My Pretty Boss

My Pretty Boss
Theo Menemui Darren



"Hmm, kalau dari aku, aku minta kamu kembalikan semua desainnya Binar yang sudah kamu curi dan kami serahkan ke Darren, lalu kamu mengakui semua kesalahanmu ke Binar dan biar Binar yang mengambil keputusan atas kamu" ucap Theo kemudian.


"Tapi, akan sangat sulit mengambil kembali desain itu dari tuan Darren karena, semua desainnya kak Binar sudah diklaim menjadi miliknya Darren Desain" penyesalan yang mendalam terdengar di nada bicaranya Lela.


"Aku nggak mau tahu bagaimana caranya, pokoknya kamu harus mengembalikan semua karyanya Binar dalam waktu satu Minggu setelah itu kamu akui semua perbuatanmu ke Binar dan selama satu Minggu itu, aku akan terus mengawasimu jadi jangan coba-coba melakukan hal yang lebih buruk lagi"


"Baik Kak, saya akan tebus kesalahan saya dan saya akan berusaha dengan sekuat tenaga mengambil kembali desainnya kak Binar yang sudah didekap sama tuan Darren" sahut Lela dengan sorot mata penuh dengan ketulusan.


"Bagus! habis ini aku akan menemui Darren" sahut Theo sambil bangkit.


"Tunggu! apa kakak tahu alasan tuan Darren melakukan semua ini?" tanya Lela.


"Aku tahu dan aku juga tahu siapa Darren" Theo tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke Lela lalu dia melenggang pergi meninggalkan Lela menuju ke ruangan yang di dalamnya terdapat Andik dan Frida.


Theo membuka pintu ruang private yang disediakan oleh pihak Palma Kitchen dan Frida menoleh dengan senyum ceria lalu memekik, "Theo, aku senang kau datang juga. Sudah lama kita nggak makan bareng, apa kau merindukanku?"


Theo hanya melempar senyum sambil duduk di depannya Frida lalu ia menoleh ke Andik, "belum kau buka permasalahannya?"


"Belum karena, saya pikir saya menunggu anda saja setelah anda menelepon saya tadi" sahut Andik.


Frida menatap Theo dan Andik dengan menautkan alis, "ada apa ini?"


Theo menatap lekat kedua mata indahnya Frida dan berkata, "kenapa kau lakukan itu? kenapa kau berniat mencelakai istriku?"


"A...apa-apaan ini? apa maksudmu, kenapa kau tiba-tiba menuduhku tanpa bukti?" pekik Frida.


Theo melihat gerak-geriknya Frida dan tersenyum tipis, "kenapa kau gelisah jika kau tidak mengerti apa maksudku?"


"Si....siapa yang gelisah?" Frida segera menurunkan kedua tangannya yang mulai gemetar, di bawah meja.


"Akui saja sebelum aku mempermalukan kamu di depan semua bukti yang sudah aku dapatkan" ucap Theo.


"Bukti apa? omong kosong apa ini?" Frida semakin meninggikan nada suaranya untuk menutupi kegelisahannya.


Theo mendesah panjang untuk meraih kesabarannya atas sikap keras kepalanya Frida lalu ia menoleh ke Andik. Andik dengan sigap, menaruh ponsel di depannya Frida dan Andik kemudian berkata, "putarlah!"


Frida mengangkat kedua tangannya dari bawah meja dengan gemetar. Dia lalu menopangkan tangan di atas ponsel itu dan mulai menundukkan wajah cantiknya, Frida terisak hebat untuk melepas semua ketakutannya.


Theo menghela napas panjang untuk melepas ketidaktegaannya menyaksikan air mata Frida walaupun ada amarah yang begitu besar di dalam hatinya Theo karena, kekecewaannya pada Frida namun, air mata dari seorang wanita selalu membuat hati seorang Theo Revano menjadi sedikit melunak.


Frida menarik napas dan dengan masih menunduk dia berucap, "maafkan aku!"


