
Tok, tok, tok. Pintu kamar rawat inapnya Theo diketuk oleh seseorang dan Theo menyahut, "masuk"
Binar tengah mandi dan Miko keluar untuk mengambilkan obatnya Theo di instalasi obat medis. Frida membuka pintu kamar itu dan melangkah masuk dengan lemah gemulai sambil menenteng keranjang buah dan paper bag yang berisi kue brownies kacang, kesukaannya Theo Revano.
Frida tersenyum senang karena, dia pikir Theo sendirian di kamar kala itu. Frida tidak mengetahui kalau Binar, istrinya Theo masih berada di dalam kamar mandi.
Frida duduk di sebelahnya Theo setelah menaruh keranjang buah dan paper bag yang dia bawa di atas nakas. Model seksi itu kemudian tersenyum manis ke Theo dan berkata, "gimana luka kamu?" Frida hendak meraih tangannya Theo namun, Theo bergegas melipat tangan.
Binar hendak keluar dari dalam kamar mandi namun, ragu ketika dia mendengar ada suara perempuan tengah berbicara dengan suaminya.
"Aku kupasin buah jeruk kesukaanmu ya? atau mau makan brownies kacang favoritmu?" tanya Frida.
"Siapa wanita itu? aku bahkan nggak tahu buah kesukaannya Theo dan makanan kesukaannya Theo tapi, dia tahu? apa dia mantan pacarnya Theo" gumam Binar dari balik pintu kamar mandi.
"Nggak usah, terima kasih. Aku sudah kenyang habis disuapi sama istriku" ucap Theo dengan masih melipat tangannya.
Frida segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar VVIP itu dan tersenyum tipis, "mana istri kamu? tega sekali dia tinggalkan kamu sendirian di sini padahal kamu terluka karena, dia"
"Jaga ucapanmu! Bukan istriku yang menyebabkan aku terluka tapi orang lain dan aku akan segera menemukan pelakunya" Theo menatap tajam ke Frida.
Frida bergidik ngeri dan keringat dingin mulai keluar membasahi tengkuknya dan di dalam hati dia berkata, semoga kau tidak akan pernah menemukan pelakunya karena, itu adalah aku. Aku nggak mau kamu membenci dan menjauhiku kalau kamu tahu akulah yang ingin mencelakai istrimu. Aku hanya ingin memiliki kamu.
Frida kemudian berkata untuk menutupi kepanikannya, "maaf! aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Aku hanya sedih melihatmu terluka parah seperti ini dan istri kamu tidak menunggu dan menjagamu"
"Istriku dari kemarin menjagaku dan tidak meninggalkanku sedetikpun. Binar, istriku, lagi mandi" ucap Theo dengan nada suara dan wajah datar.
Glek! Frida tersentak kaget. Dia tersenyum tipis dengan sangat terpaksa saat mengetahui kalau istrinya Theo ada di dalam kamar mandi. Frida tidak ingin bertemu dengan istrinya Theo itu maka kemudian dia berkata, "a....anu....a...aku masih ada pemotretan. Aku pamit dulu"
"Hmm dan terima kasih untuk buah tangannya" sahut Theo.
Frida tersenyum lalu bergegas pergi meninggalkan Theo.
Binar melangkah keluar dari dalam kamar mandi dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya, "siapa yang datang tadi? aku dengar ada suara wanita yang sangat merdu jadi bisa dipastikan kalau wanita tadi pasti cantik"
Theo tertawa kecil lalu menarik tangannya Binar dan Binar duduk di tepi ranjang di sebelahnya Theo. "Kenapa? kamu cemburu?"
Binar mengerucutkan bibirnya dan dia gerakkan bibir monyong itu ke kanan dan ke kiri.
Theo semakin melebarkan tawanya, "sepertinya iya nih, istriku cemburu. Ahhhh! bahagianya hatiku dicemburui sama istri, hahahaha"
Binar merapatkan bibirnya dan menoleh ke Theo, "siapa yang cemburu. Aku cuma kesal, dia tahu buah kesukaanmu, dia juga tahu makanan favoritmu, dan aku nggak tahu apa-apa soal kamu"
Theo tertawa lepas, merangkul Binar dan dengan cepat tanpa jeda dan dalam satu tarikan napas, dia berkata, "aku suka warna biru, suka brownies kacang, buah jeruk, mobil vintage, sepatu sneakers yang santai dan bikin nyaman, aku suka basket, nge-gym, belajar bermacam-macam ilmu bela diri, aku pernah berpacaran sekali dengan cewek namanya Dita, tapi aku mencintai Binar Adelard"
Binar tertawa lepas lalu menepuk dadanya bidangnya Theo, "kalau kasih tahunya cepat kayak gitu, bagaimana aku bisa mengingatnya, dasar gila!"
"Hahahaha, aku bersedia untuk membantumu mengingatnya. Lebih-lebih kata terakhirku tadi"
"Umm, yang mana ya, aku nggak dengar kata terkahir kamu tadi?" Binar tersenyum jahil ke Theo. Theo langsung mempererat rangkulannya dan mencium pipinya Binar dengan gemas.
Tiga Bulan kemudian.........Luka Theo berangsur sembuh namun, dia harus menelan pahitnya kekecewaan karena, pelaku yang menjatuhkan lampu untuk keperluan shooting belum ketemu. Hasil rekaman CCTV dari bagasi sang sutradara kala itu tidak bisa menangkap jelas wajah si pelaku tapi, paling tidak mereka tahu kalau pelakunya adalah seorang wanita.
