
Monica terus menatap Aksa di sepanjang perjalanan mereka kembali ke rumah sakit sampai-sampai, ia tidak menyadari kalau mobil Aksa telah berhenti dengan manis di tempat parkir rumah sakit swasta tersebut.
Aksa melepas sabuk pengamannya lalu menoleh, "aku bisa merasakan kalau kamu menatapku terus sedari tadi" Aksa lalu melepas senyum ke Monica.
Blush! kedua pipi Monica langsung memerah dan ia langsung menunduk sambil berusaha melepas sabuk pengamannya dan sialnya..........sabuk pengamannya macet tidak bisa terbuka dengan mulus. Ia tarik, ia pencet namun masih saja macet. Aksa mengulum bibirnya saat Monica menoleh ke arahnya.
"Macet nih, hehehehe" Monica meringis ke Aksa.
Aksa terkekeh geli, "kamu nggak sedang bermain salah satu adegan yang ada di novel-novel tentang CEO romantis yang sering kamu baca itu, kan? ada adegan sabuk pengaman macet lalu berlanjut ke ciuman dan......"
Monica segera membungkam mulutnya Aksa dengan tangannya lalu ia mendengus kesal bercampur geli, "hehehehe, anda sangat lucu tuan Aksa. Ini beneran macet dan aku nggak sedang bermain drama"
Aksa menepis pelan tangannya Monica yang masih membungkam mulutnya. Lalu Aksa tersenyum dan mulai mendekati Monica. Aksa Menundukkan wajah saat tangannya mencoba melepas sabuk pengamannya Monica.
Monica menegakkan tubuhnya, bersandar penuh ke jok mobil, dan dia langsung mengumpat di dalam hatinya, saat wangi tubuhnya Aksa menguar menimbulkan fantasi liar di dalam benaknya Monica.
"Cepat Sa! kok lama sekali? jangan-jangan kamu yang modus ingin menciumku ya?" Monica melepas candaan untuk membuang fantasi liar yang semakin meliar menguasai akal budinya.
Klik, ddrrrtttt! Sabuk pengaman berhasil terbuka dan saat Aksa mendongakkan wajahnya, Monica semakin tersentak. Jarak wajah Aksa setengah centimeter saja dari wajahnya. kedua pipi Monica langsung terasa panas dan secara spontan Monica mendorong tubuhnya Aksa untuk menjauh.
"Aduh! kenapa kuat sekali mendorongku?" Aksa lalu tersenyum jahil ke Monica, "emm, apa kau mau kita mencobanya?"
Monica segera menoleh ke Aksa, "men....men...mencoba...a...a....apa?" wajah Monica semakin memerah.
"Mencoba berciuman?" Aksa berucap sembari mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Monica secara perlahan.
Deg...deg....deg....deg......Bunyi degup jantung Monica seakan semakin mengundang Aksa untuk mendekatinya. Aksa lalu memegang pipinya Monica, ia mengelus pipi itu sambil terus menatap Monica lalu tangannya naik ke atas dan........pletak! Ia menyentil pelan keningnya Monica sambil terkekeh geli.
Monica memasang wajah linglung dan ia langsung bengong menatap Aksa sambil mengelus-elus keningnya.
"Kenapa melongo?" Aksa menegakkan badannya kembali dan menjauh dari Monica, "kamu tegang banget dan ketakutan jadi percobaan ciuman kita, kita lakukan lain kali saja, hahahaha" Aksa lalu membuka pintu dan melangkah turun dari dalam mobilnya sambil tertawa puas, ia berhasil menjahili Monica.
Monica mendengus kesal. Ia segera turun, memutari mobilnya Aksa untuk berkata di depannya Aksa, "dasar gila!" lalu ia segera berputar badan dan melangkah lebar meninggalkan Aksa.
Aksa tertawa lepas sambil berlari kecil mengejar Monica, "kamu sangat mengharapkannya, ya?"
Monica menoleh dan langsung mendelik ke Aksa, "siapa yang mengharapkannya? aku? huh! jangan ge-er, ya. Berciuman tuh nggak berarti apa-apa bagiku. Aku bahkan pernah dicium oleh seorang cowok dan........"
Grab, Aksa menarik lengannya Monica secara tiba-tiba sehingga membuat Monica berputar badan secara spontan dan langsung berada di dalam pelukannya Aksa.
Aksa mendekap tubuhnya Monica lalu ia mengangkat wajah cantiknya Monica dan sebelum Monica sempat melempar protes, Aksa mencium bibir Monica dengan penuh kelembutan. Singkat namun, terasa sangat dalam.
