My Pretty Boss

My Pretty Boss
Begitu Sempurna



"Kak Binar? kenapa kakak diam saja dan tidak berani menatapku? kenapa kakak mengobatiku dan kakak peduli padaku?" Aksa berucap sembari berdiri tegak dan mulai melangkah mendekati Binar.


Binar mendengar langkah kakinya Aksa dan mengangkat wajah cantiknya, "jangan maju!" ucap Binar sembari melangkah mundur secara pelan untuk menjauhi Aksa, "jangan dekati aku! dan kamu mulai berani berkata informal padaku?"


Aksa tersenyum tipis, "kakak sudah menciumku, memintaku untuk menjadi pacarnya kakak, dan kakak barusan melindungi dan mengobatiku. Fakta bahwa hanya ada kita berdua saja saat ini, aku merasa kalau aku ber-aku dan ber-kamu dengan kakak sih sah sah saja" Aksa langsung mengungkung tubuhnya Binar yang sudah menempel di pintu ruangannya.


Binar tidak berani bergerak sedikitpun dan tidak berani menatap Aksa. Aksa menempelkan tangannya di pintu ruangannya Binar, tepat di sisi kanan dan kiri kepalanya Binar, "kakak menyukaiku, kan? aku juga menyukai kakak jadi apa salahnya kalau kita berpacaran?"


"Ka.....ka...kamu nembak aku sekarang?" tanya Binar masih dengan kepala menunduk.


"Iya aku nembak kakak karena, aku tidak bisa berhenti memikirkan kakak sejak kakak menciumku" ucap Aksa dengan santainya.


"I....itu ciuman yang tidak aku sadari dan tidak aku sengaja kenapa kamu........"


Cup


Aksa mengecup keningnya Binar saat Binar mulai mengangkat wajah cantiknya. Binar membeliak kaget, "kamu!"


"Apa? kakak bahkan tidak menendangku atau menggigitku kan? itu berarti kakak menyukaiku" Aksa tersenyum penuh arti ke Binar.


"Iya baiklah! aku memang menyukaimu tapi ini salah. Kamu masih sangat muda dan.........."


"Dan kakak bukan istri orang, lalu aku juga bukan pacar orang. Aku single, kakak juga single apa yang salah?"


"Kamu.......arrrgghh.......entahlah. Aku pikir ini salah"


"Kalau masalah umur, aku memang jauh lebih muda dari kakak tapi aku sudah terbiasa hidup mandiri dan aku rasa aku jauh lebih dewasa dan lebih matang dari kakak. Apa kakak pernah menyadarinya kalau Kakak itu kelakuannya masih seperti gadis yang berumur delapan belas tahun, pffftttt" Aksa terkekeh.


Binar langsung memukul dadanya Aksa dan dia kembali merona malu menerima celaan dari Aksa yang berasa pujian bagi Binar. Jantungnya pun bertalu-talu tidak beraturan.


"Bagaimana? kakak menerimaku menjadi pacarnya kakak?" tanya Aksa.


Binar terus mendongakkan wajah cantiknya untuk menatap Aksa. Perasaannya masih gamang dan dia masih belum mampu untuk menjawab iya.


Tok tok tok.......


Pintu ruangannya Binar diketuk oleh seseorang dan sebelum Aksa mundur selangkah lalu Aksa mendaratkan kecupan di puncak kepalanya Binar. Cowok tampan itu kemudian melepaskan kungkungannya sembari membuka pintu itu. Kaki Binar langsung melemas dan dia jatuh berjongkok di depan pintu sepeninggalnya Aksa.


"Hai kak Lela" Aksa menganggukkan kepala ke Lela lalu melangkah keluar. Lela tersenyum ke Aksa sembari membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi, Lela melangkah masuk dan langsung menatap heran ke Binar yang tengah berjongkok di dekat pintu sembari berkali-kali menghela napas panjang. Lela langsung menaruh nampan itu di atas meja.


"Kak Binar kenapa? apa yang dilakukan Aksa dan mana pak Hendra Herlambang? Maaf aku tadi mau bikin kopi untuk tamu kita ternyata kopinya habis jadi aku turun ke kantin untuk memesan kopi" ucap Lela sembari membantu Binar untuk berdiri.


"Hendra sudah pergi, Hendra menciumku secara paksa dan Aksa menolongku tadi" Binar berucap lemas sembari duduk di kursi kerjanya.


"Apa?! tahu gitu nggak aku bawakan kopi nih" Lela mendengus kesal sembari menyesap kopi yang seharusnya diperuntukkan untuk Hendra Herlambang.


"Diakah cinta pertamanya kak Binar? yang membuat kak Binar begitu bersemangat untuk menghadiri reuni? dia, Hendra Herlambang?" tanya Lela sembari menaruh kembali cangkir kopi di atas meja.


