
Lela melihat Theo melangkah menuju ke ruang kerjanya Binar dan langsung mencegahnya, "kak Theo" sapaannya untuk menghentikan langkahnya Theo.
Theo menghentikan langkah kakinya dan tersenyum ramah ke Lela, "hai, bos kamu ada, kan?"
Lela mengabaikan pertanyaannya Theo dengan balik bertanya, "sejak kapan kakak berpacaran dengan kak Binar?"
"Emm, kami nggak ada waktu untuk berpacaran karena, kami sama-sama sibuk jadi kita memutuskan untuk segera menikah" Theo kembali tersenyum ke Lela.
jawabannya sama persis dengan jawabannya kak Binar. Batin Lela.
"Oh iya, aku kok nggak melihat Boy?" tanya Theo sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.
"Boy memantau lokasi" ucap Lela.
"Oh" Theo tersenyum ke Lela lalu melanjutkan langkahnya dan mengetuk ruangannya Binar.
"Kak, masuk aja! kok pakai ketuk pintu? kakak kan suaminya kak Binar?" Lela tersenyum ambigu ke Theo.
"Walaupun suami, tetap harus menjaga privasi istri jadi kurasa aku masih harus ketuk pintu" ucap Theo sambil menoleh ke Lela.
untuk itulah aku sangat mencintaimu Kak. Kamu tampan, kaya raya, tapi selalu sopan terhadap wanita.
"Masuk!" sahut Binar daei dalam.
Theo berucap ke Lela, "aku masuk dulu"
Lela menganggukkan kepalanya dengan sangat terpaksa karena, sejujurnya dia masih ingin berlama-lama menatap ketampanannya Theo Revano.
Theo membuka pintu dan langsung menutupnya saat melihat Binar kembali masuk ke dalam kamar mandi dan muntah-muntah.
Theo bergegas berlari dan masuk ke dalam kamar mandi karena, pintunya terbuka lebar dan Binar membungkuk muntah-muntah.
Theo menepuk dan mengelus punggungnya Binar, "kau tidak apa-apa? apa perlu ke dokter?"
Binar mengguyur bekas tumpahannya sampai bersih lalu Theo memapahnya keluar dari dalam kamar mandi.
Theo membantu Binar duduk di sofa lalu dia duduk di sampingnya Binar dengan wajah yang masih nampak khawatir, "kau sungguh nggak apa-apa?"
Binar mengusap bibir dengan telapak tangannya lalu tersenyum, "aku nggak apa-apa, cuma lemas dan sekarang merasa sangat lapar, hehehehe"
"Kebetulan sekali. Aku ke sini mengajakmu makan siang. Kamu pengen makan apa?" tanya Theo.
"Emm, steak, kentang goreng, susuk cokelat kocok" Binar tersenyum lebar ke Theo.
"Makan itu lagi?" tanya Theo heran.
"Iya" jawab Binar sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
"Tapi bukankah itu kurang sehat ya? nggak ada sayurnya" ucap Theo.
"Ada wortel dan buncis kan?" ucap Binar.
"Iya tapi cuma dua potong. Lagian setiap kali aku lihat kamu makan steak, kamu cuma makan dagingnya saja, sayurnya nggak kamu sentuh sama sekali" ucap Theo.
"Hehehehe, yang penting aku nggak muntah"
"Huffttt! baiklah. Ayok kita makan steak" Theo bangkit dan menarik pelan lengannya Binar, "bisa jalan?"
"Kalau nggak bisa?"
"Hup!" Theo langsung membopong tubuh mungil dan rampingnya Binar.
Binar membelalakkan kedua matanya ke Theo, "kamu kenapa......."
"Maaf ini demi rasa kemanusiaan. Karena, kamu nggak bisa jalan makanya aku bopong. Daripada kamu nekat jalan terus jatuh, bahaya kan buatmu dan buat dedek bayi di kandunganmu?
Binar kemudian tersenyum, menggelungkan kedua lengannya di lehernya Theo lalu tersenyum dan berucap, "terima kasih"
Theo sebenarnya menyesali perbuatannya. Wajah ayu dan wangi rambutnya Binar yang begitu dekat dengan wajah dan hidungnya membuat darah kelaki-lakiannya kembali berdesir dan dia harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahannya.
Dia bergegas melangkah lebar menuju ke lift khusus untuk CEO, Binar membantu memencet tombol lift-nya, mereka masuk ke dalam lift dan menuju ke tempat parkiran mobil dan Theo terus membopongnya.
Lela tanpa sadar mematahkan pensil yang dia pegang karena, terbakar cemburu melihat Theo membopong Binar dan tampak begitu mesra.
Theo menurunkan Binar di depan pintu mobil dan Binar langsung masuk ke dalamnya setelah Theo membukakan pintu itu untuknya lalu menutupnya kembali setelah Binar benar-benar masuk di dalamnya.
Theo kemudian berlari di sisi kiri kemudian masuk dan menemani binar duduk di jok belakang lalu berkata ke Andik, "jalan, Ndik!"
"Baik, tuan" Andik langsung meluncurkan mobil mewah itu.
Binar menyapa Andik dengan ramah, "anda, asistennya suami saya?"
Theo tersenyum lebar penuh kebahagiaan mendengar kata suami saya, keluar dari mulutnya Binar.
"Iya nyonya" sahut Andik.
"Anda sudah menikah?" tanya Binar kemudian.
