My Pretty Boss

My Pretty Boss
Terbakar Cemburu



Aksa memarkirkan mobilnya Binar di area bebas kamera CCTV lalu membantu Binar melepas sabuk pengamannya. Binar membuka pintu dan melangkah turun dengan meringis dan langkah tertatih-tatih.


Aksa kemudian membopong Binar, Binar mendelik dan memukul dadanya Aksa, "turunkan aku! sebentar lagi kita akan melewati kamera CCTV"


"Bodo amat!" sahut Aksa dan tetap membopong Binar sampai mereka masuk ke dalam lift khusus CEO.


"Turunkan aku! kenapa ngeyel sih?" Binar meronta dan memukul dadanya Aksa.


Fakta bahwa tidak ada CCTV di lift itu membuat Aksa tersenyum penuh arti ke Binar lalu berucap, "kamu yang ngeyel dan perlu mendapatkan hukuman" Aksa langsung mencium bibirnya Binar dengan liar, panas karena, kesal.


Ting


Pintu Lift terbuka, Aksa melepas ciumannya lalu menurunkan Binar di atas lantai. Binar melangkah keluar dari dalam lift tanpa menoleh ke Aksa. Dia terus melangkah menuju ke ruangannya sambil memegangi pinggangnya.


Aksa keluar dari dalam lift dengan kekesalan yang masih terbayang nyata di wajah tampannya. Dia kemudian duduk di atas kursi kerjanya sambil bergumam, " ke dokter nggak mau, dibopong nggak mau, dan dia mengaku kalau dia itu tanteku ke tetanggaku, huuffttt, dan yang lebih menyebalkan lagi, aku nggak bisa marah sama dia, hufffttt"


Binar telah bertukar baju, mengenakan setelan dinasnya lalu berjalan tertatih untuk duduk di meja kerjanya, dia membuka laci mejanya, membuka kotak cokelat pemberiannya Aksa lalu mulai memakan satu persatu biji cokelat manis itu sambil bergumam, "dia selalu sabar menghadapiku, apa aku terlalu egois memaksakan semua persyaratanku ke dia? tapi aku bisa apa? aku memang jauh lebih tua darinya dan aku benar-benar nggak pede berjalan di sampingnya"


Aksa menatap pintu ruangannya Binar, "dia bahkan tidak keluar untuk menemuiku"


Binar mengunyah cokelatnya sambil terus menatap pintu ruangannya, "dia benar-benar marah. Dia nggak masuk kemari untuk menemuiku. Dasar gila! habis menciumku lalu apa? dia cuekin aku sekarang? hufffttt"


Aksa menghela napas hendak bangkit di saat dia merasa akan mengalah sekali lagi demi rasa cintanya ke Binar namun, Boy telah berdiri di depannya dan langsung bertanya ke Aksa, "draftnya mana?"


Aksa mengambil draft dari dalam tasnya lalu menyerahkannya ke Boy.


Boy mengetuk pintu ruangannya Binar dan Binar langsung merekahkan senyum cantiknya karena, dia mengira Aksa yang mengetuk pintu itu. Dengan penuh semangat Binar berucap, "masuk!"


Boy masuk dan Binar menatap Boy dengan tatapan kecewa.


Ternyata bukan Aksa. Batin Binar.


Binar tanpa sadar mengerucutkan bibirnya di depan Boy. Boy duduk dan menatap Binar dengan heran, "kak? ada apa? saya melakukan kesalahan ya? kok kakak dadakan merengut di depan saya?"


"Nggak kok. Nggak ada apa-apa. Aku cuma capek"


"Ini draft pak Steve. Saya butuh tanda tangannya kakak" ucap Boy.


Binar memeriksa draft yang disodorkan oleh Boy kemudian menandatanganinya, "kapan akan dieksekusi?"


"Besok kak dan saya nggak bisa mengerjakannya dengan Aksa"


"Lho kenapa?" Binar langsung mengerutkan dahinya.


"Aksa kan besok ke Bali" kata Boy.


Deg


Dada Binar langsung terasa perih, Aksa besok ke Bali dan sekarang dia ngambek. Aku mesti gimana nih? apa harus minta maaf duluan? tapi aku nggak salah juga, kan? aaahhh! sial! berpacaran itu ternyata nggak seindah bayanganku. Batin Binar.


"Kak?" Boy memanggil Binar kembali ke alam nyata.


"Hah? ada apa?" Binar tersentak dari lamunannya.