Aksa lalu mencium keningnya Monica dan berucap, "rasa kamu manis. Dan siapa yang pernah mencium kamu?" Aksa mengusap pipinya Monica yang masih memejamkan kedua kelopak mata lentiknya.
Monica membuka mata dengan napas yang masih menderu dan degup jantung yang masih belum normal. Ia mengangkat wajah cantiknya untuk menatap Aksa, "a...apa?"
"Siapa yang pernah mencium kamu?" Aksa terpercik rasa cemburu, ia menatap Monica tajam. Ciuman yang ia daratkan di bibirnya Monica pun terpicu oleh rasa cemburu namun, Aksa melakukannya dengan penuh kelembutan dan sempurna.
"Dia kakak tingkatku pas aku masih kuliah. Dia nembak aku tapi aku tolak dan ia tiba-tiba menciumku. Lalu aku tendang dan aku tampar dia"
"Kenapa aku tidak kau tendang dan kau tampar?" Aksa tersenyum menggoda sambil mengusap pipinya Monica.
Blush! pipi Monica kembali memerah dan ia berucap sambil menundukkan wajahnya, "karena kamu pacarku"
Aksa terkekeh senang lalu ia melepaskan Monica dan berjalan lebar meninggalkan Monica yang masih terpaku sambil terus mengusap bibirnya, ini ciuman pertamaku dan dengan Aksa. Monica memekik senang di dalam hatinya sambil senyum-senyum sendiri.
Aksa lalu memutar badan ke arah Monica sambil berjalan mundur ia berkata, "jangan terlalu lama mematung, kesambet entar. Ini area rumah sakit, banyak suster ngesot berkeliaran"
Monica tersentak dan langsung berputar badan dan berlari kecil menyusul Aksa.
Aksa tertawa lepas lalu sambil berputar badan ia mengiringi langkahnya Monica dan menggenggam tangan pacar cantiknya itu, "emang kamu tahu suster ngesot?"
"Tahu dong. Aku kan takut hantu jadi sebelum ke Indonesia, aku cari tahu setan apa aja yang ada di Indonesia dan yang paling serem tuh suster ngesot. Emang beneran ada ya suster ngesot di area rumah sakit?"
Aksa langsung menggelegarkan tawanya ke udara, "kamu akan tahu ada atau tidak jika suster ngesot menampakkan dirinya ke kamu"
"Sa! aku beneran takut nih" Monica langsung menggenggam erat-erat tangannya Aksa.
Aksa mengusap kepalanya Monica dengan tangan kirinya yang bebas berayun lalu berucap, "ada aku, ngapain takut. Suster ngesot tuh anti cowok tampan. Aku tampan kan, jadi sudah bisa dipastikan suster ngesot nggak akan mendekatiku dan kamu aman karena ada bersamaku saat ini" Aksa menaikkan kedua alisnya penuh bangga.
Aksa menggelegarkan tawanya kembali ke udara.
Keesokan harinya, Binar menggenggam tangan suaminya setelah ia selesai mengelap seluruh badan suaminya dengan penuh cinta. Ia cium tangan suaminya lalu berkata, "Mas, hari ini aku harus kerja. Tapi nanti siang pas istirahat makan siang, aku akan ke sini. Mas ditunggui Miko pagi sampai siang ini. Aku akan datang siang nanti membawa berjuta cerita untuk kamu, oke?" Binar tersenyum, "aku mencintaimu Mas" ia cium lagi tangan suaminya lalu ia keluar dari ruang ICU dan bertemu dengan Miko.
"Jangan khawatir Bos, aku akan jaga Bos Theo dengan baik" ucap Miko sambil menepuk pundaknya Binar.
Binar tersenyum dan menepuk pundaknya Miko, "aku percayakan suamiku ke kamu. Jangan kamu ajak ngobrol yang nggak-nggak lho, apalagi cerita soal cewek, aku kasih tahu ke istri kamu entar"
"Hahahaha, iya, iya. Aku udah insyaf. Aku bawa buku cerita detektif nih, aku akan bacakan ke Bos Theo nanti. Aku masuk dulu, Bos. Met kerja dan jangan lupa bawa oleh-oleh nanti pas ke sini, hehehehe" Miko mendapatkan kekehan dari Binar lalu ia pun segera masuk ke dalam ruang ICU untuk menjaga Theo.
