My Pretty Boss

My Pretty Boss
Hasil Lab



Aksa kembali ke rumah dan mendapati Monica tertidur di bangku taman teras depan rumahnya .


Aksa menghentikan langkahnya dan berdiri di depan Monica yang melengkungkan tubuhnya di atas bangku taman. tersenyum dan bergumam, "bisa-bisanya kamu tidur di sini?" Aksa lalu terkekeh geli dan berkata lirih, "kamu memang mirip sekali dengan Binar cuma bedanya kamu lebih berhati-hati dalam bertindak tidak impulsif seperti Binar" Aksa lalu merengkuh Monica ke dalam pelukannya dan membopong tubuh langsing itu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya Monica.


Aksa merebahkan Monica di atas ranjang, menyelimuti tubuh ramping itu, menyetel AC, lalu melepas sandal yang masih menempel di kedua kakinya Monica.


Saat Aksa hendak melangkah keluar dari kamar itu, pandangannya tertuju ke sebuah bingkai foto yang ada di atas meja kerjanya Monica. Aksa mendekati meja itu lalu meraih bingkai foto itu, "kapan kamu mengambil fotoku ini?" Aksa mengangkat bingkai foto yang berisi potret dirinya itu lalu ia menatap lekat gambar dirinya yang tengah makan burger di depan sebuah food truck di jalanan kota New York. Di dalam bingkai foto itu, Aksa terlihat begitu santai, lepas tanpa beban, dan ceria. Lalu Aksa membalik bingkai foto transparan itu dan ia menemukan tulisannya Monica di belakang foto itu, "ini wajah kamu yang paling tampan" Aksa membaca lirih tulisan yang ditulis oleh Monica di belakang foto itu. Aksa lalu tersenyum dan menoleh ke Monica yang masih tertidur lelap. "Terima kasih untuk cinta dan perhatianmu selama ini" Aksa lalu meletakkan bingkai foto itu dan melangkah keluar dari dalam kamarnya Monica.


Theo selalu menampilkan keceriaan sepanjang sore sampai malam hari


di Diamond Hotel. Ia selalu berbinar di depan istri dan anak-anaknya dan terus mengulas senyum bahagia di wajah tampannya di saat ia menikmati kebahagiaan yang terpancar di wajah istri dan anak-anaknya.


"Ayah!" Mada dan Aries memekik, berlari ke ayah mereka lalu berebut pangkuan ayahnya.


"Ya ya tu" celetuk Aries dengan mimik wajah lucu dan tangannya langsung mencengkeram celana panjang ayahnya. Mada terkekeh geli lalu mengangkat tubuh Aries untuk ia letakkan di atas pangkuan ayah mereka lalu Mada berkata, "iya dek iya, Ayah tuh Ayah adek"


Theo tertawa lepas lalu menepuk paha kanannya, "kamu bisa duduk di sini" ucapan Theo tertuju ke Mada.


Mada tersenyum lebar lalu duduk di atas paha kanan ayahnya.


Binar segera memekik, "eits, kalian udah gede kok masih minta pangku sama Ayah? biar Ayah istirahat ya, ayok sini sama bunda aja"


Mada dan Aries menggelengkan kepala mereka secara bersamaan dan Aries tiba-tiba nyeletuk, "no no no"


Mada dan Theo langsung bersitatap lalu menoleh ke Aries sambil tertawa lepas.


"Hmm, kalian ngejek bunda ya?" Binar mulai berkacak pinggang dan merapatkan bibirnya.


Theo dan Mada semakin keras tawanya di saat Aries kembali mengucapkan kata, "no no no"


Binar lalu mengerucutkan bibirnya, "kalau Ayah untuk kalian semua, Bunda dapat apa dong, masak Bunda sendirian di atas ranjang?"


Theo menepuk tempat kosong di sebelahnya, "kau bisa duduk di sini"


Binar segera bangkit, berlari kecil lalu duduk di sebelah suaminya. Binar menyandarkan kepalanya di bahunya Theo tapi, Aries segera mendelik, "ya ya tu"


"Mana ada Ayahmu, ini suamiku" Binar menggoda Aries sambil mencebikkan bibirnya.


Aries memekik kesal, "ya ya tu" lalu tangannya yang mungil mencoba mengangkat kepala bundanya dari atas bahu ayahnya tapi Binar terus menahan kepalanya tetap di tempatnya.


Binar langsung protes, "Ayah! Aries nakal nih. Masak Kepala Bunda disuruh minggir"


Mada terkekeh melihat tingkah konyol bundanya, "Bunda kok nggak mau ngalah sama adek, Mada aja mau ngalah sama Adek"


Theo melirik Binar sambil mengusap rambutnya Binar, "tuh, Mada aja bisa ngalah hahahahaha, malu tuh sama Mada"


Binar terkekeh geli lalu menegakkan kepalanya dan merentangkan tangannya, "Dek, ikut Bunda aja yuk! bobok. Bunda ceritakan dongeng si Kancil kesukaanmu"


Aries langsung masuk ke dalam pelukannya Binar dan Binar langsung bangkit sambil menggendong Aries menuju ke ranjang super deluxe sambil mencebikkan bibirnya Ke Theo dan Mada "weekkk, hasil akhir tetap Bunda yang menang kan?"