"Justru saya yang mestinya bertanya, kakak kenapa tiba-tiba melamun?"


"Nggak apa-apa kok" Binar terpaksa mengulas senyum di depan Boy.


Boy tersenyum lalu bangkit dan pergi meninggalkan Binar sambil menenteng draft yang sudah ditandatangani oleh bos cantiknya itu.


Boy duduk di sebelahnya Aksa dan seketika bergumam, "kak Binar kok aneh banget ya hari ini"


Aksa langsung menoleh ke Boy dan nampak khawatir, "apa? ada apa dengan kak Binar?"


Boy menoleh ke Aksa dengan heran, "kenapa kamu nampak begitu mengkhawatirkan kak Binar?"


Aksa langsung mengalihkan pandangan dan berucap,"ya wajar kalau aku khawatir, dia kan bosku"


"Benar juga sih. Emm, kak Binar nampak galau, nampak kacau dan terus merengut dan makan cokelat" ucap Boy.


"Memangnya kenapa kalau makan cokelat?" tanya Aksa.


"Dari yang pernah aku baca, jika cewek makan cokelat berarti kegalauannya sudah berada di tingkat akut, sangat parah kondisinya" ucap Boy dengan santainya. Boy tidak menyadari kalau efek dari ucapannya itu membuat Aksa merasa begitu sedih.


Aku sudah membuat Binar sedih. Hatinya Aksa terasa perih. Besok aku ke Bali dan aku begitu kekanak-kanakkan ngambek kayak gini, kalau ada kesempatan nanti, aku akan secepatnya meminta maaf dan membuatnya tersenyum lagi. Batin Aksa.


Lela masuk ke dalam ruangannya Binar dan langsung panik di saat di melihat Binar meringis kesakitan sambil mengelus-elus pinggangnya.


Lela mendekati Binar dan langsung jongkok, membuka blusnya Binar, untuk melihat seberapa parah luka di pinggang itu, "astaga kak! kenapa memar begini? kakak kenapa?"


"Aku jatuh dari ranjang dan pinggangnya kena pinggiran ranjang yang terbuat dari kayu" ucap Binar dengan polosnya.


Binar langsung membahasi bibir dan mengalihkan pandangannya, "aaah, itu, anu, aku tidur di.....di rumahnya kak Mika"


"Perlu ke.dokter nggak? aku antar yuk!" ucap Lela sembari berdiri.


"Siapa yang perlu ke dokter?" suaranya Theo mengagetkan Lela dan Binar. Mereka secara refleks menoleh ke Theo.


Theo berdiri di depan mejanya Binar sembari menggendong anjing pudel berwarna putihnya dan dia kembali bertanya, "siapa yang perlu ke dokter?"


"Kenapa kau masuk tanpa ketuk........" Binar menatap pintu ruangannya terbuka lebar dan dia mendengus kesal ke Lela.


Lela menggaruk kepalanya, "maaf aku lupa menutup pintunya habis aku panik melihat kakak meringis kesakitan tadi"


"Kamu sakit? apa yang sakit?" Theo menatap Binar yang masih memegang pinggangnya.


Theo meringis, "kamu lagi datang bulan ya? aku pergi aja kalau gitu"


"Kenapa pergi kak?" Lela bertanya heran ke Theo.


"Cewek yang lagi datang bulan itu menakutkan jadi lebih baik aku pergi aja, heeee"


"Dasar gila! aku nggak datang bulan. Aku jatuh dari ranjang dan pinggangku sakit nih" sahut Binar.


"Ayok aku antar ke dokter" Theo langsung bersemangat ingin mengantarkan Binar ke dokter karena dengan begitu dia menjadi memiliki kesempatan untuk berdua saja dengan Binar.


"Nggak usah! udah aku kasih salep kok bentar lagi juga enakan. Kenapa kamu ke sini sambil membawa anjing? anjing siapa tuh?" ucap Binar.


Lela kemudian pamit dan meninggalkan Theo dan Binar berdua saja di ruangan kerjanya Binar.


Theo duduk sembari memangku anjing pudelnya, "aku mau nitip anjing ini. Aku baru beli kemarin dan ingin mengenalkannya ke Bronzo tapi kamu nggak ada du rumah, aku lihat dari depan gerbang rumah kamu, mobil kamu nggak ada sampai pagi tadi, waktu aku menunggu kamu lewat pas joging, mobil kamu juga nggak ada. Kamu ke mana semalam kok nggak tidur di rumah?"


