
Aksa tiba-tiba nyeletuk, "aku pengen banget makan alpukat kocok. Apa di sini ada yang jual?"
Kakek Felix tersenyum, "nggak ada yang jual alpukat kocok tapi kalau buah alpukat ada di supermarket. Alpukat jumbo Florida sangat enak, besar dan banyak daging buahnya. Biar Monica yang nanti mengantarmu ke supermarket"
Aksa menoleh ke Monica dan Monica menganggukkan kepalanya, "aku akan ke kampusmu pulang sekolah nanti, aku kan lebih hapal jalan daripada kamu, hehehehe"
Aksa tersenyum, "iya kamu benar. Aku cuma hapal jalan dari rumah ke kampus aja, selain itu aku buta arah dan nggak bisa ke mana-mana, hehehehehe"
Darren bangkit dan berkata, "aku duluan mau ke bandara. Aku pulang ke Indonesia hari ini. Aku pamit, ya" lalu Darren melangkah mendekati kakek Felix yang telah berdiri di depannya. Darren lalu memeluk kakek Felix dan melambaikan tangannya ke Aksa dan Monica sambil menarik koper dan tas jinjingnya, ia melangkah keluar dari rumah itu untuk menuju ke bandara.
Tidak begitu lama, Aksa dan Monica pun pamit pada kakek Felix untuk pergi menuntut ilmu.
Aksa naik mobilnya Monica. Aksa yang biasanya diantar supirnya kakek Felix, pagi itu berangkat ke kampus bersama dengan Monica. Monica menoleh sekilas ke Aksa sambil menyetir lalu bertanya, "kamu betah tinggal di Amerika?"
Alih-alih menjawab pertanyaannya Monica, dia bertanya, "kamu fasih berbahasa Indonesia. Siapa yang mengajarimu?"
"Aku punya sahabat di sekolahanku, dia berdarah campuran Amerika dan Indonesia, dia yang mengajariku bahasa Indonesia karena, di rumahnya diterapkan dua bahasa untuk berkomunikasi. Aku sering main ke rumahnya jadi aku pun terbiasa dengan bahasa Indonesia. Kakek Felix juga pandai berbahasa Indonesia jadi makin terasah deh kemampuanku berbahasa Indonesia, hehehehe"
"Lalu kenapa kamu baru muncul di rumahnya kakek kemarin? selama ini kamu ke mana?" tanya Aksa lagi.
"Hei! jawab dulu pertanyaanku tadi!" sahut Monica sambil terkekeh.
"Aku harus kerasan walaupun sebenarnya tidak kerasan karena, aku masih enggan balik ke Indonesia. Sekarang jawab pertanyaanku barusan!"
Monica tertawa renyah lalu berkata, "aku tinggal di asrama sekolahan dan di saat sudah mendekati ujian akhir aku memutuskan balik ke rumah kakek" ucap Monica.
"Kamu kan anak angkat almarhum nenek Belva kenapa tidak memanggil kakek Felix dengan sebutan papa?"
Monica melirik Aksa, "aku kira kamu tuh pendiam ternyata banyak tanya juga ya?"
Aksa merengut lalu melipat tangannya, "lupakan pertanyaanku kalau gitu. Nggak usah dijawab!"
"Hahahahaha, gitu aja ngambek. Aku akan jawab. Kakek lebih suka aku panggil kakek walaupun aku ini putri angkatnya, puas?" Monica melempar senyum lebar ke Aksa secar sekilas.
"Kamu mengingatkanku akan seseorang dengan rambut pendek hitam kamu itu. Kenapa kamu bisa memiliki rambut hitam seindah itu? apa kamu berdarah campuran?" tanya Aksa.
"Mamaku orang Indian, suku asli Amerika, berkulit cokelat dan berambut hitam.
"Lalu kenapa kulit kamu putih bersih?" tanya Aksa.
Monica menggemakan tawa cantiknya ke udara lalu menoleh sekilas ke Aksa untuk berkata, "Kamu ceriwis juga ternyata, emm, mungkin kulitku ini warisannya papaku. Aku nggak kenal papaku karena, nggak pernah bertemu dengan papaku. Mamaku pramusaji bar dan dia diperkosa lalu lahirlah aku" kata Monica.
"Aku ikut prihatin mendengarnya" sahut Aksa.
"Terima kasih. Namun, aku bersyukur, kehidupanku yang sulit membuatku tumbuh kuat, dan aku diajarkan untuk tidak pernah mengeluh, hehehehe. Buah dari rasa syukur dan kesabaranku di setiap kesulitan yang aku hadapi, mamaku bisa berjumpa dengan nenek Belva lalu diajak nenek Belva untuk bekerja di rumah beliau dan aku diangkat menjadi putri angkatnya nenek Belva dan dibiayai semua keperluanku sehari-hari dan pendidikanku"
"Mama kamu yang mana?" tanya Aksa.