"Kau sadar kalau tindakanmu itu melawan hukum? kalau tindakanmu itu bisa membuat istriku.............." Theo meraup wajah tampannya, dia tidak sanggup membayangkan kalau Binar sampai celaka karena perbuatannya Frida.


Frida diam membisu dengan tangannya masih bergetar di atas meja dan masih berada di atas ponsel yang Andik sodorkan.


"Kau bahkan bertindak semakin gila. Kau menyewa orang untuk menculik dan menghilangkan istriku? apa kau ini manusia?" Theo menatap Frida penuh dengan kekecewaan dan amarah.


Frida mulai mendongakkan wajah cantiknya secara perlahan sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Theo. Frida hendak memasukkan sapu tangannya Theo ke dalam tas tangannya namun, Theo segera berucap, "kembalikan lagi sapu tanganku! aku hanya meminjamkannya"


"Tapi ini basah kena air mataku, biar aku cuci dulu besok aku kembalikan" sahut Frida.


Namun Theo tetap bersikeras sambil menengadahkan tangannya dia berkata, "kembalikan!" Frida lalu menaruh sapu tangan itu ke atas tangannya Theo. Theo lalu memasukkan kembali sapu tangannya ke dalam saku jasnya sambil berucap, "apa yang ingin kau katakan?"


"Kamu pasti kecewa padaku dan itu yang paling tidak bisa aku terima. Aku sedih karena, kamu kecewa padaku" Frida berucap dengan bibir gemetar menahan kesedihannya.


"Lalu apa yang kau harapkan? tentu saja aku kecewa banget sama kamu bahkan aku marah sekali saat ini. Aku nggak nyangka sama sekali kalau kamu setega itu, merencanakan sesuatu yang keji pada istriku dan bahkan mengancam nyawa istriku, apa kau pikir hal itu tidak akan membuatku kecewa dan marah sama kamu. Aku ini manusia Frida, aku juga bisa kecewa dan marah" sahut Theo dengan menghunus sorot mata tajam ke Frida.


"Aku lakukan semua itu karena aku kecewa juga sama kamu. Aku lakukan itu karena, aku sangat mencintaimu dan hanya ingin memilikimu sepenuhnya. Rasa cintaku lebih besar daripada istrimu dan .........."


"Bagaimana kau tahu kalau rasa cintamu lebih besar daripada istriku? cih! yang bisa merasakan dan tahu sebesar apa istriku mencintaiku adalah aku sendiri, bagaimana kau bisa mengambil asumsi ngawur seperti itu?" Theo mulai melipat tangan dan bersandar pada kursinya.


"Aku bisa melihatnya, istri kamu tidak mencintaimu sebesar aku mencintaimu" pekik Frida.


"Lalu cinta besar yang kau miliki itu suci dan berharga?"


"Tentu saja berharga karena itu aku........"


Frida langsung membisu dan membeku.


"Yang kamu miliki bukanlah cinta tapi, keegoisan, ketidakdewasaan akal budi, dan hanyalah obsesi belaka" lalu Theo bangkit dan berkata ke Andik, "urus dia sesuai dengan perbuatannya"


"Tunggu Theo! kau tidak boleh begitu saja meninggalkanku!" jerit Frida.


Theo terus melenggang pergi dan mengabaikan jerit frustasinya Frida.


Frida kembali terisak dan menatap Andik, "apa Theo akan memusuhiku dan nggak mau lagi bertemu denganku?"


"Cih? kau lebih memikirkan itu daripada ancaman hukuman yang ada di depan mata kamu?" ucap Andik.


"Aku tidak peduli kalau aku akan dipenjara, asalkan Theo masih mau bertemu denganku maka aku akan kuat menghadapi hukuman apapun"


Andik menggeleng-nggelengkan kepalanya di depan Frida lalu berucap, "mereka berdua adalah petugas kepolisian" Andik menunjuk dua orang berpakaian waitress yang berdiri di pojok ruangan itu sedari tadi. Lalu Andik tersenyum ke Frida, "mereka akan membawamu sekarang juga ke kantor polisi" Lalu Andik bangkit dan Frida segera diringkus oleh kedua petugas kepolisian tersebut. Frida hanya bisa pasrah.


