My Pretty Boss

My Pretty Boss
Kesal



Aksa langsung mengusap kasar wajah tampannya mengingat kelakuan tidak pantas yang ditunjukkan oleh Rita mantan pacarnya.


"Kenapa dulu aku begitu bodoh bersedia berpacaran dengan cewek macam Rita, huuffttt" Aksa berucap sembari membuka perlahan pintu kamarnya dan mendesah lega saat melihat Binar masih tertidur pulas dengan sangat cantiknya. Aksa tersenyum lalu menutup pelan pintu kamarnya.


Cowok tampan putra tunggalnya Kenzo Julian itu kembali duduk dan berkutat kembali dengan laptopnya. Setelah menyelesaikan semua draft, dia pun merebahkan diri di atas sofa dan mulai memejamkan mata untuk meraih mimpi terindah di dalam tidurnya.


Di saat semua orang tersayangnya yang berada di Indonesia masih nyaman merajut mimpi dalam tidur panjangnya mereka, Abimana sudah mulai bekerja mendesain Andez Hotel kepunyaan Mister Herald. Abimana sengaja bangun pagi tepat di pukul enam pagi untuk sarapan sendiri di dalam kamar karena, dia memang masih menghindari Camelia Herald. Sebagai suami yang penuh cinta dia siap menghadapi godaan wanita binal semacam Camelia Herland karena, dia sama sekali tidak tertarik untuk menduakan istrinya namun, nalurinya sebagai laki-laki normal itu yang dia takuti. Jika naluri alaminya mengalahkan akal sebenarnya dan dia tidak akan mampu untuk melawan godaan seorang wanita muda, cantik dan seksi seperti Camelia Herald oleh sebab itu, dia memilih untuk menghindari bertemu dengan Camelia Herald sebisa mungkin.


Tepat pukul tujuh, Abimana keluar dari kamarnya dan langsung melangkah lebar menuju ke tempat utama dari Andez Hotel yang membutuhkan sentuhan ajaib tangan dan jiwa seninya. Abimana mulai fokus bekerja dan tidak memerhatikan hal-hal lainnya yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya kala itu.


Tiba-tiba Abimana merasakan pinggangnya dipeluk seseorang. Abimana secara spontan menunduk untuk melihat pinggangnya lalu memegang lengan itu dan memutar badan dengan senyum bahagia karena, dia mengira kalau yang memeluknya adalah Mika istri yang sangat dia rindukan saat itu.


Camelia tersenyum senang melihat Abimana bersedia berputar badan dan memberi dia senyuman yang sangat tampan.


Camelia menatap tangan Abimana yang masih memegang lengannya dengan senyuman penuh cinta. Abimana tersentak dan langsung melepas lengannya Camelia, cowok tampan papanya Arga itu kemudian melangkah mundur beberapa langkah dan berucap, "berani benar kau memelukku, tinggakan aku, aku banyak kerjaan dan jangan pernah mendekati aku lagi, kau dengar itu?!"


Hardikan keras dari Abimana tidak menyebutkan niat Camelia untuk bisa masuk ke dalam dekapannya Abimana. Cewek cantik, seksi, dan sangat menarik bagi para kaum Adam itu pun terus melangkah pelan ke arah Abimana yang terus melangkah mundur menjauhinya, "jangan menghindariku terus! aku tahu kamu pun tertarik padaku. Aku bisa merasakan ciumanmu kemarin" Camelia berucap sembari mengusap bibirnya dengan gerakan lemah gemulai nan seksi.


"Stop! jangan melangkah lagi! aku serius memintamu menjauhiku dan jangan menggangguku lagi! aku tidak tertarik padamu tidak pernah!" pekik Abimana kesal dengan membulatkan kedua manik hitamnya ke Camelia.