"Saya juga punya asisten namanya Lela. Dia juga belum menikah dan belum punya pacar jadi......"
"Percuma kau kenalkan cewek ke Andik, lebih baik kita kenalkan saja dia dengan Miko, pfffttt" Theo mengulum bibir menahan rasa geli di hatinya.
Binar ikutan terkekeh geli.
"Bos! saya ini cowok normal" sahut Andik kesal.
"Kalau normal kenapa ada begitu banyak model cantik mendekati kamu tapi kamu tolak semuanya?"
"Lalu apa kabarnya dengan bos? ada begitu banyak model yang......."
Theo langsung berdeham dan mendengus kesal ke Andik.
Andik langsung berkata, "maaf Bos nggak sengaja, hehehehe"
Binar menoleh ke Theo dan tersenyum lebar lalu menatap ke depan ke arah Andik, "ada banyak model yang mendekati bos kamu ini ya?"
Theo langsung tertawa canggung dan langsung berkata, "nggak ada! iya nggak ada! Andik hanya asal bicara aja tadi"
Binar menoleh dan bertanya, "benar nggak ada? bukankan pernikahan itu harus diawali dengan kejujuran?"
"Setuju saya" sahut Andik.
Theo langsung menendang jok mobil tempat Andik duduk dan Andik berucap, "saya tetap setuju"
Theo kemudian terkekeh mendengar kekonyolannya Andik. Kemudian dia menatap Binar, "oke! aku ngaku deh. Iya ada model yang mendekati aku"
"Lalu kenapa kamu bilang nggak ada, tadi?" Binar mulai melipat tangan dan pura-pura marah.
"I..itu karena, aku malu. Kalau aku bilang ada kan kesannya aku ini sombong, sok tampan, sok hebat dan......"
"Ada berapa model yang mendekati kamu?" potong Binar dengan suara tegas terkesan marah.
Theo menautkan alisnya dan merasa ragu untuk menjawab pertanyannya Binar.
"Belasan nyonya" sahut Andik dengan polosnya.
"Hah!?" Binar langsung menoleh ke Theo dengan mulut ternganga lebar.
Theo mengatupkan kedua mulutnya Binar dengan sopan dan terkekeh lalu berucap, "wanita nggak baik menganga di depan seorang cowok"
Binar terkekeh geli dan berucap, "itu karena, aku terkejut, ternyata suamiku lumayan laris ya?"
"Hei! apa maksud kamu dengan lumayan laris?" Theo tertawa renyah ke Binar dan Andik ikutan bahagia melihat bos tampannya bisa sebahagia itu.
Binar tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "banyak gadis yang mengejar kamu apalagi model. Wow! aku sungguh mengagumi kamu hai Theo Revano" Binar kemudian menepuk-nepuk pelan pundaknya Theo.
Theo tanpa sadar meraih tangannya Binar lalu dia genggam sambil berucap, "kamu cemburu?"
"Ehem! i...itu, emm......." Binar hendak mengucapkan kata tidak tapi entah kenapa tanpa alasan yang jelas hatinya mengkhianatinya. Hatinya berkata kalau dia cemburu dan itu membuat lidahnya tiba-tiba terasa Kelu karena, hati dan benaknya sedang tidak selaras.
Theo tanpa sadar mencium tangannya Binar saat dia melihat rona merah di wajah cantiknya Binar lalu dia berucap merdu, sangat merdu, "kamu cemburu?"
"Ehem!"Binar menarik tangannya kemudian melipat tangan dan kembali menghadap ke depan tanpa menjawab pertanyannya Theo.
"Kamu marah sama aku? maaf aku cuma bercanda" ucap Theo.
Binar masih diam membisu karena dia sendiri juga bingung harus bersikap bagaimana saat itu.
"Tentu saja cemburu bos. Seorang istri pasti cemburu jika suaminya ada yang mendekatinya apalagi yang mendekati suaminya bukan wanita sembarangan melainkan para model yang cantik-cantik" sahut Andik.
Theo menatap Binar dari arah samping karena Binar terus menatap ke depan. Lalu Theo kembali bertanya, "benarkah itu, istriku?"
Binar secara tidak sadar menganggukkan kepalanya saat mendengar kata istriku keluar dari bibirnya Theo.
Theo langsung merona malu lalu merangkul bahunya Binar. Sambil tersenyum lebar dia berkata, "terima kasih. Kamu sudah cemburu, itu berarti pernikahan kita ini akan berjalan dengan baik, heeeeee"
Binar terkekeh dan berucap, "ada ya sebuah pernikahan yang baik diawali dari kecemburuan?"
"Ada nih. Kita buktinya" ucap Theo.
Binar tertawa lirih lalu menepuk dadanya Theo.
Theo bahagia bukan main bisa merangkul Binar dan Binar tidak mendorongnya. Selain itu, Binar mengakui kalau ada kecemburuan di hatinya Binar.
"Aku menolak mereka semua. Aku tipe pria setia percayalah aku nggak akan selingkuh"
"Itu benar nyonya. Bos Theo itu menolak semua wanita cantik yang mendekatinya"
Binar menoleh ke Theo dan tersenyum, "aku percaya. Aku juga akan setia sama kamu karena, kamu suamiku. Aku nggak akan pernah selingkuh"
Theo tersenyum bahagia dan semakin erat merangkul Binar.
Semoga anda dan nyonya selalu bahagia, Bos. Batin Andik.