Binar dan Theo duduk di depan dokter kandungan yang menangani kandungannya Binar sedari awal.
"Saya memang anak yang baik dan penurut jadi, saya selalu ikuti semua saran dari dokter dengan sempurna" Theo pun melempar senyum ke dokter Wulan.
Dokter Wulan dan Binar tertawa renyah menanggapi celotehannya Theo Revano.
"Saya kasih vitamin lagi dan bu Binar perhatikan asupan makanan yang masuk ya, harus mengandung empat sehat lima sempurna" kata dokter Wulan sembari menuliskan resep untuk Binar dan calon bayi yang ada di dalam kandungannya Binar.
"Pengennya sih gitu dok, saya juga sudah sering bilang ke istri saya untuk tidak makan steak terus tapi, gimana lagi, kalau makan selain steak dan kentang goreng selalu muntah" sahut Theo sembari mengusap lembut rambutnya Binar.
"Iya dok, itu benar. Apalagi kalau makan nasi putih, saya langsung muntah nggak berhenti-berhenti" tambah Binar.
Dokter Wulan menyerahkan resep ke Binar lalu bertanya, "siapa yang suka steak dan kentang goreng selama ini?"
Binar dan Theo menggelengkan kepalanya secara refleks lalu mereka bersitatap.
"Lho, kok aneh? biasanya ibu hamil itu menyukai makanan yang paling dia sukai atau yang paling disukai papanya calon bayi. Jadi pas hamil maunya makan itu melulu" kata dokter Wulan sambil mengerutkan keningnya.
"Papa saya, suka banget sama steak dan kentang goreng jadi, anak saya ini mirip sama opa-nya" sahut Theo dengan cepat sembari beralih menatap dokter Wulan. Sedangkan Binar masih terus menatap suaminya dari arah samping.
Kamu selalu melindungiku, mencintaiku, dan membelaku. Batin Binar sambil terus menatap Theo Revano.
"Ooooo, pantaslah kalau begitu. Nanti bersiap-siaplah kalian, anak kalian pasti mirip dengan Opanya, hehehehehe" sahut dokter Wulan.
Theo tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat lalu berkata, "kalau mirip Opanya ketampanannya sih oke-oke aja tapi, kalau mirip keceriwisannya bisa tambah rame rumah saya, hahahaha" Theo berkata dengan santainya.
Deg......Binar merasakan kembali rasa bersalahnya untuk Theo. Kemudian secara refleks dia bangkit beralih menatap wajah ayunya dokter Wulan kemudian berucap, "makasih dok untuk perhatiannya. Saya permisi dulu"
Theo menoleh ke Binar sembari bangkit kemudian menyalami dokter Wulan, merangkul Binar dan melangkah keluar dari ruang prakteknya dokter Wulan.
Theo mengemudikan mobilnya dan berkata, "kita ke rumah papa kamu, papaku, dan kakak kamu dulu"
Binar seketika itu menoleh ke Theo, "untuk apa?"
"Untuk mengumumkan kehamilan kamu. Ini saat yang tepat mengumumkan ke mereka kalau kamu hamil. Papa kita pasti sangat bahagia menyambut kabar gembira ini" ucap Theo.
Binar berbisik, "tapi ini bukan anak kamu" sambil mengelus perutnya.
Pendengaran Theo yang sangat tajam bisa menangkap bisikannya Binar. Kemudian dengan desahan panjang dia meminggirkan mobilnya, membuka sabuk pengamannya, memutar badan dan menghadap ke arah Binar. Laki-laki tampan putranya David Revano itu kemudian berkata, "aku sudah menganggap anak ini......" Theo mengusap perutnya Binar, "anakku jadi berhentilah berkata kalau anak ini bukan anakku. Dia bisa mendengar dan merasakan kesedihanmu, kasihan dia" Theo terus mengelus perutnya Binar.
Binar membuka sabuk pengamannya dan menghadap ke Theo, "kenapa kamu sebaik ini? bahkan aku sungguh-sungguh tidak menyangka bertemu dengan laki-laki sebaik kamu di dunia yang semakin ruwet dan kejam ini. Di hitamnya kenyataan hidup ini ternyata masih ada hati semurni dan seindah berlian di sini" Binar menunjuk dadanya Theo.
Theo tersenyum, menghela napas panjang, lalu meraih dan menggenggam tangannya Binar, "aku tidak sesempurna itu. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Kata hatiku selalu berbisik cintailah Binar dengan segenap jiwa dan ragamu dan jika aku mencintaimu, maka secara otomatis aku bisa menerima kamu dengan apa adanya dan bisa mencintai anak ini" Theo kembali mengelus perutnya Binar dengan tangan kirinya karena, tangan kanannya dia pakai untuk menggenggam tangannya Binar.
Binar terus menatap Theo. Menyelami gelapnya bola mata hitam nan indah miliknya Theo. Binar menemukan ketulusan di dalamnya kemudian, dengan tanpa sadar Binar berucap, "aku mencintaimu"
Kedua manik hitamnya Theo sontak membulat sempurna seolah tidak memercayai pendengarannya sendiri dia pun bertanya dengan senyum yang merekah manis, "apa yang kau katakan barusan?"
Binar menarik tangannya yang digenggam Theo dan mengusap pipinya Theo dengan penuh kelembutan, "aku mencintaimu"
Theo tertegun dengan senyum yang masih merekah, dia terus menatap wajah cantiknya Binar Adelard.