Mada dan Theo terkekeh geli. Lalu Mada memeluk ayahnya, "dan Ayah jadi miliknya Mada sepanjang malam, hooorrraayyy"


Theo langsung mendekap erat tubuhnya Mada lalu mencium rambutnya Mada, "rambut kamu awet wangi kayak Bunda kamu"


Mada lalu mengangkat wajah mungil nan tampannya untuk mencium rambut ayahnya, "rambut Ayah juga wangi, tubuh Ayah juga wangi, Mada sangat suka berada di dalam pelukan Ayah"


"Hahahaha, Ayah juga sangat suka memeluk kamu. Emm, kamu nggak ingin dengerin Bunda kamu mendongeng?" Theo mencium keningnya Mada sambil mengelus-elus punggungnya Mada.


Kedua mata Theo seketika itu juga memerah dan Theo dengan sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak terjatuh di kedua pipinya. Theo menghela napa panjang sambil menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar VVIP itu kemudian ia menunduk setelah berhasil menekan rasa harunya, "Ayah sayang banget sama Mada" Theo mendaratkan bibirnya di pucuk kepalanya Mada.


Mada mempererat pelukannya dan berkata, "Mada seribu kali lebih sayang sama Ayah. Mada bahagia banget memiliki Ayah yang pintar di dalam segala.hal, Ayah yang tampan, tinggi, dan Ayah adalah Ayah terhebat di dunia ini"


"AW! Ayah merona nih mendengar berjuta pujian dari anak Ayah yang hebat ini. Ayah juga bahagia banget memiliki kamu dan Aries. Kalian anak-anak terhebat di dunia ini"


"Ayah"


"Hmm" Sahut Theo.


"Mada pengen bobok sama ayah saja malam ini. Kita bobok di ranjang yang ada di ruang sebelah ya? biar Bunda sama dek Aries" ucap Mada, "besok juga begitu, kalau bisa seterusnya sih, hehehehehe" Mada lalu menarik pelukannya dan kedua tangannya ia pakai untuk menangkup wajah tampan ayahnya.


Theo tersenyum dan berkata, "kalau kamu pengen tidur sama Ayah seterusnya boleh aja"


"Benarkah? tapi kata Bunda, Mada harus bobok sendiri karena udah punya kamar dan udah gede"


Theo menyentil pelan pucuk hidung mungilnya Mada yang belum tampak mancung lalu sambil terkekeh ia berkata, "itu bisa diatur"


"Makasih Ayah" Mada lalu mencium kedua pipi Ayahnya.


"Terus kita mau ngapain nih? nonton kartun apa bobok?"


"Bobok aja tapi Ayah mendongeng ya?!"


"Hahahaha, oke pangeranku kecilku" Theo lalu bangkit sambil menggendong Mada menuju ke ruang sebelah dan mulai mendongeng untuk Mada. Dongeng yang sama tentang si Kancil.


Keesokan harinya, Theo terbangun tepat saat matahari menyapa jendela kamarnya dan mendesah panjang karena di pagi itu ia diserang sakit kepala yang begitu hebat dan lubang hidungnya kembali mengeluarkan darah. Mada terbangun mendengar rintihan pelan ayahnya. Mada segera duduk dan menatap ayahnya, "Ayah, hidung Ayah berdarah"


Mada segera mengambil tissue lalu memelintir tissue itu dan ia masukkan ke lubang hidung ayahnya yang berdarah setelah itu Mada berlari mengambilkan air putih hangat untuk ayahnya.


Theo menerima segelas air hangat yang diberikan oleh Mada sambil mengucapkan kata terima kasih. Theo segera meminum habis air hangat itu lalu menaruh gelas di atas nakas. Setelah itu ia menyandarkan kepalanya di ranjang.


Mada tampak panik, "Ayah sakit? Mada pijitin kepala Ayah ya?"


Theo menarik Mada ke dalam pelukannya, "ayah akan baik-baik saja kalau memeluk kamu seperti ini"


Aksa mendatangi rumah sakit swasta tempat kemarin ia berkunjung. Ia segera menemui dokter kepala lab, "sudah jadi, Dok?"


"Saya bilang kan di jam yang sama, ini masih tiga jam lagi baru jadi. Tunggu dulu!" sahut dokter kepala lab itu dengan muka kesal


Dasar anak muda sekarang memang nggak sabaran. Batin dokter kepala lab itu.


Aksa lalu memutuskan untuk sarapan di kantin rumah sakit tersebut karena, ia memang sengaja menghindari Monica. Ia masih belum tahu harus bersikap bagaimana ke Monica itulah kenapa ia pergi pagi-pagi sekali ke rumah sakit swasta tersebut dan tidak sempat sarapan.


Aksa kemudian duduk di depan ruang lab dengan harap-harap cemas. Dia memutuskan untuk menunggu daripada harus bolak-balik.


Tiga jam kemudian dokter kepala lab memanggil Aksa untuk masuk ke dalam ruangannya. Aksa segera duduk di depan meja dokter kepala lab tersebut dan mulai membuka kertas yang disodorkan oleh dokter itu.


Ada tertulis 98,6666666% positif. Aksa lalu mengangkat wajahnya untuk menatap dokter itu, "ini berarti.........saya ada hubungan biologis dengan si pemilik sample rambut kemarin?"


Dokter kepala lab menganggukkan kepalanya.


Aksa lalu bangkit, menyalami dokter tersebut dan berterima kasih sebanyak empat kali sambil terisak lalu tertawa saking gembiranya. Aksa lalu berlari keluar dari ruang lab itu dan terus berlari menuju ke parkiran mobilnya sambil berderai air mata ia genggam erat kertas hasil lab itu.