"Uhuk!" Binar tersedak salivanya sendiri lalu berucap, "aku makan dengan Aksa lalu kembali ke kantor untuk lembur dan ketiduran di sini" Binar tersenyum lebar untuk menutupi kebohongannya.


Theo terpaksa menerima kebohongannya Binar dan tersenyum lebar.


Baiklah jika kamu belum mau terbuka padaku, Binar. Batin Theo.


"Kenapa nggak kamu kasihkan ke Mimi anjing itu? kenapa malah kamu bawa ke sini?" Binar menatap Theo dengan sorot mata kesel.


"Kamu kan tahu aku takut sama Mimi. Makanya aku bawa anjing ini kemari" kata Theo dengan polosnya.


"Tapi kalau kamu bawa ke sini maka anak buahku akan protes. Peraturan kantor ini nggak boleh membawa binatang piaraan berbentuk apapun" ucap Binar semakin kesal.


"Termasuk cewek atau cowok piaraan ya?" Theo meringis ke Binar.


"Huufftttt, sabar Binar, sabaaarrrr!"


Theo langsung menggemakan tawanya, "emm, begini aja, kita ke rumahmu dulu, kita taruh anjing ini di rumahmu dulu lalu kita pergi makan siang setelah itu kamu temani aku belanja, aku akan pergi ke Bali besok, makanya aku nitip anjing ini ke kamu" ucap Theo.


Binar adalah seorang yang sangat menyayangi hewan bahkan dengan seekor ular pun dia tidak takut dan dia pernah memelihara seekor ular piton kecil berwarna kuning namun karena Mimi takut maka ular piaraannya itu dia serahkan ke salah satu temannya yang juga seorang pecinta hewan. Binar menatap anjing pudel putih itu dan menjadi tidak tega lalu berucap, "oke Ayuk!"


Binar berucap secara spontan karena kecintaannya pada hewan dan dia melupakan tentang Aksa. Binar keluar dari dalam ruangannya melangkah dengan Theo sambil menggendong anjing pudel itu dan dengan sangat terpaksa membiarkan Theo merangkul bahunya Binar untuk membantu Binar berjalan karena, pinggangnya benar-benar masih terasa sangat sakit buat berjalan. Binar menoleh ke mejanya Aksa dan melihat Aksa tidak berada di sana membuat Binar sedikit bernapas lega. Binar nggak ingin ada keributan lagi diantara Theo dan Aksa.


Beberapa orang yang melihat kebersamannya Binar dan Theo langsung berasumsi kalau Theo adalah kekasihnya Binar


Aksa kembali dari gudang dan berjalan menuju ke ruang kerjanya Binar namun dicegah oleh Ratna, "kak Binar nggak ada di ruangannya"


Aksa menghentikan langkahnya dan berputar badan menatap Ratna, "kak binar ke mana?"


"Nggak tahu. Tadi keluar dengan pacarnya sepertinya" ucap Ratna.



Aksa langsung mengepalkan Kedua tangannya yang terkulai di kedua sisi tubuhnya lalu berucap dengan geram penuh kecemburuan, "pacarnya? kak binar pergi dengan siapa?!" tanpa sadar Aksa meninggikan suaranya.


Ratna tersentak kaget dan berucap, "kenapa kamu membentakku?"


"Aaah, maaf! aku tidak bermaksud membentakmu. Kak Binar pergi dengan siapa?" Aksa kemudian melembutkan suaranya.


"Sama pak Theo Revano. Katanya mereka akan ke dokter" ucap Ratna dengan polosnya.


Aksa langsung terbakar cemburu, dia mengacak-acak rambutnya dan meraup kasar wajahnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Ratna yang menatapnya dalam kebingungan.


"Ada apa dengan bocah itu?" gumam Ratna penuh kebingungan sambil mengikuti arah perginya Aksa.


Aksa berdiri di depan motornya dan menelepon ponselnya Binar namun Aksa tidak mengetahui kalau Binar meninggalkan tas kerja beserta ponselnya di ruangannya.


Enam kali panggilannya tidak dijawab oleh Binar, Aksa mengeraskan wajahnya lalu naik ke atas motornya dan menuju ke rumah sakit terdekat untuk menyusul Binar dan Theo Revano.


Aksa pergi dengan api yang membara abadi di dalam hatinya karena, cemburu dan hanya Binar seorang yang bisa memadamkan api super dahsyat itu.