Monica menoleh ke Aksa lalu tertawa ringan, "mamaku?"
"Iya, kamu bilang mama kamu bekerja di rumah kakek. Mama kamu yang mana, kan pegawai di rumahnya kakek ada banyak sekali"
"Mamaku meninggal dunia bersamaan dengan meninggalnya nenek Belva. Rumah kakek kedatangan perampok saat itu. Mama dan nenek Belva menjadi korban pembunuhan perampok-perampok itu"
"Hah? tragis sekali. Kasihan kakek Felix dan kasihan kamu, kamu dan kakek pasti shock banget saat itu" kata Aksa denan sorot mata meredup penuh rasa simpati untuk Monica.
"Kakek ada di luar negeri saat itu dan sangat terpukul mendengar kabar istri tercintanya menjadi korban perampokan. Aku yang masih berada di asrama pun shock saat aku mendengar kabar nenek Belva dan mamaku meninggal dunia terkena peluru kejam dari para perampok keji itu"
"Apa perampoknya sudah tertangkap?" tanya Aksa.
"Sudah dan mereka sudah dihukum mati" sahut Monica, "nah udah sampai. Kita lanjutkan obrolan kita nanti. Ingat kamu masih berhutang cerita sama aku"
Aksa menoleh, mengacungkan jempol sambil tersenyum manis ke Monica, lalu turun dari dalam mobil setelah mengucapkan kata terima kasih.
Aksa menatap arah pergi mobilnya Monica sambil bergumam, "dia tangguh,.ceria, dan kuat seperti Binar" lalu Aksa menghela napas panjang, berbalik badan, dan melangkah masuk ke dalam salah satu gedung yang ada di dalam kampus itu, tempat dia menimba ilmu.
Selama kuliah berlangsung, dua kali Aksa ijin ke toilet karena perutnya merasa mual dan dia muntah-muntah, dia lalu berlari ke kantin sebentar untuk membeli permen rasa asam dan segera berlari untuk kembali masuk ke dalam ruang kelasnya.
Aksa merasa heran dengan dirinya kenapa sejak bangun tidur tadi, dia muntah-muntah terus dan keinginannya untuk makan alpukat kocok begitu besar dan hampir tidak bisa dia tahan lagi.
Dua jam kemudian Aksa keluar dari gedung jurusan Seni Kreatif dan Desain itu. Aksa segera melompat masuk ke dalam mobilnya Monica yang telah menunggu Aksa dengan manis sedari lima belas menit yang lalu sebelum kelasnya Aksa selesai.
Monica menoleh dan tersenyum ke Aksa lalu bertanya, "kenapa wajahmu pucat sekali, kamu sakit?"
Aksa menggelengkan kepalanya sambil memasang sabuk pengamannya ia berkata, " nggak tahu kenapa, sejak pagi tadi aku merasa mual dan muntah-muntah"
"Kamu makan apa?"
"Sejak kemarin malam, aku makan makanan yang sama denganmu kan, dan kamu baik-baik saja tapi kenapa aku terus merasa mual dan muntah-muntah?"
"Kita ke rumah sakit dulu?" tanya Monica sembari terus mengendarai mobilnya.
"Nggak usah, aku udah makan permen rasa asam dan udah mendingan kok. Kita langsung cari alpukat aja"
"Oke, aku akan ajak kamu ke rumah sahabatku, ya? Aku bilang ke dia kalau abangku dari Indonesia pengen makan alpukat kocok dan mamanya jago banget masak dan udah bersedia bikin alpukat kocok dingin untuk kamu"
"Aaah, jangan dong! aku nggak enak sama mamanya sahabat kamu karena, aku belum terbiasa dengan beliau dan aku nggak kenal sama sahabat kamu" sahut Aksa, "kita ke mall aja beli buah alpukat, aku akan bikin sendiri nanti di rumah, aku bisa kok bikin alpukat kocok sendiri" kata Aksa.
Monica mendesah panjang lalu berkata, "baiklah, aku akan antarkan kamu ke supermarket tapi tolong ambil ponselku cari nama Alena di sana dan tolong ketikkan pesan text ke dia kalau aku nggak jadi ke sana!"
Aksa meraih ponselnya Monica, selang lima menit dia berkata, "sudah" dan meletakkan kembali ponselnya Monica di holder yang terpasang apik di atas dashboard mobilnya Monica.
Monica menoleh dan berkata, "terima kasih. Sekarang kita menuju ke supermarket sekalian makan siang di sana ya, aku nggak sabar pengen mendengar cerita kamu"
Aksa tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke Monica.
