
Steak sudah disiapkan dan ditaruh di tempat khusus yang bisa membuat steak tetap hangat. Miko segera keluar dan Theo pun segera mandi dan memakai baju baru-nya yaitu, kemeja berwarna biru muda dan celana panjang berwarna cokelat tua. Theo kemudian mematikan lampu kamarnya dan dia berdiri di tengah kamar menunggu detik-detik kedatangannya Binar dengan senyuman penuh cinta.
Binar masuk ke dalam rumah dan disambut ceria oleh Miko. Binar menatap Miko dengan penuh tanda tanya, "kenapa senyumanmu aneh kayak gitu?"
"What? aneh? Bos!" Miko langsung melempar protes ke Binar sambil menghentakkan kakinya dengan wajah cemberut.
"Hahahaha, mas Theo udah pulang?" tanya Binar.
"Bos Theo sedari tadi di rumah. Sepertinya nggak enak badan karena, sedari tadi di kamar terus" kata Miko dengan mimik wajah penuh drama.
"Hah? sekarang mas Theo masih di kamar?"
"Hmm" kata Miko sambil menganggukkan wajah tampannya.
Binar segera bergegas menaiki satu demi satu anak tangga menuju ke kamarnya dan Miko tersenyum lebar karena, aktingnya berhasil membuat bos cantiknya segera naik ke kamar di mana sang pangeran telah menunggu dengan penuh cinta dan harapan yang sangat indah.
Binar membuka pintu kamar dengan tidak sabar, "mas!" Binar memekik panik saat mendapati kamarnya gelap gulita.
"Iya" sahut Theo dengan suara rendah dan mendalam.
"Kok gelap?" Binar meraba-raba tembok untuk menghidupkan lampu kamar itu dan.....Byaaarrr!......Lampu menyala dan Binar segera menarik dagunya ke bawah. Binar melihat kamar itu menjadi begitu cantik dengan hiasan bunga matahari dan mawar putih, indah dan manis.
Binar merapatkan kembali bibirnya dan dia mulai mengedarkan pandangan ke seluruh kamar namun, suaminya tidak dia temui, "mas? kamu di mana?"
Theo mulai memutar musik klasik dan melangkah keluar dengan pelan dari dalam ruang ganti baju dengan berucap, "aku di sini" Theo menghentikan langkahnya tidak jauh dari tempatnya Binar berdiri.
Binar tersenyum manis melihat penampilan Theo, "kamu tampan sekali, mas"
Theo tersenyum melangkah mendekati Binar dan berkata, "kita berdansa?"
"Hah? kata Miko kamu seharian di kamar, kamu nggak sakit? terus kenapa memintaku berdansa?"
"Aku nggak sakit. Aku seharian di kamar menunggu kamu" Theo meringis ke Binar.
Binar kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar sambil bertanya, "kenapa mendekorasi kamar ini? dalam rangka apa? ulang tahun kamu kan masih dua bulan lagi? terus kok kamu bisa tahu bunga kesukaanku itu mawar putih? dan kenapa ada banyak bunga matahari? kamu dapat tender besar ya?"
Theo tersenyum lebar dan berkata, "aku akan jawab semua pertanyaan kamu, nanti. Kita dansa dulu?" Theo merentangkan lengannya.
Binar menaruh tas kerja dan berkasnya di sofa lalu dia menunduk menatap dirinya sendiri sambil berkata, "aku belum mandi" lalu dia mengangkat wajahnya untuk menatap Theo dan kembali berkata, "aku bau asem nih, nggak sebanding dengan kamu yang udah wangi, rapi, dan sangat tampan"
"Bagiku kamu itu tetap cantik dan seksi" Theo masih merentangkan kedua lengannya dan berkata, "dan aku tetap ingin berdansa denganmu"
Binar terkekeh geli lalu dia melangkah maju dan masuk ke dalam lengannya Theo. Theo segera memeluk Binar dengan kedua lengan melingkar erat di pinggangnya Binar dan Binar menaruh kedua tangannya di atas pundaknya Theo. Mereka kemudian berdansa mengikuti irama musik klasik yang lembut, syahdu, dan menentramkan hati. Seketika itu pula rasa lelahnya Binar lenyap tak bersisa digantikan dengan rasa bahagia yang membuncah.