Binar menatap Lela dan menganggukkan kepalanya dengan lemas. Binar tidak mau bercerita mengenai Hendra yang sudah memiliki tunangan ke Lela. Dia nggak mau menambah daftar orang yang memandang dia dengan rasa kasihan walaupun tidak bisa dipungkiri nasibnya begitu menyedihkan jika berkaitan dengan cinta.


"Kakak jongkok lemas tadi gara-gara Hendra brengsek itu ya? emm, dia memang tampan dan gagah tapi kelakuannya seperti itu, apa kakak masih mencintainya?" tanya Lela.


"Entahlah" ucap Binar lirih sembari mulai membuka berkas-berkasnya, "kita bahas pekerjaan saja!. Bagaimana hasil meetingnya Hendra dan Aksa tadi? aku tidak sempat bertanya pada Hendra"


"Emm, tadi Hendra menyukai desainnya Aksa dan Hendra sudah membayar lunas semuanya. Baru saja Lela terima transferan atas nama Hendra Herlambang. Mulai Minggu depan, Aksa akan ke Bali untuk mengeksekusi desainnya" kata Lela.


"Baguslah! berapa lama Aksa ke Bali?" tanya Binar.


"Paling lama dua Minggu" ucap Lela.


"Oke, persiapkan semuanya!" ucap Binar.


"Siap kak!" Lela tersenyum lalu melangkah keluar meninggalkan Binar.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan waktunya untuk mengakhiri kesibukan mereka di kantornya Binar Adelard. Aksa sengaja pulang paling akhir untuk menunggu bos cantiknya.


Binar langsung menghentikan langkahnya saat melihat Aksa masih berada di meja kerjanya Aksa, "kamu belum pulang?"


Aksa menutup laptopnya dan bangkit, "aku menunggu kak Binar. Bukankah kak Binar mobilnya masih ada di parkiran apartemenku jadi apa salahnya jika kita pulang bersama ke apartemenku. Sekalian ambil Bronzo juga, iya kan? "


"Ehem! baiklah, ayok!" Binar melangkah mendahului Aksa.


Aksa tertawa lirih dan berlari kecil menyusul langkah bos cantiknya.


"Aku selalu naik motor kalau berangkat kerja, kakak nggak keberatan kan, aku bonceng pakai motor?" tanya Aksa yang sudah nangkring di atas motor lakinya lalu menoleh ke samping untuk menatap Binar yang masih meragu untuk naik ke atas boncengan motor lakinya.



"Aaahh, sebentar" Aksa kemudian turun lalu menginjak standar tengah motor lakinya. Motornya telah siap dengan gagah dan kokoh. Setelah itu, Aksa mengangkat tubuhnya Binar dan dia naikkan ke atas boncengan motornya dengan hati-hati. Binar memekik kaget lalu dengan cepat menutup mulutnya dan melotot ke Aksa.


Aksa tertawa lepas lalu menurunkan standar tengah motor lakinya sembari berucap, "pegangan kak!"


"Pegang apa?" Binar memekik kaget saat Aksa menurunkan standar tengah motor yang dia tumpangi.


"Pegang pinggangku setelah aku naik ya" ucap Aksa sembari terkekeh. Aksa kemudian naik, menarik kedua tangannya Binar ke pinggangnya dan dia mulai melajukan motonya.


Awalnya bInar hanya memegang ujung bajunya Aksa namun kemudian dia mendekap pinggangnya Aksa dengan erat di saat Aksa semakin kencang melajukan motornya karena, awan semakin menghitam pertanda hujan akan segera turun dan beruntung di saat air hujan tertumpah di atas bumi, Aksa dan Binar telah berada di area parkir apartemennya Aksa.


Binar tidak berani turun dari atas motor. Tubuhnya kaku karena, baru pertama kalinya dia membonceng sepeda motor. Aksa tersenyum geli dan kembali menginjak standar tengah motor lakinya dan dia naikkan. Binar memekik kaget, "astaga! aku akan jatuh nih"


"Hahaha, nggak akan kak. Aku nggak akan membiarkanmu jatuh" ucap Aksa sembari memegang pinggang rampingnya Binar dan membantu Binar untuk turun dari atas motor lakinya.


Binar tanpa sadar mendekap erat tubuhnya Aksa karena kaki dan seluruh tubuhnya masih bergetar akibat dari sensasi baru yang dia rasakan saat dibonceng naik motor.


Aksa mengelus punggungnya Binar dengan senyum jenaka dia berujar, "aku senang saat kakak membutuhkanku seperti ini, kakak merasa takut dan kakak langsung memelukku. Kakak baru pertama kali naik motor ya? maafkan aku kalau aku....."


Binar langsung tersadar dan menarik diri dengan segera dari pelukannya Aksa, "Maaf! aku sudah memelukmu, aku tidak sadar melakukannya"


"Hahaha, rupanya begitu ya" ucap Aksa.