Sesampainya di kantor, Binar dikejutkan dengan kemunculan Monica secara tiba-tiba di depannya, "Kak, emm, ini surat pengunduran diri saya. Saya akan bekerja membantu Aksa di galerinya mulai dari sekarang" Monica lalu melempar senyum cerianya ke Binar.
"Tapi kenapa? apa gaji yang aku kasih ke kamu, kurang?" tanya Binar.
Monica tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "emm bukan soal gaji. Itu karena kak Binar udah tahu aku bukanlah Silver Butterfly jadi........"
"Aku tidak menyalahkanmu. Kamu boleh tetap bekerja di sini. Aku suka kinerja kamu dan ......"
"Terima kasih Kak. Tapi saya ingin membantu Aksa di galerinya. Itu karena, saya udah jadian dengan Aksa kemarin dan saya ingin mendukung Aksa sepenuhnya. Maaf!" ucap Monica tulus.
Binar langsung meraih kedua tangannya Monica dan ia genggam erat, "selamat ya udah jadian dengan Aksa. Kakak doakan kalian bahagia dan lancar hubungannya sampai ke jenjang pernikahan. Kalau itu alasan kamu, maka kakak nggak akan mencegahmu lagi. Bantu dan dukunglah Aksa!"
Monica memeluk Binar, "terima kasih, Kak!"
Binar mengelus punggungnya Monica, "aku menyayangimu dan sudah menganggap kamu sebagai adikku. Jika ingin main ke sini atau mau minta bantuanku jangan sungkan!"
Monica melepas pelukannya, "aku juga menyayangi kakak. Kalau kakak ingin minta bantuan sama aku, jangan sungkan! maaf nggak pakai bahasa formal lagi karena...."
"Kamu adikku jadi nggak usah pakai bahasa formal lagi" Binar mengelus pipinya Monica sambil tersenyum.
"Aku pamit kak. Aku doakan suami kakak cepat sadar dan pulih seperti sedia kala"
"Amin. Makasih, ya"
Binar melepas kepergian Monica sampai di depan lobi kantornya lalu ia kembali lagi naik ke lantai paling atas untuk mulai bekerja"
tepat jam makan siang, Aksa datang bersama Mada ke ruang kerjanya Binar. Binar tersentak kaget dan bertanya, "kenapa kau bawa Mada ke sini?" Binar segera bangkit, menarik tangan Mada dan memeluk erat Mada.
"Kita makan siang bareng. Aku mohon demi Mada. Aku sudah nggak tahan lagi ingin mendekap Mada dengan status sebagai........"
"Bagaimana dengan pacar kamu? apa pacar kamu nggak akan cemburu kita makan siang bareng? lagian aku nggak mau dan nggak bisa hari ini. Aku sudah berjanji pada mas Theo kalau siang ini aku akan kembali ke rumah sakit untuk menjaganya"
"Pacar? apa Monica sudah kasih tahu ke kamu kalau aku dan Monica berpacaran?"
Binar menganggukkan kepalanya dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.
"Tapi, aku belum mencintainya. Aku masih dalam tahap mencintainya karena, cintaku masih untuk ka......"
"Sa!" Binar mendelik lalu menundukkan kepalanya ke arah Mada sebagai kode ke Aksa agar Aksa tidak meneruskan ucapannya karena ada Mada diantara mereka berdua. Binar menatap Aksa kembali, "itu bukan urusanku. Saranku belajarlah mencintai Monica. Kamu beruntung dicintai wanita secantik dan sebaik Monica. Jangan pernah kamu kecewakan Monica!"
Aksa melempar senyum ambigu kemudian berkata "lalu kapan kau akan katakan ke Mada kalau aku......"
Binar segera menutup kedua lubang telinganya Mada dengan telapak tangannya, "segera tapi jangan sekarang!"
"Segera itu kapan?"
"Lusa. Aku janji" ucap Binar.
"Di rumah kamu, di kantor, atau di restoran?" tanya Aksa.
Binar mendesah panjang untuk melepas rasa frustasinya, "di restoran saja. Aku akan kirim lewat pesan text nanti alamat restorannya"
Aksa lalu bangkit dia tersenyum lalu menarik tangannya Mada. Ia kemudian berjongkok untuk mencium kening dan kedua pipinya Mada lalu berucap, "Om, balik dulu ya. Om sayang banget sama Mada"
"Baik. Ati-ati di jalan Om. Mada juga sayang banget sama Om"
Aksa berdiri lalu mengusap kepalanya Mada dan ia menatap Binar, "aku tunggu pesan text-nya" lalu ia berputar badan dan pergi meninggalkan Binar dan Mada.