Satu jam kemudian mereka telah berada di dalam sebuah food court yang ada di dalam supermarket itu dan beruntungnya Aksa ternyata, di food court itu ada salah satu kedai yang menjual alpukat kocok. Aksa segera memesan dua cup besar alpukat kocok dingin dan nasi goreng tanpa sayuran. Monica hanya memesan es susu cokelat, kentang goreng, dan ayam crispy tanpa nasi.
Mereka duduk di sebuah meja dan saling berhadapan. Monica tersenyum dan berkata, "ceritakanlah!"
Aksa menghela napas lalu mulai membuka ceritanya dengan berkata, "bos tempat aku melamar kerja adalah mantan pacarku"
"Hah?"Monica hampir tersedak mendengar ucapannya Aksa lalu berkata, "apa kalian putus dengan tidak baik-baik, untuk itu kamu menyembunyikan identitas kamu yang sebenarnya dan kamu mengaku kalau kamu itu cewek dan memakai nama samaran Silver Butterfly?"
Aksa tersenyum lesu lalu berkata, "iya, kami putus karena kebodohanku. Aku sangat menyesalinya dan aku masih sangat mencintainya, untuk itulah aku tidak bisa tinggal diam dan berpangku tangan saja saat aku tahu dia tengah berada di dalam kesulitan saat ini. Aku ingin membantunya tapi tidak dengan nama Aksa karena, jika itu Aksa Putra Julian, dia akan langsung mengabaikan dan menolaknya"
"Aku belum pernah merasakan cinta jadi aku merasa beruntung tidak dipusingkan dengan cinta, hehehehe" kekeh Monica, "tapi, kalau kamu menyesali kebodohanmu, kenapa kamu tidak meminta maaf dan balikkan lagi sama dia? aku yakin kalau itu sebuah kesalahpahaman maka cewek kamu itu pun akan memakluminya dan mau balikan lagi sama kamu"
Aksa mendesah panjang, "hubungan kami rumit karena, dia lebih tua sepuluh tahun dariku dan saat ini dia sudah menikah dan ia sudah hamil"
"Hah?" Monica memekik kaget, "unik juga kisah cinta kamu, aku doakan kami bisa move on dan menemukan cinta lagi"
Aksa menggelengkan kepalanya, "aku tidak berniat mencari cinta yang lain karena, selamanya Binar Adelard nama mantanku itu, akan selalu ada di hatiku dan aku hanya akan mencintainya, selamanya"
"Aku yakin setiap orang di dunia ini memiliki jodoh dan kamu pun akan bertemu dengan jodoh kamu. Sekeras apa pun kamu menolak jodoh kamu maka akan percuma karena, jika itu jodoh kamu, kalian pun akan bersatu suatu saat nanti, tanpa kamu duga. Hidup dan cinta itu penuh kejutan, hehehehe" Monica tersenyum ke Aksa.
Aksa tersenyum ke Monica dan berkata, "kamu bijak juga, ya. Kamu lebih dewasa dari aku padahal kamu itu tiga tahun lebih muda dariku"
"Hehehehe, aku nggak bijak tapi sok bijak, hehehehe" kekeh Monica
Orang suruhannya Andik berhasil mengambil foto saat Lela menjemput Darren di bandara dan anak buahnya Andik terus membuntuti Lela dan Darren dan berhasil merekam percakapan Lela dan Darren yang merencanakan akan segera melempar tendangan pinalti mereka ke Binar agar Binar tidak berkutik.
Binar menatap foto profilnya Silver Butterfly, "cantik dan masih muda" Lalu Binar mengirimkan desainnya Silver Butterfly ke kliennya yang berhasil dimenangkan oleh Theo kemarin dan kliennya itu menyukai desain tersebut dan setuju untuk mengaplikasikan desain itu ke resort-nya. Binar segera mengirim email ke Silver Butterfly, "tolong kirim nomer rekening anda, saya akan transfer uang ke anda karena, desain yang anda kirim kemarin, sudah laku" Binar lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kerjanya lalu kembali bergelut dengan berkas-berkas yang ada di depannya.
Dengan segera, anak buahnya Andik mengirimkan bukti-bukti konspirasinya Darren dan Lela ke ponselnya Theo Revano. Theo mendengarkan percakapannya Lela dan Darren. CEO tampan yang rendah hati itu segera menggelengkan kepalanya, Theo sungguh tidak menduga kalau Lela sekeji itu terhadap Binar yang tulus menyayangi Lela. Dengan segera Theo menyambar jasnya dan keluar dari dalam ruang kerjanya untuk menemui Lela.