Camelia terkekeh, "benarkah? kau tidak pernah tertarik padaku? aku masih merasakan ciuman dahsyatmu di sini" Camelia mengetuk bibirnya dengan senyum seksi dan desahan manjanya.


sambil terus melangkah pelan mendekati Abimana.


Abimana melangkah mundur sambil sesekali menoleh mundur. Abimana mendengus kesal saat melihat jika beberapa langkah lagi dia mundur maka dia akan membentur tembok ruangan itu, "stop! jangan melangkah lagi! aku tidak pernah menyukai wanita gila, agresif, tidak tahu malu seperti kamu, cih! aku sangat mencintai istriku dan soal ciuman kita kemarin itu hanyalah kebodohan dari seorang pria yang hilang akal, yang berciuman dengan kamu kemarin bukanlah Abimana. Aku minta maaf jika kemarin untuk sejenak aku lepas kendali dan hilang akal, maaf!"


Camelia menghentikan langkahnya dan mematung di depannya Abimana karena dia secara tiba-tiba merasa kecewa, marah dan cemburu mendengar semua ucapannya Abimana. Camelia menghapus senyum di wajah cantiknya dan mulai mengeraskan wajahnya lalu berkata, "aku tidak butuh maaf dari kamu karena aku sungguh menikmati ciumanmu kemarin dan tolong hentikan kata cinta untuk istrimu, aku muak mendengarnya!"


"Kamu memang gila. Aku memang mencintai istriku sangat mencintai istriku dan aku akan terus mengatakannya padamu kalau perlu aku akan katakan ke seluruh dunia, Abimana Kusuma sangat mencintai Mika Adelard, ibu dari putra kesayanganku Arga Kusuma" keseriusan terdengar di ucapannya Abimana.


"Hentikan! hentikan! hentikan!" Camelia memejamkan mata, menutup kedua matanya dan berjongkok di depannya Abimana.


Abimana tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan bergegas dia berputar badan dan berlari kecil menuju ke ruangannya Mister Herald. Abimana berpikir untuk mengerjakan desain di ruangannya Mister Herald terlebih dahulu karena jika Mister Herald berada di ruangan itu maka Camelia tidak akan nekat mengejar dan menggodanya lagi.


"Dasar wanita gila bahkan dia nekat menyuruh pergi semua anak buah yang diberikan oleh Mister Herald untuk membantuku mengeksekusi desainku. Dia memang sungguh berniat berduaan saja denganku, hiiihhh dasar kuntilanak!" Abimana bergumam dan bergidik ngeri di dalam langkahnya menuju ke ruangannya Mister Herald.


Abimana mengetuk pintu ruangannya Mister Herald dan Mister Herald membuka pintu itu lalu mempersilakan Abimana untuk masuk, "ada perlu apa Mister Abimana kemari?"


"Emm, apa saya boleh mendesain ruangannya Mister terlebih dahulu?" tanya Abimana dengan tersenyum cukup sopan ke Mister Herald.


"Oh! oke, silakan!" Mister Herald tersenyum dan mempersilakan Abimana untuk mulai bekerja mendesain ruangannya lalu Mister Herald menelepon beberapa tukang dan anak buahnya untuk membantu Abimana.


Mister Herald duduk di meja kerjanya untuk mulai bekerja sambil sesekali menatap Abimana.


Dia sungguh berbeda dengan papanya. Aku masih ingat dengan jelas saat mamanya Camelia pergi meninggalkan aku dan Camelia demi papanya Abimana, si brengsek Kusuma itu! apa dia tahu kalau papanya berselingkuh dengan istriku dan membawa kabur istriku? hmm, tapi aku rasa dia belum tahu karena jika dia tahu, maka dia akan protes, tidak akan menyetujui kerjasama dan meminta penjelasan padaku. Batin Herald.


Abimana bisa merasakan kalau Mister Herald tengah menatapnya, cowok tampan itu kemudian menoleh dan bertanya, "Mister, kenapa menatap saya terus? apa ada keluhan dengan desain saya ini?"