"Apa yang begitu?" tanya Binar.


"Kakak menciumku tidak sadar dan sekarang memeluk aku pun tidak sadar lalu apa yang membuat kakak sadar, apa aku harus mencium kakak dulu, biar kakak sadar?" Aksa tersenyum geli ke Binar.


Binar langsung menepuk bahunya Aksa, "jangan bercanda! tolong bawa Bronzo turun!? aku tunggu di sini"


Aksa menggemakan tawanya melihat tingkah canggungnya Binar lalu berucap, "Kakak nggak naik dan masuk dulu? ini hujannya deras lho kak, apa tidak berbahaya jika kakak mengemudikan mobil di bawah hujan yang sangat deras ini?" tanya Aksa.


Binar melihat ke arah luar dan benar kata Aksa. Hujan begitu deras disertai angin yang begitu kencang akan sangat berbahaya bagi para pengendara bermotor.


"Hufffttt, baiklah aku akan naik" ucap Binar, "tapi hanya sebentar karena aku ada janji makan malam dengan teman lama" Binar kemudian berjalan mendahului Aksa dan Aksa langsung mengepalkan tangannya ke udara sembari berucap "yes!" tanpa bersuara.


Binar menoleh ke Aksa, "apa yang kau lakukan?"


"Aaah, aku menangkap nyamuk nih, nyamuknya besar-besar kalau nggigit sakit nih, heeee" Aksa menurunkan tangan dan membuka kepalan tangannya lalu berlari menyusul Binar masuk ke dalam lift. Aksa memencet lantai 5 menuju ke apartemennya.


"Apartemen ini sangat mahal. Orang tua kamu pasti kaya raya ya?" tanya Binar.


"Biasa aja, kak" jawab Aksa.


"Apa pekerjaan papa dan mama kamu?" tanya Binar.


"Ayah saya seorang pengusaha biasa dan ibu saya sudah meninggal dunia" jawab Aksa singkat, padat dan jelas.


"Aku ikut sedih mendengarnya. Tapi serius aku heran sama kamu. Kamu mampu tinggal di apartemen semahal dan semewah ini pasti ayah kamu kaya raya" ucap Binar sembari melangkah keluar dari dalam lift.


Aksa hanya tersenyum dan membuka pintu apartemennya dan mempersilakan Binar untuk masuk. Bronzo langsung berlari dan melompat masuk ke dalam pelukannya Binar.


"Waaahhh! kau sangat merindukanku ya" Binar


mencium Bronzo secara bertubi-tubi dan hal itu membuat Aksa iri.


Andai aku juga dapat ciuman bertubi-tubi dari kak Binar seperti Bronzo. Batin Aksa penuh harap.


"Ada apa kau menatapku?" tanya Binar sambil melangkah masuk ke ruang tamunya Aksa dan langsung duduk diantara sofa sembari memangku Bronzo.


Aksa hanya tersenyum lebar lalu meninggalkan Binar untuk membuat dua cangkir teh hangat untuk dia dan Binar. Aksa kemudian menaruh dua cangkir teh hangat itu di atas meja, "minumlah kak! untuk menghangatkan badan kakak. Emm, sebentar ya, aku akan masak dulu, cuma sup ayam kok, simple dan cepat masaknya"


"Kamu bisa masak?" tanya Binar.


Aksa tersenyum dan menganggukkan kepalanya "kakak bisa masak?"


Binar tersenyum malu dan menggelengkan kepalanya, "aku masak air saja gosong, heeee"


Aksa terkekeh, "oke sebentar ya kak, sambil menunggu hujan reda, aku akan masak untuk kakak siapa tahu hujannya akan lama dan kakak tiba-tiba lapar" ucap Aksa.


Binar menatap punggungnya Aksa yang melangkah pergi menuju ke dapur, "aaahh, kenapa dia begitu sempurna apa yang harus aku lakukan jika dia menembak aku lagi? aarrrghhh!" Binar meremas rambutnya dan bersandar pasrah di sandaran sofa.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Maafkan aku kepada para author, aku baru ngeh kalau harus update/upgrade NT. Aku baru upgrade dua hari yang lalu dan kaget melihat tampilannya. Aku sudah boomlike beberapa karya author sebelum upgrade NT tapi dukunganku ternyata nggak nampak di top list dukungan setelah NT aku upgrade. Aku jadi merasa nggak enak sama teman-teman author padahal aku beneran ngeboom-like dan kasih dukungan sepenuh hati sebelum upgrade NT tapi tidak nampak setelah aku upgrade NT😭 Terus sekarang nggak bisa kasih vote sesuka hati ya? poin nggak bisa buat kasih vote lagi? aaah, pusing aku dengan tampilan baru NT😁