Theo masuk ke dalam mobilnya, memasang sabuk pengamannya lalu memasang headset nirkabel-nya untuk menghubungi Binar, "halo sayang, kamu udah makan siang?"


"Udah barusan, aku makan siang di kantin bawah tadi" sahut Binar.


"Aku beli sup buntut dan alpukat kocok nih, mau aku kirim ke kantor kamu atau aku bawa pulang aja?"


"Bawa pulang aja, buat makan nanti malam! Aku masih kenyang, emm, makasih ya sayang, mmuuaahhh" kata Binar.


"Waaaahhh dapat kiss nih, sayang cuma lewat udara kiss-nya, hehehehehe" kekeh Theo.


"Aku akan kasih banyak kiss entar malam"


"Benar ya, janji lho" sahut Theo.


"Iya janji, emm aku tutup telpon dulu ya, ada tamu nih"


"Oke met bekerja cantikku, mmuuaahhh"


"Makasih tampanku" sahut Binar sambil terkekeh senang.


Theo tertawa renyah penuh cinta lalu memutus sambungan telepon itu.


Theo menghela napas panjang sambil melajukan mobil mewahnya menuju ke tempat pertemuannya dengan Darren Barnett.


Binar menutup percakapan via email dengan Silver Butterfly dengan kata, selamat beristirahat karena, aku tahu di Amerika sana sudah waktunya bagi anda untuk tidur malam. Kita lanjutkan obrolan kita lagi besok, ya?


Aksa membaca email dari Binar dengan senyum merekah. Aksa merasa sangat bahagia dia bisa mengobrol kembali dengan Binar dan Binar bisa menanggapi obrolan yang ditawarkan Aksa dengan santai dan obrolan mereka via email bisa nyambung satu sama lain.


Aksa mendengar dentingan sebanyak dua belas kali di jam dindingnya lalu dia melompat di atas ranjangnya dan terus bergumam, "aku merindukanmu, Bin" lalu sambil mengulas senyum lebar laki-laki yang semakin hari semakin terlihat tampan itu, menyerah jatuh ke dalam alam mimpinya.


Binar melangkah ke ruang meeting sambil tersenyum dan bergumam, "kenapa aku bisa langsung dekat dengan Silver Butterfly padahal aku belum pernah berjumpa dengannya dan kenal sama dia baru kemarin itupun via email" Binar kemudian masuk ke ruang meeting melempar senyum ke tamu wanita yang sedari tadi sudah menunggunya dan mulai membahas soal desain.


Dari begitu banyak desain yang Binar tawarkan, desain karya Silver Butterfly yang kembali terpilih. Binar sampai tanpa sadar berucap, "hebat sekali dia"


"Siapa yang anda maksud?" tanya klien-nya Binar.


"Aaah, emm, ini yang saya maksud, karya ini adalah karya anak muda yang bernama Silver Butterfly. Sudah dua kali ini, karya dari Silver Butterfly terpilih" ucap Binar.


"Anda beruntung bisa memiliki anak buah berbakat seperti Silver Butterfly dan kapan-kapan saya ingin bertemu dengannya, bisa?" tanya klien-nya Binar.


"Emm, sepertinya tidak bisa karena, Silver Butterfly ada di Amerika saat ini. Kami bekerja lewat email"


"Kalau gitu kapan-kapan saya ingin bertemu dengannya secara virtual, bisa? karena saya sangat mengagumi karyanya" pinta klien-nya Binar itu.


"Baiklah nanti saya akan meminta ijin sama Silver Butterfly. Saya yakin dia akan bersedia berjumpa dengan penggemarnya" ucap Binar.


Klien-nya Binar kemudian bangkit, tersenyum, berjabat tangan dengan Binar lalu melenggang meninggalkan Binar.


Theo duduk berhadapan dengan Darren dalam diam. Theo mengamati Darren begitu juga sebaliknya, Darren mengamati Theo penuh dengan kebencian dan kecemburuan. Kedua laki-laki tampan nan gagah itu, saling mengagumi sekaligus saling cemburu di dalam kebekuan mereka.