Mister Herald tersentak dari lamunannya lalu tersenyum dan berucap, "tidak ada keluhan, bagus, saya suka kok, teruskan saja dan abaikan keberadaan saya di sini, heeee"


Abimana menganggukkan kepala dan tersenyum lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


Sementara itu di kediamannya Aksa. Setelah memasak sarapan pagi untuknya dan Binar, Aksa pun mandi. Setelah mandi dia melirik jam di dinding, sudah jam enam dan Binar belum bangun. Sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk mandi, Aksa membuka pintu kamarnya dan melihat Binar berguling ke kanan, menguap lebar, dan mendecakkan mulutnya. Melihat tanda-tanda kalau kekasih hatinya itu akan terbangun dari mimpi panjangnya maka dengan cepat Aksa melompat pelan ke atas ranjang, berbaring miring dengan berpangku tangan, dia menatap dan menunggu Binar membuka lebar kedua matanya.


Aksa mengulum bibir di saat dia mulai melihat tanda-tanda pasti Binar membuka matanya. Di dalam hatinya bahkan Aksa berhitung, satu, dua, tiga, dan.........Byar! kedua matanya Binar terbuka lebar ke arahnya.


Aksa segera berucap, "selamat pagi cantik, apa tidurmu nyenyak semalam?"


Binar mengucek kedua matanya lalu menusuk pelan pipinya Aksa. Kedua matanya Binar langsung membulat sempurna saat sentuhannya terasa nyata lalu dia berteriak "kyaaaaaa!" dan secara spontan berguling ke kiri untuk menjauhi Aksa dan.........Gedebuk!! Binar terjatuh dari atas tempat tidur.


Aksa langsung melompat dan jongkok di depannya Binar yang sudah berada di dalam posisi duduk sembari meringis memegangi pinggang sebelah kirinya.


"Sakit? coba aku lihat?" secara spontan Aksa mencoba untuk menarik blusnya Binar namun tangannya langsung ditepis oleh Binar.


Aksa langsung membopong Binar dan dia taruh Binar di atas ranjang kemudian mengambil salep anti memar, "bukalah! biar aku oleskan salep ini"


Binar melotot ke Aksa dengan sangat kesal, "kenapa kamu mengagetkanku? aku sampai terjatuh dan sakit banget nih pinggangku"


Binar menepuk keras pundaknya Aksa lalu kembali meringis kesakitan, "dasar gila! sakit nih pinggangku. Tapi.....sebentar" Binar menunduk melihat bajunya, masih sama dengan yang dia pakai semalam, "kita nggak melakukan apa-apa kan? aku tidak memerkosamu kan?"


Aksa langsung menggemakan tawanya, "kamu nggak ngapa-ngapain aku kok. Aku tidur di sofa ruang tamu semalam"


"Kenapa kamu tidak bangunkan aku? aaahhh! sial! Miko semalam pasti mencariku. Mana ponselku?" Binar berdiri dan langsung ditarik lengannya oleh Aksa sehingga dia pun terjatuh di atas pangkuannya Aksa.


Beberapa detik lamanya mereka bersitatap dan Binar langsung tersadar lalu bangkit dan melotot ke Aksa sembari meringis kesakitan.


"Mandilah dulu! kemarin malam aku udah kirim pesan text ke Miko kalau kamu lembur di kantor dan nginap di kantor" ucap Aksa, "dan ini salep memarnya, pakailah sendiri di kamar mandi kalau kamu nggak mau aku yang oleskan salep itu"


Binar menatap Aksa, "aku boleh pinjam kaos kamu?"


Aksa tersenyum dan berkata sambil duduk di tepi ranjang, "ambilah dan pilhlah sendiri di lemariku itu!"


Binar membuka lemari, mengambil kaos putih lalu berjalan tertatih sambil terus memegangi pinggangnya.