Theo tersenyum dan menunduk untuk memandang bagian atas kepala Binar lalu dia mendaratkan ciuman di belahan rambutnya Binar. Rambut yang masih terlihat berkilau dan nampak manis dan indah seperti perpaduan madu dan bulan. Rambut itu pun masih wangi dan wangi itu membuat hati Theo merekah manis.
"Kamu sangat tampan dan wangi malam ini mas, aku sangat menyukainya" bisik Binar sambil berdansa mengikuti gerakan suaminya.
"Kamu juga masih wangi dan sangat cantik" bisik Theo.
Binar mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap wajah tampan suaminya.
Tubuh Binar yang indah dengan aroma plum bercampur aroma jeruk, terasa lembut dan padat semakin menempel pada tubuh atletisnya Theo. Bunyi gesekan baju Binar dengan bajunya membuat jantung Theo mulai melompat-lompat lincah bertolak belakang dengan alunan musik klasik yang lambat mendayu, menimang-nimang rasa cinta mereka berdua, yang mengiringi gerakan dansanya dengan sang istri tercinta di malam itu. Theo semakin mempererat pelukannya dengan lembut dan mulai menunduk untuk menempelkan pipinya dengan pipinya Binar.
Binar menyerah kalah dan pasrah menerima semua perlakuan manis, lembut penuh cinta dari suaminya. Jantung Binar pun berdetak dengan sangat kencang.
Binar kemudian berkata, "kenapa jantung kamu berdetak kencang, mas?"
Theo balik bertanya, "aku rasa itu bunyi detak jantung kamu"
Binar tertawa kecil lalu menempelkan wajah cantiknya di dada bidang suaminya karena, malu.
Theo terkekeh lalu menghentikan gerakan dansanya dan dengan segera membopong Binar. Binar secara refleks mengalungkan kedua lengannya di lehernya Theo lalu memekik kaget dan bertanya, "mas?! mau kamu bawa ke mana nih aku?"
Theo menuju ke kamar mandi sambil tersenyum penuh cinta dia berkata, "aku ingin memandikanmu"
Binar segera meronta dan berkata, "mas, turunkan aku! aku malu kalau kamu mandiin aku. Aku sedang hamil, aku gendut dan......."
"Seksi" Theo mencium keningnya Binar lalu berkata, "aku hanya ingin memandikanmu. Membuatmu rileks dan aku janji nggak akan bertindak aneh-aneh"
Binar akhirnya menyerah kalah. Dia akhirnya mengikuti semua keinginan suaminya. Theo melepas lapis demi lapis bajunya Binar lalu meletakkan Binar ke dalam bath-up yang sudah dipenuhi dengan sabun dan mawar putih.
Binar tersenyum bahagia. Dia merasa bak seorang putri raja di negeri dongeng, mandi dengan hamparan mawar putih di depannya.
Theo segera membungkam bibirnya Binar dengan bibirnya. Mereka berciuman dengan lembut lalu Theo melepaskan bibir ranum istrinya itu dan berkata, "kamu sangat pantas mendapatkan semua ini karena, kamu adalah istri yang sangat aku cintai" kata Theo sembari mulai menggosok tubuhnya Binar dengan penuh kelembutan.
"Mas, kamu udah rapi, udah tampan, kok malah mandiin aku? nanti kalau basah gimana?"
"Kalau basah, aku tinggal masuk ke dalam bath-up untuk menemani kamu, hehehehehe" sahut Theo dengan santainya.
Binar menepuk bahunya Theo sambil tertawa lebar dan berucap, "kamu memang raja usil"
Theo mencubit mesra hidungnya Binar lalu tersenyum sambil berkata, "tapi kamu suka, kan?"
