukai Tante"


Dara dan Binar kembali melepas tawa bahagia mereka melihat tingkah polosnya Embun.


Embun menonton televisi di ruang keluarga dengan ditemani Mimi. Embun terus tertawa setiap kali Mimi berucap dan bertingkah. Di mata Embun, Mimi sangatlah lucu.


"Maukah kak Mimi ikut aku pulang?" tanya Embun.


"Wani Piro?" Mimi menggesekkan jari telunjuk dengan ibu jarinya di depannya Embun.


"Wani Piro itu apa?" tanya Embun sambil terkekeh.


"Iya kalau bawa kak Mimi pulang ke rumah, non Embun berani bayar kak Mimi berapa?" Mimi berucap kemudian mengulum bibir menahan tawa.


"Sebentar ya, Embun nanya ke mama dulu, mama berani bayar kak Mimi berapa?" Embun hendak bangkit dan langsung ditahan Mimi, "eh Non! kak Mimi cuma bercanda. Kak Mimi nggak bisa ninggalin bos Bnar untuk selamanya"


Embun kembali duduk lalu bertanya, "kenapa?"


"Iya karena, bos Binar itu nggak bisa masak, nggak bisa bersih-bersih rumah, nggak bisa mencuci baju, kalau kak Mimi tinggal sendirian kan kasihan"


"Tante Binar ternyata nggak bisa apa-apa, ya?" tanya Embun.


"Iya benar. Bos Binar hanya pandai mencari fulus eh duit eh uang" ucap Mimi dengan gerak bibir yang kadang monyong, meringis, dan melengkung membuat Embun kembali tergelak geli.


"Anda ternyata bosnya Aksa" ucap Dara.


"Iya. Saya memang bos-nya Aksa dan maaf jika saya terlalu percaya diri dan nekat berpacaran dengan Aksa, saya sepuluh tahun lebih tua dari Aksa dan.........."


"Saya tidak mempermasalahkan itu semua, asal Aksa bahagia, saya akan mendukung hubungan kalian dan saya mohon jangan pernah membuat Aksa sedih dan kecewa" ucap Dara.


"Saat ini saya hanya bisa berucap kalau saya sangat mencintai Aksa" ucap Binar sambil tersenyum.


"Walaupun saya hanya mama tiri tapi saya sangat menyayangi Aksa. Saya tidak pernah membedakan kasih sayang saya ke Aksa dan Embun. Saya hanya ingin Aksa selalu bahagia karena, sejak kecil dia sudah mengalami kesulitan ketika papa dan mama-nya bercerai dan mama-nya akhirnya meninggal dunia saat Aksa masih berumur sekitar sepuluh tahun" ucap Dara.


"Saya juga hanya menginginkan kebahagiaannya Aksa" ucap Binar dengan senyum cantiknya.


"Aksa pantas mendapatnya. Aksa anak yang penurut, sabar, lembut, dan baik hati, itulah kenapa Embun sangat menyayanginya. Aksa tidak cocok dengan papanya yang memiliki karakter kaku, otoriter, dan keras kepala namun, Aksa masih tetap menghormati, memberikan perhatian, dan tidak pernah bersikap tidak sopan ke papanya" ucap Dara.


Binar tersenyum, "saya nggak tahu kalau Aksa nggak cocok dengan papanya"


"Suami saya dan Aksa memiliki minat dan impian yang beda dan itu yang membuat mereka tidak cocok. Suami saya ingin Aksa meneruskan bisnis keluarga tapi Aksa ingin membangun perusahaan sendiri dari nol dengan minatnya di bidang desain" ucap Dara.


"Oh" Binar langsung merasa rindu pada Aksa dan ingin memeluk Aksa saat itu juga ketika mendengar cerita kehidupan dan impiannya Aksa dari Dara.


"Jadi marilah kita sayangi Aksa dengan tulus karena, Aksa layak mendapatkannya" pinta Dara.


"Baiklah!" sahut Binar dan dia pun langsung memeluk Dara.