Aksa kemudian membopong tubuhnya Binar dan dia turunkan di dalam kamar mandi, "mandilah! panggil aku kalau sudah selesai aku akan bopong kamu lagi"


Aksa menutup pintu kamar mandi lalu melangkah kembali ke kamarnya untuk bersiap bekerja kemudian duduk di tepi ranjang sambil kembali mengusap rambutnya dengan handuk mandi. Beberapa menit kemudian Binar yang telah selesai mandi berdiri di depannya Aksa.


Aksa mengusap rambutnya yang belum kering secara sempurna dengan handuk mandinya dan bertanya, "kenapa nggak manggil aku tadi kalau kamu sampai jatuh lagi kan bahaya? sudah dioles salep memarnya?" Binar menganggukkan kepalanya dan menjawab "sudah"



"Masih sakit?" tanya Aksa sambil bangkit dan berdiri di depannya Binar.


"Masih" jawab Binar sambil terus memegangi pinggangnya.


Aksa kembali membopong Binar tanpa persetujuannya Binar dan mendudukkan Binar di kursi meja makan, "kita sarapan dulu, aku masak omelet dan nasi goreng yang simple"


Binar tersenyum dan berucap, "terima kasih"


"Kita ke rumah sakit dulu setelah ini, kita ijin satu jam, gimana?" tanya Aksa.


"Kita? kalau kita ijin secara bersamaan maka akan timbul tanda tanya besar di benaknya kolega-kolega kita"


"Lalu kamu mau periksa sendiri ke dokter? apa kamu bisa nyetir mobil dengan kondisi seperti itu?"


"Nggak usah ke rumah sakit. Kita langsung ke kantor aja. Aku juga belum ganti baju. Aku mau ganti baju dulu di ruanganku, ada beberapa baju ganti yang aku siapkan di sana. Kita berangkat sekarang aja, yuk!" pinta Binar.


"Kamu baru makan tiga suap mana kenyang, nanti kamu sakit kalau nggak cukup sarapan gimana?" Aksa memasang wajah penuh perhatian ke Binar.


Binar bangkit lalu menjinjing tas kerjanya, "aku udah kenyang" setelah meminum habis segelas susu cokelat bikinannya Aksa dia menyerahkan kunci mobilnya ke Aksa.


Aksa kemudian bangkit dan kembali mengalah pada sikap keras kepalanya Binar.


Aksa merangkul bahunya Binar untuk membantu Binar berjalan sampai di dalam mobilnya Binar. Binar terpaksa membiarkan Aksa merangkul bahunya daripada Aksa membopongnya dan mengabaikan pandangan dari tetangga-tetangganya Aksa.


Binar menjawab kalau dia adalah tantenya Aksa ketika ada salah satu tetangganya Aksa yang berada di dalam satu lift dengan mereka, sewaktu mereka turun ke area parkir.


Aksa hanya bisa tersenyum kecil mendengar Binar mengenalkan diri ke tetangganya sebagai tantenya.


Sesampainya di dalam mobil, Aksa melajukan mobil sambil bertanya, "tante, kita langsung ke ke kantor kan? nggak jadi ijin dan ke kantor dulu tante?"


Binar melempar kesal ke Aksa dan berucap, "apaan sih? kok manggil aku tante?"


"Lho bukankah kamu tadi mengenalkan diri kamu sebagai tanteku? maka aku panggil kamu tante sekarang" Aksa berkata dengan wajah datar karena kesal.


"Lalu apa? aku harus mengenalkan diriku sebagai siapa kamu?" Binar melipat tangannya dan merengut.


"Huuffttt, terserah kamu sajalah" ucap Aksa kemudian lalu Aksa terus membisu di dalam perjalanannya menuju ke kantor.


Binar menatap Aksa dengan penuh rasa bersalah, apa aku terlalu mengabaikan perasaannya? aku selalu mengecewakannya, padahal dia begitu perhatian dan sayang banget sama aku. Gumam Binar di dalam hatinya.