"Iya" sahut Binar dengan senyum malu-malu.
Theo tertawa bahagia lalu mencium keningnya Binar dan selang beberapa menit kemudian Theo telah selesai mendandani Binar dengan sempurna lalu mengajak Binar menuju ke balkon. Binar melingkarkan tangan di lengannya Theo dan bertanya, "ada kejutan apa lagi nih?"
Theo tersenyum, "hanya steak kok, hehehehe" Theo menarik kursi untuk Binar dan dia segera duduk di kursinya setelah Binar duduk dengan manis.
"Mas, aku nggak nyangka kalau kamu bisa seromantis ini"
"Kamu suka?" tanya Theo.
"Aku nggak suka" sahut Binar dengan senyum jahilnya.
"Hah?" Theo langsung nampak kecewa.
"Hahahaha, aku nggak suka tapi aku sangat suka, hehehehehe"
"Fiuuuhhh, lega aku" sahut Theo.
Binar kembali melepas tawanya.
"Kamu cantik sekali setiap kali melepas tawa" Theo menatap Binar dengan penuh kekaguman.
"Hahahaha, terima kasih mas. Emm, bolehkah aku mulai memakan steak ini?"
"Tentu saja boleh dong" sahut Theo.
Binar terkekeh lalu mulai memotong steak itu dan mulai memakannya sambil berkata, "kamu belum menjawab semua pertanyaanku tadi, mas"
"Yang mana dulu yang harus kujawab?" tanya Theo.
"Emm, kok kamu bisa tahu kalau aku suka banget sama mawar putih?"
"Itu keberuntunganku hehehehe, aku terus terang nggak tahu bunga kesukaanmu dan aku senang kalau pilihanku tepat seperti saat aku memilih untuk mencintaimu itu tepat bagiku"
Binar tergelak geli lalu bertanya lagi, "lalu dalam rangka apa mas siapkan semua ini?"
"Karena aku sangat mencintaimu dan aku ingin membuatmu nyaman, rileks, percaya sama aku, sebelum kita mengerjakan PR dari dokter Wulan, hehehehehe"
Binar tertawa lalu berkata, "kamu itu kenapa begitu polos dan menggemaskan sih mas. Aku sangat berterima kasih untuk semuanya ini tapi, harusnya nggak perlu berlebihan seperti ini, mas"
"Itu karena, kamu sangat berharga bagiku dan aku sangat mencintaimu. Aku nggak ingin kalau penyatuan kita nanti.........."
Binar bangkit dan berdiri di depannya Theo dengan senyum penuh cinta.
Theo melengkungkan kedua alisnya saat melihat Binar secara tiba-tiba bangkit dan berdiri di depannya, "kenapa kamu berdiri?"
Binar terus mengulas senyum. Alih-alih menjawab pertanyannya Theo, dia berjalan pelan lalu duduk di atas pangkuannya Theo lalu melingkarkan kedua lengannya di lehernya Theo.
Theo memandang Binar dengan wajah penuh tanda tanya.
Binar kemudian bertanya, "apa kamu pernah melakukannya?"
Theo menelan salivanya dengan berat lalu menggelengkan kepalanya. Entah kenapa, lidahnya Theo tiba-tiba Kelu dan tubuhnya bergetar.
"Aku yang akan membuatmu siap, mas. Aku akan membimbingmu kalau gitu, ini kan juga untuk kebaikanku dan anakku jadi ........" Binar mulai mengusap wajah tampannya Theo dan membuat Theo semakin panas dingin dibuatnya.
"A...apa yang akan kau lakukan?" tanya Theo dengan canggung.
Binar kemudian mencium keningnya Theo lalu berbisik manja di telinganya Theo, "gendong aku ke ranjang kita dan aku akan tunjukkan kepadamu. Aku akan tunjukkan rasa terima kasihku ke kamu, mas"
Alih-alih menggendong Binar ke ranjang, Theo mematung, membisu dan terus memandangi wajah cantik istrinya.